Geografi

8 Faktor Penyebab Kelangkaan Air Bersih

√ Edu Passed Pass education quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Air adalah suatu benda yang tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan manusia. Air sangat penting bagi kehidupan mulai dari mendukung kegiatan sehari-hari hingga kebutuhan tubuh.

Namun pada faktanya sebanyak 2,8 miliar penduduk dunia mengalami krisis air bersih termasuk di Indonesia khususnya pulau Jawa. Apa yang menyebabkan air menjadi krisis bahkan langka? Berikut penjelasannya:

1. Populasi Penduduk Terlalu Banyak

Dalam suatu negara biasanya memiliki satu wilayah yang menjadi pusat pemukiman warga karena beberapa alasan. Banyak warga yang pindah ke pusat pemukiman tersebut hingga akhirnya mengalami over populasi.

Semakin banyak populasi maka akan semakin pertumbuhan industri yang bisa saja merusak ekosistem air lingkungan tersebut. Akibat yang lebih parah dari over populasi adalah hilangnya keanekaragaman hayati

2. Polusi Air

Air sebagaimana udara dan tanah juga bisa mengalami pencemaran. Air yang tercemar biasanya terdapat di kota-kota besar yang memiliki banyak industri namun dapat juga terjadi di desa-desa yang kerap membuang sampah di sungai.

Selain limbah industri, pestisida dan pupuk yang tidak tepat digunakan para petani juga menjadi penyumbang terkontaminasinya air dan juga tanah. 

3. Sistem Pertanian

Sebagian besar petani menggunakan air tawar untuk lahan pertanian mereka. Sayangnya penggunaan air tersebut kurang bijak sehingga terjadi pemborosan air hingga sebanyak 60 persen.

Sistem irigasi petani di Indonesia saat ini juga masih mengalami sistem kebocoran. Air tersebut akan mengalir ke lahan pertanian yang mengandung zat pestisida berbahaya bagi tubuh manusia. 

4. Kekeringan

Air sebenarnya merupakan sumber daya alam yang dapat terbarukan dengan adanya hujan. Sayangnya tidak semua tempat di Bumi ini mendapatkan curah hujan yang baik hingga harus mengalami kekeringan. Akibat tidak adanya hujan persediaan air pun kurang bahkan tidak terpenuhi. 

5. Penggunaan Air yang Tidak Bijak

Krisis air tidak hanya terjadi di negara-negara atau wilayah yang tidak memiliki cukup curah hujan. Hal tersebut bisa terjadi pada wilayah dengan intensitas hujan yang cukup namun tidak bijak dalam memanfaatkannya. Masyarakatnya cenderung boros atau bahkan membuang-buang air. 

Oleh sebab itu kita harus memperhatikan penggunaan air kita agar tetap terjaga. Contoh langkah untuk menjaga ketersediaan air adalah dengan mematikan kran air apabila sudah tidak dipakai, memperhatikan durasi mandi kita, segera memperbaiki pipa air yang bocor, dan beralih menggunakan kran aerator. 

6. Alam yang Sudah Rusak

Beberapa oknum manusia melakukan penebangan pohon secara ilegal dan tanpa melakukan penghijauan kembali sehingga merusak alam.

Padahal pohon memiliki banyak peranan dalam kehidupan manusia salah satunya dalam menjaga ketersediaan dan kebersihan air. Pohon membantu air masuk ke dalam tanah dan tersimpan di sana sebagai cadangan air. 

Jika suatu wilayah tidak memiliki pohon maka air hujan yang turun sulit meresap ke tanah dan langsung mengalir ke sungai. Akibatnya sungai tidak dapat menampung air hingga meluap dan menyebabkan banjir. 

7. Konflik 

Wilayah yang mengalami konflik seperti beberapa negara-negara di Afrika umumnya mengalami kelangkaan air terutama air bersih. Hal tersebut karena dalam peperangan tersebut menggunakan bahan kimia yang dapat mencemari lingkungan. Bahan kimia tersebut juga dapat mencemari air. 

Selain itu air bersih juga menjadi sengketa di antara dua negara yang berseteru. Bahkan mereka tidak segan untuk menghukum mati apabila ada pihak musuh yang tertangkap basah mengambil persediaan air bersih. 

8. Jarak yang Terlalu Jauh

Beberapa penduduk negara di dunia termasuk di Indonesia tinggal di tempat yang jauh dengan sumber air bersih. Untuk mendapatkan air bersih tersebut mereka harus berjalan hingga berkilo-kilo meter namun hanya mendapatkan sedikit air.

Daerah di Indonesia yang mengalami hal serupa beberapa diantaranya adalah di NTT dan Sulawesi Tenggara. Hal tersebut lantaran pipa PDAM belum merata di seluruh pelosok negeri.