Sejarah

Peran Chaerul Saleh dalam Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

√ Edu Passed Pass education quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Chaerul Saleh Datuk Paduko Rajo atau yang dikenal dengan nama Chaerul Saleh merupakan salah satu tokoh sejarah yang berperan dalam proklamasi kemerdekaan Indonesia. Chaerul Saleh lahir pada 13 September 1916 di Sawahlunto, Sumatera Barat.

Pada tahun 1940-1942, beliau menjabat sebagai ketua Persatuan Pemuda Pelajar Indonesia. Tidak hanya itu,  Chaerul Saleh adalah salah satu anggota golongan pemuda yang aktif dalam gerakan pemuda dari asrama menteng raya 31, bersama dengan Sukarni, A.M Hanafi, dan Ismail.

Chaerul Saleh juga menjadi anggota panitia Seinendan, serta menjadi anggota Pusat Tenaga Rakyat (Putera) pimpinan empat serangkai. Namun, demi melihat kekejaman pasukan jepang, beliau segera berbalik arah  menjadi anti-jepang dan ikut dalam membentuk Barisan Banteng.

Chaerul Saleh merupakan salah satu tokoh yang memiliki peran penting dalam proklamasi kemerdekaan Indonesia. Berikut ini peran Chaerul Saleh yang perlu kamu ketahui, simak pembahasannya.

Salah satu pelopor Peristiwa Rengasdengklok

Saat menjelang runtuhnya kekuasaan Jepang, Chaerul Saleh mengajak teman-temannya mentang golongan tua yang masih percaya dengan ketulusan sikap jepang dalam membantu persiapan kemerdekaan Indonesia. Beliau menolak ikut dalam keanggotaan Badan Persiapan Usaha Pencarian Kemerdekaan Indonesia.

Peristiwa rengasdengklok adalah awal perjuangan percepatan kemerdekaan indonesia yang dipelopori oleh Chaerul Saleh, Wikana dan beberapa anggota golongan muda lainnya. Chaerul Saleh dan golongan muda melakukan aksi penculikan Soekarno dan Moh. Hatta menjelang proklamasi kemerdekaan untuk dibawa ke Rengasdengklok.

Kemudian sebagai pemimpin golongan muda, Chaerul Saleh mendesak Soekarno dan Moh. Hatta untuk segera melakukan proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Memberikan pendapat mengenai perumusan Naskah Proklamasi

Dalam perumusan Naskah Proklamasi, Chaerul Saleh dengan keberaniannya memberikan pendapat bahwa yang menandatanganinya dan mencantumkan nama hanya Soekarno dan Hatta. Namun Soekarno meminta agar semua yang hadir bertanggung jawab dalam proklamasi kemerdekaan Indonesia ikut menandatangani dan mencantumkan nama dalam naskah proklamasi.

Chaerul saleh dengan keberaniannya tetap mempertahankan pendapatnya tersebut, karena menurut Chaerul Saleh, sebagian yang hadir adalah pegawai Jepang sehingga tidak mungkin mereka ikut menandatangani proklamasi karena sumbangan mereka pada perjuangan kemerdekaan indonesia tidak jelas.

Terjadi perbantahan mengenai pendapatnya tersebut, tetapi Chaerul Saleh tetap mempertahankan pendapatnya dan tidak mau berkompromi. Akhirnya, Soekarno mengalah dan menyetujui bahwa naskah proklamasi ditulis atas nama bangsa Indonesia dan hanya ditandatangani Soekarno dan Hatta.