Seni

Naskah Lakon: Pengertian – Teknik Menyusun dan Contohnya

√ Edu Passed Pass education quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Di dalam tiap drama yang kita tonton, erat kaitannya dengan unsur-unsur yang ada di teater.

Karena teater sendiri merupakan inti utama dari hal-hal yang ada di televisi sekarang, seperti drama atau pun film.

Banyak peranan yang harus dijalani oleh tiap aktor atau aktris dalam menjalankan perannya di tiap film yang dijalani. Dan peranan itulah yang kerap disebut oleh lakon.

Lalu, apa arti Naskah Lakon itu sendiri? Berikut pembahasannya.

Pengertian Naskah Lakon

Istilah Lakon diambil dari 2 istilah:

  • Lelakon, dalam bahasa Jawa
  • Ngalalakon-Boga, dalam bahasa Sunda.

Dalam artian secara umum, lakon seringkali diartikan sebagai peran. Peranan yang diambil di tiap drama atau pun film yang dijalankan oleh seorang pelakon.

Dalam memerankan perannya dalam cerita, pelakon biasanya berlakon dengan bersuara (verbal) ataupun tidak bersuara (non verbal) di atas panggung pentas.

Kedudukan lakon dalam bidang teatrikal, adalah pusat atau nyawa utama dalam suatu drama teater.

Peranannya merupakan nafas yang menjalankan hubungan ataupun membangun struktur atas susunan peran atau penokohan yang dibawakan oleh satu dua tiga orang dan bisa lebih dari itu.

Lakon dalam sebuah pertunjukan teater merupakan hasil karya kolektif masyarakat, sastrawan atau seniman yang dipaparkan atau diwujudkan dalam bentuk naskah lakon, baik dengan cara ditulis ataupun tidak tertulis.

Lakon dalam pertunjukan seni teater merupakan pelengkap yang paling utama dan paling pokok dari keseluruhan bentuk penyajian keseniannya.

Menurut salah satu tokoh dunia per-teateran, Hamid, mengatakan:

Lakon biasanya dilakukan secara spontan dan tidak tertulis. Tak jarang, alur pementasan akan berkembang sendiri. Artinya, sama sekali tanpa penaskahan, hanya saja sebelum naik ke atas panggung, alur dan tokoh lakon di beritahukan sebelumnya kepada para pelakon.

Hamid, pe-teater senior

Unsur-unsur Naskah Lakon

1. Unsur Tema Cerita

Agar cerita dalam drama teater menarik, biasanya dipilih salah satu topik yang sesuai.

Contoh, jika topik yang dipilih adalah tentang keluarga, biasanya selalu berhubungan dengan kasih sayang.

2. Unsur Amanat

Di dalam drama yang menarik, harus ada suatu penyampaian amanat atau pesan moral yang bermutu.

3. Unsur Plot

Lakon drama yang baik selalu mengandung konflik. Plot adalah jalan cerita drama. Plot berkembang secara bertahap yaitu sebagai berikut.

  • Eksposisi, tahap ini disebut tahap pergerakan tokoh.
  • Konflik, dalam tahap ini mulai ada kejadian.
  • Komplikasi, kejadian mulai menimbulkan konflik persoalan yang kait-mengait tetapi masih menimbulkan tanda tanya.
  • Krisis, dalam tahap ini dilakukan penyelesaian konflik.
  • Keputusan, yang merupakan akhir cerita.

4. Unsur Karakter

Karakter atau perwatakan adalah keseluruhan ciri-ciri seorang tokoh dalam drama.

Ada tokoh berwatak sabar, ramah, dan suka menolong, sebaliknya bisa saja tokoh berwatak jahat atau pun bisa juga tokoh berdialek suku tertentu.

5. Unsur Dialog

Jalan cerita lakon diwujudkan melalui dialog dan gerak yang dilakukan para pemain.

Dialog-dialog yang dilakukan harus mendukung karakter tokoh yang diperankan dan dapat menghidupkan plot lakon.

6. Unsur Setting

Setting, biasanya disamakan dengan latar, tempat, waktu, dan suasana terjadinya suatu adegan.

Oleh karena semua adegan dilaksanakan di panggung, panggung harus bisa menggambarkan setting yang dikehendaki.

Penataan panggung harus mengesankan waktu dan menggambarkan suasana.

7. Unsur Interpretasi

Apa yang dipertontonkan ceritanya harus logis, dengan kata lain lakon yang dipentaskan harus terasa wajar, bahkan harus diupayakan menyerupai kehidupan yang sebenarnya.

Jenis-jenis Lakon

Lakon dibangun dalam setiap adegan dalam drama. Adegan adalah bagian keluar masuknya pelakon atau tokoh, perupaan atau musik dalam seni pementasan.

Dengan demikian dalam satu babak bisa terjadi lebih dari satu adegan. Babak itu sendiri adalah susunan dari beberapa adegan yang ditandai dengan terjadinya pergantian setting, (tempat, waktu dan kejadian peristiwa) dalam sebuah peristiwa kejadian.

Berdasarkan jumlah babak atau adegan. Lakon dapat dibedakan menjadi dua jenis yakni:

  • Lakon pendek, biasanya lakon terdiri dari satu babak dengan beberapa peristiwa adegan di dalamnya
  • Lakon panjang, dapat dipentaskan mencapai tiga sampai lima babak dengan beberapa adegan didalamnya.

Panjang pendeknya lakon sangat tergantung pada muatan isi atau tematik yang disampaikan.

Apakah bersifat naratif (paparan kronologis, sejarah atau biografi) dengan waktu, kejadian dan peristiwa lebih dari satu tempat (setting cerita), sehingga alur cerita pun cukup rumit tidak sederhana dan memakan waktu, antara 90-120 menit atau lakon pendek hanya menghabiskan waktu 45-60 menit.

Pada kenyataanya proses kreatif yang dilakukan seorang seniman teater dalam menginterpretasi lakon, tidak selamanya ketergantung pada banyak tidaknya babak.

Tetapi yang paling penting esensi cerita dapat sampai satu tidak kepada pembaca dengan melakukan proses editing lakon.

Sebaliknya dengan lakon yang pendek dapat berkembang menjadi pementasan yang panjang dan memikat.

Bentuk Lakon

Bentuk-bentuk lakon di dalam seni teater dan seni drama pada dasarnya sama, yaitu :

1. Lakon berbentuk tragedi

Biasanya mengandung unsur sejarah perjuangan, memiliki pola penceritaan kejayaan dan keruntuhan dari ciri-ciri lain bahwa peran utama mengalami irama tragis;

  • poima (itikad peran utama)
  • mathema (peran utama mengalami hambatan)
  • pathema (klimaks peran utama) berjuang tragis, yakni mengalami kecacatan (fisik-psikis) atau kematian.

Beberapa contoh bentuk lakon tragedi, yaitu:

  • Si Ridon jago Karawang
  • Janur Kuning
  • Tragedi Marsinah
  • Tragedi jaket Kuning
  • Bandung lautan api.

2. Lakon komedi

Biasanya pola penceritaan diulang-ulang, menjadi bahan tertawaan, menghibur orang lain, penuh dengan satir (sindiran-sindiran) dan berjuang peran utama mengalami kebahagian atau tragis akibat perbuatan dirinya sendiri.

Contohnya:

  • Si Kabayan
  • Karnadi Bandar Bangkong
  • Warkop Dono Kasino Indro.

3. Lakon Tragedi komedi

Bahwa peran utama mengalami atau menjadi bahan tertawaan orang lain dan berjuang dengan tragis atau mengalami penderitaan atau kematian.

Contohnya lakon:

  • Si Pitung jago betawi
  • Samson betawi Matpeci
  • Robin Hood.

4. Lakon melodrama

Biasanya mengangkat tema-tema keluarga, percintaan atau kisah-kisah dua sejoli yang berjuang dalam memandu kasih, berujung dengan kebahagian atau happy ending.

Contohnya:

  • Romi dan juli
  • Gita Cinta dari SMA
  • Si Doel Anak Sekolahan.

Teknik Menyusun Naskah Lakon

Berikut ini terdapat beberapa teknik menyusun naskah lakon, sebagai berikut:

  • Teknik Menerjemahkan

Menerjemahkan merupakan salah satu teknik menyusun naskah lakon yang dapat dilakukan guna memenuhi pengadaan lakon teater.

Adaptasi secara harfiah dapat diartikan menyesuaikan atau penyesuaian dari sesuai dengan situs, kondisi dan kebutuhan yang dihadapi.

  • Teknik Sadur

Sadur adalah teknik menyusun naskah dengan cara mengubah sebagian unsur karya orang lain menjadi karya kita, tetapi dengan tidak menghilangkan, merusak unsur-unsur pokok lakon dari pengarangnya.

  • Sanggit

Istilah Sanggit atau menyanggit dalam kamus umum bahasa Indonesia [Poerwadarminta, 1984] mengandung pengertian bergeser atau menggeser sesuatu tetapi dalam satu hal yang sama.

Contoh Naskah Lakon

Contoh Naskah Lakon Komedi

Preman Negeri Sampah

Terdapat suatu negeri yang terdiri dari 10% oksigen dan 80 % sampah, juga 10% bahan lainnya, negeri itu dikenal dengan sebutan negeri sampah. Sampah mendonimasi sebagian besar negeri itu, jalan terhias sampah, bukit dari sampah, dan minuman dari air. Karena keadaanya yang sangat amat teramat mengenaskan, alhasil banyak orang yang menganggur disana. Pada suatu ketika, terdapat 2 ekor preman yang bernama Jeremy dan Joko yang sedang dilanda masalah. Apa masalahnya dan apa yang akan mereka lakukan? Kita langsung saja ke KTP!

Jeremy : “Jok, udah 1 minggu kita ga dapet penghasilan nih,”
Joko :”Kita nyari kerjaan sampingan gimana?”
Jeremy :”Boleh juga tuh. Apaan kerja sampinganya?”
Joko :”Kita udahan dulu jadi preman, kita cari pekerjaan yang lebih mulia, yang lebih barokah, yang bisa ngebahagiain orang tua, kita jadi tukang palak aja gimana?”
Jeremy :”Ya, sama aja,”
Joko :”Jadi pencuri,”
Jeremy :”Sama aja,”
Joko :”Jadi penculik?”
Jeremy :”Nah, itu baru pekerjaan laki sejati,”
Joko :”Oke. Korban pertama, lu yang cari,”
Jeremy :”Sip. Bisa diatur, nomi piro,”
Joko :”Kan nanti kita dapet duit,”
Jeremy :”Okeh,” (pergi)

Setelah 1 jam 42 menit 1,867 detik. Akhirnya Jeremy datang kembali.
Joko :”Lho, kok datang sendiri?”
Jeremy :”Gue gagal, hampir aja digebukin,”
Joko :”Kenapa bisa gagal?”
Jeremy :”Tadi gue udah ngebidik nih. Wah kayaknya ini anak orang kaya nih, tapi dia sama bapaknya, jadi gue tunggu sampai bapaknya pergi’kan. Gue udah nunggu lamaaaa banget. Akhirnya gue samperin tuh bapak-bapak. Terus gue bilang ‘Pak, boleh ga minggir sebentar, saya mau culik anak bapak’ gue udah bilang baik-baik malah mau dipukul!”
Joko :”Ya, iyalah. Lu jangan bilang mau nyulik dong,”
Jeremy :”Ya mending gue terus’ teranglah, daripada gue pura-pura jadi orang baik kayak orang digedung-gedung gede itu,”
Joko :”Tapi kenapa ga langsung culik aja, langsung bet culik, udah selesai,”
Jeremy :”Tadi gue udah kayak gitu, eh malah bapaknya yang keambil,”
Joko :”Ada-ada aja, udah pergi cari mangsa lagi,”
Jeremy :”Oke,”

Beberapa detik kemudian datanglah orang lewat, setelah itu barulah Jeremy datang dengan seorang perempuan yang dibilang cantik ga, dibilang jelek iya *plak. Maksudnya cantik banget.
Jeremy :”Ini bro,”
Joko :”Bagus. Siapa namanya?”
Susanti :”Susanti om,”
Jeremy :”Jangan panggil om, panggil aja mba, maksudnya mas,”
Joko :”Kamu anak orang kayak’kan?”
Susanti :”Lho kok tahu?”
Joko :”Keliatan dari lantainya. Nomor-nomor,”
Susanti :”Nomor apa?”
Joko :”Nomor sepatu, ya nomor telepone bapak kamu’lah. Jer, jer, siap-siap nelpon”
Jeremy :”Oke,” (ngambil hp)
Susanti :”08123456789,”
Jeremy :”Wih, nomornya nomor ganteng. Oke,” (menempelkan hp di telinga)
Jeremy :”Halo assalammu’alaikum. Passwordnya?”
Joko :”Ga pake password otak udang rebus. Sini sama gue,” (ngambil hp)
Joko :”Ini cara makenya gimana, ya?”
Jeremy :”Tinggal ngomong aja otak-otak,”
Joko :”Halo! Benar ini dengan bapaknya Susanti? Bapak sehat pa? Jadi gini pak, kebetulan anak bapak kami sandra, dan kami minta tebusannya. Tebusanya ga besar, Cuma 500 juta aja kok pa,”
Jeremy :”Kegedean” (mukul punggung Joko)
Jeremy :”Nanti makenya gimana?”
Joko :”Jadi berapanih?”
Jeremy :”Gue juga ga tahu. Kita tanya harga pasarannya aja gimana?”
Joko :”Boleh juga tuh, harga pasarannya berapa neng?”
Susanti :”Kok nanya ke saya, tanya ke yang lain dong,”
Jeremy :”Pak pak pak. Sini sebentar pak,” (manggil satpam)
Satpam :”Ada apa mas?”
Jeremy :”Harga pasaran penculikan berapa ya pak? 500 juta dapet ga pak?”
Satpam :”Nah ininih! ini bahayanih, ini ga benernih, lu itu jangan sembarangan ngasih harga, jangan sampai menjatuhkan harga pasar. Lo pikirin, lu kesini pake duit, makan pake duit, nelpon pake duit, belom lagi keluarga lu dirumah ngurusnya pake duit, sekarang ini harga-harga semuanya naik, keculi penghasilan rakyat. Coba sebutin tadi harganya berapa?”
Joko :”500 juta,”
Satpam :”Beeeuuh. Gocap aja cukup. Lu pikirin, kalo lo ketangkep terus digebukin nambah lagi biaya rumah sakit. Orang-orang di gedung itu kerjanya cuma nanda tangan sama tidur aja gajinya gede,”
Joko :”Okelah. Makasih pak,”
Satpam :”Semoga sukses, ya,” (salaman) (pergi)
Joko :”Jadi harganya gocap pak,”
Susanti :”Yaelah, masa harga gue gocap, naikin dikit dong,”
Joko :”Ini udah harga mati,”
Susanti :”200 juta aja gimana,”
Jeremy :’Boleh juga’tuh,”
Joko :”Terus buat apa kita nanya ke orang tadi? Tapi ga papalah. 200 jutanih, dil ya pak? Oke,”
Jeremy :”Gimana?”
Joko :”Tinggal nunggu hasil,”
Jeremy :”Tapi, itu orang punya duit sampe 200 juta ga yah? Ntar dia minjem dulu, terus jadi lama kita nunggunya,”
Joko :”Bener juga’sih, tapi udah terlanjut, jadi gapapalah,”

Setelah 1,57 detik menunggu, akhirnya ayah Susanti pun datang dengan sejumlah uang.
Bapak :”Nih!” (ngasih uang”
Joko :”Eits! Bentar dulu pak, bapak dapet uang ini dari mana? Masa cepet banget dapet uangnya. Jangan-jangan bapak koruptor ya. Jangan-jangan ini uang haramnih, maaf pak, uang haram kami ga nerima,”
Bapak :”Enak aja uang haram! saya dapat uang ini dari sampah!”
Jeremy :”Lho, kok bisa?”
Bapak :”Ya saya daur ulang sampah, lalu jual, dapet uang deh,”
Jeremy :”Kalo sampah masyarakat bisa didaur ulang pak?”
Bapak :”Bisa dong,”
Jeremy :”Kalau wajah saja?”
Bapak :”Itu sudah permanen, ga bisa diubah,”
Joko :”Berarti beloh dong kami kerja di tempat bapak?”
Bapak :”Kalian jadi preman gara-gara ga ada lapangan kerjakan? Kalo gitu mulai sekarang kalian kerja sama saya,”
Joko :”Siap pak,

Akhirnya Jeremy dan Joko bekerja dengan bapak Susanti. Sampah menjadi berkurang, begitu juga dengan sampah masyarakat.