bahasa Jawa - HaloEdukasi.com https://haloedukasi.com/sub/bahasa-jawa Mon, 26 Dec 2022 07:04:59 +0000 id-ID hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.6.2 https://haloedukasi.com/wp-content/uploads/2019/11/halo-edukasi.ico bahasa Jawa - HaloEdukasi.com https://haloedukasi.com/sub/bahasa-jawa 32 32 Ketahui 6 Dialek dalam Bahasa Jawa https://haloedukasi.com/dialek-dalam-bahasa-jawa Mon, 26 Dec 2022 07:04:56 +0000 https://haloedukasi.com/?p=40368 Bahasa Jawa merupakan salah satu bahasa daerah yang paling banyak digunakan oleh masyarakat yang tinggal di Pulau Jawa, baik oleh etnik yang tinggal di Provinsi Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Jawa Timur, Jawa Barat, maupun Banten. Bahasa ini juga memiliki sebaran di beberapa wilayah di Indonesia lainnya, bahkan bahasa Jawa juga dituturkan di luar […]

The post Ketahui 6 Dialek dalam Bahasa Jawa appeared first on HaloEdukasi.com.

]]>
Bahasa Jawa merupakan salah satu bahasa daerah yang paling banyak digunakan oleh masyarakat yang tinggal di Pulau Jawa, baik oleh etnik yang tinggal di Provinsi Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Jawa Timur, Jawa Barat, maupun Banten.

Bahasa ini juga memiliki sebaran di beberapa wilayah di Indonesia lainnya, bahkan bahasa Jawa juga dituturkan di luar Indonesia. Bahasa Jawa menjadi bahasa yang paling sering digunakan oleh masyarakat Jawa dan mayoritas pengguna bahasa Jawa tersebar hampir di seluruh pulau Jawa yang merupakan suku Jawa yang bertempatan di pulau Jawa itu sendiri maupun di sebagian wilayah sumatera. 

Selain itu, bahasa Jawa juga memiliki berbagai perbedaan dialek yang sangat bergantung pada letak geografis dari penggunanya, di antaranya seperti dialek Banyumas, dialek Mataram, dialek Semarang, dan dialek Jawa Timur. Perbedaan tersebut menjadikan bahasa Jawa menjadi lebih kaya dengan beragam macam bentuk kata, misalnya dalam bahasa Jawa dialek mataram penggunaan kata saya adalah aku, sedangkan dalam dialek Banyumas yang menggunakan inyong.

Perbedaan lain yang sangat kentara sekali dalam dialek bahasa Jawa yaitu kamu dalam dialek Mataram adalah koe, maka sangat berbeda pula dengan Jawa Timuran yang menggunakan koen. Perbedaan lainnya yaitu ketika dalam dialek Mataram menyebutkan rasa dingin dengan sebutan adem, maka akan berbeda dengan dialek Semarang yang menyebutnya dengan kata atis.

Persebaran Dialek Bahasa Jawa

Begitu banyaknya dialek dalam bahasa jawa yang menjadikan bahasa Jawa menjadi bahasa yang menarik untuk dipahami karena bahasa Jawa menjadi salah satu bahasa asli yang dimiliki oleh Indonesia. Sebagai generasi muda yang khususnya berada dalam masyarakat jawa haruslah bangga dengan bahasa Jawa dan merawatnya jangan sampai muncul istilah “wong jowo lali jowone”. 

Penggunaan bahasa Indonesia memang penting, namun bagaimanapun Indonesia yang terdiri dari berbagai macam suku, bahasa, agama, dan adat istiadat yang berbeda, justru malah meninggalkan bahasa daerahnya. Dengan adanya perbedaan tersebutlah Indonesia terbentuk, sehingga jika keaslian dari bahasa lokal sudah ditinggalkan, maka hanya akan menjadikannya sebagai suatu prasasti lama yang pernah tertulis.

Bahasa Jawa termasuk ke dalam rumpun bahasa Austronesia, yang sudah menjadi bahasa ibu bagi lebih dari 40 persen penduduk dari populasi masyarakat Indonesia. Bahasa Jawa telah tersebar hampir di seluruh penjuru tanah air yang digunakan di Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Lampung, Sumatera Utara, Bengkulu, Sumatera Selatan, Jawa Barat, dan daerah lainnya dari populasi penduduk di tempat-tempat lainnya di Indonesia.

Berdasarkan segi geografis inilah dialek bahasa Jawa dikelompokkan menjadi tiga, yaitu dialek Bahasa Jawa bagian barat, dialek Bahasa Jawa bagian tengah, dan dialek Bahasa Jawa bagian timur. 

Dialek dalam Bahasa Jawa

  • Dialek Tegal-Banyumas

Dialek Tegal-Banyumas sering disebut Basa Ngapak yang merupakan sebuah kelompok bahasa Bahasa Jawa yang dipergunakan di wilayah barat Jawa Tengah dengan logat bahasanya yang agak berbeda dibanding dengan dialek Bahasa Jawa lainnya.

Hal ini disebabkan karena Bahasa Banyumasan masih erat kaitannya dengan Bahasa Jawa Kuno (Kawi). Untuk dialek Tegal menjadi salah satu kekayaan Bahasa Jawa, selain Banyumas yang memiliki kosa kata yang sama dengan Dialek Banyumas, namun pengguna Dialek Tegal tidak serta-merta mau disebut ngapak karena adanya perbedaan intonasi, pengucapan, dan makna kata.

  • Dialek Pekalongan

Dialek Pekalongan menjadi salah satu dari dialek Bahasa Jawa yang banyak dituturkan di Kabupaten Batang dan Kabupaten Pekalongan yang termasuk ke dalam dialek Bahasa Jawa yang “sederhana” namun “komunikatif”.

Oleh orang Yogyakarta atau Surakarta, dialek ini termasuk dialek yang kasar dan sulit dimengerti, sementara oleh orang Tegal dianggap dialek yang sederajat karena banyak menggunakan kosakata yang sama dengan Dialek Tegal, meskipun tetap terasa sulit didengar. 

  • Dialek Kedu

Dialek Kedu dituturkan di daerah Kedu yang tersebar di timur Kebumen, Prembun, Purworejo, Magelang, dan khususnya daerah Temanggung. Dialek ini terkenal dengan cara bicara yang sangat khas karena dialek tersebut merupakan pertemuan antara dialek “bandek” yang khas dari daerah Yogya dengan dialek “ngapak” khas dari daerah Banyumasan. 

  • Dialek Semarangan

Dialek Semarangan dituturkan oleh kebanyakan masyarakat yang terletak di daerah Semarang yang heterogen dari pesisir, seperti Pekalongan/ Weleri, Kudus, Demak, dan Purwodadi yang membuat Dialek Semarangan ini memiliki kata ngoko, ngoko andhap, dan madya.

Para pengguna Dialek Semarangan juga senang menyingkat frasa, namun tak semua frasa bisa disingkat sebab tergantung kepada kesepakatan dan minat dari para penduduk Semarang mengenai frasa mana yang akan disingkat. 

  • Dialek Pantai Utara Timur (Pantura)  

Dialek Pantai Utara Timur Jawa Tengah merupakan sebuah dialek bahasa Jawa yang sering disebut dengan ”Dialek Muria” karena banyak dituturkan di wilayah sekitar kaki gunung Muria yang meliputi wilayah Jepara, Kudus, Pati, Blora, dan Rembang. Ciri khas dari dialek ini yaitu digunakannya akhiran -em atau -nem untuk menggantikan akhiran -mu dalam bahasa Jawa yang menyatakan kata ganti posesif orang kedua tunggal.

  • Dialek Surakarta-Yogyakarta

Bahasa Jawa Dialek Surakarta-Yogyakarta atau Mataraman adalah dialek Bahasa Jawa yang diucapkan di daerah Surakarta dan Yogyakarta dan termasuk pula daerah-daerah di bagian tengah Pulau Jawa yang memanjang dari Kabupaten Blitar di timur hingga Kabupaten Kendal di barat.

Dialek ini menjadi Bahasa Jawa baku yang menjadi standar bagi pengajaran Bahasa Jawa baik di dalam negeri maupun secara internasional yang sejatinya merupakan pengembangan Bahasa Jawa baru gaya Mataraman. Dialek ini bercirikan dialek “ό” (å) dalam berbagai kosakatanya yang membedakannya dengan Bahasa Jawa kuno yang berdialek “a”.

Dialek Surakarta-Yogyakarta ini juga dikenal memiliki beberapa subdialek yang mengenal undhak-undhuk basa dan menjadi bagian dalam tata krama masyarakat Jawa dalam berbahasa. 

The post Ketahui 6 Dialek dalam Bahasa Jawa appeared first on HaloEdukasi.com.

]]>
Pawarta: Pengertian – Struktur dan Jenisnya https://haloedukasi.com/pawarta Mon, 07 Feb 2022 10:26:16 +0000 https://haloedukasi.com/?p=31118 Pawarta atau yang disebut juga Pawartos merupakan salah satu jenis teks bahasa Jawa. Dalam bahasa Indonesia, pawarta diartikan sebagai berita. Berikut adalah penjelasan yang meliputi pengertian, struktur,  unsur, jenis, dan hal lain terkait pawarta. Pengertian Pawarta Pawarta merupakan catatan kejadian atau peristiwa nyata yang dijabarkan dalam sebuah tulisan di media cetak maupun laporan lisan di […]

The post Pawarta: Pengertian – Struktur dan Jenisnya appeared first on HaloEdukasi.com.

]]>
Pawarta atau yang disebut juga Pawartos merupakan salah satu jenis teks bahasa Jawa. Dalam bahasa Indonesia, pawarta diartikan sebagai berita. Berikut adalah penjelasan yang meliputi pengertian, struktur,  unsur, jenis, dan hal lain terkait pawarta.

Pengertian Pawarta

Pawarta merupakan catatan kejadian atau peristiwa nyata yang dijabarkan dalam sebuah tulisan di media cetak maupun laporan lisan di media elektronik.

Pawarta dibuat dengan tujuan memberi informasi kepada khalayak atau masyarakat umum mengenai suatu hal maupun peristiwa yang terjadi.

Struktur Pawarta

Struktur pawarta (perangane pawarta) atau disebut juga bagian-bagian pawarta adalah susunan dari sebuah teks pawarta, terdiri dari:

  1. Irah-Irahan (Judul/Headline)
    Judul pawarta harus bisa menggambarkan isi pawarta dan manfaat dari pawarta.
  2. Aline Pambuka (Paragraf Pembuka)
    Alinea pembuka berisi informasi penting yang bisa menarik pembaca untuk mau membaca berita.
  3. Awak Pawarta (Isi Berita/Body)
    Awak pawarta atau isi berita berisi inti berita yang mana harus mengandung unsur-unsur berita (5W+1H).
  4. Panutup Pawarta (Penutup Berita)
    Panutup pawarta adalah ringkasan pawarta dan penutup.
  5. Sumber Pawarta

Unsur-Unsur Pawarta

Unsur-unsur pawarta adalah hal-hal yang ada dalam sebuah pawarta. Unsur-unsur pawarta meliputi 5W+1H, yaitu:

  1. Apa (What)
    yaitu kejadian atau peristiwa yang disajikan dalam pawarta
  2. Sapa (Who)
    yaitu siapa orang-orang yang mengalami atau terlibat dalam kejadian yang diberitakan.
  3. Kapan (When)
    yaitu waktu terjadinya peristiwa yang diberitakan.
  4. Kepriye (Why)
    yaitu mengapa kejadian atau peristiwa dalam pawarta itu terjadi.
  5. Ing Ngendi (Where)
    yaitu tempat terjadinya peristiwa yang diinformasikan dalam pawarta.
  6. Genea/Kena apa (How)
    yaitu bagaimana kejadian atau peristiwa dalam pawarta itu terjadi.

Syarat dan Ciri Pawarta

Ada beberapa syarat yang menjadi ciri dari sebuah pawarta, yaitu:

  1. Faktual
    Pawarta harus memiliki sifat faktual, yakni selaras dengan kejadian yang nyata atau benar-benar terjadi serta objektif.
  2. Aktual
    Pawarta harus berisi informasi kejadian yang baru terjadi.
  3. Cekak Aos
    Pawarta ditulis secara ringkas, padat, dan berbobot dengan tetap mengandung unsur 5W+1H.
  4. Narik Kawigaten
    Pawarta harus bisa menarik perhatian orang banyak.
  5. Jangkep
    Pawarta harus ditulis dengan lengkap, tidak dilebih-lebihkan namun juga tidak dikurang-kurangi.

Jenis-Jenis Pawarta

Jenis-jenis pawarta bisa dilihat dari berbagai segi, yakni sebagai berikut:

1. Berdasarkan Isinya

Berdasarkan isinya, pawarta bisa dibedakan menjadi beberapa jenis seperti:

  • Pawarta Pendhidhikan
  • Pawarta Agama
  • Pawarta Politik
  • Pawarta Olahraga, dan selainnya.

2. Berdasarkan Sumbernya

Berdasarkan sumbernya, pawarta bisa dibedakan menjadi:

  • Fakta, yaitu pawarta yang berasal dari kejadian nyata.
  • Opini, yaitu pawarta yang penjelasannya berasal dari orang yang mengalami suatu kejadian.
  • Campuran, yaitu pawarta yang merupakan gabungan antara kejadian dan pendapat dari narasumber yang ahli dalam masalah tersebut.

3. Berdasarkan Bobot faktanya

Berdasarkan bobot faktanya, pawarta terbagi menjadi:

  • Pawarta Fakta, yaitu pawarta yang kejadiannya benar-benar terjadi.
  • Pawarta Opini, yaitu pawarta yang berisi penjelasan atau keterangan dari wartawan.
  • Pawarta Hoax, yaitu pawarta yang berisi kebohongan

4. Berdasarkan Wilayahnya

Berdasarkan cakupan wilayahnya, pawarta dibagi menjadi:

  • Pawarta Lokal, yaitu pawarta yang mencakup daerah tingkat Kabupaten atau Kota.
  • Pawarta Regional, yaitu pawarta yang mencakup wilayah provinsi.
  • Pawarta Nasional, yaitu pawarta yang mencakup wilayah satu negara.
  • Pawarta Internasional, yaitu pawarta yang mencakup wilayah di luar negara.

5. Berdasarkan Waktu Terbitnya

Berdasarkan waktu terbit atau tayangnya, pawarta dibedakan menjadi:

  • Pawarta Dadakan, yaitu pawarta yang waktu dan tempat kejadiannya tidak bisa dipastikan. Contohnya: berita kecelakaan, kebakaran, dan selainnya.
  • Pawarta Ndinan, yaitu pawarta yang waktu dan tempatnya sudah diketahui sebelumnya. Contohnya: berita pembangunan sekolah, kunjungan presiden, dan sebagainya.
  • Pawarta Crita, yaitu pawarta yang tidak dibatasi oleh waktu dan tempat, serta menggambarkan objek yang menyenangkan. Contohnya adalah berita tentang objek wisata, hobi, dan sebagainya.

6. Bendasarkan Bentuknya

Berdasarkan bentuknya, pawarta dibedakan menjadi:

  • Pawarta Cetak, yaitu pawarta yang berupa media cetak seperti koran, majalan, buletin, dan selainnya.
    Pawarta cetak ini terbagi lagi menjadi 2, yaitu:
    a. Kalawarti: Pawarta cetak yang terbit secara berkala, misalnya majalah bulanan.
    b. Ariawati: Pawarta cetak yang terbit setiap hari, misalnya koran harian.
  • Pawarta Lisan, yaitu pawarta yang diberitakan secara langsung melalui lisan dari seseorang yang mengetahui suatu berita kepada orang lain.
    Misalnya seseorang yang mengabarkan berita kecelakaan kepada kawannya.
  • Pawarta Siaran, yaitu pawarta yang disajikan secara lisan tetapi memerlukan media untuk menyiarkannya, misalnya lewat radio dan televisi.
  • Pawarta Internet, yaitu pawarta yang disajikan dengan menggunakan media internet seperti situs website atau blog.

The post Pawarta: Pengertian – Struktur dan Jenisnya appeared first on HaloEdukasi.com.

]]>
Tembung Lingga dan Tembung Andhahan dalam Bahasa Jawa https://haloedukasi.com/tembung-lingga-dan-tembung-andhahan Mon, 07 Feb 2022 07:37:56 +0000 https://haloedukasi.com/?p=31082 Tembung atau dalam bahasa Indonesia disebut dengan “kata” memiliki bentuk dasar atau kata dasar dan juga bentuk kata yang sudah berimbuhan. Dalam bahasa Jawa kata dasar dikenal sebagai tembung lingga. Selain tembung lingga, ada juga yang disebut dengan tembung andhahan. Berikut ini akan dijelaskan mengenai tembung lingga dan tembung andhahan serta bagaimana pembentukannya. Tembung Lingga […]

The post Tembung Lingga dan Tembung Andhahan dalam Bahasa Jawa appeared first on HaloEdukasi.com.

]]>
Tembung atau dalam bahasa Indonesia disebut dengan “kata” memiliki bentuk dasar atau kata dasar dan juga bentuk kata yang sudah berimbuhan.

Dalam bahasa Jawa kata dasar dikenal sebagai tembung lingga. Selain tembung lingga, ada juga yang disebut dengan tembung andhahan.

Berikut ini akan dijelaskan mengenai tembung lingga dan tembung andhahan serta bagaimana pembentukannya.

Tembung Lingga

Sebagaimana disebutkan sebelumnya bahwa tembung lingga adalah kata dasar. Tembung lingga bisa diartikan sebagai tembung (kata) yang belum mengalami perubahan dari asal atau dasar katanya.

Dalam tata bahasa Jawa, tembung lingga dibedakan menjadi 3, yaitu:

  1. Tembung lingga (kata dasar) yang hanya terdiri dari 1 suku kata (1 wanda). Tembung lingga jenis ini disebut juga dengan nama tembung wod. Contohnya adalah:
    • Wis (sudah)
    • Mung (hanya)
    • Sing (yang)
  2. Tembung lingga (kata dasar) yang terdiri dari 2 suku kata (2 wanda). Contohnya adalah:
    • Tuku (beli)
    • Lara (sakit)
    • Abang (merah)
  3. Tembung lingga (kata dasar) yang terdiri dari 3 suku kata (3 wanda). Contoh:
    • Gamelan (alat musik gamelan)
    • Samodra (Samudera)
    • Segara (lautan)

Tembung Andhahan

Tembung andhahan adalah tembung (kata) yang sudah berubah dari bentuk asalnya atau dari kata dasarnya. Perubahan tembung lingga (kata dasar) menjadi tembung andhahan bisa terjadi karena 3 keadaan, yaitu:

  • Karena mendapat imbuhan (wuwuhan)
  • Karena diulang (dirangkep)
  • Karena digabung dengan kata lainnya (dicambor)

Berikut adalah penjelasan dan masing-masing contohnya:

1. Wuwuhan (Imbuhan)

Tembung lingga (kata dasar) yang mendapat imbuhan (wuwuhan) maka akan berubah bentuknya dan biasa diistilahkan dengan kata berimbuhan.

Imbuhan atau wuwuhan dalam bahasa Jawa dibedakan menjadi 3 jenis, yaitu:

Ater-Ater atau Awalan

Ater-ater yaitu imbuhan yang berada di depan tembung lingga (kata dasar). Ater-ater sendiri dibedakan menjadi 5 jenis, yaitu:

  • Ater-Ater Anuswara, yakni ater-ater yang menggunakan awalan ny, m, ng, dan n. Kegunaan ater-ater anuswara adalah untuk mengubah tembung lingga menjadi tembung kriya tanduk (kata kerja aktif).
    Contohnya adalah sebagai berikut:
    • Nyapu (menyapu) è ny + sapu
    • Mecah (memecah) è m + pecah
    • Ngumbah (mencuci) è ng + umbah
  • Ater-Ater Tripurusa, yakni ater-ater yang menggunakan awalan dak, ko/kok, dan di. Kegunaan ater-ater tripurusa adalah untuk mengubah tembung lingga menjadi tembung kriya tanggap (kata kerja pasif). Contohnya adalah:
    • Dakpangan (kumakan) è dak + pangan
    • Kokjupuk (kamu ambil) è kok + jupuk
    • Dibalang (dilempar) è di + balang
  • Ater-Ater: sa, pa, pi, pra, tar, dan ka. Kegunaan ater-ater ini adalah untuk mengubah tembung lingga menjadi tembung adhahan. Contohnya:
    • Sadina (sehari) è sa + dina
    • Piwulang (pelajaran) è pi + ulang
    • Katendang (tertendang) è ka + tendang
  • Ater-Ater: kuma, kami, dan kapi. Kegunaan ater-ater ini adalah untuk mengubah tembung lingga menjadi tembung kahanan (kata sifat). Contohnya:
    • Kumayu (cantik sekali) è kuma + ayu
    • Kamigilan (sangat gila) è kami + gila + an
    • Kapieneng (diam saja) è kapi + meneng
  • Ater-Ater: a dan ma. Kegunaan ater-ater ini adalah untuk mengubah tembung lingga menjadi tembung pepaesan/endah atau memperindah kata dalam sastra. Contohnya:
    • asipat (bersifat) è a + sipat/sifat
    • malumpat (melompat) è ma + lumpat

Seselan atau Sisipan

Seselan adalah imbuhan yang berada di tengah-tengah tembung lingga (kata dasar). Seselan ada 4 bentuk, yaitu: in, um, er, dan el.

Contohnya adalah sebagai berikut:

  • Tinumbas (membeli) è seselan in disisipkan pada kata tumbas
  • Sumebar (menyebar) è seselan um disisipkan pada kata sebar
  • Kerelip (berkelip) è seselan er disisipkan pada kata kelip
  • Gelebyar (meriah) è seselan el disisipkan pada kata gebyar

Panambang atau Akhiran

Yaitu imbuhan yang berada di akhir tembung lingga (kata dasar). Bentuk panambang dalam bahasa Jawa adalah: a, i, e, en, an, ana, ake, ne, na, ku, dan mu.

Contohya:

  • Tukua (belilah) è tuku + a
  • Tulisake (menuliskan) è tulis + ake
  • Jupukna (ambilkan) è jupuk + an

2. Tembung Rangkep (Kata Ulang)

Pembentukan tembung andhahan selanjutnya adalah dengan merangkap atau mengulang tembung lingga (kata dasar) sehingga menjadi tembung rangkap. Tembung rangkap sendiri adalah tembung atau kata yang diulang pengucapannya.

Dalam bahasa Jawa, tembung rangkep ada 3 bentuk sebagai berikut:

Dwipurwa

Yaitu kata yang diulang pada bagian awal suku kata pada kata dasarnya. Pada tembung dwipurwa, suku kata awal yang diulang akan selalu berubah menjadi swasa pepet (bunyi vokal “e” pada kata “apel”).

Contohnya adalah sebagai berikut:

  • Jejuluk (dipanggil) è Je + Juluk (Je merupakan pengulangan dari suku kata “ju” pada kata dasar juluk. Jadi bukan jujuluk tetapi jejuluk)
  • Nyenyuwun (meminta) è Nye + Nyuwun ( suku kata “nyu” diulang jadi “nye”)
  • Gegodhong (daun-daun) è Ge + Godhong (suku kata “go” diulang menjadi “ge”)

Dwilingga

Tembung rangkep dwilingga adalah kata yang diulang kata dasarnya (tembung lingganya). Tembung dwilingga ada 4 jenis, sebagai berikut:

  • Dwilingga Wantah. Yaitu pengulangan pada kata dasarnya secara utuh.
    Contohnya: omah-omah (rumah-rumah), buku-buku, sapu-sapu, dan selainnya.
  • Dwilingga Andhahan. Yaitu pengulangan pada kata dasarnya secara utuh, namun pada kata kedua ada akhiran yang disertakan.
    Contohnya: oyot-oyote (akar-akarnya), pangan-panganan (makan-makanan), sopir-sopire (supir-supirnya), dan selainnya.
  • Dwilingga Saling Swara. Yaitu pengulangan pada kata dasarnya dimana salah satu katanya berubah.
    Contohnya: mikar-mikir (berpikir-pikir), tolah-toleh (menoleh-noleh), mloya-mlayu (berlari-lari).
  • Dwilingga Semu. Yaitu kata yang nampak seperti kata ulang tetapi sebenarnya bukan.
    Contohnya: andheng-andheng (tahi lalat), ali-ali (cincin), alun-alun.

Dwiwasana

Dwiwasana adalah jenis tembung rangkep yang mengulang wanda atau suku kata terakhirnya.

Contohnya adalah:

  • Ndepipis (mojok atau merepet ke tembok) è kata dasarnya ndepis
  • Ndengangak (mendongak) è kata dasarnya ndegak
  • Njedhidhil (muncul) è kata dasarnya njedhil

Sebagai catatan, ada beberapa kata yang nampak seperti tembung rangkep dwiwasana padahal sejatinya bukan karena kata-kata tersebut adalah kata dasar.

Misalnya: cekakak (tertawa terbahak-bahak), mecucu (merengut), cengenges (tertawa-tawa), mekangkang (membuka kaki), dan selainnya.

3. Tembung Camboran

Yang dimaksud dengan tembung camboran adalah dua kata dengan arti berbeda yang digabungkan dan membentuk arti kata baru. Ada dua jenis tembung camboran, yaitu:

Camboran Wutuh

Tembung camboran wutuh adalah dua kata utuh yang digabung atau digunakan bersamaan.

Contohnya: Semar mendem (nama kue). Semar aslinya merupakan nama tokoh pewayangan dan mendem artinya adalah mabuk. Ketika dua kata itu digabungkan maka digunakan untuk arti lain yang tidak ada hubungannya dengan arti kata masing-masingnya.

Contoh lain dari tembung camboran wutuh adalah sebagai berikut:

  • Sawo mateng (warna coklat tua). Sawo adalah nama buah dan mateng artinya matang.
  • Naga sari (nama kue tradisional. Naga adalah nama makhluk mitologi dan sari biasa digunakan sebagai nama orang.
  • Sapu tangan (kain kecil).

Camboran Tugel (Wancah)

Tembung camboran tugel atau wancah adalah tembung camboran yang menggabungkan dua kata, tetapi yang digabungkan hanya salah satu suku katanya.

Sebagai contoh kata “abang” (merah) dan “pucuk” yang digabung menjadi “bangcuk”.

Contoh lainnya:

  • Barbeh è bubar kabeh (bubar semua)
  • Dhekmu è endek lemu (pendek gemuk)
  • Gaji wakma è sega siji iwak lima (nasi satu lauk lima)
  • Lunglit è balung kulit (tulang kulit)

Camboran tugel tidak memiliki arti baru, dia digunakan hanya sebagai akronim saja.

The post Tembung Lingga dan Tembung Andhahan dalam Bahasa Jawa appeared first on HaloEdukasi.com.

]]>
Layang (Surat dalam Bahasa Jawa): Struktur, Jenis dan Contohnya https://haloedukasi.com/layang Mon, 07 Feb 2022 06:21:48 +0000 https://haloedukasi.com/?p=31074 Ada banyak cara yang bisa digunakan manusia dalam berkomunikasi secara langsung maupun tidak langsung. Salah satu bentuk komunikasi tidak langsung adalah melalui surat. Dalam bahasa Jawa, surat dikenal dengan istilah layang. Layang atau surat ini digunakan untuk berbagai keperluan komunikasi tidak langsung, baik yang sifatnya formal maupun non formal. Berikut ini akan dibahas mengenai layang […]

The post Layang (Surat dalam Bahasa Jawa): Struktur, Jenis dan Contohnya appeared first on HaloEdukasi.com.

]]>
Ada banyak cara yang bisa digunakan manusia dalam berkomunikasi secara langsung maupun tidak langsung. Salah satu bentuk komunikasi tidak langsung adalah melalui surat.

Dalam bahasa Jawa, surat dikenal dengan istilah layang. Layang atau surat ini digunakan untuk berbagai keperluan komunikasi tidak langsung, baik yang sifatnya formal maupun non formal.

Berikut ini akan dibahas mengenai layang termasuk struktur dan jenis-jenisnya yang dikenal dalam tata bahasa Jawa.

Pengertian Layang

Layang atau yang dalam bahasa Indonesia disebut surat adalah alat yang berwujud tulisan yang digunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi kepada orang lain.

Layang merupakan salah satu bentuk komunikasi tidak langsung, artinya komunikasi yang dilakukan melalui media atau alat tertentu, dalam hal ini adalah kertas.

Layang sendiri ada yang sifatnya resmi atau formal, yakni yang biasanya dibuat oleh lembaga atau organisasi, dan ada pula yang sifatnya tidak resmi, yakni dibuat oleh seseorang untuk orang lain.

Struktur Layang

Secara umum, layang memiliki perangan (bagian-bagian) atau struktur penulisan sebagai berikut:

  1. Titi Mangsa: Titi mangsa adalah tempat dan tanggal penulisan layang. Titi mangsa ditulis di bagian pojok kanan atas surat
  2. Satata Basa: Satata basa adalah alamat tujuan surat.
  3. Adangiyah/ Adawiyah: Adangiyah adalah salam  pembuka surat. Contohnya:
    • Assalamu’alaykum Warohmatullah Wabarokatuh
    • Ingkang Taklim
    • Sembah Sungkem
  4. Purwaka Basa: Purwaka adalah pembuka surat. Biasanya berisi ucapan syukur atau doa keselamatan untuk orang yang diberi surat. Dalam surat resmi/formal, purwaka basa berisi pengantar tentang maksud penulisan surat.
  5. Surasa Basa: Surasa basa adalah isi atau inti dari surat. Berisi informasi yang hendak disampaikan pengirim kepada yang menerima surat tersebut.
  6. Wasana Basa: Wasana basa adalah kalimat penutup surat. Bisa berisi harapan atau permintaan maaf dan juga ucapan terima kasih.
  7. Prepenah: Prepenah adalah keterangan tentang pengirim surat terkait dengan yang menerima surat. Sebagai contoh, jika seorang anak mengirim surat kepada ibunya maka prepenah bisa ditulis dengan kata “putramu”.
  8. Tapak Asma: Tapak asma adalah tanda tangan pengirim surat.
  9. Asma Terang: Asma terang maksudnya adalah nama terang, yakni nama penulis surat tersebut.

Berikut contoh surat dan perangan atau strukturnya:

Jenis-Jenis Layang 

Dalam bahasa Jawa dikenal ada 6 jenis layang yang dibedakan menurut kegunaannya. Berikut adalah jenis-jenis layang dalam bahasa Jawa:

1. Layang  Iber-Iber

Layang iber-iber dalam bahasa Indonesia disebut dengan surat pribadi. Layang iber-iber sifatnya tidak resmi atau nonformal.

Meski demikian, penulisan layang iber-iber tetap memenuhi struktur atau paugeran layang sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya. Hanya saja isi layang iber-iber sifatnya bebas sesuai dengan keperluan penulisannya.

Adapun bahasa yang digunakan dalam layang iber-iber tergantung kepada siapa surat tersebut ditujukan. Hal ini disesuaikan dengan unggah-ungguh basa dalam bahasa Jawa.

Misalnya surat antar teman karib, maka bisa ditulis dengan menggunakan basa ngoko. Sedangkan surat seorang anak kepada orang tuanya ditulis dengan menggunakan basa krama.

Contoh layang iber-iber adalah sebagai berikut:

Surabaya, 05 Februari 2022

Kanggo Kancaku,
Nala Natasya
Ing Malang

Assalamu’alaykum Warohmatullah Wabarokatuh

Salam Kangen,

Nala, piye kabarmu lan keluarga ing Malang?. Muga-muga kowe lan keluarga diparingi rahayu slamet marang Gusti Allah. Kahananku ing kene tansa rahayu slamet lan ora kurang sawiji apa.

Awal sasi sesok, keluargaku arep ngejak aku lunga nang omahe pakdhe ing Malang. Amarga kuwi, aku pengen mampir ing omahmu. Suwi ora kepethuk, rasane aku wis kangen banget. Mengko ayo dolan keliling Malang karo aku, ya?.

Cukup semene wae layang saka aku. Muga-muga rencana dolan mrono iso kelaksanan tanpa alangan.

Wassalamu’alaykum Warohmatullah Wabarokatuh

Saka Kancamu,

Firda Lestari

2. Layang Kitir

Dalam bahasa Indonesia layang kitir disebut dengan Memo, yaitu surat singkat yang berisi suatu informasi kepada orang lain.

Layang kitir memiliki paugeran atau struktur yang lebih singkat dibanding layang iber-iber. Secara umum, hanya terdiri dari 3 sampai 4 bagian saja, yaitu:

  • Satata Basa (tujuan surat)
  • Surasa Basa (Isi surat)
  • Titi Mangsa (Tempat dan tanggal surat)
  • Asma Terang (nama pengirim surat)

Seperti halnya layang iber-iber, bahasa yang digunakan pada layang kitir juga disesuaikan dengan kaidah unggah-ungguh basa dalam bahasa Jawa.

Contoh dari Layang Kitir tidak resmi/formal adalah sebagai berikut:

Katur mas Aji
ing dalem

Wiyose mas, menawi mboten ngerepoti, aku nyuwun ngampil kagunganmu sepedha motor, arep dakenggo tilik kancaku kang lagi lara ing rumah sakit. Dene anggonku mbalekake insyaAllah mengko sore.

Adhimu
Sunaryo

3. Layang Ulem

Yang dimaksud dengan layang ulem adalah surat undangan, yakni layang yang digunakan untuk meminta kedatangan orang lain pada suatu acara, misalnya acara pernikahan, khitanan, atau selainnya.

Karena bersifat semi formal, bahasa yang digunakan dalam layang ulem biasanya menggunakan basa krama. Berikut adalah contoh layang ulem singkat:

Mugi Katur Panjenenganipun
Bpk./Ibu/Sdr.________
wonten ing Palenggahan


Assalamu ‘alaykum Warohmatullah Wabarokatuh


Rinenggo sagunging pakurmatan,
Kanthi panyuwun nugrahing Gusti Ingkang Maha Agung, mbok bilih wonten longgaring wekdal, kula sakluwarga nyuwun kanthi sanget rawuhipun panjenengan mbenjang ing:

Dinten/tanggal    : Senin, 07 Februari 2022
Wanci                  : 19:00 (Ba’da Isya’)
Panggenan         : Griyo Kula RT.01 RW.02, Dusun Kauman, Malang
Wigatosing Atur : Walimatul Khitan

Wasana sanget ing pangajeng-ajeng kula awit agunging kawigatosan rawuhipun panjenengan. Mugi Allah Ingkang Maha Asih tansah peparing berkah lan wilujeng ing sedayanipun.

Wassalamu ‘alaikum Warohmatullah Wabarokatuh

Atur Taklim Kawulo,

Bpk. Hartono Sakeluarga

4. Layang Lelayu

Layang lelayu adalah surat yang berisikan kabar atau pengumuman tentang musibah kematian. Perangan atau struktur layang lelayu adalah sebagai berikut:

  • Judul
  • Purwaka Basa (Pembuka)
  • Surasa Basa (Isi)
  • Wasana Basa (penutup)
  • Prepenah lan Asma Terang (Pembuat dan nama terang)

Contoh layang lelayu adalah sebagai berikut:

LELAYU

Assalamu’alaikum Warohmatullah Wabarokatuh

“INNALILLAHI  WAINNA ILAIHI ROJI’UN”

Sampun katimbalan sowan ing ngarso dalemipun Alloh ingkang Maha Kinasih kanthi tentrem panjenenganipun :

Bapak Abdullah

Yuswo : 45 Tahun

Jum’at, 04 Februari 2022

Wonten Rumah Sakit  Surabaya            

Wanci jam 05.30 WIB

InsyaAllah badhe kasareaken:

Jum’at, 04 Februari 2022

Ba’da Dhuhur ing pesarean Randu II

Mbok bilih rikolo sugengipun suwargi anggadahi kalepatan dumateng panjenengan sedoyo, saking kulowargo nyuwunaken agunging pangapunten.

Wassalamu’alaikum Warohmatullah Wabarokatuh

Ingkang nandang duka:

1. Fatma (Istri)

2. Husna( anak )

3. Abdillah (Menantu)

5. Layang Paturan

Layang paturan adalah surat yang berisi informasi atau pengumuman yang ditujukan kepada orang banyak. Sebagai contoh adalah surat dari RT kepada warga tentang suatu kegiatan, misalnya kerja bakti dan selainnya.

Layang paturan ada yang sifatnya formal, semi formal, maupun non formal. Perangan atau struktur dan penggunaan bahasanya berbeda-beda tergantung jenis/sifat, kegunaan, dan pembuat layang paturan tersebut.

Salah satu contoh layang paturan adalah sebagai berikut:

Kanggo warga desa,

RT.05 RW.02 Kelurahan Puworejo, Pasuruan

Dina Minggu sesuk bakal ana acara kerja bakti massal ing Kota Pasuruan. Warga diaturi partisipasine nyuksesaske acara iki kanthi kerja bakti ngresiki lingkungan di sekitar RT.05 RW.02.

Ketua RT.05 RW.02

Bapak Haryanto

6. Layang Dhawuh

Layang dhawuh dalam bahasa Indonesia disebut dengan surat perintah, yakni jenis layang yang isinya berupa perintah kepada orang lain untuk melakukan suatu hal.

Contoh layang dhawuh adalah sebagai berikut:

Para siswa kang tansah daktresnani,

Sesambetan kaliyan pengetan dinten Pendidikan, OSIS SMA Negeri 1 Surabaya badhe dherek-dherek ngrameaken. Awit saking punika, OSIS bakal ngawontenaken kegiyatan maneka lomba, yaiku:

  • Lomba cerdas cermat antar kelas
  • Lomba maca geguritan
  • Lomba kaligrafi
  • Lomba kebersihan kelas, lan
  • Lomba mading kelas

Kabeh lomba menika bakal dianakake ing:

Dinten : Jum’at-Sabtu
Surya : 18-19 Februari 2022

Pramila, para siswa saged nyiapaken wakil kelasipun supados saged tumut berpartisipasi kangge ngelaksanakake lomba-lomba sing bakal dianakake.

Matur nuwun.

Surabaya, 7 Februari 2022
Ketua OSIS,


Muhammad Ammar

The post Layang (Surat dalam Bahasa Jawa): Struktur, Jenis dan Contohnya appeared first on HaloEdukasi.com.

]]>
Teks Cerita Wayang: Pengertian – Unsur dan Jenisnya https://haloedukasi.com/teks-cerita-wayang Thu, 03 Feb 2022 06:41:31 +0000 https://haloedukasi.com/?p=30962 Salah satu bentuk cerita yang dikenal dalam kesusastraan Jawa adalah cerita wayang. Cerita wayang adalah salah satu pusaka seni budaya yang merupakan warisan dari leluhur bangsa Indonesia. Dalam cerita wayang ada banyak nasehat dan pelajaran luhur serta contoh-contoh kebajikan dan keutamaan dalam kehidupan manusia. Pada kesempatan kali ini, kita akan membahas tentang teks cerita wayang. […]

The post Teks Cerita Wayang: Pengertian – Unsur dan Jenisnya appeared first on HaloEdukasi.com.

]]>
Salah satu bentuk cerita yang dikenal dalam kesusastraan Jawa adalah cerita wayang. Cerita wayang adalah salah satu pusaka seni budaya yang merupakan warisan dari leluhur bangsa Indonesia. Dalam cerita wayang ada banyak nasehat dan pelajaran luhur serta contoh-contoh kebajikan dan keutamaan dalam kehidupan manusia.

Pada kesempatan kali ini, kita akan membahas tentang teks cerita wayang. Pembahasan ini meliputi, pengertian, struktur teks, dan juga jenis cerita wayang.

Pengertian Cerita Wayang

Yang dimaksud dengan cerita wayang adalah cerita runtut yang menceritakan tentang kehidupan tokoh pewayangan. Cerita wayang adalah cerita yang diambil dari epos Mahabarata atau Ramayana yang bisa berwujud tontonan atau bacaan.

Tujuan mempelajari cerita wayang adalah untuk bisa mengambil pelajaran dalam cerita tersebut dan melestarikan cerita wayang yang merupakan salah satu wujud budaya asli Indonesia.

Struktur Cerita Wayang

Cerita wayang tersusun menurut struktur atau susunan tertentu. Struktur cerita wayang adalah sebagai berikut:

  • Pambuka (Orientasi)
    Pambuka adalah bagian yang membuka atau menceritakan awal mula cerita. Pambuka bisa berupa sudut pandang dan pengenalan peraga/tokoh cerita, suasana dan kejadian yang membuka cerita.
  • Pasulayan (Komplikasi)
    Pasulayan adalah bagian yang menceritakan cerita yang sudah muncul perkara atau masalah yang puncaknya menjadi konflik dalam cerita
  • Pangudare Prakara (Resolusi)
    pangudare prakara yaitu bagian cerita yang menjadi akhir penyelesaian dari konflik dalam cerita.
  • Koda (Panutup)
    Koda yaitu kesimpulan dari cerita.

Jenis Cerita Wayang

Berikut ini adalah 13 jenis cerita wayang yang dikenal dalam budaya Jawa beserta sumber cerita dan wujud serta bahan wayang yang digunakan dalam pertunjukan wayang.

No Jenis Cerita Wayang Sumber Cerita Keterangan
1.Wayang PurwaEpos Ramayan /Maha Bharata (India)Wujud boneka – kulit
2.Wayang MadyaEpos Maha Bharata (Jawa)Wujud boneka – kulit
3Wayang GolekEpos Ramayana/Maha Bharata (India)Wujud boneka – kayu
4.Wayang GolekEpos Arab/Persia (Islam)Wujud boneka – kayu
5.Wayang GedhogEpos Maha Bharata (Jawa)Wujud boneka – kulit
6.Wayang KrucilEpos Damar WulanWujud boneka – kayu
7.Wayang BeberEpos PanjiWujud boneka – kulit
8.Wayang SadatMitos Para Wali (Islam)Wujud boneka – kulit
9.Wayang WahyuMitos Nabi/Santa (Kristen)Wujud boneka – kulit
10.Wayang KancilDongeng / fabel (Jawa)Wujud boneka – kulit
11.Wayang PembangunanIndonesia Pos-KolonialWujud boneka – kulit
12.Wayang WongEpos Ramayana/Maha Bharata (India)Wujud wong (orang)
13.Wayang TopengEpos Maha Bharata (India)Wujud wong (orang) memakai  topeng

Unsur-Unsur Cerita Wayang

Dalam sebuah teks cerita wayang terdapat unsur-unsur yang membangun cerita, yakni:

Unsur Intrinsik

Unsur intrinsik bisa juga disebut unsur bathin (batin), terdiri atas:

1. Tema

Tema adalah inti dari cerita. Contohnya pada cerita wayang Mahabarata, tema cerita adalah tentang konflik keluarga antara pandhawa dan Kurawa untuk memperebutkan kekuasaan.

2. Alur

Alur adalah urutan rangkaian peristiwa dalam cerita. Alur terdiri dari alur maju, alur mundur, dan alur campuran. Contohnya pada cerita wayang Mahabarata, alur yang digunakan adalah alur maju.

3. Paraga lan pamaragan (tokoh dan penokohan)

Yaitu tokoh-tokoh yang terlibat dalam cerita dan wataknya. Contohnya pada cerita wayang Mahabarata, tokoh-tokohnya yaitu:

  • Para Pandhawa (Puntadewa/Yudhistira, Werkudara (Bima), Arjuna, Nakula, dan Sadewa) yang memiliki watak baik, pemberani.
  • Kurawa (Suryudana, Dursasana, dll) yang memiliki watak licik, pemarah, kejam.
  • Sengkuni, berwatak cerdas tapi licik dan suka menghasut
  • Karna, memiliki watak dermawan, teguh pada janji, terkadang sombong.
  • Krisna, memiliki watak bijaksana
  • dan sebagainya

4. Latar/Setting

Latar terdiri atas latar wektu (waktu), panggonan (tempat), dan swasana (suasana).
Contohnya pada cerita wayang Mahabarata, latar yang digambarkan adalah sebagai berikut:

  • Latar Waktu : Pagi, Siang, Malam
  • Latar Tempat: Negara Astina, Negara Ngamarta, dan Tegal Kurusetra
  • Latar Suasana: Tegang, mencekam

5. Pamawas (sudut pandang)

  • Pamawas terdiri dari:
    • Utama Purusa (sudut pandang orang pertama), ciri-cirinya menggunakan kata aku untuk menyebut tokoh cerita.
    • Pratama Purusa (sudut pandang orang ketiga, ciri-cirinya menggunakan kata dheweke (dia) untuk menyebut tokoh cerita.

Contohnya:
Pada cerita wayang Mahabarata, sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang orang ketiga sebagai pengamat.

6. Piweling (amanat)

Piweling yaitu amanat atau pesan yang bisa diambil dari cerita.
Contohnya pada cerita wayang Mahabarata, piweling yang ingin disampaikan adalah bahwa kebenaran dan kebajikan pasti akan mendapat kemenangan. sementara kejahatan akan mendapat kekalahan.

Unsur Ekstrinsik

Unsur ekstrinsik bisa juga disebut unsur lair (lahir), terdiri dari:

  • Sosial internal (Latar belakang penulis)
  • Sosial eksternal (Zaman, politik, sosial, budaya, dan selainnya)

Contoh Cerita Wayang

Dewa Ruci


(Pambuka/ Orientasi)

Ruci tegese alus. Dewa Ruci tegese Dewa kang alus. Dewa Ruci dewane Raden Werkudara, tegese badan aluse Werkudara.

Rikala Werkudara maguru marang Pandhita Drona babagan ilmu kamanungsan (ngupadi jati diri), wusanane dheweke nemokake apa sing dikarepake, yaiku Dewa Ruci kang sejatine badan aluse Werkudara dhewe, jiwa, alam pikiran, lan pangucapane dhewe. Gambaran Dewa Ruci memper karo Werkudara, nanging wujude cilik.

Pasulayan (Komplikasi)

Rikala Werkudara isih ana ing samodra nindakake kewajiban kang diprentahake Pandhita Drona supaya ngupadi tirtamerta, Werkudara ketemu dewa rambute dawa, kaya bocah cilik kang lagi dolanan ing dhuwure segara, kang aran Dewa Ruci.

Dewa Ruci ngendika, “Aja kesusu lunga yen durung ngerti tujuane, aja mangan yen durung ngerti rasane kang bakal dipangan, aja nggawe sandhangan yen durung ngerti jenenge sandhangane.”

“Gage mrenea Werkudara lumebua neng njero awakku,” ngendikane Dewa Ruci.

Kanti gumuyu Werkudara pitakon marang Dewa Ruci, “Panjenengan punik alit, kamangka badan kula ageng, saking punci marginipun kula badhe mlebet, ketingalane jentik kula kemawon mboten saged melebet.”

Dewa Ruci mesem lan ngguyu lirih karo ngendika, “Gedhe endi awakmu nek dibanding karo donya saisine ik, kabeh mau nek dilebokake awakku ora bakal kebak.”

Pangudare Prakara (Resolusi)

Kanthi pituduhe Dewa Ruci, Werkudara mlebu ing awake Dewa Ruci liwat kuping kiwa. Sakala katon jembare segara kang tanpa wates, jembare langit tan weroh endi lor endi kidul, tan weruh wetan lan kulon, tan weruh ngisor lan dhuwur, tan weruh ngarep lan buri.

Koda (Penutup)

Sabanjure padhang, katon wujude Dewa Ruci kang sumunar, katon arahe kiblat, katon arake srengenge, krasa nikmat ing sanubarine Werkudara.

Cerita wayang diatas dalam Bahasa Indonesia

Dewa Ruci

(Pambuka/Orientasi)

Ruci artinya halus. Dewa Ruci artinya Dewa kebaikan. Dewa Ruci dewanya Raden Werkudara, artinya wujud halus (ghaib) Werkudara.

Ketika Werkudara berguru kepada Pandhita Drona tentang kemanusiaan (mencari jati diri), dia akhirnya menemukan apa yang diinginkannya, yaitu Dewa Ruci, yang sebenarnya adalah wujud halusnya Werkudara, jiwa, alam pikiran, dan ucapannya sendiri. Gambaran Dewa Ruci mirip dengan Werkudara, tetapi dalam bentuk yang lebih kecil.

Pasulayan (Komplikasi)

Ketika Werkudara masih di laut melakukan tugas yang diperintahkan Pandhita Drona untuk melakukan tirtamerta, Werkudara bertemu dengan dewa berambut panjang, seperti anak kecil yang bermain di permukaan laut, yang disebut Dewa Ruci.

Dewa Ruci berkata, “Jangan terburu-buru jika tidak tahu tujuannya, jangan makan jika tidak tahu rasa apa yang akan dimakan, jangan memakai pakaian jika tidak tahu nama pakaiannya.”

“Segera kesini Werkudara, masuklah ke dalam tubuhku,” kata Dewa Ruci.

Sambil tertawa, Werkudara bertanya kepada Dewa Ruci, “Kamu kecil, tapi tubuhku besar, dari jalan mana aku akan masuk, bahkan sepertinya jari kelingkingku pun tidak bisa masuk.”

Dewa Ruci tersenyum dan tertawa pelan sambil berkata, “Seberapa besar kamu dibandingkan dengan dunia dan isinya ini, semuanya itu dimaksukkan ke dalam tubuhku tidak akan penuh.”

Pangudare Prakara (Resolusi)

Atas arahan Deva Ruci, Werkudara memasuki tubuh Dewa Ruci melalui telinga kirinya. Seketika ia melihat hamparan laut yang tak terbatas, hamparan langit yang tak diketahui utara atau selatan, tidak diketahui timur dan barat, tidak diketahui bagian bawah dan atasnya, tidak diketahui bagian depan dan belakang.

Koda (Penutup)

Setelah terang, terlihat wujud Dewa Ruci yang bersinar, terlihat arah kiblat, terlihat matahari, terasa nikmat dalam jiwa Werkudara.

The post Teks Cerita Wayang: Pengertian – Unsur dan Jenisnya appeared first on HaloEdukasi.com.

]]>
Ukara Lamba dan Ukara Camboran: Jenis Serta Contohnya https://haloedukasi.com/ukara-lamba-dan-ukara-camboran Wed, 02 Feb 2022 03:59:12 +0000 https://haloedukasi.com/?p=30903 Ketika mempelajari tata Bahasa Indonesia, kita akan mengenal jenis kalimat tunggal dan kalimat majemuk. Dalam Bahasa Jawa, istilah kalimat tunggal dikenal dengan sebutan ukara lamba, sedangkan kalimat majemuk disebut ukara camboran. Menurut banyak sedikitnya rangkaian kata, kalimat (ukara) dibedakan menjadi dua, yakni ukara lamba dan ukara camboran. Untuk mengenal apa itu ukara lamba dan ukara […]

The post Ukara Lamba dan Ukara Camboran: Jenis Serta Contohnya appeared first on HaloEdukasi.com.

]]>
Ketika mempelajari tata Bahasa Indonesia, kita akan mengenal jenis kalimat tunggal dan kalimat majemuk. Dalam Bahasa Jawa, istilah kalimat tunggal dikenal dengan sebutan ukara lamba, sedangkan kalimat majemuk disebut ukara camboran.

Menurut banyak sedikitnya rangkaian kata, kalimat (ukara) dibedakan menjadi dua, yakni ukara lamba dan ukara camboran. Untuk mengenal apa itu ukara lamba dan ukara camboran, berikut akan dibahas lebih lanjut mengenai kedua jenis kalimat tersebut sesuai dengan kaidah tata Bahasa Daerah Jawa.

Ukara Lamba

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, bahwa yang dimaksud dengan ukara lamba adalah kalimat tunggal atau ukara tunggal, yaitu kalimat yang hanya memiliki satu gagasan atau klausa saja. Pola susunan ukara lamba ini terdiri atas satu jejer (subjek) dan satu wasesa (predikat).

Contoh ukara lamba adalah:

  • Ibu masak ing pawon (ibu masak di dapur).
    Ibu = Jejer (Subjek)
    Masak = Wasesa (Predikat)
    Ing Pawon = Katrangan panggonan (keterangan tempat)
  • Arimbi tuku donat (Arimbi membeli donat).
    Arimbi = Jejer (Subjek)
    Tuku = Wasesa (Predikat)
    Donat = Lesan (Objek)
  • Pak guru nerangake pelajaran ing ngarep kelas (Pak guru menerangkan pelajaran di depan kelas).
    Pak guru = Jejer (Subjek)
    nerangake = Wasesa (predikat)
    Pelajaran = Lesan (Objek)
    ing ngarep kelas = Katrangan panggonan (Keterangan tempat)

Ukara Camboran

Ukara camboran atau yang dalam bahasa Indonesia disebut kalimat majemuk, adalah ukara yang memiliki gagasan atau klausa lebih dari satu. Ukara camboran terbentuk dari dua atau lebih ukara lamba yang dijadikan satu.

Ciri ukara atau kalimat ini adalah memiliki jejer (subjek), wasesa (predikat), lesan (objek), atau katrangan (kata keterangan) lebih dari satu serta menggunakan kata hubung seperti:

  • Lan (dan)
  • Nanging (tetapi)
  • Mulane (oleh karena itu)
  • Utawa (atau)
  • Dan tanda baca koma.

Ukara camboran terbagi menjadi beberapa jenis, yaitu:

1. Ukara Camboran Sejajar

Ukara camboran sejajar atau kalimat majemuk setara (klausa koordinatif) adalah ukara camboran yang terdiri dari dua atau lebih ukara lamba yang memiliki kedudukan sejajar/setara.

Konjungsi atau kata hubung yang digunakan untuk membentuk ukara camboran sejajar adalah:

  • Lan (dan)
  • Karo (dengan)
  • Dene (sedangkan)
  • Nanging (tetapi)
  • Amarga (karena), dll

Contoh ukara camboran sejajar, yaitu:

  • Aku melu Pakdhe menyang Solo.
    Adhiku melu Pakdhe menyang Solo.
    Maka ukara camborannya adalah:
    Aku lan Adhiku melu Pakdhe menyang Solo (Aku dan Adikku ikut Pakde ke Solo).
  • Aku ora mlebu sekolah.
    Aku lara untu.
    Maka ukara camborannya adalah:
    Aku ora mlebu sekolah amarga lara untu (Aku tidak masuk sekolah karena sakit gigi).
  • Budi iku bocah pinter.
    Adhine Budi bocah males.
    Maka ukara camborannya adalah:
    Budi iku bocah pinter nanging adhine males (Budi itu anak pintar tetapi adiknya pemalas).

2. Ukara Camboran Susun

Dalam Bahasa Indonesia, ukara camboran susun disebut sebagai kalimat majemuk bertingkat (klausa subordinatif) atau kalimat kompleks. Ukara camboran susun adalah kalimat yang terdiri dari dua atau lebih ukara lamba (kalimat tunggal) yang mana kedudukan satu kalimatnya bergantung pada kalimat yang lain.

Kalimat yang bergantung pada kalimat lainnya disebut sebagai anak kalimat. Sedangkan kalimat yang tidak bergantung pada kalimat manapun disebut sebagai induk kalimat (klausa inti).

Beberapa kata penghubung yang digunakan dalam ukara camboran susun adalah:

  • Senajan (meskipun, walaupun)
  • Supaya  
  • Amarga (karena)
  • Saengga (sehingga)
  • Sawise (setelah)
  • Nalika (ketika), dsb

Contoh ukara camboran susun, yaitu:

  • Sanajan susah, Amir iso nggarap soal ujiane.
    (Meskipun susah, Amir bisa mengerjakan soal ujiannya)
  • Dayu nesu amarga Ratna ngilangake bukune.
    (Dayu marah karena Ratna menghilangkan bukunya)
  • Bapak rawuh saka Malang nalika Ibu lagi masak ing pawon.
    (Bapak pulang dari Malang ketika ibu sedang memasak di dapur)

Ukara camboran susun juga bisa dibentuk dengan mengganti salah satu bagian dari kalimat atau yang disebut ganti gatra. Berikut adalah penjelasan dan contohnya:

  • Gatra Jejer

Yaitu menggantikan bagian subjek kalimat.

Contoh: Pak bayu methik pelem (Pak bayu memetik mangga muda).

Maka bisa diubah menjadi ukara camboran susun dengan mengganti jejer atau subjeknya, menjadi:

Bapak ingkang ndamel sarung menika methik pelem (bapak yang memakai sarung itu memetik mangga muda).

  • Gatra Lesan

Yaitu menggantikan bagian objek kalimat.

Contoh: Ratri tuku vacuum cleaner (Ratri membeli vacuum cleaner).

Maka bisa diubah menjadi ukara camboran susun dengan mengganti lesan atau objeknya, menjadi:

Ratri tuku alat gawe nyedot bledug (Ratri membeli alat untuk menghisap debu).

3. Ukara Camboran Raketan

Ukara camboran raketan atau dalam bahasa Indonesia disebut kalimat majemuk rapatan, merupakan kalimat yang terdiri dari beberapa ukara lamba (kalimat tunggal) yang digabungkan dengan menghilangkan kata-kata yang sama.

Dalam pembentukan ukara camboran raketan ini, kita menggunakan tanda baca koma (,) dan konjungsi atau kata hubung seperti:

  • Lan (dan, juga, serta)
  • Kemudian (banjur)

Ada 4 jenis ukara camboran raketan, yaitu:

Raketan Jejer

Yaitu ukara camboran raketan yang dibentuk dari beberapa ukara lamba dengan jejer atau subjek yang sama. Contohnya:

  • Siti tangi turu (Siti bangun tidur)
  • Siti adus (Siti mandi)
  • Siti ngresiki kamar (Siti membersihkan kamar)

Ukara camboran raketane: Siti tangi turu, adus, banjur ngresiki kamar (Siti bangun tidur, mandi, lalu membersihkan kamar).

Raketan Wasesa

Yaitu ukara camboran raketan yang dibentuk dari beberapa ukara lamba dengan wasesa atau predikat  yang sama.
Contohnya:

  • Ibu nyapu teras (Ibu menyapu teras)
  • Mbakyu nyapu latar (Kakak menyapu halaman)
  • Aku nyapu omah (Aku menyapu rumah)

Ukara camboran raketane: Ibu nyapu teras, mbakyu latar, lan aku omah (Ibu menyapu teras, kakak halaman, dan aku rumah).

Raketan Lesan

Yaitu ukara camboran raketan yang dibentuk dari beberapa ukara lamba dengan lesan atau objek yang sama.
Contohnya:

  • Aku ngonceki kentang (Aku mengupas kentang)
  • Adhiku ngirisi kentang (Adikku mengirisi kentang)
  • Ibuku nggoreng kentang (Ibu menggoreng kentang)

Ukara camboran raketane: Aku ngonceki kentang, adhikku sing ngirisi, lan ibu sing nggoreng (Aku mengupas kentang, adikku yang mengirisi, dan ibu yang menggoreng).

Raketan Katrangan

Yaitu ukara camboran raketan yang dibentuk dari beberapa ukara lamba dengan katrangan atau keterangan yang sama. Contohnya:

  • Akmal budhal sekolah numpak sepedha (Akmal pergi sekolah naik sepeda)
  • Wildan budhal sekolah numpak sepedha (Wildan pergi sekolah naik sepeda)
  • Aku budhal sekolah numpak sepedha (Saya pergi sekolah naik sepeda)

Ukara camboran raketane: Akmal, Wildan, lan Aku budhal sekolah numpak sepedha (Akmal, Wildan, dan Saya pergi sekolah naik sepeda).

The post Ukara Lamba dan Ukara Camboran: Jenis Serta Contohnya appeared first on HaloEdukasi.com.

]]>
Tembang Macapat: Pengertian – Jenis dan Strukturnya https://haloedukasi.com/tembang-macapat Tue, 25 Jan 2022 08:18:14 +0000 https://haloedukasi.com/?p=30829 Dalam kesusastraan bahasa Jawa, ada berbagai jenis tembang (syair) yang memiliki ciri dan struktur berbeda satu sama lain. Misalnya saja tembang dolanan, tembang klasik, tembang madya, tembang macapat, dan sebagainya. Pada pembahasan kali ini akan diuraikan mengenai salah satu jenis tembang, yakni tembang macapat, yang meliputi pengertian, jenis-jenisnya, dan juga paugeran atau struktur untuk masing-masing […]

The post Tembang Macapat: Pengertian – Jenis dan Strukturnya appeared first on HaloEdukasi.com.

]]>
Dalam kesusastraan bahasa Jawa, ada berbagai jenis tembang (syair) yang memiliki ciri dan struktur berbeda satu sama lain. Misalnya saja tembang dolanan, tembang klasik, tembang madya, tembang macapat, dan sebagainya.

Pada pembahasan kali ini akan diuraikan mengenai salah satu jenis tembang, yakni tembang macapat, yang meliputi pengertian, jenis-jenisnya, dan juga paugeran atau struktur untuk masing-masing jenis tembang macapat tersebut.

Pengertian Tembang Macapat

Tembang macapat atau yang disebut juga tembang cilik atau sekar alit, merupakan salah satu bentuk karya sastra jawa berupa syair atau puisi tradisional Jawa yang ditulis dengan mengikuti paugeran atau peraturan/struktur tertentu dan memiliki intonasi lagu ketika dibacakan.

Ada 11 jenis tembang macapat yang masing-masing tembang tersebut menggambarkan fase-fase yang dilalui seorang manusia selama hidupnya.

Sejarah Tembang Macapat

Ada beberapa pendapat terkait dengan sejarah munculnya tembang macapat ini. Diantaranya adalah sebagai berikut:

  • Pendapat Peugeud

Menurut Paugeud tembang macapat muncul pada akhir masa kerajaan Majapahit, yakni sejak masuknya pengaruh walisongo. Pendapat ini didasarkan pada kemunculan tembang macapat di Jawa Tengah.

  • Pendapat Poerbatjaraka dan Karseno Saputra

Poerbatjaraka dan Karseno Saputra berpendapat bahwa tembang macapat muncul bersamaan dengan munculnya syair Jawa Tengahan di tengah kalangan masyarakat penikmat karya sastra sekitar tahun 1541 Masehi.

Perkiraan ini didasarkan pada tahun yang terdapat dalam Kidung Subrata dan Rasa Dadi Jalma, yakni tahun 1634 Masehi dan 1541 Masehi, dimana pada tahun-tahun tersebut lahir sastra jawa kuno seperti Jawa Tengahan dan Jawa baru seperti Kakawin, Kidung, dan juga Tembang Macapat.

  • Pendapat Zoetmulder

Zoetmulder memiliki pendapat bahwa tembang macapat muncul sesuai perkiraan tahun pada Kidung Subrata, yakni pada sekitar abad ke-17, dimana pada saat itu digunakan tiga jenis bahasa Jawa, yakni bahasa Jawa Kuno, Jawa Tengahan, dan Jawa Baru.

  • Tedjohadi Sumarto

dalam Mbombong Manah, Tedjo Hadi Sumarmo (1958) menjelaskan bahwa tembang macapat mencakup 11 matrum yang diciptakan oleh Prabu Dewa Wisesa (Pramu dari Banjarmasin) di Segaluh 1191 tahun Jawa atau tahun 1279 masehi. 

  • Laginem

Leginem berpendapat bahwa tembang macapat tidak hanya ditulis oleh satu orang saja, melainkan ditulis oleh beberapa bangsawan dan wali.

Jenis Tembang Macapat

Awalnya jenis tembang macapat hanya ada 9 jenis. Namun, setelah Sultan Agung naik tahta, tembang macapat ditambah 2 tembang baru sehingga berjumlah 11 jenis tembang sebagaimana yang dikenal saat ini.

Berikut adalah jenis-jenis tembang macapat:

  1. Maskumambang. Melambangkan fase hidup manusia yang masih dalam bentuk janin dalam rahim ibunya.
  2. Mijil. Melambangkan kelahiran atau kehadiran manusia dan awal mula perjalanan hidupnya di dunia.
  3. Kinanthi. Melambangkan manusia pada masa kanak-kanak yang masih membutuhkan kanthi atau tuntunan.
  4. Sinom. Melambangkan manusia yang memasuki masa remaja dan bertumbuh menuju masa dewasa.
  5. Asmaradana. Melambangkan manusia yang tengah merasakan gejolak asmara, baik kepada sesama manusia, kepada Penciptanya, maupun kepada alam semesta.
  6. Gambuh. Melambangkan fase kehidupan dimana seseorang telah menemukan pasangan hidupnya, melaksanakan pernikahan dan berumah tangga.
  7. Dhandhanggula. melambangkan keadaan pasangan yang telah mendapatkan kebahagiaan dan meraih impiannya setelah sebelumnya melewati suka duka bersama.
  8. Durma. Melambangkan keadaan manusia yang telah diberi banyak kenikmatan dan dia mensyukurinya dengan banyak melakukan derma atau berbagi dengan orang lain.
  9. Pangkur. Melambangkan keadaan manusia yang telah memasuki masa tua, dimana ia mulai menarik diri dari urusan duniawi. Manusia telah berada pada fase mengurangi hawa nafsunya akan kenikmatan duniawi serta memperbanyak instropeksi diri.
  10.  Megatruh. Melambangkan fase manusia pada saat kematiannya yang mana berarti perjalanannya di dunia telah selesai.
  11.  Pucung/Pocung. Melambangkan manusia yang sudah tidak bernyawa dan telah dikafani sebelum ia dikuburkan.

Struktur Tembang Macapat

Penulisan tembang macapat harus mengikuti paugeran atau struktur baku yang menjadi ciri khas dari masing-masing jenis tembang macapat. Paugeran atau struktur tersebut terdiri atas:

  • Guru Gatra. Guru gatra merupakan jumlah larik atau baris dalam satu bait tembang macapat.
  • Guru Wilangan. Guru wilangan merupakan jumlah suku kata (wanda) dalam satu baris kalimat tembang macapat.
  • Guru Lagu. Guru lagu merupakan sajak atau rima akhir dalam tiap barik pada bait-bait tembang macapat.

Masing-masing jenis tembang macapat memiliki stuktur guru gatra, guru lagu, dan guru wilangan yang berbeda satu sama lain, sehingga setiap jenis tembang macapat memiliki ciri khas yang bisa membedakannya dengan jenis tembang macapat yang lainnya.

Secara ringkas berikut adalah struktur dari masing-masing jenis tembang macapat:

Nama Tembang MacapatGuru Gatra/ Jumlah Baris per BaitGuru Wilangan (Jumlah Suku Kata) dan Guru Lagu (Rima/Sajak Akhir) pada Tiap Baris
Pucung412u – 6a – 8i – 12a
Maskumambang412i – 6a – 8i – 8a
Gambuh57u – 10u – 12i – 8u – 8o
Megatruh512u – 8i – 8u – 8i – 8o
Mijil610i – 6o – 10e – 10i – 6i – 6o/u
Kinanthi68u – 8i – 8a – 8i – 8a – 8i
Pangkur78a – 11i – 8u – 7a – 8i – 5a – 7i
Asmaradana78i – 8a – 8e – 7a – 8a – 8u – 8a
Durma712a – 7i – 6a – 7a – 8i – 5a – 7i
Sinom98a – 8i – 8a – 8i – 7i – 8u -7a – 8i – 12a
Dhandhanggula1010i – 10a – 8e – 7u – 9i – 7a – 6u – 8a – 12i – 7a

The post Tembang Macapat: Pengertian – Jenis dan Strukturnya appeared first on HaloEdukasi.com.

]]>
11 Jenis Tembang Macapat dan Strukturnya https://haloedukasi.com/jenis-tembang-macapat Tue, 25 Jan 2022 07:59:14 +0000 https://haloedukasi.com/?p=30828 Tembang macapat terdiri dari 11 jenis tembang yang masing-masingnya memiliki makna, watak, dan struktur atau aturan yang berbeda satu sama lain. Setiap tembang macapat pada dasarnya menggambarkan fase-fase kehidupan manusia sejak ia masih berada di dalam rahim hingga saat ia meninggal dan siap dikuburkan. Untuk lebih jelasnya, mari disimak uraian berikut ini: 1. Maskumambang Tembang […]

The post 11 Jenis Tembang Macapat dan Strukturnya appeared first on HaloEdukasi.com.

]]>
Tembang macapat terdiri dari 11 jenis tembang yang masing-masingnya memiliki makna, watak, dan struktur atau aturan yang berbeda satu sama lain.

Setiap tembang macapat pada dasarnya menggambarkan fase-fase kehidupan manusia sejak ia masih berada di dalam rahim hingga saat ia meninggal dan siap dikuburkan. Untuk lebih jelasnya, mari disimak uraian berikut ini:

1. Maskumambang

Tembang macapat maskumambang berasal dari kata mas yang berarti emas dan kata kumambang yang berarti mengambang. Emas dalam hal ini dimaknakan sebagai sesuatu yang sangat berharga, yaitu anak.

Dan kumambang menggambarkan kehidupan anak sebagai janin yang masih dalam rahim ibunya. Dengan kata lain, makna tembang maskumambang menggambarkan perjalanan hidup manusia yang masih berupa janin dalam rahim seorang ibu.

Watak atau sifat dari tembang maskumambang adalah:

  • Sengsem (terpesona)
  • Sedhih (sedih)
  • Prihatin (susah hati, masygul)
  • Nelangsa

Paugeran atau struktur tembang maskumambang adalah 12i – 6a – 8i – 8o, yang artinya tembang maskumambang terdiri dari 4 gatra atau baris/larik pada tiap baitnya dengan aturan sebagai berikut:

  • Gatra/baris ke-1 terdiri dari 12 wilangan/suku kata dengan rima akhir “i”
  • Gatra/baris ke-2 terdiri dari 6 wilangan/suku kata dengan rima akhir “a”
  • Gatra/baris ke-3 terdiri dari 8 wilangan/suku kata dengan rima akhir “i”
  • Gatra/baris ke-4 terdiri dari 8 wilangan/suku kata dengan rima akhir “o”

Contoh tembang maskumambang:

Wong tan manut pitutur wong tuwa ugi
Ha nemu duraka
Ing donya tumekeng akhir
Tan wurung kasurang-surang

Artinya:

Orang yang tidak menurut perkataan orang tua
Dan senantiasa durhaka
Di dunia hingga akhirnya
Akan senantiasa tersia-sia

2. Mijil

Tembang mijil menggambarkan benih atau biji yang terlahir ke dunia. Tembang ini bermakna kehadiran seorang bayi ke dunia yang melambangkan awal perjalanan hidup seorang manusia.

Watak dari tembang mijil adalah:

  • Gandrung (memiliki kecenderungan)
  • Prihatin
  • Medharake bukaning crita (menjelaskan pembuka cerita)

Paugeran atau struktur tembang mijil adalah 10i – 6o – 10e – 10i – 6i – 6a, berarti mijil terdiri dari 6 gatra atau baris/larik untuk setiap baitnya dengan aturan sebagai berikut:

  • Gatra/baris ke-1 terdiri dari 10 wilangan/suku kata dengan rima akhir “i”
  • Gatra/baris ke-2 terdiri dari 6 wilangan/suku kata dengan rima akhir “o”
  • Gatra/baris ke-3 terdiri dari 10 wilangan/suku kata dengan rima akhir “e”
  • Gatra/baris ke-4 terdiri dari 10 wilangan/suku kata dengan rima akhir “i”
  • Gatra/baris ke-5 terdiri dari 6 wilangan/suku kata dengan rima akhir “i”
  • Gatra/baris ke-6 terdiri dari 6 wilangan/suku kata dengan rima akhir “o/u”

Contoh tembang mijil:

Dedalanne guna lawan sekti
Kudu andhap asor
Wani ngalah dhuwur wekasane
Tumungkula yen dipundukanni
Ruruh sarwa wasis
Samubarangipun

Artinya:

Jalan untuk mendapatkan ilmu dan kekuatan
Harus rendah hati
Berani mengalah tinggi akhirnya
Menerimalah jika diberi nasehat
Sabar serta pandai
Dalam hal apa saja

3. Kinanthi

Tembang kinanthi memiliki watak sebagai berikut:

Tembang kinanthi merupakan salah satu jenis tembang macapat yang menggambarkan kehidupan seorang anak yang masih membutuhkan tuntunan. Kata kinanthi sendiri berasal dari kata kanthi yang artinya menuntun.

  • Seneng (senang/gembira)
  • Tresna (sayang)
  • Grapyak (ramah)
  • Asih (kasih)

Paugeran atau struktur dari tembang kinanthi terdiri dari 6 gatra atau baris pada tiap baitnya dengan aturan 8u – 8i – 8a – 8i – 8a – 8i, yakni:

  • Gatra/baris ke-1 terdiri dari 8 wilangan/suku kata dengan rima akhir “u”
  • Gatra/baris ke-2 terdiri dari 8 wilangan/suku kata dengan rima akhir “i”
  • Gatra/baris ke-3 terdiri dari 8 wilangan/suku kata dengan rima akhir “a”
  • Gatra/baris ke-4 terdiri dari 8 wilangan/suku kata dengan rima akhir “i”
  • Gatra/baris ke-5 terdiri dari 8 wilangan/suku kata dengan rima akhir “a”
  • Gatra/baris ke-6 terdiri dari 8 wilangan/suku kata dengan rima akhir “i”

Contoh tembang kinanthi:

Padha gulangen ing kalbu
Ing sasmita amrip lantip
Aja pijer mangan nendra
Ing kaprawiran den kaesthi
Pesunen sarinira
Sudanen dhahar lan guling

Artinya:

Latihlah di dalam hati
Dalam suara hati agar menjadi cerdas
Jangan hanya makan dan tidur
Turutilah jiwa ksatria
Kendalikanlah anggota tubuh
Kurangilah makan dan minum

4. Sinom

Sinom melambangkan tunas atau sesuatu yang mulai tumbuh dan bersemi. Dalam perjalanan hidup manusia, tembang sinom menandakan seseorang memasuki masa remaja dan mulai tumbuh dewasa.

Watak dari tembang sinom adalah:

  • Grapyak (ramah)
  • Sumanak (bersaudara)
  • Renyah

Adapun paugeran atau struktur tembang sinom yaitu 8a – 8i – 8a – 8i – 7i – 8u -7a – 8i – 12a, yang menandakan tembang sinom terdiri dari 9 baris pada tiap baitnya dengan aturan tiap barisnya sebagai berikut:

  • Gatra/baris ke-1 terdiri dari 8 wilangan/suku kata dengan rima akhir “a”
  • Gatra/baris ke-2 terdiri dari 8 wilangan/suku kata dengan rima akhir “i”
  • Gatra/baris ke-3 terdiri dari 8 wilangan/suku kata dengan rima akhir “a”
  • Gatra/baris ke-4 terdiri dari 8 wilangan/suku kata dengan rima akhir “i”
  • Gatra/baris ke-5 terdiri dari 7 wilangan/suku kata dengan rima akhir “i”
  • Gatra/baris ke-6 terdiri dari 8 wilangan/suku kata dengan rima akhir “u”
  • Gatra/baris ke-7 terdiri dari 7 wilangan/suku kata dengan rima akhir “a”
  • Gatra/baris ke-8 terdiri dari 8 wilangan/suku kata dengan rima akhir “i”
  • Gatra/baris ke-9 terdiri dari 12 wilangan/suku kata dengan rima akhir “a”

Contoh tembang sinom:

Amenangi jaman edan
Ewuh aya ing pambudi
Melu edan nora tahan
Yen tan melu anglakoni
Boya keduman melik
Kaliren wekasannipun
Dilalah kersa Allah
Begja-begjane kang lali
Luwih begja kang eling lawan waspada

Artinya:

Bertemu dengan zaman gila
Sulit dalam pikiran
lkut gila tiada tertahan
Jika tidak ikut menjalani
Tidak akan mendapat bagian apa-apa
Kelaparan pada akhirnya
Untungnya kehendak Allah
Sebaik-baiknya orang yang lupa
Lebih beruntung yang selalu ingat dan waspada

5. Asmaradana

­­Asmaradana berasal dari kata asmara yang memiliki makna cinta kasih. Tembang ini menggambarkan fase perjalanan hidup manusia yang tengah merasakan gejolak asmara.

Perasaan asmara atau cinta kasih itu tidaklah terbatas pada cinta kepada sesama manusia saja, melainkan juga rasa cinta kepada Sang Pencipta maupun alam semesta.

Watak dari tembang asmaradana:

  • Sedhih prihatos (Sedih dan prihatin)
  • Sengsem gandhrung (kecenderungan untuk terpesona)
  • Cocok untuk cerita sedih dan asmara

Paugeran atau struktur dari tembang asmaradana adalah 8i – 8a – 8e – 7a – 8a – 8u – 8a. Tembang asmaradana terdiri dari 7 gatra/baris untuk tiap baitnya dengan ketentuan sebagai berikut:

  • Gatra/baris ke-1 terdiri dari 8 wilangan/suku kata dengan rima akhir “i”
  • Gatra/baris ke-2 terdiri dari 8 wilangan/suku kata dengan rima akhir “a”
  • Gatra/baris ke-3 terdiri dari 8 wilangan/suku kata dengan rima akhir “e”
  • Gatra/baris ke-4 terdiri dari 7 wilangan/suku kata dengan rima akhir “a”
  • Gatra/baris ke-5 terdiri dari 8 wilangan/suku kata dengan rima akhir “a”
  • Gatra/baris ke-6 terdiri dari 8 wilangan/suku kata dengan rima akhir “u”
  • Gatra/baris ke-7 terdiri dari 8 wilangan/suku kata dengan rima akhir “a”

Contoh tembang asmaradana:

Lumrah tumrap wong ngaurip
Dumunung sadhengah papan
Tan ngrasa cukup butuhe
Ngenteni rejeki tiba
Lamun tanpa makarya
Sengara bisa kepthuk
Kang mangkono bundhelana

Artinya:

Wajar bagi orang yang menjalani kehidupan
Dimanapun dia berada
Tidak merasa cukup akan kebutuhannya
Menunggu datangnya rezeki
Tapi tidak berkerja
Bagaimana bisa bertemu rezeki
Yang demikian itu, maka ingatlah

6. Gambuh

Gambuh merupakan tembang macapat yang memiliki makna menyambungkan atau menghubungkan. Dalam fase kehidupan manusia, tembang gambuh melambangkan seseorang yang telah menemukan belahan jiwanya dan kemudian bersama-sama membina mahligai rumah tangga melalui perkawinan.

Watak dari tembang gambuh adalah:

  • Wani wanuh (berani untuk mengetahui sesuatu)
  • Rumaket lan kulina (lengket dan saling terbiasa)

Tembang gambuh cocok digunakan untuk memberi nasehat atau petuah yang tidak terlalu serius.

Tembang gambuh memiliki struktur atau paugeran 7u – 10u – 12i – 8u – 8o, yang artinya bahwa tembang gambuh terdiri dari 5 gatra atau baris untuk tiap baitnya dimana masing-masing baris memiliki ketentuan sebagai berikut:

  • Gatra/baris ke-1 terdiri dari 7 wilangan/suku kata dengan rima akhir “u”
  • Gatra/baris ke-2 terdiri dari 10 wilangan/suku kata dengan rima akhir “u”
  • Gatra/baris ke-3 terdiri dari 12 wilangan/suku kata dengan rima akhir “i”
  • Gatra/baris ke-4 terdiri dari 8 wilangan/suku kata dengan rima akhir “u”
  • Gatra/baris ke-5 terdiri dari 8 wilangan/suku kata dengan rima akhir “o”

Contoh tembang gambuh:

Rasaning tyas kayungyung,
Angayomi lukitaning kalbu,
Gambir wana kalawan hening ing ati,
Kabekta kudu pinutur,
Sumingkiringreh tyas mirong.

Artinya:

Keinginan dari rasanya hati,
Memberi perlindungan rasa nyaman di hati,
Melahirkan perasaan yang hening di dalam hati,
Karena harus memberikan nasihat,
Agar dapat menyingkap hal-hal yang salah.

7. Dhandhanggula

Dhandhanggula melambangkan manisnya kehidupan manusia. Kata dhandhanggula berasal dari kata “gegadhangan” yang bermakna harapan atau cita-cita dan kata “gula” yang berarti sesuatu yang manis.

Tembang dhandhanggula merupakan gambaran fase kehidupan sepasang manusia yang telah mendapatkan impian atau meraih harapannya serta merasakan kebahagiaan hidup setelah sebelumnya melewati berbagai suka duka kehidupan.

Watak atau sifat dari tembang dhandhanggula adalah:

  • Kewes (sangat luwes)
  • Luwes
  • Resep/ngresepake (bisa dinikmati)
  • Endah (indah)

Tembang dhandhanggula cocok dilantunkan pada kondisi bahagia.

Struktur atau paugeran dari tembang dhandhanggula adalah 10i – 10a – 8e – 7u – 9i – 7a – 6u – 8a – 12i – 7a, yang artinya tembang ini memiliki 10 baris pada tiap baitnya dengan ketentuan:

  • Gatra/baris ke-1 terdiri dari 10 wilangan/suku kata dengan rima akhir “i”
  • Gatra/baris ke-2 terdiri dari 10 wilangan/suku kata dengan rima akhir “a”
  • Gatra/baris ke-3 terdiri dari 8 wilangan/suku kata dengan rima akhir “e”
  • Gatra/baris ke-4 terdiri dari 7 wilangan/suku kata dengan rima akhir “u”
  • Gatra/baris ke-5 terdiri dari 9 wilangan/suku kata dengan rima akhir “i”
  • Gatra/baris ke-6 terdiri dari 7 wilangan/suku kata dengan rima akhir “a”
  • Gatra/baris ke-7 terdiri dari 6 wilangan/suku kata dengan rima akhir “u”
  • Gatra/baris ke-8 terdiri dari 8 wilangan/suku kata dengan rima akhir “a”
  • Gatra/baris ke-9 terdiri dari 12 wilangan/suku kata dengan rima akhir “i”
  • Gatra/baris ke-10 terdiri dari 7 wilangan/suku kata dengan rima akhir “a”

Contoh tembang dhandhanggula:

Wus ndilalah kersaning Hyang Widhi,
Ratu Peranggi anulya prapta,
Wadya tambuh Wilangane,
Prawirane kalangkung,
Para ratu kalah ngajurit,
Tan ana kang nanggulang,
Tanah Jawa gempur,
Wus Jumeneng tanah Jawa,
Ratu Prenggibet budi kras anglangkungi,
Tetep neng tanah Jawa.

Artinya:

Sudah menjadi kehendak Tuhan,
Ratu Parenggi akan segera datang,
Bilangan pasukannya bertambah,
Kekuatannya berlebih,
Para raja kalah berperang,
Tidak ada yang menghalangi,
Tanah Jawa digempur,
Sudah berdiri tanah Jawa,
Raja Prenggi menjadi raja sangat keras melebihi,
Tetap di Tanah Jawa.

8. Durma

Durma memiliki makna memberi sebagaimana asal katanya, yakni “derma” yang artinya suka berderma. Tembang durma menggambarkan fase kehidupan seseorang yang telah memperoleh banyak nikmat dan kecukupan harta untuk berbagai kepada orang lain.

Watak tembang durma adalah:

  • Galak (tegas)
  • Nanthang (suka menantang)
  • Nesu (mudah marah)
  • Muntab (bergejolak)

Pada tembang durma tergambar semangat seperti saat perang maupun pemberontakan.

Paugeran atau struktur tembang durma yaitu 12a – 7i – 6a – 7a – 8i – 5a – 7i, artinya memiliki 7 gatra dalam tiap baitnya dengan ketentuan:

  • Gatra/baris ke-1 terdiri dari 12 wilangan/suku kata dengan rima akhir “a”
  • Gatra/baris ke-2 terdiri dari 7 wilangan/suku kata dengan rima akhir “i”
  • Gatra/baris ke-3 terdiri dari 6 wilangan/suku kata dengan rima akhir “a”
  • Gatra/baris ke-4 terdiri dari 7 wilangan/suku kata dengan rima akhir “a”
  • Gatra/baris ke-5 terdiri dari 8 wilangan/suku kata dengan rima akhir “i”
  • Gatra/baris ke-6 terdiri dari 5 wilangan/suku kata dengan rima akhir “a”
  • Gatra/baris ke-7 terdiri dari 7 wilangan/suku kata dengan rima akhir “i”

Contoh tembang durma:

Ingkang eling Iku ngelingana marang
sanak kadang kang lali
Den nedya raharja
Mangkono tindak ira
Yen tan ngugu ya uwis
Teka menenga
Mung aja sok ngrasani

Artinya:

Yang ingat itu ingatlah pada
sanak saudara yang lupa
hanya ingin hidup sejahtera
itulah yang harus dilakukan
Jika tidak percaya ya sudah
Tinggal diam saja
Hanya jangan membicarakannya di belakang

9. Pangkur

Tembang macapat pangkur bermakna meninggalkan hawa nafsu dan urusan duniawi. Hal ini sesuai dengan makna kata pangkur yang berasal dari kata “mungkur” yang artinya membelakangi, meninggalkan, atau pergi.

Tembang pangkur menggambarkan fase hidup manusia yang telah memasuki masa senja atau tua, dimana pada usia tersebut manusia cenderung sudah mengurangi aktivitas duniawinya dan lebih banyak melakukan instropeksi diri.

Tembang pangkur memiliki watak sebagai berikut:

  • Kuat
  • Gagah
  • Jejeg atine (berhati teguh)
  • Tulus
  • Besar hati

Paugeran atau struktur tembang pangkur adalah 8a – 11i – 8u – 7a – 8i – 5a – 7i. Tembang pangkur terdiri dari 7 baris pada tiap baitnya dengan ketentuan tiap barisnya sebagai berikut:

  • Gatra/baris ke-1 terdiri dari 8 wilangan/suku kata dengan rima akhir “a”
  • Gatra/baris ke-2 terdiri dari 11 wilangan/suku kata dengan rima akhir “i”
  • Gatra/baris ke-3 terdiri dari 8 wilangan/suku kata dengan rima akhir “u”
  • Gatra/baris ke-4 terdiri dari 7 wilangan/suku kata dengan rima akhir “a”
  • Gatra/baris ke-5 terdiri dari 8 wilangan/suku kata dengan rima akhir “i”
  • Gatra/baris ke-6 terdiri dari 5 wilangan/suku kata dengan rima akhir “a”
  • Gatra/baris ke-7 terdiri dari 7 wilangan/suku kata dengan rima akhir “i”

Contoh tembang pangkur:

Sekar Pangkur kang Winarna,
Lelabuhan kang kangge wong aurip,
Ala lan becik punika,
Prayoga kawruhana,
Adat waton punika dipun kadulu,
Miwah ingkang tatakrama,
Den kaesthi siyang ratri

Artinya:

Tembang Pangkur yang diceritakan,
Pengabdian untuk orang hidup,
Jelek dan baik itu,
Sebaiknya kamu ketahui,
Adat istiadat itu hendaknya dilaksanakan,
Juga yang berupa tata krama,
Dilaksanakan siang dan malam.

10. Megatruh

Nama tembang megatruh berasal dari dua kata, yaitu “megat” dan “roh”. Megat berarti memutus sehingga megatruh artinya memutus roh/ruh. Tembang ini menggambarkan fase kehidupan manusia ketika tengah menghadapi kematian, saat roh berpisah dari raga.

Watak dari tembang megatruh adalah:

  • Sedhih (sedih)
  • Getun (menyesal)
  • Prihatin

Adapun paugeran atau struktur tembang megatruh adalah terdiri dari 5 baris dengan kaidah 12u – 8i – 8u – 8i – 8o, yakni:

  • Gatra/baris ke-1 terdiri dari 12 wilangan/suku kata dengan rima akhir “u”
  • Gatra/baris ke-2 terdiri dari 8 wilangan/suku kata dengan rima akhir “i”
  • Gatra/baris ke-3 terdiri dari 8 wilangan/suku kata dengan rima akhir “u”
  • Gatra/baris ke-4 terdiri dari 8 wilangan/suku kata dengan rima akhir “i”
  • Gatra/baris ke-5 terdiri dari 8 wilangan/suku kata dengan rima akhir “o”

Contoh tembang megatruh:

Ulatna kang nganti bisane kepangguh,
Galedhahen kang sayekti,
Talitinen awya kleru,
Larasen sajroning ati,
Tumanggap dimen tumanggon.

Artinya:

Lihatlah sampai bisa ketemu,
Pandanglah dengan sungguh-sungguh,
Telitilah jangan keliru,
Endapkan di dalam hati,
Agar mudah menanggapi segala sesuatu.

11. Pocung/Pucung

Pocung atau Pucung berasal dari kata “pocong”, merupakan tembang macapat yang menggambarkan akhir kehidupan manusia di dunia, yakni setelah ia meninggal dan dikafani sebelum kemudian akan dikuburkan.

Meskipun bermakna kematian, tembang pocung memiliki watak jenaka dan menghibur.

Paugeran atau struktur tembang pocung disusun menurut kaidah 12u – 6a – 8i – 12a, dimana ia memiliki 4 baris pada tiap baitnya dengan ketentuan:

  • Gatra/baris ke-1 terdiri dari 12 wilangan/suku kata dengan rima akhir “u”
  • Gatra/baris ke-2 terdiri dari 6 wilangan/suku kata dengan rima akhir “a”
  • Gatra/baris ke-3 terdiri dari 8 wilangan/suku kata dengan rima akhir “i”
  • Gatra/baris ke-4 terdiri dari 12 wilangan/suku kata dengan rima akhir “a”

Contoh tembang pocung:

Bapak pocung, dudu watu dudu gunung
Sangkane ing sabrang
Ngon angone sang bupati
Yen lumampah si pocung lambeyan gena

Artinya:

Bapak pocung bukan batu bukan gunung
Asalnya dari seberang
Peliharaan sang Bupati
Kalau berjalan si pocung tidak memakai pakaian

The post 11 Jenis Tembang Macapat dan Strukturnya appeared first on HaloEdukasi.com.

]]>
Teks Geguritan: Pengertian – Jenis dan Strukturnya https://haloedukasi.com/teks-geguritan Sat, 22 Jan 2022 12:55:47 +0000 https://haloedukasi.com/?p=30782 Ada banyak jenis teks dalam bahasa Jawa, diantaranya adalah teks geguritan atau yang dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai puisi Jawa. Berikut akan dibahas beberapa hal terkait dengan teks geguritan, mulai dari pengertian, struktur, hingga unsur kebahasaannya sesuai dengan kaidah bahasa Jawa. Pengertian Teks Geguritan Kata “Geguritan” merupakan salah satu bentuk kata ulang dwipura. Geguritan berasal […]

The post Teks Geguritan: Pengertian – Jenis dan Strukturnya appeared first on HaloEdukasi.com.

]]>
Ada banyak jenis teks dalam bahasa Jawa, diantaranya adalah teks geguritan atau yang dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai puisi Jawa.

Berikut akan dibahas beberapa hal terkait dengan teks geguritan, mulai dari pengertian, struktur, hingga unsur kebahasaannya sesuai dengan kaidah bahasa Jawa.

Pengertian Teks Geguritan

Kata “Geguritan” merupakan salah satu bentuk kata ulang dwipura. Geguritan berasal dari kata dasar gurit yang mendapat akhiran –an. Gurit sendiri bermakna kidung (syair) atau tulisan, sedangkan guritan bisa diartikan sebagai hasil dari nggurit.

Yang dimaksud geguritan adalah satu jenis karya sastra yang bahasanya cekak (pendek), mentes (berisi/penuh makna), dan endah (indah). Geguritan sendiri merupakan bentuk tulisan yang dihasilkan dari ungkapan perasaan panggurit (pembuat/penulis geguritan).

Jenis Geguritan

Geguritan dalam bahasa Jawa dibagi menjadi 2, yaitu:

Geguritan Gagrak Lawas

Gegurutan gagrak lawas yaitu geguritan yang masih menggunakan aturan lama, seperti:

  • Jumlah baris tidak tetap, tapi paling sedikit ada 4 baris
  • Menggunakan aturan purwakanthi guru swara (a, i, u, e, o)
  • Diawali dengan kata-kata “sun nggegurit”

Geguritan Gagrak Anyar

Geguritan gagrak anyar yaitu geguritan yang bebas dan tidak terikat dengan peraturan apapun. Guru gatra (jumlah baris), guru wilangan (jumlah suku kata tiap baris), maupun guru lagu (rima akhir) nya bebas serta tidak menggunakan kata-kata “sun nggegurit”.

Struktur Teks Geguritan

Struktur teks geguritan dibedakan menjadi 2, yaitu:

  • Struktur Fisik, yang termasuk struktur fisik teks geguritan adalah:
    • Diksi atau pemilihan kata
    • Majas atau gaya bahasa
    • Purwakanthi (rima), baik pengulangan swara, kata, frasa, atau kalimat
    • Tiporafi, yaitu penataan larik (baris), pada (bait), ukara (kalimat), dsb.
  • Struktur Batin, Struktur batin geguritan terdiri atas:
    • Bakuning gagasan atau gagasan utama (tema)
    • Pangrasane pangripta, yaitu kata-kata dalam geguritan yang menjelmakan rasa dari penulisnya
    • Nada atau sikap pangripta (penulis) kepada pembaca, apakah berupa pujian, nasehat, atau sindiran.
    • Amanat atau pesan yang ingin disampaikan kepada pembaca
    • Wasana atau suasana batin pembaca setelah membaca geguritan tersebut.

Unsur Kebahasaan Teks Geguritan

Unsur kebahasaan dalam teks geguritan tentunya memiliki peran yang penting dalam menciptakan keindahan bahasa dalam sebuah puisi Jawa atau geguritan. Dalam teks geguritan ada beberapa unsur kebahasaan yang biasa digunakan, yakni sebagai berikut:

1. Tembung Rangkep

Tembung rangkep dalam bahasa Indonesia disebut dengan kata ulang. Tembung rangkep dalam tata bahasa Jawa dibagi menjadi:

  • Dwilingga (kata ulang utuh), contohnya: tuku-tuku (beli-beli).
  • Dwilingga salin swara (kata ulang berubah bunyi), contoh: tuka-tuku (beli-beli),
  • Dwipurwa (Kata ulang sebagian), contohnya: tetuku (beli-beli).
  • Dwiwasana (mengulang bagian belakang kata dasarnya), contoh: celuluk (dari kata dasar celuk yang artinya memanggil).

2. Purwakanthi

Purwakanthi adalah urutan bunyi pada kalimat, kata, atau suku kata yang depan/awal menggandeng kata atau suku kata di belakangnya. Purwakanthi juga diartikan sebagai sajak atau rima.

Dalam bahasa Jawa, purwakanthi dibagi menjadi 3, yaitu:

  • Purwakanthi guru swara

Yaitu purwakanthi yang nampak dari urutan swaranya (vokalnya). Contohnya, “Sartana nggawa apa saka Surabaya?”
(Sartana membawa apa dari Surabaya?).

Pada contoh diatas nampak adanya pengulangan swara atau vokal “a” pada tiap kata dan suku katanya.

  • Purwakanthi guru sastra

Yaitu purwakanthi yang nampak dari urutan sastranya, dalam hal ini adalah konsonan di awal katanya. Contohnya, “Mari menyang Malang menehe menyang Makasar.” (Habis pergi ke Malang, besoknya pergi ke Makasar)

Pada contoh diatas terdapat pengulangan sastra “m” pada tiap awal kata.

  • Purwakanthi guru basa

Yaitu purwakanthi yang nampak dari adanya urutan suku kata atau baris akhir dengan awal suku kata atau baris di dekatnya.

Contohnya, “Bocah nakal, nakale ning wedi kadhal.” (Anak nakal, meskipun nakal tapi takut kadal)

Pada contoh diatas terdapat pengulangan pada kata nakal.

3. Tembung Camboran

Tembung camboran adalah dua kata yang dijadikan satu dan menghasilkan makna atau arti kata yang baru. Tembung camboran dibagi menjadi dua, yaitu:

  • Tembung Camboran Wutuh, contohnya:
    • Nagasari à dari kata naga + sari, setelah digabung menjadi nama kue
    • Madu mangsa à dari kata madu + mangsa (musim), setelah digabung menjadi nama jajanan.
  • Tembung Camboran Tugel, contohnya:
    • Pakdhe à dari kata Bapak + Gedhe (besar)
    • Bangjo à dari kata abang (merah) + ijo (Hijau)

4. Tembung Entar

Tembung entar adalah kata yang tidak memiliki makna sebenarnya atau dalam bahasa Indonesia berarti konotasi.

Contoh tembung entar adalah sebagai berikut:

  • Adus kringet (Mandi keringat), maksudnya adalah melakukan pekerjaan berat
  • Gedhe endase (besar kepalanya), maksudnya adalah sombong

The post Teks Geguritan: Pengertian – Jenis dan Strukturnya appeared first on HaloEdukasi.com.

]]>
Swara Jejeg-Miring dan Sandhangan Taling-Pepet https://haloedukasi.com/swara-jejeg-miring-dan-sandhangan-taling-pepet Tue, 18 Jan 2022 08:25:34 +0000 https://haloedukasi.com/?p=30713 Dalam bahasa Jawa, beberapa kata memiliki perbedaan dalam penulisan dan pengucapannya. Misalnya saja kata “mata” yang tertulis dengan vokal “a” tetapi dibaca “moto” menggunakan vokal “o”. Atau kata “mancing” yang tertulis dengan vokal “i” tetapi dibaca “manceng”. Namun, adakalanya baik penulisan maupun pengucapannya sama. Hal ini dikenal dengan istilah swara jejeg dan swara miring. Berikut […]

The post Swara Jejeg-Miring dan Sandhangan Taling-Pepet appeared first on HaloEdukasi.com.

]]>
Dalam bahasa Jawa, beberapa kata memiliki perbedaan dalam penulisan dan pengucapannya. Misalnya saja kata “mata” yang tertulis dengan vokal “a” tetapi dibaca “moto” menggunakan vokal “o”.

Atau kata “mancing” yang tertulis dengan vokal “i” tetapi dibaca “manceng”. Namun, adakalanya baik penulisan maupun pengucapannya sama. Hal ini dikenal dengan istilah swara jejeg dan swara miring.

Berikut adalah pembahasan dan contoh mengenai swara jejeg dan swara miring untuk masing-masing swara (vokal) dalam bahasa Jawa.

Swara “a”

Pada swara atau huruf vokal “a”, yang dimaksud swara jejeg adalah ketika pengucapan “a” berubah menjadi “o”(seperti “o” pada kata “tolong”). Contohnya adalah sebagai berikut:

  • Bata (batu bata) dibaca boto
  • Mata (mata) dibaca moto
  • Gawa (membawa) dibaca gowo
  • Jaga (berjaga) dibaca jogo
  • Lara (sakit) dibaca loro

Adapun swara miring pada vokal “a” adalah ketika pengucapan dan penulisannya sama. Contohnya adalah sebagai berikut:

  • Bathang (bangkai) dibaca bathang
  • Tawang (langit) dibaca tawang
  • Layangan dibaca layangan
  • Sawang (jaring laba-laba, melihat) dibawa sawang
  • Dalan (jalan) dibaca dalan

Swara “i”

Pada swara atau huruf vokal “i”, yang dimaksud swara jejeg adalah ketika penulisan dan pengucapannya sama atau tidak berubah. Contohnya adalah sebagai berikut:

  • Panci dibaca panci
  • Tali dibaca tali
  • Sapi dibaca sapi
  • Pari dibaca pari
  • Wedi (pasir) dibaca wedi

Adapun swara miring pada vokal “i” adalah ketika pengucapan vokal “i” berubah menjadi “e” (seperti “e” pada kata “sate”). Contohnya adalah sebagai berikut:

  • Jaring (jala) dibaca jareng
  • Paring (memberi) dibaca pareng
  • Saring (menyaring) dibaca sareng
  • Miring dibaca mereng
  • Penting dibaca penteng

Catatan:

Setiap swara miring “i” yang mendapat imbuhan akhiran “e” maka swara miringnya akan berubah menjadi swara jejeg. Contohnya adalah sebagai berikut:

  • Jaring yang dibaca jareng, bila mendapat akhiran “e” yaitu jaring + e maka dibaca Jaringe.
  • Sikil (kaki) yang dibaca sekel, bila diberi akhiran “e” yaitu sikil + e maka dibaca sikile

Swara “u”

Pada swara atau huruf vokal “u”, yang dimaksud swara jejeg adalah ketika penulisan dan pengucapannya sama atau tidak berubah. Contohnya adalah sebagai berikut:

  • Lampu dibaca lampu
  • Payu (laku) dibaca payu
  • Tuku (beli) dibaca tuku
  • Gulu (leher) dibaca gulu
  • Sapu dibaca sapu

Adapun swara miring pada vokal “u” adalah ketika pengucapan vokal “u” berubah menjadi “o” (seperti “o” pada kata “bakso”). Contohnya adalah sebagai berikut:

  • Sabun dibaca sabon
  • Payung dibaca payong
  • Jaluk (minta) dibaca jalok
  • Luput (meleset) dibaca lopot
  • Sabuk (ikat pinggang) dibaca sabok

Catatan:

Setiap swara miring “u” yang mendapat imbuhan maka swara miringnya akan berubah menjadi swara jejeg. Contonya adalah sebagai berikut:

  • Sabun yang dibaca sabon, bila mendapat imbuhan,misalnya disabuni, maka dibaca jejeg disabuni.

Swara “o”

Pada swara “o”, swara jejeg adalah bila pengucapan “o” nya seperti “o” pada kata “bakso”. Contohnya adalah pada kata berikut:

  • Moto (semboyan)
  • Loro (dua)
  • Jago (jantan, ayam jago)
  • Kebo
  • Soto

Sementara itu, swara miring adalah ketika “o” diucapkan seperti “o” pada kata “tolong”. Contohnya adalah pada kata:

  • Lorong
  • Kalong (berkurang)
  • Bagong (nama tokoh pewayangan)
  • Colong (mencuri)

Swara “e”

Untuk swara “e” ada tiga bentuk pengucapan yang berbeda, yaitu:

  • Swara “e” jejeg yang pada penulisan huruf jawa menggunakan sandhangan taling
  • Swara ”e”  miring yang pada penulisan huruf jawa menggunakan sandhangan taling
  • Swara “e” yang pada penulisan huruf jawa menggunakan pepet

Swara “e” jejeg adalah bunyi vokal “e” yang diucapkan seperti pengucapan “e” pada kata “sate”. Contohnya adalah pada kata berikut:

  • Sate
  • Gule
  • Tempe
  • Kate (akan)

Swara “e” miring adalah bunyi vokal “e” yang diucapkan seperti pengucapan “e” pada kata “kaleng”. Contohnya adalah pada kata berikut:

  • Balen (mengulang)
  • Tempeh (tampah)
  • Weweh (memberi)
  • Kates (pepaya)

Swara “e” yang pada penulisan huruf jawa menggunakan sandhangan pepet, yakni pengucapan “e” seperti pada kata senang. Contohnya adalah pada kata:

  • Seneng (gembira)
  • Saget (bisa)
  • Temu (jumpa)
  • Wedhus (kambing)
  • Kesel (capek)

The post Swara Jejeg-Miring dan Sandhangan Taling-Pepet appeared first on HaloEdukasi.com.

]]>