Seni

Tari Bungong Jeumpa : Sejarah, Makna, Fungsi, dan Gerakannya

√ Edu Passed Pass education quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Tari Bungong Jeumpa merupakan salah satu tarian yang berasal dari daerah Nangroe Aceh Darussalam. Tari satu ini memiliki gerakan yang mirip dengan Tari Saman. Jika Tari Saman gerakannya didominasi dengan gerakan duduk, Tari Bungong Jeumpa didominasi oleh gerakan duduk dan berdiri.

Nama tarian ini diambil dari salah satu lagu sangat populeh di Aceh yaitu Bungong Jeumpa yang berarti bunga cempaka. Berikut akan dijelaskan sejarah, makna, fungsi, dan gerakan dari Tari Bungong Jeumpa.

Sejarah Tari Bungong Jeumpa

Tari Bungong Jeumpa merupakan salah satu tarian resmi yang ditampilkan dalam berbagai acara kerajaan di Nangroe Aceh Darussalam (NAD). Pada zaman Raja masih berkuasa di NAD, tarian ini dipercayai bahwa akan membawa suatu berkah rejeki yang besar bagi kerajaan NAD.

Seperti namanya, bunga cempaka nama lain dari bungong jeumpa merupakan bunga yang amat disukai oleh Raja dan masyarakat Aceh. Bunga cempaka sendiri merupakan bunga dari pohon cempaka yang tumbuh besar dan tinggi serta menyangga dahannya. Bunga tersebut mengeluarkan bau harum yang khas.

Warna yang dimilikinya pun beragam, ada merah, kuning, dan hijau. Bagi masyarakat Aceh sendiri bunga cempaka merupakan simbol keindahan. Dengan keindahan yang dimilikinya bunga cempaka sering digunakan dalam upacara tradisi masyarakat Aceh dan pernikahan.

Dalam sejarahnya tari bungong jeumpa yang berarti tari bunga cempaka merupakan tarian yang digunakan sebagai ritual pembuka pintu rejeki. Tarian ini dipercaya lahir tidak begitu lama setelah adanya lagu Bungong Jeumpa yaitu sekitar tahun ke 7 Masehi.

Hingga saat ini Tari Bungong Jeumpa selalu diiringi lagu Bungong Jeumpa dan gerakan dalam tariannya memiliki perkembangan pesat. Para seniman tari Aceh melakukan beberapa modifikasi pada gerakan Tari Bungong Jeumpa agar tarian tersebut dapat selalu diterima di tengah-tengah masyarakat saat ini.

Makna Tari Bungong Jeumpa

Nama tari yang diambil dari lagu Bungong Jeumpa ini memiliki makna syarat akan keindahan dan semangat yang dimiliki oleh masyarakat Aceh. Keindahan yang dimaksudkan pada tarian ini lebih menggambarkan keindahan dari bunga bungong jeumpa.

Bungong jeumpa sendiri seperti yang telah disebutkan di atas bermakna sebagai bunga cempaka. Bunga cempaka sendiri sangat mudah ditemua di halaman rumah masyarakat Aceh.

Tarian ini menjelaskan berapa indahnya bunga tersebut. Selain itu, Tari Bungong Jeumpa juga menyajikan tarian dengan penggambaran semangat yang dimiliki oleh masyarakat NAD.

Fungsi Tari Bungong Jeumpa

Fungsi dari Tari Bungong Jeumpa jika dilihat dari sejarahnya mula-mula tarian ini berfungsi untuk ritual pembuka rejeki. Selanjutnya, tarian ini terus berkembang dan beralih fungsi seiring dengan masuknya ajaran Agama Islam di NAD menjadi tarian yang digunakan untuk menyambut tamu kerajaan.

Setelah masa-masa kerajaan di Aceh digantikan dengan pemerintahan Aceh modern, maka tari ini beralih fungsi dipertunjukkan saat acara-acara adat di Aceh digelar. Hingga saat ini Tari Bungong Jeumpa dapat ditemui di daratan Aceh dan sekitarnya saar pagelaran acara adat dan pernikahan.

Gerakan Tari Bungong Jeumpa

Setiap gerakan yang tercipta pada Tari Bungong Jeumpa memiliki arti dan makna mendalam. Sebagian besar gerakannya memberikan cerminan kepada masyarakat akan arti kehidupan. Berikut adalah arti gerakan dari Tari Bungong Jeumpa secara luas.

  • Pancat

Pancat adalah gerakan untuk menyiapkan tubuh. Pada saat melakukan gerakan ini penari harus berdiri tegak menyiapkan posisi tubuhnya. Penari juga menautkan kedua telapak tangan didada. Pola tangan penari seperti seseorang yang bertapa, tetapi badannya berdiri tegak.

Sambil berdiri dan bertapa penari juga melakukan gerak maju mundur dan gerak ke kanan dan ke kiri dengan mengikuti suara tempo musik yang diputar. Selain itu, penari juga harus memperhatikan ekspresi mimik wajahnya.

Jadi selama melakukan gerakan ini selain bergerak seperti seorang pertapa juga memperhatikan ekspresi wajah yang dipertontonkan. Penari melakukan gerakan ini dengan menghitung sampai 8 dan diulangi sebanyak 2 kali.

  • Mandhak

Mandhak merupakan gerakan tangan kanan penari yang berdiri dan tangan kiri memegang siku sebelah kanan. Gerakan mandhak ini dilakukan bergantian antara tangan kanan dan tangan kiri.

Saat tangan kiri berdiri, tangan kanan memegang siku tangan kanan. Setelah itu, jari tangan sang penari digerak-gerakkan seperti sedang memetik gitar.

Saat melakukan gerakan mandhak posisi tubuh sang penari juga bergerak dengan bergeser ke kanan 2 kali dan ke kiri 2 kali. Gerakan mandhak ini dilakukan dalam hitungan 4.

  • Ngrayung

Ngrayung merupakan gerakan jari tangan sang penari, dimana sang penari perlu mengacungkan ibu jari agar menempel ke depan dan keempat jari lainnya dirapatkan.

Sang penari juga harus menghadapkan kedua telah tangannya ke arah atas dan bawah. Sang penari juga melakukan gerakan ini ke kanan 2 kali dan ke kiri 2 kali. Gerakan ngrayung dilakukan dengan hitungan 4×8.

  • Lutut

Gerakan lutut merupakan gerakan yang mengharuskan tangan sang penari membentuk lingkaran sehingga tampak seperti bulan. Selanjutnya, sang penari harus melakukan gerakan jalan di tempat.

Saat melakukan gerakan lutut ini sang penari harus bisa menjada kestabilan lututnya ketika harus berjalan ditempat. Gerakan lutut dilakukan dengan hitungan 4×8.

  • Wirasa

Wirasa merupakan gerakan kedua tangan sang penari yang harus diletakkan di bahu. Penari juga harus berjalan lurus ke depan dengan gerakan turun secara perlahan. Nama gerakan ini diambil dari rasa yang harus diberikan oleh penari diantara gerakan dan iringan lagu bungong jeumpa yang mengiringi tarian ini.

  • Pandeleng

Pandeleng merupakan gerakan dimana penari memegang bagu kanan dengan tangan kiri, sedangan tangan kanannya berada di pinggang. Gerakan ini dilakukan secara bergantian antara tangan kanan dan tangan kiri.

Pada saat melakukan gerakan ini penari juga harus mengatur sorot matanya dan juga gerakan kepalanya. Sinkronisasi yang tepat diperlukan oleh penari untuk penempatan gerak yang tepat antara kaki, kepala, tangan, dan juga tatapan matanya.

  • Solah

Solah adalah gerakan menepuk kedua telapak tangan ke depan, lalu ke atas kepala, dan juga dada. Dalam melakukan gerakan ini penari harus memiliki kepekaan yang tinggi terhadap iringan lagu agar memahami kapan harus melakukan gerakan ini. Gerakan solah sendiri dilakukan sebanyak 4 kali dengan 8 hitungan.

  • Penutup

Terakhir, gerakan yang dilakukan sang penari adalah gerakan penutup. Gerakan ini dilakukan sebelum penari meninggalkan panggung pementasan. Gerakan penutup sendiri hampir sama dengan gerakan diawal saat membuka tarian.

Makna dari gerakan penutup ini adalah ucapan terima kasih yang diberikan sang penari kepada penonton karena telah menyaksikan pertunjukkan Tari Bungong Jeumpa. Keindahan Tari Bungong Jeumpa sampai saat ini memiliki makna tersendiri bagi penikmat seni tari.

Perkembangan dan pelestarian Tari Bungong Jeumpa sendiri sangat melejit akhir-akhir ini. Hal ini dikarenakan tarian ini juga sempat dipertunjukkan kepada dunia saat acara pembuakaan SEA GAMES 2018 di Jakarta.

Banyak masyarakat dunia yang berdegap takjub dengan keindahan Tari Bungong Jeumpa yang selama ini tenar di NAD.