Ekonomi

5 Bank Tertua di Indonesia, yang Ada Sejak Tahun 90-an

√ Edu Passed Pass education quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Indonesia memiliki bank yang pernah berdiri berabad silam ketika masa penjajahan bernama Bank Courant en Bank Van Leening dibawah kekuasaan Hindia Belanda pada masa itu. Pada masanya, bank ini difokuskan untuk mendukung kegiatan dan para anggota VOC bahkan membantu menjalankan monopoli perdagangan pada pedagang rempah-rempah kecil. Bank tersebut kemudian runtuh ketika menghadapi krisis ekonomi.

Kegiatan perbankan pada awalnya merupakan kegiatan sederhana berupa penyimpanan, peminjaman dan sarana untuk masyarakat dapat gemar menabung. Namun kini, kegunaan dan keberadaan bank kian kompleks dan berpengaruh dalam berbagai aspek kehidupan.

Uniknya, terdapat bank yang juga bertahan sejak masa yang cukup lama hingga sekarang dan terus memertahankan eksistensinya. Berikut adalah bank tertua yang ada di Indonesia :

1. Bank Rakyat Indonesia – BRI (1895)

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero), Tbk. adalah bank tertua yang berdiri di Indonesia bahkan sebelum kemerdekaan Republik Indonesia.

BRI dikatakan didirikan di Purwokerto, Jawa Tengah dengan nama De Poerwokertosche Hulp en Spaarbank der Inlandsche Hoofden atau yang berarti Bank bantuan dan simpanan milik kaum priyayi Purwokerto oleh Raden Bei Aria Wirjaatmaja. Pendirian bank tersebut dilakukan pada tanggal 16 Desember 1895 yang kini diperingati sebagai hari kelahiran BRI.

Pada tahun 1948, kegiatan perbankan BRI sempat terhenti sejenak kira-kira selama satu tahun karena Indonesia memasukan masa mempertahankan kemerdekaan. Pada tahun 1949, kegiatan BRI berjalan kembali dan merubah namanya menjadi Bank Rakyat Indonesia Serikat, namun nama tersebut tidak bertahan lama.

Pada tahun 1992, BRI berubah status menjadi perseroan terbatas dengan 100% kepemilikan berada ditangan pemerintah Indonesia. Kemudian pada 2003, pemerintah menjual 30% saham BRI sehingga BRI resmi menjadi perusahaan publik dengan nama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk., yang digunakan hingga saat ini. Pada tahun tersebut BRI juga resmi memasuki bursa efek yang membuat kini saham BRI 56,75% merupakan milik pemerintah Indonesia dan 43,25% sebagai milik publik.

Pertanggal 2 September 2019, Sunarso yang merupakan bankir senior dipercaya dan kini menjabar sebagai Direktur Utama BRI. BRI hingga kini memiliki lebih dari 1.000 kantor cabang, lebih dari 5.000 BRI Unit, lebih dari 2.000 teras BRI dan lebih dari 900 kantor kas yang tersebar di seluruh Indonesia dengan jumlah karyawan mencapai 89.943 orang.

2. Bank Tabungan Negara –  BTN (1897)

Bank Tabungan Negara atau BTN sejak pendirian awal tahun 1897 hingga saat ini, mengalami perubahan dan pergantian nama berkali-kali hingga akhirnya menjadi namanya yang sekarang.

Nama yang digunakan BTN sejak awal berdiri ialah :

  • 16 Oktober 1897 bernama Postspaarbank atau bank tabungan pos yang didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda di Batavia. Tujuan awal didirikan Postspaarbank adalah untuk menghimbau masyarakat mengenai budaya menabung.
  • 1 April 1942 pada masa pendudukan Jepang, BTN dibekukan kemudian diganti namanya dengan Tyokin Kyoku atau Chokinkyoku.
  • 9 Februari 1950, Bank atau Kantor Tabungan Pos. Tanggal ini digunakan untuk memeringati ulang tahun BTN. Setelah Tyokin Kyoku diambil alih dan kepemilikan BTN kembali pada pemerintah Indonesia, tugas perdana yang dijalankan Kantor Tabungan Pos adalah menukarkan seluruh uang Jepang dengan uang Republik Indonesia.
  • 22 Juni 1963 secara resmi dirubah nama menjadi Bank Tabungan Negara dan digunakan hingga saat ini.

Pada tahun 1974, BTN dipercaya sebagai wadah untuk pembiayaan pembangunan proyek rumah untuk rakyat yang kemudian dikenal dengan KPR (Kredit Pemilikan Rumah). Sehingga di Indonesia sering terdengar istilah Perumahan BTN.

Sejak 2009, BTN melakukan privatisasi dan menjual saham di Bursa Efek Indonesia. Kini kepemilikan BTN berada ditangan pemerintah Indonesia sebanyak 60% dan sisanya adalah milik publik.

Sejak tahun ini, Haru Koesmahargyo ditunjuk untuk mengembang jabatan sebagai direktur utama BTN menggantikan Pahala Nugraha Mansury. Di seluruh Indonesia, cabang BTN dan BTN Syariah mencapai 450 bank dengan kurang lebih 11.800 orang karyawan.

3. Bank Woori Saudara – BWS (1906)

Bank Wooris Saudara Indonesia 1906 atau lebih dikenal dengan Bank Woori Saudara adalah salah satu bank tertua di Indonesia yang sudah dirintis sejak tahun 1906 di Jakarta. Dalam perjalanannya, bank ini mengalami beberapa kali pergantian nama dan pasang surut dalam dunia perbankan.

Berdirinya BWS diprakarsai oleh 10 orang saudagar di pasar baru pada masa itu. Dalam perjalanan panjang kemudian meraih badan hukum dengan nama PT Bank Tabungan Himpunan Saudara 1906. Kemudian tahun 1993 kembali berganti nama sebagai PT Bank HS 1906 dan beroperasi sebagai bank umum.

Pada tahun 2014, terjadi perubahan pada susunan pemegang saham BWS, dimana 33% saham BWS telah terjual. Terjadilah penggabungan usaha PT Bank Woori Indonesia dengan PT Bank Himpunan Saudara 1906 Tbk. Karena penggabungan tersebut, pada tahun 2015, resmi menjadi PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk.

Bank Woori Saudara dapat ditemui di Jawa, Bali, Sumatera dan Sulawesi. Terdapat 153 kantor cabang yang tersebar di 4 pulau tersebut dengan kurang lebih 1.455 orang karyawan.

4. Bank QNB Indonesia (1913)

Bnak QNB Indonesia adalah perusahaan perseroan terbatas yang bergerak dibidang perbankan dan jasa keuangan. Bank ini merupakan salah satu anak perusahaan Qatar National Bank (QNB Group).

Pada tahun 1913 ketika dirintis, bank ini bernama N.V Chunghwa Shangyeh Maatschappij atau diartikan The Chinese Trading Company Limited dan berdiri pertama di Medan.

Kemudian pada tahun 1958 mendapat ijin menjadi bank umum. Seiring berjalannya waktu, kantor pusatnya dipindah ke Jakarta pada tahun 1990. 5 tahun kemudian tepatnya pada 1995, bank ini mendapat ijin sebagai money changer. Tahun 2002 bank ini menjadi bank publik dan melakukan penawaran umum perdana saham di bursa efek Indonesia.

Pada 2011 Qatar National Bank menjadi pemegang saham prioritas bank ini. Pada 2014 resmi mengganti nama menjadi PT Bank QNB Indonesia Tbk.

5. Bank OCBC NISP (1941)

Bank OCBC NISP memulai sejarahnya sebagai salah satu bank tertua Indonesia berkat dedikasi keluarga Karmaka Surjaudaja dan Lelarati Lukman di tahun 1941.

Pada awalnya bank ini hadir dengan nama NV Nederlandsche Indische Spaar En Deposito Bank dan berpusat di Bandung.

Pada tahun 1967, bank ini resmi menjadi bank komersial. Seiring berjalan waktu, bank berganti nama menjadi Nilai Inti Sari Penyimpan pada tahun 1972 yang kemudian disingkat menjadi NISP. 6 tahun kemudian yaitu pada 1978, NISP resmi digunakan sebagai nama bank dan bukan lagi merupakan singkatan.

Dan menjadi bank devisa di tahun 1990.  4 tahun kemudian, Bank NISP mencatatkan namanya dalam Bursa Efek Indonesia dan menjadi perusahaan publik.

Pada tahun 2008, karena pengaruh masuknya OCBC Bank Singapura sebagai pemegang saham mayoritas, maka Bank NISP resmi mengganti nama menjadi Bank OCBC NISP dan digunakan hingga saat ini.

Berkat konsistensi dan pertumbuhan kegiatan perbankan yang sehat, bank ini mampu menjaga eksistensi dan bertahan hingga kini dengan mengisi posisi bank terbebsar kedelapan di Indonesia. Bank OCBC NISP memiliki sekitar 269 kantor cabang yang tersebar di 57 kota di Indonesia.