Pendidikan Agama

3 Pelajaran Hidup dari KH Maimoen Zubair

√ Edu Passed Pass education quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Kiai Maimoen Zubair adalah salah satu tokoh senior di Nahdlatul Ulama (NU). Selain itu KH Maimoen Zubair juga dikenal sebagai pendiri Pondok Pesantren al-Anwar, Sarang Rembang.

Beberapa orang akrab memanggil Kiai Maoimone Zubair dengan sebutan Mbah Moen. Mbah Moen merupakan putra dari Kiai Zubair. Ia lahir pada hari Kamis, 28 Oktober 1928 di Sarang, Jawa Tengah.

Sebagai putra seorang kiai, bukan suatu hal yang asing apabila ia sudah mampu menghafal beberapa ilmu agama yang diajarkan di pondok pesantren. Kedalaman pengetahuan Mbah Moen diperoleh melalui jalan nyantri di berbagai pesantren di tanah Jawa maupun di tanah suci.

Ia pernah menjadi santri di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri selama lima tahun di bawah bimbingan KH. Abdul Karim (Mbah Manaf), KH. Marzuqi, dan KH. Mahrus Ali.

Setelah usia Mbah Moen menginjak 21 tahun, ia pergi ke tanah suci untuk memperdalam ilmu agama. Setelah itu, saat kembali ke tanah air ia juga tidak berhenti untuk nyantri dan menyebarkan ilmu di berbagai daerah.

1. Pribadi yang Rendah Hati

Keluasan ilmu Mbah Moen tidak diragukan lagi di berbagai kalangan. Ia sempat diberikan tawaran untuk masuk dalam ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia).

Namun Mbah Moen justru menolak tawaran tersebut. Penolakan tersebut bukan berarti mengartikan bahwa Mbah Moen merupakan pribadi yang sombong. Melainkan hal tersebut menunjukkan bahwa ia tidak haus dengan jabatan dan kekuasaan.

Kerendahan hati ini nampak sekali pada perilaku Mbah Moen. Meskipun Mbah Moen memiliki kapasitas keilmuan yang tinggi, ia tetap menampik dan memilih untuk fokus dalam mengelola Nahdlatul Ulama (NU).

2. Mau Mengakui Kelebihan Lawan

Hubungan Kiai Maimoen Zubair dengan Gus Dur sempat diisukan renggang. Namun, pada dasarnya keduanya tidak ada permusuhan.

Suatu hari Mbah Moen menghadiri 1000 hari wafatnya Gus Dur di Ponpes Tebuireng, JombangĀ  Jawa Timur. Saat menyampaikan ceramah, ia mengutarakan bahwa sebaiknya umat Islam di Indonesia ini sebaiknya meneladani ajaran Gus Dur.

Mbah Moen sangat salut dengan sikap toleransi yang dibangun oleh Gus Dur. Gus Dur memang terkenal sebagai tokoh pluralisme di Indonesia. Meskipun dikabarkan bermusuhan, namun Mbah Moen tetap berani mengakui kelebihan Gus Dur.

3. Istiqamah

Memang benar kata orang bijak, semakin padi itu berisi, maka ia akan semakin menunduk. Begitu juga gambaran orang yang mencari ilmu. Semakin banyak ilmu seseorang, maka hal itu tidak akan menjadikannya sombong. Tentu saja padi yang berisi akan disukai banyak orang.

Sama halnya dengan orang yang berilmu. Semakin tinggi ilmu seseorang, maka semakin banyak pula orang yang menghormatinya. Ia begitu membawa banyak manfaat bagi orang di sekitarnya. Meskipun memiliki segudang Ilmu dan pengalaman di bidang politik, ia tidak goyah.

Saat era reformasi mengalami puncaknya, gemuruh demokrasi tersiar dimana-mana. Partai politik mulai bermunculan. Namun Mbah Moen tetap memilih diam. Ia tetap istiqomah di Partai Persatuan dan Pembangunan (PPP).

Mbah Moen membuktikan bahwa tingginya ilmu seseorang tidak membuat pemiliknya tinggi hati dan terlihat eksklusif dibandingkan yang lainnya.