Sejarah

4 Peran Wikana dalam Proklamasi Kemerdekaan RI

√ Edu Passed Pass education quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Golongan muda yang berperan penting dalam proses proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia bukan hanya Soekarni, Yusuf Kunto, Sayuti Melik, BM Diah, Sudiro, dan Chaerul Saleh. Pria kelahiran 18 Oktober 1914 bernama Wikana juga merupakan salah satu dari pemuda yang berjuang untuk kemerdekaan RI.

Walau termasuk sebagai pejuang kemerdekaan RI, tidak banyak orang yang tahu mengenai Wikana dan jasanya pun seringkali terlupakan. Untuk mengenal peran Wikana dalam proklamasi kemerdekaan RI dimulai dari peristiwa Rengasdengklok

Berikut Peran Wikana dalam Proklamasi Kemerdekaan RI

1. Mendesak Soekarno-Hatta untuk Memproklamasikan Kemerdekaan

Bersama dengan golongan muda lainnya, Wikana terlibat dalam penculikan Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok usai adanya pernyataan menyerahnya Jepang pada Sekutu tanpa syarat di masa Perang Dunia II.

Peristiwa Rengasdengklok terjadi pada 16 Agustus 1945 dan sempat mengejutkan para golongan tua, termasuk Ahmad Soebardjo. Agar Soekarno-Hatta tidak terpengaruh oleh Jepang, para pemuda ingin proklamasi kemerdekaan RI segera dilaksanakan meski kemudian harus ditolak oleh Soekarno-Hatta lebih dulu.

Kala itu, Soekarno-Hatta memiliki pendirian mereka sendiri, yakni memusyawarahkan proklamasi kemerdekaan RI lebih dulu daripada melakukannya cepat-cepat. Sempat terjadi perdebatan dan perbedaan pendapat antara golongan muda dan Soekarno-Hatta karena hal tersebut.

Peran Ahmad Soebardjo dalam Rengasdengklok yang mengadakan perundingan langsung sebagai wakil dari golongan tua dengan Wikana sebagai salah satu wakil dari golongan muda membuahkan hasil. Keputusan hasil perundingan kedua belah pihak membuat Soekarno-Hatta bersedia melaksanakan proklamasi kemerdekaan RI keesokan harinya.

2. Mengatur Tempat untuk Penyusunan Naskah Proklamasi

Setelah Soekarno-Hatta berhasil dibujuk, Ahmad Soebardjo beserta Yusuf Kunto dari Jakarta bertolak ke Rengasdengklok untuk menjemput Soekarno-Hatta beserta para golongan muda. Setibanya di Jakarta, penyusunan naskah teks proklamasi segera dilakukan dan baik golongan muda maupun golongan tua berkumpul di kediaman Laksamana Maeda.

Peran Wikana cukup besar dalam hal ini, sebab beliau mempunyai koneksi dengan Kaigun (Angkatan Laut Jepang) sehingga rumah Laksamana Maeda di daerah Menteng dapat menjadi tempat berkumpulnya para penyusun naskah teks proklamasi.

Laksamana Maeda memberi izin kepada Soekarno-Hatta dan tokoh lainnya untuk proses perumusan proklamasi pada 16 Agustus 1945. Perumusan proklamasi berjalan lancar dan keamanan sangat baik karena mereka berada di tempat Laksamana Maeda.

3. Mengatur Keperluan Proklamasi Kemerdekaan

Walau tidak terlalu terlibat dalam penyusunan naskah teks proklamasi, Wikana memiliki hal penting lain yang harus dikerjakan. Saat beberapa golongan muda lainnya membantu Soekarno-Hatta dalam penyusunan naskah proklamasi, Wikana memiliki kesibukannya sendiri di rumah Bung Karno.

Beliau berperan sebagai pengatur hal-hal yang nantinya dibutuhkan dalam pembacaan teks proklamasi. Usai penyusunan dan pengetikan naskah proklamasi selesai, Soekarno-Hatta menandatanganinya atas nama bangsa Indonesia sebelum pada 17 Agustus 1945 siap dikumandangkan melalui pelaksanaan upacara kemerdekaan.

4. Mengamankan Proses Proklamasi

Selama upacara kemerdekaan dan pembacaan naskah teks proklamasi berlangsung, Wikana berperan besar dalam menjaga keamanan prosesi. Beliau adalah sosok yang membujuk tentara-tentara Jepang agar tidak mengganggu kelangsungan acara.

Walau jarang terdengar mengenai peran besarnya, Wikana adalah tokoh pemuda yang kariernya sangat mulus usai kemerdekaan RI.

Peran Wikana dalam proklamasi kemerdekaan RI membawanya pula kepada posisi sebagai Menteri Negara Urusan Kepemudaan periode 1945-1946 sekaligus menjadi orang kepercayaan Perdana Menteri Sjahrir.