Bahasa Indonesia

Aposisi: Pengertian dan Jenisnya

√ Edu Passed Pass education quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Pada pembahasan-pembahasan sebelumnya, kita banyak menyinggung istilah aposisi, khususnya pada pembahasan mengenai perluasan kalimat tunggal. Pada kesempatan kali ini, kita akan secara khusus membahas mengenai aposisi dalam bahasa Indonesia. Simak pembahasan berikut ini.

Pengertian Aposisi

Aposisi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) merupakan ungkapan yang berfungsi menambah atau menjelaskan ungkapan sebelumnya dalam kalimat yang bersangkutan.

Menurut Alwi (1998:385) dua unsur dapat disebut beraposisi jika kedua unsur tersebut sederajat dan mempunyai acuan yang sama atau, paling tidak, salah satu mencakupi acuan unsur yang lainnya.

Pada umumnya unsur yang diterangkan adalah unsur yang berkategori nominal. Aposisi digunakan dengan tujuan untuk menambahkan keterangan pada nomina. Agar memudahkan pemahaman mengenai aposisi, berikut ini jenis-jenis aposisi dalam bahasa Indonesia.

Jenis-jenis Aposisi

Alwi (1998:385) menyebutkan beberapa jenis aposisi. Jenis-jenis tersebut adalah sebagai berikut.

Aposisi Penuh dan Aposisi Sebagian

Berdasarkan perilaku sintaksisnya aposisi dibagi menjadi aposisi penuh dan aposisi sebagian.

Aposisi penuh merupakan aposisi yang kedua unsurnya dapat saling menggantikan tanpa mengakibatkan perubahan makna dasar kalimat. Kedua unsur yang beraposisi penuh dapat saling menggantikan tanpa mengubah makna kedua unsur tersebut secara gramatikal. Contoh aposisi penuh:

  • Joko Widodopresiden ke-7 Indonesia, lahir di Surakarta pada tanggal 21 Juni tahun 1961.
  • Murid-murid kelas 1 sedang diajarkan mengenai Pancasila, dasar negara Republik Indonesia.
  • Anak-anak sedang berlatih menyanyi lagu Indonesia Raya, lagu kebangsaan kita.
  • Moh. Hatta, wakil presiden pertama Indonesia, adalah bapak koperasi Indonesia.
  • Ir. Soekarno, presiden Indonesia pertama, adalah tokoh pendiri gerakan nonblok.
  • Pak Bambang, ayah Ani, merupakan teman ayah saya.
  • Suyoto, salah satu petani di desa ini, mengatakan mereka gagal panen karena banjir.
  • Bu Aminah, istri Pak Rudi, mengatakan kalau suaminya sempat mengeluh sesak napas sebelum akhirnya meninggal.
  • Meow, kucing kesayangan Tini, meninggal tertabrak motor tadi pagi.
  • Budi, pemenang lomba lari yang mewakili sekolah kami, menerima hadiah uang lima juta rupiah.

Aposisi sebagian merupakan aposisi yang tidak dapat saling menggantikan seperti pada aposisi penuh. Hanya salah satu konstituen saja yang dapat menggantikan konstruksi aposisi sebelumnya. Konstituen kedua umumnya hanya berfungsi untuk menambah keterangan konstituen pertama. Contoh aposisi sebagian antara lain:

  • Alasannya, bahwa dia terjebak macet, sulit diterima.
  • Kami membelikan adiknya sebuah boneka, hadiah ulang tahunnya.
  • Masalah tema acara bulan depan, salah satu agenda rapat hari ini, perlu didahulukan.
  • Alasannya, bahwa anaknya sedang dirawat di rumah sakit, kurang dapat diterima.
  • Lagu Balonku ada lima, salah satu lagu kesukaan adikku, selalu dinyanyikannya.
  • Dr. Bubu, waktu itu dokter Puskesmas, mengoperasi anak saya.

Pada aposisi sebagian, konstituen pertama dan kedua dipisahkan dengan tanda koma yang menadai bahwa konstituen kedua tidak mewatasi makna konstituen pertama. Dalam ragam lisan, konstituen kedua tersebut diucapkan dengan intonasi yang berbeda. Konstruksi yang demikian juga disebut dengan aposisi takmewatasi atau aposisi takrestriktif.

Aposisi Restriktif dan Aposisi Takrestriktif

Aposisi restriktif merupakan aposisi yang mewatasi nomina acuannya. menurut Alwi (1998: 386) pada umumnya yang tergolong aposisi restriktif atau aposisi mewatasi antara lain gelar, pangkat, jabatan yang diikuti nama diri.

Contoh aposisi restriktif antara lain:

  • Kolonel Edi sedang memimpin rapat.
  • Rian pelukis itu akan selalu dikenang penggemarnya.
  • Ustaz Ahmad tidak mengajar hari ini.
  • Dokter John sudah datang.

Bentuk Edi, Rian, Ahmad, dan John merupakan nama diri dan masing-masing nama diri tersebut membatasi makna atau acuan bentuk kolonel, pelukis, ustaz, dan dokter.

Aposisi Takmewatasi atau takrestriktif merupakan aposisi yang tidak mewatasi nomina yang diterangkannya. Aposisi jenis ini sama seperti aposisi sebagian. Menurut Alwi (1998:387) aposisi yang tak mewatasi biasanya hanya terbatas pada frasa nominal saja. Makna unsur keduanya dapat berupa:

  1. Sama dengan yang pertama dengan makna yang (a) menyatakan jabatan, julukan, atau pangkat, (b) mengidentifikasi makna (acuan) konstituen pertama, dan (c) merumuskan kembali makna konstituen pertama;
  2. Berfungsi sebagai atribut terhadap konstituen pertama; atau
  3. Menyatakan bagian unsur pertama yang berupa (a) pemberian contoh atau (b) pengkhususan. Untuk lebih jelasnya, simak contoh berikut ini.
  • Komandan operasi khusus itu, Kolonel Edi, memerintahkan penyerangan. (menyatakan pangkat)
  • Dokter bedah itu, Dr. Arya, menyarakan saya untuk segera dioperasi. (menyatakan pangkat)
  • Dokter kandungan itu, Dr. Ana, menyarankan wanita itu untuk operasi caesar. (menyatakan pangkat)
  • Kolonen Edi, komanda operasi khusus itu, memerintahkan penyerangan (menyatakan jabatan)
  • Bu Lia, guru bahasa Indonesia, memberi kami tugas untuk membuat cerita inspirasi. (menyatakan jabatan)
  • Alat-alat yang diperlukan, yakni sapu, pel, gunting rumput, sudah tersedia. (identifikasi)
  • Alat-alat yang diperlukan, yakni buku, pulpen, pensil, dan tempat pensil, sudah tersedia. (identifikasi)
  • Bahasa serumpun, maksudnya bahasa-bahasa daerah, mempengaruhi pertumbuhan bahasa Indonesua. (merumuskan kembali)
  • Banyak pemuda, pejuang kemerdekaan kita, yang gugur selama revolusi fisik berlangsung. (atribut terhadap konstituen pertama)
  • Alasannya, seperti anaknya sakit dan dirawat di rumah sakit, tidak dapat diterima. (pemberian contoh)
  • Alsannya, seperti terjebak macet, kurang dapat diterima. (pemberian contoh)
  • Dia suka membaca buku, terutama cerita putri kerajaan. (pengkhususan)
  • Dia suka menonton film, terutama film bertema detektif .(pengkhususan).