PPKN

Suku Tidore: Sejarah – Ciri Khas dan Kebudayaannya

√ Edu Passed Pass education quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Indonesia dikenal sebagai negara dengan daratan dan lautan yang sangat luas. Selain daratan dan juga lautan, Indonesia memiliki beragam perbedaan didalamnya. Perbedaan itu terdiri dari berbagai macam bahasa, suku, adat, ras dan budaya.

Indonesia memiliki perbedaan dalam hal apa saja, namun hal tersebut tidak membuat kita menjadi bertengkar antara satu dengan yang lainnya. Justru dengan adanya perbedaan membuat kita sebagai masyarakat Indonesia bersatu.

Pada materi kali ini kita akan membahas mengenai salah satu suku yang terdapat di Provinsi Maluku Utara, yaitu suku Tidore.

Apa itu Suku Tidore?

Suku Tidore merupakan salah satu suku yang terdapat di Indonesia, tepatnya di Provinsi Maluku Utara. Masyarakat suku Tidore mendiami Pulau Tidore yang letaknya berada si selatan Pulau Ternate.

Tidak hanya di Pulau Tidore saja, melainkan ada sebagian masyarakat suku Tidore yang mendiami Pulau Bacan dan Obi. Jumlah penduduknya sendiri telah mencapai sekitar 45.000 jiwa.

Sejarah Perkembangan Suku Tidore

Ras asli dari masyarakat suku Tidore merupakan ras Melanesia. Atau biasa disebut dengan ras kulit coklat. Mereka masih berkerabat dengan Fiji, Tonga dan beberapa bangsa kepulauan yang tersebar di Samudera Pasifik.

Namun, ras asli dari masyarakat suku Tidore saat ini lambat laun menjadi masyarakat yang minoritas. Hal itu dikarenakan datangnya kaum pendatang seperti arab, cina, kaukasoid dan ras mongoloid. Mereka berbaur dan membentuk ras campuran.

Ciri Khas Suku Tidore

Masyarakat suku Tidore sampai dengan saat ini masih melekat dengan kehidupan animisme, yaitu menyembah roh nenek moyang dan juga bersahabat dengan kaum jin.

Selain itu, Tidore juga dikenal karena atraksi yang menjadi keunikan dari wisata Tidore yaitu bambu gila. Disebut bambu gila, karena bambu ini memiliki kekuatan gaib yang dapat bergerak dan akan sangat kuat ketika diangkat/dibopong.

Bambu dipegang oleh 4 orang dan akan dibacakan mantra untuk mengisi kekuatan di dalam bambu tersebut. Bambu akan bergerak mengikuti gerakan dari sang pawang.

Pakaian Adat Suku Tidore

Pakaian adat Pria

Pakaian adat dari masyarakat suku Tidore disebut dengan manteren lamo. Pakaian adat ini pada jaman dahulu sering digunakan oleh sultan. Manteren lamo terdiri dari celana panjang yang berwarna hitam dengan bis merah yang memanjang.

Atasannya menggunakan baju yang berbentuk jas yang tertutup dengan kancing besar yang terbuat dari perak. Jumlah kancing tersebut ada 9 kancing. Leher jas, saku jas dan ujung tangannya yang terletak di bagian luar berwarna merah.

Pakaian adat Perempuan

Pakaian adat untuk perempuan keluarga dari sang raja, pakaian adatnya bernama kimun gia. Kimun gia itu sendiri berupa kebaya yang panjang. Bahan dasarnya dari kain satin yang berwarna putih dan ada pengikat pinggang yang terbuat dari emas.

Pakaian adat untuk para remaja bernama baju koja. Baju koja ini berbentuk jubah yang panjang dengan warna-warna yang muda, seperti biru muda, merah muda dan kuning muda. Bawahannya menggunakan celana panjang berwarna putih atau hitam.

Agama yang dianut Suku Tidore

Pada umumnya, mayoritas masyarakat suku Tidore beragama Islam. Tidore juga menjadi salah satu tempat pusat pengembangan agama Islam yang berada di Maluku. Di setiap desa atau daerah pasti ditandai dengan adanya masjid.

Pemimpin di desa-desa yang ada di Tidore juga pada umumnya terdiri dari ulama atau ustadz.

Rumah Adat Suku Tidore

Rumah adat dari masyarakat suku Tidore yaitu disebut Fola Sowo Hi. kata Fola sendiri berasal dari bahasa Tidore yang memiliki arti rumah. Masyarakat suku Tidore dalam membangun rumah adat selalu menunjuk pada angka ganjil dan angka genap.

Ada istilah lain untuk penyebutan rumah adat masyarakat suku Tidore yaitu langkie jiku sorabi yang memiliki arti rumah dengan empat tiang utama. Rumah adat Fola Sowo Hi ini merupakan rumah utama dari semua rumah yang dibangun di lokasi perkampungan.

Dalam perkembangannya, rumah adat ini digunakan untuk tempat berkumpul semua keluarga yang berada di suatu kampung guna untuk bermusyawarah.

Di dalam rumah adat ini berlangsung seluruh aktifitas dari masyarakat suku Tidore.

Selain untuk beraktifitas juga berfungsi untuk ritual penyembahan roh leluhur. Bangunan rumah adat ini dibangun diatas tanah yang berbentuk bidang. Memiliki lantai dasar yang terdiri dari timbunan tanah yang kemudian dipadatkan.

Bahasa yang digunakan Suku Tidore

Bahasa dari masyarakat suku Tidore yaitu bahasa Tidore. Selain bahasa Tidore, masyarakat suku Tidore juga memahami bahasa Ternate.

Kebudayaan Suku Tidore

Sistem kekerabatan

Sistem kekerabatan pada masyarakat suku Tidore yaitu menarik garis dari keturunan sang ayah yaitu patrilineal. Namun, disamping itu dalam kehidupan sehari-harinya hubungan kekerabatan lebih bersifat bilateral, atau baik dari garis keturunan ayah dan ibu juga.

Mata pencaharian

Pada umumnya, mata pebcaharian masyarakat suku Tidore yaitu nelayan yang menangkap hewan hewan di laut, seperti ikan, cumi-cumi, teripang dan udang. Kemudian mereka menjualnya ke Ternate untuk diekspor ke luar negeri.

Tidak hanya sebagai nelayan saja, mata pencaharian suku Tidore yang lainnya yaitu sebagai petani. Mereka berpindah-pindah ladang, kemudia menanam ubi, padi, jagung, cengkeh, pala dan lainnya.

Kesenian suku Tidore

  1. Tari Kapita

Tarian khas dari masyarakat suku Tidore yaitu tari kapita yang merupakan tari perang. Tarian ini dimainkan pada saat upacara untuk mengiringi sang sultan, penyambutan tamu, dan acara ritual kegamaan.

Pakaian yang digunakan oleh para penarinya yaitu menggunakan atasan dan bawahannya sebatas lutut saja dan memiliki warna putih. Selain itu juga sang penarinya menggunakan penutup kepala.

Gerakan dasar dari tari kapita ini yaitu menangkis, memotong dan menghindar. Karena tarian ini merupakan tarian perang, maka gerakannya nampak sangar dan juga beringas.

2. Lagu Daerah

Ada beberapa lagu daerah yang berasal dari Tidore, yaitu:

  • Borero
  • Wakil Koliho
  • Naro Oti
  • Cinta se Gosa Sasi
  • Reke Udan.