Geografi

Curah Hujan: Pengertian – Klasifikasi dan Alat Ukurnya

√ Edu Passed Pass education quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Prakiraan hujan dapat membantu manusia untuk menentukan wilayah persebaran yang cocok bagi tanaman pangan dan dapat menanggulangi dampak negatif yang muncul dari curah hujan yang tinggi. Berikut pembahasan mengenai curah hujan.

Pengertian Curah Hujan

Curah hujan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki arti banyaknya hujan yang tercurah (turun) di suatu daerah dalam jangka waktu tertentu.

Curah hujan juga dapat dikatakan sebagai air hujan yang memiliki ketinggian tertentu yang terkumpul dalam suatu penakar hujan, tidak meresap, tidak mengalir, dan tidak menyerap (tidak terjadi kebocoran).

Tinggi air yang jatuh biasanya dinyatakan dengan satuan milimeter. Curah hujan dalam 1 (satu) millimeter artinya dalam luasan satu meter persegi, tempat yang datar dapat menampung air hujan setinggi satu mm atau sebanyak satu liter.

Prakiraan Hujan

Untuk menentukan apakah curah hujan pada satu wilayah tertentu akan sama dampaknya, bila dibandingkan dengan curah hujan pada wilayah lainnya dalam kawasan tropik dapat ditinjau dengan lima unsur, yaitu:

  • Intensitas Laju Hujan

Untuk melakukan pengukuran konsentrasi curah hujan pada wilayah tertentu dengan mengukur seberapa banyak milimeter air yang turun dalam kurun waktu menit, jam, dan hari.

  • Durasi Curah Hujan

Untuk melakukan penghitungan berdasarkan berapa lama waktu curah hujan turun dalam kurun waktu menit dan jam.

  • Ketinggian Curah Hujan

Untuk melakukan pengukuran yang dilakukan setelah hujan reda dengan melihat ketebalan atau kedalaman air dalam milimeter pada bidang datar.

Untuk pengukuran yang dilakukan dengan pengamatan selama beberapa tahun untuk menentukan periode curah hujan yang berlangsung secara konsisten setiap tahunnya

  • Cakupan Wilayah Curah Hujan

Untuk mengamati frekuensi periode hujan terhadap cakupan luas geografis wilayah yang terkena hujan.

Klasifikasi Curah Hujan

Klasifikasi curah hujan jika dilihat dari butir nya dibagi menjadi empat, yaitu:

1. Hujan ES

Hujan es merupakan butiran hujan yang jatuh dari awan dengan memiliki suhu di bawah 0° celcius yang terjadi di musim panas.

2. Hujan Deras

Hujan deras merupakan hujan yang memiliki butiran sekitar 7 milimeter dan berasal dari awan dengan suhu di atas 0° celcius.

3. Gerimis atau Drizzle

Gerimis atau drizzle merupakan hujan dengan jumlah yang kecil atau biasa disebut dengan hujan ringan.

Umumnya gerimis memiliki diameter kurang dari 0,5 mm dan disebabkan oleh awan kecil lapisan dan awan stratocumulus.

4. Hujan Salju atau snow

Hujan salju atau snow merupakan hujan dari kristal kecil air yang menjadi es dan memiliki suhu di bawah nol.

Alat Ukur Curah Hujan

Berdasarkan mekanismenya, pengukur curah hujan dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:

Ombrometer

Ombrometer sendiri dibagi lagi dalam beberapa jenis. Diantaranya:

1. Ombrometer Manual

Ombrometer manual merupakan alat penakar hujan manual berupa ember atau panampung yang telah diketahui ukuran atau diameternya.

Pengukuran curah hujan secara manual dilakukan dengan mengukur volume air secara berkala dan jangka waktu tertentu untuk memperoleh hasil curah hujan suatu wilayah.

Ombrometer manual dibagi menjadi dua jenis, yaitu:

  • Ombrometer Biasa

Ombrometer biasa merupakan alat penakar dengan cara kerja yang sangat sederhana. Prinsip kerja ombrometer biasa yaitu pembagian volume air hujan yang ditampung dengan luas mulut penakar.

Air yang ditampung oleh penakar kemudian dibagi berdasarkan parameter luas mulut dan volume air hujan.

Ombrometer biasa dibuat dari seng dengan tinggi 60 cm dan pipa paralon dengan tinggi 100 cm.

Kemudian diletakkan di ketinggian 120 hingga 150 cm, namun tentu saja belum mampu mencatat secara otomatis.

  • Ombrometer Observatorium

Ombrometer observatorium merupakan obrometer manual dengan menggunakan gelas ukur dan telah menjadi standar untuk mengukur curah hujan di Indonesia.

Cara kerja ombrometer observatorium cukup mudah dan pemeliharaanya murah.

Namun ombrometer observatorium memiliki data yang terbatas karena hanya dapat digunakan untuk mengukur curah hujan selama 24 jam.

Selain itu, sering terjadi kesalahan pada pengukuran satu alat dengan yang lainnya.

2. Ombrometer Otomatis

Ombrometer otomatis merupakan ombrometer dengan mekanisme otomatis dalam pencatatannya.

Ombrometer otomatis memiliki hasil perhitungan yang lebih akurat dibandingkan ombrometer manual.

Selain itu, ombrometer otomatis dapat mengukur kondisi curah hujan tinggi maupun rendah dan melakukan pencatatan dalam waktu tertentu. Contoh ombrometer otomatis, yaitu:

  • Penakar Hujan Tipe Hellman
  • Penakar Hujan Tipping Bucket
  • Penakar Hujan Tipe Bendix
  • Penakar Hujan Tipe Weighing Bucket
  • Penakar Hujan Tipe Optical
  • Penakar Hujan Tipe Tilting Siphon
  • Penakar Hujan Tipe Floating Bucket

Automatic Weather Station

Automatic Weather Stasion merupakan alat pengukur cuaca otomatis yang jauh lebih efisien dan mempunyai kemampuan lebih untuk mengukur suhu, curah hujam kelembaban, lama penyianran matahari, kecepatan dan arah angin, serta pengukuran lainnya.

Automatic Weather Station terdiri dari sensor-sensor yang bekerja dalam sebuah sistem, digunakan ketika cuaca ekstrim seperti kemarau panjang dan badai.

Automatic Weather Station juga telah dilengkapi alat untuk mengukur ketinggian awan (ceilometer).

Metode Pengukuran Curah Hujan

Metode pengukuran curah hujan digunakan untuk menganalisa jumlah curah hujan suatu wilayah. Metode pengukuran curah hujan dibagi menjadi tiga jenis, yaitu:

1. Metode Arimatik

Metode aritmatik merupakan metode yang paling sederhana dan mudah diterapkan, namun kurang akurat karena bergantung pada distribusi hujan terhadap ruang dan ukuran daerah aliran sungai (besar atau kecil).

Cara kerja metode arimatik dengan membagi aliran sungai ke beberapa wilayah pada DAS kemudian masing-masing wilayah yang sudah dibagi melakukan penghitungan curah hujan.

Setelah itu jumlah hujan pada setiap wilayah akan ditotal, lalu dibagi dengan jumlah wilayah sehingga diperoleh hasil rata-rata curah hujan pada wilayah DAS yang sudah ditentukan.

2. Metode Poligon Thiessen

Metode poligon thiessen merupakan metode penghitungan yang lebih baik daripada metode arimatik namun lebih cocok digunakan pada wilayah dengan curah hujan sedikit dan persebarannya tidak merata.

Metode polygon theissen melakukan perhitungan pengaruh letak wilayah persebaran curah hujan terhadap stasiun DAS yang sudah ditentukan dan diukur luasnya.

Cara kerja metode polygon thiessen dengan mengalikan curah hujan stasiun dengan luas daerah yang sudah ditentukan dan dibatasi.

Kemudian hasil masing-masing perhitungan setiap daerah dijumlahkan dan dibagi dengan total luas wilayah stasiun yang masuk dalam perhitungan.

3. Metode Isohyet

Metode isohyet merupakan metode yang lebih kompleks dibandingkan dengan dua metode lainnya.

Metode isohyet menggunakan komputer agar data yang diperoleh akurat dan hasil analisa dapat terjaga konsistensinya.

Cara perhitungan metode isohyet dengan menentukan dan membagi daerah-daerah sepanjang DAS yang memiliki intensitas hujan yang sama.

Besaran curah hujan antara daerah pertama dan kedua dijumlahkan dan dibagi dua, kemudian dikalikan dengan luas DAS daerah pertama yang dibagi dengan luas DAS total daerah.

Kemudian ditambahkan dengan hasil perhitungan selanjutnya dengan cara yang sama sehingga didapatkan hasil rata-rata curah hujan pada daerah aliran sungai.