Pengertian Stoikisme Beserta Pencetus, dan Cara menerapkannya

√ Edu Passed Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Stoikisme, stoicism, stoic, dan stoisisme berasal dari bahasa yunani “oikos” yang artinya “dari stoa (serambi atau beranda). Secara umum, Stoisisme adalah sebuah filosofi yang berkaitan tentang cara mendapatkan kebahagian hidup, cara menghindari pikiran negatif yang membuat stres ataupun jenuh, dan membantu mengontrol emosi negatif serta selalu mensyukuri segala sesuatu yang dimiliki.

Secara singkatnya, Stoisisme adalah filosofi yang mempelajari bagaimana menjaga pikiran manusia agar tetap rasional, tenang dan positif. Stoikisme salah satu aliran filsafat yang mengajarkan mengenai bagaimana kebahagian seseorang bersumber dari hal-hal yang bisa dikendalikan dengan memfokuskan diri sendiri pada apapun yang bisa dikendalikan, dan menerima apa yang tidak dapat dikendalikan.

Pencetus Stoikisme

Stoikisme dicetuskan oleh seorang filsuf yunani bernama Zeno. Zeno adalah seorang filsuf yunani yang berasal dari Citium, Siprus, pada awal abad ke-3SM. Menurut buku sejarah terlengkap peradaban dunia oleh Rizem Aizid (2018: 105), Zeno diperkirakan lahir sekitar pada tahun 334 SM. Kemudian ia datang dari Citium ke Athena pada tahun 312 SM degan tujuan mempelajari filsafat dengan Xenocrates, murid dan keponakan Plato.

Zeno lalu mendirikan sebuah sekolah Stoa sebagai tempat belajar yang menerima siapa saja, termasuk orang asing. Zeno tentu menjalankan sekolah ini tidak sendirian, melainkan bersama dengan dua rekannya, yaitu Chrysippus dari Soli dan Cleanthes dari Assos. Mereka bertiga dijuluki “Early Stoa” atau “Stoa Mula-mula.”

Ajaran stoikisme mulai diajarkan di dalam sekolah stoa ini. Ajaran stoisisme pertama kali dimulai dengan logika, melalui fisika dan menuju etika. Pengaruh utama Stoisisme berada di dalam bidang etika. Tidak hanya itu, stoisisme dikenal sebagai aliran filsafat pertama yang bersifat universal. Hal ini karena para filsuf sebelumnya selalu memandang bangsa Yunani sebagai bangsa dengan peradaban tertinggi.

Semakin berjalannya waktu, stoikisme meletakan prinsip-prinsip yang bersifat rasional mengenai kesederajatan manusia di dalam hukum. Para penganut paham ini berarti memahami bahwa menghadapi nasib harus dengan sikap yang berani dan hati mulia, serta penuh kebijaksanaan dan keadilan.

Zeno meninggal pada 262 SM, sehingga sekolah stoa diurus dengan Cleanthes dan Chrysippus. Mereka berdua adalah orang yang paling berjasa dalam mempertahankan sekolah Stoa setelah meninggalnya Zeno.

Cleanthes menyumbangkan gagasannya mengenai hubungan etika dan teologi, sedangkan Chrysippus menuliskan 705 buku literatur mengenai doktrin stoisisme.

Konsep Hidup Stoikisme

Dalam konsep hidup Stoikisme, salah satu penyebab dari penderitaan yang dialami diri sendiri adalah dari diri sendiri dan hanya diri sendiri yang dapat menentukan penderitaan atau kebahagiaan yang ingin dirasakan oleh dirinya sendiri.

Tidak hanya itu, dalam konsep stoikisme mengharuskan diri sendiri untuk menarik sebuah garis pembeda antara hal-hal yang bisa dikendalikan dan hal-hal yang tidak dapat dikendalikan dalam kehidupan kita.

Tidak sedikit orang yang merasakan kesedihan dan ketidakbahagiaan karena mencoba untuk mengendalikan hal-hal yang jelas tidak dapat mereka kendalikan, sehingga hal tersebut membuat diri sendiri merasa tidak berguna dan tidak berdaya.

Konsep stoisisme ini berfokus pada hal-hal yang bisa dikendalikan dan menyadari bahwa ada beberapa hal yang memang tidak bisa dikendalikan oleh diri sendiri. Karena apabila hanya berfokus pada yang bisa dikendalikan, maka hidup akan terasa lebih mudah, berguna, penuh kebahagian, dan efektif.

Prinsip Stoikisme

Berdasarkan konsep stoikisme bahwa jalan termudah untuk hidup bahagia yaitu didasarkan oleh prinsip-prinsip stoisisme, yaitu:

  • Kebijaksanaan merupakan sebuah kebahagian dan penilaian bukan didasarkan oleh kata-kata, melainkan oleh perilaku. Karena manusia tidak bisa mengendalikan apapun  yang terjadi apabila berasal dari luar dirinya sendiri, sehingga manusia hanya bisa mengendalikan diri dan merespon hal-hal yang terjadi di sekitarnya saja.
  • Membuat perbedaan antara hal-hal yang bisa dikendalikan oleh diri sendiri dan hal-hall apa saja yang tidak bisa dikenalikan oleh diri sendiri
  • Kemampuan dalam melihat diri sendiri, dunia, maupun manusia dengan cara yang lebih objektif dan menerima sifat mereka dengan apa adanya.
  • Patuh dan taat dalam mencegah diri sendiri yang dikembalikan oleh keinginan untuk bahagia maupun perasaan takut terhadap rasa sakit dan penderitaan.

Cara menerapkan Stoikisme

Berikut ini cara merapikan stoisisme yang b9isa dilakukan, diantaranya:

1. Mengakui dan Menyadarkan Diri Sendiri bahwa Ada Hal yang Terjadi Diluar Kendali

Tidak ada salahnya untuk mengharapkan sesuatu yang lebih. Namun, sebelum itu ada baiknya menyadarkan diri sendiri bahwa ada banyak hal yang akan terjadi di luar kendali. Karena ada banyak hal yang mungkin saja terjadi diluar ekspektasi. Sehingga keadaan tersebut dapat membuat kecewa, sedih dan marah.

Tidak hanya menyadarkan diri sendiri, tetapi juga mengakui bahwa memang ada banyak hal yang akan terjadi diluar kendali. Sehingga saat mengalami kegagalan atau ketidakberhasilan maka akan dengan mudah menerimanya dan tidak perlu menyalahkan diri sendiri. Alhasil, kembali lebih fokus terhadap hal-hal yang dapat dilakukan.

2. Menggunakan Waktu dengan Sebaik Mungkin

Dalam stoisisme mengajarkan bahwa waktu merupakan aset terbesar manusia. Setiap waktu sangat berharga karena waktu tidak akan pernah bisa diulang kembali. Oleh karena itu, gunakan waktu dengan sebaik mungkin untuk terus berusaha dan melangkah dalam hal positif.

Selain itu, orang yang menyia-nyiakan waktu untuk hal yang tidak penting, dan kecil serta hanya hiburan semata maka pada akhirnya akan menemukan hal yang tidak memiliki apapun untuk ditunjukan. Jadi jangan membiasakan menunda-nunda, dan lebih baik menggunakan waktu dengan sebaik mungkin untuk hal-hal yang bermanfaat.

3. Melatih Dikotomi Kendali

Dikotomi kendali adalah cara memisahkan hal-hal yang bisa dikendalikan dan yang tidak bisa dikendalikan. Seseorang harus sadar bahwa ada banyak hal yang tidak bisa diubah. Tidak hanya itu, melatih dikotomi kendali juga bisa untuk mengendalikan emosi. sehingga hidupnya akan lebih tenang dan bahagia, serta terhindar dari emosi yang tidak perlu.

4. Selalu Fokus ketika Mendapatkan Masalah atau Gangguan

Ada banyak hal yang dapat mengganggu fokus dalam diri seseorang. Apalagi ketika sedang dihadapkan dengan begitu banyak masalah ataupun pilihan yang menyebabkan pikirannya teralihkan dengan fokus yang harus dikerjakan.

Stoikisme mengajarkan bahwa untuk melakukan sesuatu tindakan yang memiliki tujuan. Dalam arti, agar fokus tidak terganggu maka seseorang harus memiliki tujuan tertentu yang harus dicapainya.

5. Lebih Banyak Mendengarkan

Mendengarkan merupakan hal yang sulit banyak orang lakukan, terlebih apabila seseorang tersebut bukan tipe pendengar. Namun, stoikisme mengajarkan bahwa harus selalu fokus dengan hal-hal yang dapat dikendalikan.

Dengan mendengarkan mampu membuat kamu lebih tenang daripada memperdebatkan masalah. Tidak hanya itu, dengan mendengarkan dapat lebih mudah memahami pendapat orang lain, sehingga apabila ada pendapat yang berbeda, maka tidak perlu diambil pusing.

fbWhatsappTwitterLinkedIn