Sejarah

5 Peran Golongan Muda dalam Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

√ Edu Passed Pass education quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Golongan muda merupakan sosok yang ikut andil baik dalam peristiwa rengasdengklok, perumusan naskah proklamasi hingga kemerdekaan. Golongan muda mempunyai ciri khas yang bergerak cepat. Makanya, hal ini bertentangan dengan para golongan tua yang cenderung memikirkan semua hal dengan matang-matang.

Golongan muda terdiri dari para pemuda menteng 31. Mereka dididik di asrama tersebut untuk menjadi seorang pejuang. Hal inilah yang kemudian tercermin dalam keterlibatan mereka dalam memperjuangkan kemerdekaan.

Lalu bagaimana peranan mereka dalam merumuskan proklamasi? Selengkapnya akan dibahas berikut ini.

1. Pendorong Kemerdekaan

Berita kekalahan Jepang sudah didengar oleh rakyat Indonesia pada saat itu termasuk para pemuda Menteng 31. Sebab, media telah mengabarkan tanda-tanda kekalahan Jepang atas sekutu misalnya media surat kabar Asia Raya.

Mendengar hal ini, tentu saja membuat para golongan muda terutama kelompok Menteng 31 melihatnya sebagai sebuah peluang untuk melaksanakan proklamasi kemerdekaan Indonesia. Mereka mendesak para tokoh dari golongan tua untuk segera memproklamirkan kemerdekaan.

Namun, hal ini bertentangan dengan pendirian Soekarno dan Hatta. Mereka tetap pendirian untuk membicarakan kemerdekaan pada sidang PPKI. Keputusan ini tentu saja berdasarkan pertimbangan bahwa Jepang telah kalah maka dengan atau tanpa adanya jepang, kemerdekaan akan tetap terlaksana.

Hal inilah yang kemudian menimbulkan perdebatan di kedua golongan. Terlebih lagi setelah salah satu dari mereka yakni Sukarni telah mendengar kabar mengenai kekalahan Jepang lewat radio militer dan radio Domei.

Maka dari itu, ketika Soekarno dan Hatta baru saja turun dari pesawat, para golongan muda khususnya Sayuti Melik, Asrama Hadi, Chairul Saleh segera memberikan kabar mengenai itu. Mereka mendesak agar kemerdekaan segera dilaksanakan dengan cepat. Namun, hal ini ditanggapi lain oleh Soekarno-Hatta. Usaha untuk mendesak proklamasi tidak berhenti sampai di situ.

Kemudian, pada tanggal 15 Agustus 1945, melalui sebuah pertemuan, Sultan Sjahrir kembali mendesak hal yang sama. Dari penolakan inilah yang kemudian menjadi bibit terjadinya peristiwa rengasdengklok. Penolakan yang dilakukan oleh kedua golongan tua tentu saja bukan tanpa pertimbangan.

Mereka tidak menginginkan adanya pertikaian sehingga menyebabkan pertumpahan darah. Namun, berbeda halnya dengan pandangan para golongan muda. Mereka menganggap bahaa pertumpahan darah adalah sebuah risiko yang harus dihadapi untuk mendapatkan sebuah kemerdekaan.

2. Pelopor Peristiwa Rengasdengklok

Pada tanggal 15 Agustus 1945, para kelompok Menteng 31 mengadakan rapat dk Lembaga Bakteriologi, Pegangsaan Timur, Jakarta. Dari rapat tersebut diputuskan bahwa kemerdekaan harus dilaksanakan tanpa adanya pengaruh Jepang.

Seiring dengan pernyataan Soekarno yang menginginkan kemerdekaan dirumuskan di dalam sidang PPKI, namun menurut mereka PPKI masih ada di bawah pengaruh Jepang. Sebab, pembentukan panitia itu berdasarkan atas keputusan Jepang.

Meskipun Jepang pernah menjanjikan kemerdekaan namun mereka tidak percaya akan hal tersebut. Hasil dari keputusan rapat kemudian disampaikan kepada Bung Karno di rumahnya yang berada di jl Pegangsaan Timur 56.

Keputusan rapat disampaikan oleh Wikana dan Darwis. Mereka juga mengancam jika proklamasi tidak diumumkan besok lagi, maka akan ada pertumpahan darah. Tentu saja ancaman ini membuat Soekarno marah karena dari awal ia tidak menginginkan adanya pertumpahan darah.

Hasil pertemuan Wikana dan Darwis dengan Soekarno disampaikan pada pertemuan yang dilaksanakan pada rabu malam di Asrama Cikini 71. Kemudian rapat memutuskan untuk membawa Soekarno Hatta keluar dari rumahnya masing-masing sebagaimana yang diusulkan oleh Djohan Nur. Dari sinilah ide mengenai peristiwa Rengasdengklok muncul.

Kemudian rencana penculokan dipercayakan kepada Shudanco Singgih dengan bantuan perlengkapan tentara dari Shudanco Latief. Soekarno Hatta kemudian dibawa ke Rengasdengklok sebuah desa yang ada di karawang.

Alasan pemilihan tempat ini karena di sana ada Surjoputro yang dapat membantu perjuangan kemerdekaan. Selain itu, daerah ini jauh dari jangkauan Jepang. Di Rengasdengklok, Soekarno Hatta dibawa ke kantor PETA untuk membahas waktu pelaksanaan proklamasi Kemudian, Soekarni mendesak Soekarno dan Hatta untuk melakukan proklamasi secepat-cepatnya.

Menurutnya, kondisi seperti ini merupakan kondisi yang menguntungkan bagi Indonesia karena Jepang telah kalah oleh Sekutu pada peristiwa Hiroshima dan Nagasaki. Dengan adanya vacum of power seharusnya dapat digunakan untuk melaksanakan proklamasi kemerdekaan.

Namun, Soekarno dan Hatta masih ragu dengan kabar bahwa Jepang telah kalah. Kemudian, Sukarni meyakinkan bahwa pasukan PETA siap melindungi jika nanti terjadi hal yang tidak diinginkan. Sayangnya, meskipun sudah seharian berada di Rengasdengklok, keduanya tetap tidak setuju dengan pelaksanaan proklamasi esok hari.

Sukarni tak lagi menekan karena segan dengan keduanya sehingga rencana proklamasi pada tanggal 16 Agustus 1945 batal dilaksanakan. Selain karena tidak adanya persetujuan, belum adanya kabar lanjutan lagi daei Jakarta sehingga Sukarni belum dapat memutuskan.

Kemudian, karena tak kunjung mendapatkan kabar, Sukarni memerintahkan Jusuf Kunto untuk melaporkan segala hal yang terjadi di Rengasdengklok kepada kelompok yang ada di Jakarta. Tiba di Jakarta Jusuf Kunto bertemu dengan Wikana dan Achmad Subarjo dan terjadi perundingan.

Berdasarkan perundingan dengan salah satu wakil dari kedua golongan maka diputuskan proklamasi akan dilakukan di Jakarta. Sslain itu, Laksamana Maeda mau membanru mengatur agar tidak adanya intervensi dari jepang asalkan Soekarno dan Hatta dipulangkan dengan keadaan selamat.

Ia juga mengusulkan tempatnya menjadi tempat untuk merumuskan teks proklamasi. Setelah adanya keputusan tersebut, maka Jusuf Kunto kembali ke Rengasdengklok bersama dengan Achmad Soebarjo dan Sudiro untuk melakukan penjemputan pada Soekarno Hatta.

Setibanya di Rengasdengklok mereka mengadakan rapat dengan Sukarni, Soebeno dan Sutarjo. Disimpulkan bahwa proklamasi akan dilaksanakan paling lambat pada tanggal 17 Agustus 1944 pukul 12.00 WIB. Setelah rapat tersebut kemudian mereka menjemput Soekarno Hatta dan Soekarno bersedia mengadakan proklamasi begitu tiba di Jakarta.

3. Membantu Perumusan Naskah Proklamasi

Sekembalinya dari Rengasdengklok, mereka segera menuju rumah Laksamana Maeda. Mereka datang untuk bertemu dengan Nishumura untuk menanyakan status Indonesia. Sayangnya, hasil yang didapatkan kurang memuaskan sehingga diputuskan kemerdekaan akan dilaksanakan tanpa adanya Jepang.

Kemudian, mereka segera berembuk untuk merumuskan teks proklamasi. Soekarno Hatta beserra Achmad Soebarjo, Sukarni dan Sayuti Melik kenhdian menuju ruang tamu kecil yang ada di rumah Laksamana Maeda. Mereka merumuskan kemerdekaan dan ditulis langsung oleh Soekarno.

Setelah naskah berhasil ditulis, Soekarno membacakannya di depan para tokoh-tokoh. Lalu, ia meminta untutk menandatangani naskah tersebut. Atas keputusan tersebut menimbulkan beberapa respons tak setuju dari para pemuda.

Dengan lantang Sukarni menegaskan bahwa hanya dua orang saja yang menandatangani naskah dengan atas nama bangsa Indonesia. Setelah mendapatkan persetujuan semua pihak kemudian naskah tersebut diketik oleh Sayuti Melik.

4. Membantu Kelancaran Proklamasi

Proklamasi kemudian digelar di rumah Soekarni yakni di Jalan Pegangsaan Timur no 56. B.M Diah bertugas untuk menyebarkan teks proklamasi yang telah diketik. Semua dipersipkan dengan baik. Ada salah satu peristiwa yang membuat tegang yakni Soekaeno yang tiba-tiba sakit.

Sementara, ia ditugaskan untuk membacakan proklamasi. Untung saja, ia dapat membacakan proklamasi dengan baik. Melalui kegiatan tersebur juga Soekarno menyampaikan pidatonya. Dari sinilah kemerdekaan Indonesia dimulai.

5. Menyebarkan Berita Kemerdekaan

Para pemuda menteng 31 yang dikepalai oleh Sukarnu mengadakan rapat di Kemayoran untuk membahas berita penyiaran proklamasi. Mereka mengerahkan semua alat baik kurir, pamphle, alat pengeras suara, bahkan mobil-mobil ke penjuru kota demi tersebarnya berita mengenai proklamasi.

Setelah proklamasi, kantor berita domei yang semula menjadi pemancar berita dilakukan penyegelan oleh Jepang. Kemudian, berkat bamtuan teknisi radio, Sukarman, Sutamto, dan kawan-kawan mereka berhasil membuat pemancar yang alatnya diambil dari Kantor Berita Domei. Kemudian terciptalah radio pemancar baru dengan kode panggilan DJK 1.