Geografi

Unsur-Unsur Cuaca dan Iklim

√ Edu Passed Pass education quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Meskipun cuaca dan iklim adalah dua istilah yang berbeda, namun keduanya terdiri dari unsur-unsur yang sama. Berikut ini, unsur-unsur tersebut akan dijelaskan lebih spesifik.

1. Penyinaran

Penyinaran yang dimaksud ialah sinar yang berasal dari matahari sehingga mengakibatkan permukaan bumi mengalami kenaikan suhu. Permukaan bumi yang telah panas dirambatkan secara berangsur-angsur dari lapisan atmosfir terbawah ke lapisan yang ada di atasnya.

Banyaknya panas matahari yang diterima dipengaruhi oleh sejumlah faktor, yaitu:

  • Lamanya penyinaran
  • Kemiringan sinar matahari yang jatuh ke permukaan bumi
  • Keadaan awan
  • Keadaan permukaan bumi itu sendiri
  • Suhu Udara

Suhu adalah tingkat gerakan molekul benda, dimana semakin cepat gerakan molekul udara maka makin tinggi pula suhunya. Perubahan suhu udara pada suatu tempat dengan tempat lainnya bergantung pada ketinggian tempat dan letak lintang.

Perubahan suhu karena perbedaan ketinggian jauh lebih cepat dibanding perubahan suhu karena perbedaan letak lintang. Penurunan suhu juga terjadi dengan semakin besarnya lintang.

Selain akibat perbedaan tempat, suhu juga akan berbeda dari waktu ke waktu. Suhu di pagi hari akan berbeda dengan siang hari.

Di Indonesia, suhu maksimum akan tercapai pada pukul 14.00 dan suhu minimum terjadi pada pukul 03.00.

2. Angin

Angin adalah gerakan udara mendatar atau sejajar dengan permukaan bumi yang terjadi karena adanya perbedaan tekanan udara antara satu tempat dengan tempat lainnya.

Angin bergerak dari tekanan tinggi ke tekanan rendah. Jika telah mencapai keseimbangan, maka udara akan cenderung diam atau tenang.

Selain memiliki kecepatan, gerakan angin juga memiliki arah. Arah gerakan tersebut selain dipengaruhi oleh perbedaan tekanan, dipengaruhi juga oleh gerakan rotasi bumi yang menghasilkan gaya coriolis dan gaya gesekan dengan permukaan bumi.

Gaya coriolis menyebabkan angin dibelokkan ke kanan untuk belahan bumi utara dan dibelokkan ke kiri untuk belahan bumi selatan.

3. Keadaan Awan

Awan merupakan kumpulan partikel air berupa tetes cair ataupun kristal es yang tampak di atmosfir. Tetes partikel air tersebut berasal dari kondensasi uap air pada inti kondensasi yang ada dalam udara.

Kondensasi atau pengembunan adalah tergabungnya partikel uap air pada partikel ‘debu’ (yang disebut inti kondensasi) sehingga menghasilkan tetes air. Kondensasi tidak akan terjadi pada udara bersih, sebaliknya akan terjadi jika di udara terdapat inti kondensasi.

Inti kondensasi dapat berupa debu, asap, garam laut (NaCl) atau benda mikroskopik yang memiliki sifat mampu menyerap (hidroskopik).

Peristiwa kondensasi tidak cukup dengan adanya inti kondensasi, tetapi harus terpenuhi persyaratan lainnya, yaitu kelembapan udara yang memadai. Jika kedua persyaratan tadi terpenuhi, maka terjadilah pengembunan menjadi partikel air atau es.

Di dalam atmosfir, awan memiliki tiga bentuk dasar yaitu bentuk berserat/sirus (terdiri dari kristal-kristal es), bentuk berlapis/stratus (tumbuh dari awan horisontal), dan bentuk gumpalan/kumulus (disebabkan oleh pertumbuhan vertikal yang sangat besar).

Selain itu, nama awan dibedakan pula berdasarkan letak ketinggian. Awan tinggi (alto) tidak memberikan hujan, dan awan rendah (nimbus) ialah awan yang memberikan hujan.

4. Kelembapan Udara

Uap air merupakan salah satu komponen dalam udara selain aerosol (debu, partikel-partikel). Uap air berasal dari proses penguapan lautan (evaporasi) dan tumbuhan (transpirasi). Kandungan uap air dalam udara dikenal dengan sebutan kelembapan.

Kelembapan tidaklah tetap karena dipengaruhi oleh temperatur massa udara tersebut. Kemampuan udara menampung uar air juga berubah-ubah tergantung pada temperatur.

Jika kandungan uap terlalu besar atau melebihi kemampun udara untuk menampungnya (jenuh), terjadilah kondensasi dalam bentuk titik-titik air.

Kelembapan udara juga berbeda-beda antara satu wilayah dengan wilayah lainnya karena temperatur antarwilayah di permukaan bumi juga berbeda, baik karena ketinggian, waktu, maupun letak lintang.

5. Curah Hujan (Presipitasi)

Presipitasi ini dapat berbentuk hujan, gerimis, salju, dan batu es. Di Indonesia, hujan jauh lebih sering dijumpai, maka hujan lebih diartikan sebagai endapan dalam bentuk air.

Ada empat jenis hujan, yaitu hujan konvektif, orografis, konvergensi, dan frontal.

6. Tekanan Udara

Sama halnya dengan air, udara juga merupakan suatu zat yang sifatnya tentu memiliki massa dan volume.

Tekanan udara dapat dipengaruhi oleh tinggi rendahnya sebuah tempat dan juga suhu udara.