Seni

8 Kerajinan Tangan Khas Aceh yang Sangat Menarik

√ Edu Passed Pass education quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Saat kita berkunjung ke suatu tempat terkadang kita ingin mengenangnya dengan membeli sesuatu yang khas dari daerah tersebut. Beberapa kerajinan di bawah ini merupakan hasil karya masyarakat Aceh yang menjadi ciri khas mereka.

1. Tas Aceh 

Tas merupakan suatu hal yang banyak kita jumpai di berbagai daerah. Namun tas Aceh memiliki keunikan sendiri yang tidak ada pada tas di daerah lainnya. Tas Aceh memiliki motif yang menggambarkan budaya Aceh seperti rencong, pinto Aceh serta motif etnik lainnya. Meski bermotif tradisional tetapi gaya dari tas ini mengikuti perkembangan zaman sehingga tetap terlihat modis. 

Tas ini sebenarnya sudah ada sejak zaman nenek moyang mereka. Tas Aceh kemudian dikenal oleh masyarakat luas baik dalam maupun luar negeri setelah bencana tsunami Aceh tahun 2004. 

2. Kain Kasab Aceh

Kasab Aceh merupakan kerajinan tangan asli provinsi paling utara pulau Sumatera ini yang terbuat dari sulaman benang emas atau perak. Kain ini umumnya digunakan untuk menghiasi kain beludru yang proses pembuatannya masih tradisional. Kain ini pada zaman dahulu tidak hanya sebagai hiasan saja melainkan menunjukkan status sosial pemiliknya. Warna Kuning  untuk sang raja, warna merah diperuntukkan bagi hulubalang raja atau panglima, hijau adalah warna untuk ulama dan hitam untuk rakyat kelas bawah.

Kain Kasab Aceh saat ini tidak lagi menunjukkan kasta seseorang melainkan sudah melebur menjadi kebudayaan Aceh. Saat ini kain Kasab Aceh sering digunakan pada saat acara keagamaan, pernikahan, khitanan, aqiqah dan lainnya karena dianggap sebagai lambang ketaatan terhadap agama. Masyarakat Aceh biasanya akan meletakkan kain ini sebagai tirai, pintu masuk, dekorasi dinding atau langit-langit rumah bahkan hingga miniatur seperti gantungan kunci dan cinderamata.

3. Meukeutop

Meukeutop merupakan penutup kepala yang kerap digunakan oleh kaum pria di Aceh. Bentuknya lonjong dan memanjang ke atas yang dihiasi dengan tenunan sutra dan lilitan tengkuluk. Kopiah ini terdiri dari 5 warna dengan artinya masing-masing yakni merah untuk kepahlawanan, hijau representasi dari agama Islam, kuning untuk kesultanan, hitam mengartikan ketegasan, dan putih untuk kesucian. 

4. Kain Tenun Aceh

Budaya tenun sudah mendarah daging bagi masyarakat Nanggroe Aceh Darussalam. Pasalnya mereka sudah mengenal tradisi ini sejak abad ke 10.  Berbeda dengan kain tenun dari daerah lainnya yang lekat dengan motif makhluk hidup, kain tenun Aceh menghindari hal-hal tersebut. Hal tersebut lantaran masyarakat Aceh yang sangat menjunjung tinggi Ajaran Islam dimana terdapat kepercayaan bahwa malaikat tidak akan memasuki rumah yang memiliki benda yang menyerupai makhluk hidup. 

Sebagai gantinya, masyarakat Aceh membubuhkan kalimah-kalimah Allah, buah delima yang disebut dalam kitab suci Alquran, motif awan, motif pepohonan, serta motif daun sirih. Kain-kain ini biasanya dijadikan selendang ataupun penutup kepala. Bagi masyarakat Aceh pakaian bukan sekedar penutup tubuh melainkan juga mengandung rezeki dan harapan. 

5. Anyaman Pandan

Anyaman merupakan salah satu teknik dalam membuat suatu kerajinan. Orang-orang di Aceh memanfaatkan daun pandan untuk membuat kerajinan tangan yang memiliki nilai fungsi dan estetika. Daun pandan sebelum dianyam harus disayat dan dipilah terlebih dahulu untuk kemudian direbus agar tidak ada hama. Setelah itu daun pandan diangkat dan dijemur hingga kering kemudian diberi warna. 

Pada awalnya daun pandan hanya dijadikan tikar namun seiring perkembangannya semakin banyak variasi lainnya. Contoh kerajinan dari daun pandan adalah tas, sandal, sarung bantal kursi dan masih banyak lagi. Kerajinan ini paling banyak ditemukan di Kabupaten Pidie, Kabupaten Pidie Jaya dan kabupaten Aceh Utara.

6. Perhiasan Emas Khas Aceh 

Aceh sudah mengenal ukiran pada emas sejak abad ke 13 atau ketika masih berada di bawah kekuasaan Sultan Iskandar Muda. Emas-emas tersebut dipoles menjadi perhiasan yang cantik dan elegan. Kecintaan pada emas tersebut masih berlangsung hingga masa sekarang. 

Beberapa perhiasan emas khas Aceh antara lain ayeum gumbak yang digunakan oleh kaum pria di sisi kanan kupiah meukeutop, pinto aceh yang sering digunakan sebagai mahar, cucok sanggoi yang disematkan disanggul seperti tusuk konde, keutab lhee lapeh yaitu kalung yang memiliki tiga tingkat, hingga talo keuieng yang merupakan ikat pinggang emas. 

7. Nepa

Nepa adalah sebutan untuk aneka kerajinan oleh masyarakat Aceh khususnya suku Gayo. Masyarakat Gayo biasanya membuat gerabah menjadi berbagai macam peralatan rumah tangga seperti vas, asbak, periuk, kendi dan lainnya. Gerabah ini memiliki motif yang diukir indah pada bagian luar. Pusat industri dari kerajinan gerabah  ada di Aceh Tengah. Di sana selain menjual produk juga bisa belajar membuat gerabah langsung dengan pengertiannya. 

8. Kerajinan Batok Kelapa

Batok atau tempurung kelapa biasanya dibuang begitu saja sehingga menjadi limbah. Namun di tangan masyarakat Aceh limbah tersebut bisa berubah menjadi barang yang berguna dan cantik. Batok kelapa ini disulap menjadi miniatur, gantungan kunci, gelas, tatakan lampu, patung dan aksesoris lainnya. 

Pusat kerajinan batok kelapa berada di Pulau Weh yaitu di Aceh bagian Utara.  Harganya pun sangat bervariasi mulai dari belasan ribu hingga jutaan rupiah. 

9. Batik Aceh 

Di tanah rencong ternyata terdapat sebuah industri yang memproduksi batik. Batik ini kemungkinan berasal dari pendatang yang berasal dari pulau Jawa di sana. Motif batik telah disesuaikan dengan kondisi masyarakat dan budaya setempat. Ciri khas dari batik Aceh adalah memiliki corak warna yang mencolok seperti merah, merah muda, hijau, dan kuning. Beberapa motif batik Aceh yang paling populer adalah motif tolak angin, motif pintu Aceh, motif bunga jeumpa, motif awan meucanek, motif batik rencong, motif batik awan berarak, gayo, dan motif  pucok reubong.