Geografi

5 Alasan Indonesia Sering Terjadi Gempa Bumi yang Perlu diketahui

√ Edu Passed Pass education quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Gempa bumi adalah salah satu bencana alam yang diakibatkan oleh pergerakan lempengan Bumi. Negeri kita Indonesia sudah sangat akrab dengan bencana alam gempa bumi. Gempa bumi berkekuatan besar sering melanda hampir seluruh wilayah Indonesia. Lantas mengapa demikian? berikut ini adalah alasan Indonesia sering dilanda gempa bumi.

1. Letak Geografis Indonesia

Dilihat dari segi geografis Indonesia terletak di antara dua benua yakni benua Asia dan Australia serta dua samudera yaitu samudera Hindia dan samudera Pasifik. Kondisi ini memberikan keuntungan bagi Indonesia yaitu posisinya yang strategis sehingga memudahkan untuk menjalin hubungan dagang dengan negara lain.

Namun dibalik keuntungan tersebut, letak geografis Indonesia juga menyebabkan dampak buruk yaitu sering terjadi gempa bumi. Gempa bumi ini diakibatkan oleh lempengan Australia, lempeng Pasifik, serta lempeng Eurasia. Lempengan-lempengan ini aktif bergerak sepanjang tahun, saling bertabrakan, dan juga salin berjauhan.

Pergerakan tersebut menyebabkan lempengan menjadi patah bahkan mencuat ke atas. Ketika terjadi patahan ini lah bumi akan mengalamu guncangan hingga ke permukaan yang kemudia disebut dengan gempa bumi. Gempa bumi yang disebabkan oleh pergeseran lempengan bumi ini disebut dengan gempa tektonik.

Contoh gempa bumi tektonik yang pernah terjadi di Indonesia adalah gempa Aceh pada tahun 2004 yang kemudian menyebabkan tsunami besar.

2. Letak Indonesia di Tengah Cincin Api

Letak Indonesia berada di tengan cincin api pasifik yang merupaka jalur gempa paling aktif di dunia. Cicin api Pasifik ini menyebabkan Indonesia memiliki banyak sekali gunung berapi aktif yang sewaktu-waktu bisa meletus, menyebabkan gempa, hingga gunung meletus.

Cincin api Pasifik yang disebut juga sebagai ring of fire ini mengelingi cekungan api pasifik. Merupakan daerah berbentuk tapal kuda sepanjang 40.000 km ini berada di atas jalur magma. Pergerakan magma ini memberi tekananan pada sekitarnya.

Tekanan ini lah yang memicu terjadinya retakan dan menyebabkan gempa. Tercatat ada 127 gunung berapi yang aktif yang melingkari wilayah-wilayah berpenduduk di Indonesia seperti Jawa yang mempunyai 30 gunung berapi aktif.

Dengan jumlah demikian semakin banyak gunung berapi berarti semakin sering aktivitas vulkanik yang berpotens menyebabkan gempa dan gunung meletus. Lempengan ini menjadi yang paling berperan tehadap terjadinya gempa bumi. 81 persen dari 90 persen gempa bumi terjadi akibat cincin api pasifik.

Contoh peristiwa gempa bumi akibat gunung berapi yaitu erupsi gunung Soputan di Sulawesi Utara.

3. Indonesia Berada di Sabuk Alpine (Alpine Belt)

Tidak hanya terletak di cincin api pasifik, Indonesia juga terletak di sabuk Alpine. Sabuk Alpine adalah sabuk seismik dan sabuk orogenik yang meliputi wilayah pegunungan sepanjang 15.000 km. Sabuk ini membentang dari wilayah wilayah Sumatera hingga Jawa.

Beberapa daerah Indonesia yang terletak di atas sabuk alpine yaitu Danau Toba, Anak gunung Krakatau, dan Gunung merapi.
Sebanyak 5-6 persen dari 17 persen gempa bumi besar yang terjadi di seluruh dunia terjadi di wilayah sabuk alpine

4. Berada di Perbatasan antara Konvergen Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Sunda

Dari beribu pulau di Indonesia yang paling sering terjadi gempa bumi adalah wilayah Pulau Jawa dan Pulau Sumatera. Mengapa demikian? Hal itu terjadi karena pertemuan anatara lempengan Sunda dengan lempengan Indo-Australia.

Lempengan Sunda adalah bagian dari lempengan Eurasia sedangkan Sumatera berada di wilayah perbatasan konvergen yaitu daerah di mana lempengan Australia menikuk tajam ke bawah lempengan Sunda. Pertemuan ke dua lempengan tersebut mengakibatkan Pulau Sumatera terlihat miring.

Zona tersebut merupakan zona yang paling aktif di bumi. Selain itu zona ini juga menjadi yang paling bertanggung jawab terhadap terjadinya gempa bumi. Ke dua lempengan ini bergerak dengan kecepatan yang berbeda-beda di setiap wilayahnya.

Di Sumatera Selatan bagian Barat lempengan ini bergerak dengan kecepatan 60 mm setiap tahun sedangkan di Pulai Jawa lempengan bergerak lebih cepat yaitu 70 mm per tahun.
Contoh gempa bumi di wilayah perbatasan konvergen yaitu gempa Sumatera pada 3 Juli 2013 yang disebabkan oleh lempengan Sunda yang disubduksi oleh lempengan Indo-Australia.

5. Akibat Ulah Manusia

Mungkin selama kita duduk di bangku sekolah buku buku pelajaran mengajarkan bahwa gempa bumi bencana yang berasal dari alam. Ternyata ada ulah manusia yang dapat memicu gempa bumi seperti kegiatan penambangan. Kegiatan manusia ini bisa membuat kontur kerak Bumi di sekitarnya menjadi rusak, tidak stabil, dan rawan terjadi pergesekan.

Selain aktivitas penambangan, aktivitas pengeboran untuk mengambil minyak dan gas alam juga bisa mengakibatka gempa. Kegiatan tersebut secara tidak langsung membuat ruang kosong di dalam lempengan Bumi. Tekanan dari dalam maupun dari luar bisa menyebabkan gempa apabila kondisi lempengan tidak stabil.

Eksploitasi sumber air secara besar-besaran juga berpotensi menimbulkan gempa. Meski berskala kecil dan sangat jarang terjadi, namun tetap harus diperhatikan. Gempa bisa saja terjadi apabila jumlah air yang dikeluarkan lebih besar dari jumlah air yang masuk. Jika terjadi perbedaan ruang yang cukup besar maka gempa pun tidak dapat dihindari.

Begitu juga dengan kondisi permukaan yanh sudah mengalami penurunan fungsi, tandus dan juga tidak stabil bisa menyebabkan gempa sekaligus tanah longsor.