Sejarah

8 Peninggalan Kerajaan Banten dan Gambarnya

√ Edu Passed Pass education quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Kerajaan Banten merupakan salah satu kerajaan Islam yang berdiri di Nusantara, tepatnya terletak di ujung barat pulau Jawa. Termasuk sebagai kerajaan Islam yang paling tua di Nusantara, Kerajaan Banten memiliki peranan besar dalam penyebaran Islam maupun dalam upaya kemerdekaan Indonesia. Menurut sejarah, berdiri selama tiga abad dengan pencapaian kejayaan yang luar biasa.

Kerajaan Banten didirikan pada tahun 1526 Masehi. Bentuk kerjaannya adalah kesultanan, sehingga banyak juga yang menyebutnya Kesultanan Banten. Perang saudara setelah kedatangan penjajah dari Belanda merupakan pemicu keruntuhan kerajaan besar ini. Meski telah lama hancur, namun beberapa peninggalan kerajaan ini masih bisa kita temukan saat ini.

Sejarah  Kerajaan Banten

Pada abad ke-16, (tahun 1525-1526 Masehi), Portugis yang telah menduduki wilayah Sunda Kelapa berhasil dikalahkan oleh pasukan yang dipimpin oleh Fatahillah. Pasukan ini merupakan gabungan dari pasukan Demak dan Cirebon.

Sedangkan di Pelabuhan Banten, Portugis tidak sempat dapat berkuasa. Sebab, Pasukan Sunan Gunung Jati lebih dahulu menguasainya. Sunan Gunung Jati menetap di Banten hingga tahun 1552 untuk membentuk pemerintahan di sana. 

Pada tahun 1552 tersebut, dilakukan penobatan raja pertama di Kerajaan banten terhadap Sultan Maulana Hasanuddin. Beliau merupakan putra Sunan Gunung Jati yang diberi amanat untuk memimpin Banten. Sedangkan Sunan Gunung Jati kembali ke Cirebon.

Tahun 1651-1683 dinyatakan sebagai masa kejayaan Kerajaan Banten. Saat itu Kerajaan banten dipimpin oleh Sultan Ageng Tirtayasa. Kejayaan ini diperoleh karena Kerajaan Banten tidak menerapkan sistem monopoli perdagangan, sehingga banyak saudagar yang singgah dan berdagang melalui Pelabuhan Banten. 

Selain itu, Kerajaan Banten juga ramah terhadap berbagai golongan masyarakat. Meski bercorak kerajaan Islam, namun menganut kebebasan beragama. Hal ini didukung dengan didirikannya Klenteng pada tahun 1673.

Kemajuan Kerajaan banten menjadi daya tarik sendiri bagi bangsa lain. Mereka yang memiliki kekuatan besar seperti Portugis, Spanyol, dan Belanda memiliki keinginan untuk menguasai perdagangan di Banten. 

VOC yang saat itu merupakan aliansi dagang besar dari Belanda mengajukan permohonan monopoli dagang dengan mendirikan perwakilan di pelabuhan Banten pada Sultan Ageng Tirtayasa. Namun Sultan Ageng menolaknya. Sultan Ageng dikenal sangat keras terhadap VOC.

Berbeda dengan anak dari Sultan Ageng Tirtayasa, yaitu yang dikenal dengan Sultan Haji. Sultan Haji lebih lunak sebagai VOC. VOC melancarkan aksi adu domba untuk membuat perselisihan antara Sultan Ageng Tirtayasa dan Sultan Haji. Hingga akhirnya Sultan Haji dapat merebut istana Kerajaan banten dari ayahnya dengan bantuan VOC. Sultan Ageng Tirtayasa dan anak-anaknya yang lain mengungsi ke pedalaman.

Tahun 1683 VOC menangkap Sultan Ageng Tirtayasa dan membuang beliau ke daerah Batavia. Sultan Haji dinobatkan sebagai raja Banten dengan perjanjian yang banyak menguntungkan VOC. Kerajaan Banten sejak saat itu berada di bawah kendali VOC. 

Keruntuhan Kerajaan Banten terjadi pada abad ke-19 saat Gubernur Jenderal Hindia Belanda dipegang oleh Herman Willem Daendels. Ambisi Daendels untuk membangun Jalan Raya Pos yang membentang sepanjang pulau Jawa, membuatnya memerintah Sultan Banten agar memindahkan pusat pemerintahan ke Anyer. Namun Sultan pada saat itu menolaknya. Akibat penolakan Sultan tersebut, pasukan Daendels menyerang Istana Surosowan dan mengasingkan Sultan ke Batavia.

Tahun 1808 Kerajaan Banten diumumkan menjadi bagian dari Hindia Belanda. 

Saat kolonial Inggris berkuasa pada tahun 1813, Kerajaan Banten dihapus. Sultan yang berkuasa pada saat itu diturunkan paksa oleh Inggris.

Daftar Raja Kerajaan / Kesultanan Banten

Selama berdirinya, Kerajaan Banten dipimpin oleh 21 Sultan. Berikut ini daftar nama-nama raja atau sultan di Kerajaan / Kesultanan Banten:

  1. Sultan Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati), memerintah pada tahun 1926-1552.
  2. Sultan Maulana Hasanudin (Pangeran Sabakingkin), pada tahun 1552-1570.
  3. Sultan Maulana Yusuf (Pangeran Pasarean), tahun 1570-1585.
  4. Sultan Maulana Muhammad (Pangeran Sedangrana), pada tahun 1585-1596.
  5. Sultan Abdul Mafakhir Mahmud Abdulkadir (Sultan Agung), masa pemerintahan tahun 1596-1647.
  6. Sultan Abu al-Ma’ali Ahmad, tahun 1596 – 1647.
  7. Sultan Ageng Tirtayasa, berkuasa tahun 1651-1683.
  8. Sultan Abu Nashar Abdul Qahar, tahun 1683-1687.
  9. Sultan Abu al-Fadhl Muhammad Yahya, pada tahun 1687-1690.
  10. Sultan Abu al-Mahasin Muhammad Zainul Abidin, tahun 1690-1733.
  11. Sultan Abdullah Muhammad Syifa Zainul Arifin, tahun 1733-1750.
  12. Sultan Syarifuddin Ratu Wakil, pada tahun 1750-1752.
  13. Sultan Abu al-Ma’ali Muhammad Wasi, berkuasa tahun 1752-1753.
  14. Sultan Abu al-Nasr Muhammad Arif Zainul Asyiqin, tahun 1753-1773.
  15. Sultan Aliyuddin I, tahun 1773-1799.
  16. Sultan Muhammad Muhyiddin Zainussalihin, tahun 1799-1801.
  17. Sultan Muhammad Ishaq Zainulmutaqin, pada tahun 1801-1802.
  18. Caretaker Sultan Wakil Pangeran Natawijaya, tahun 1802-1803.
  19. Sultan Aliyuddin II, tahun 1803-1808.
  20. Caretaker Sultan Wakil Pangeran Suramanggala, tahun 1808-1809.
  21. Sultan Maulana Muhammad Syafiuddin, masa pemerintahan pada tahun 1809-1813.

Peninggalan Kerajaan Banten

Beberapa peninggalan Kerajaan Banten di antaranya:

1. Masjid Agung Banten 

Masjid Agung Banten

Masjid Agung Banten terletak 10 km dari Kota Serang, tepatnya berada di Desa Banten lama. Masjid yang dibangun di masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanuddin tahun 1952 ini masih berdiri kokoh hingga saat ini. 

Daya tarik masjid ini selain karena merupakan peninggalan Kerajaan Banten juga karena memiliki beberapa keunikan yang berbeda dari masjid-masjid lainnya. Keunikan tersebut yaitu bentuk menaranya yang mirip dengan mercusuar, atapnya seperti pagoda dengan arsitektur khas China, terdapat serambi di kiri dan kanan bangunan, serta di sekitar masjid ada komplek pemakaman sultan Banten dan keluarganya.

2. Istana Keraton Surosowan Banten

Istana Keraton Surosowan

Istana Keraton Surosowan merupakan kantor pusat pemerintahan dan tempat tinggal sultan Banten. Kondisi istana tersebut saat ini telah hanya tinggal reruntuhan. Di sana juga kita dapat menemukan kolam tempat pemandian Putri.

3. Istana Keraton Kaibon Banten

Istana Keraton Kaibon

Satu lagi istana peninggalan Kesultanan Banten adalah Istana Keraton Kaibon. Istana ini merupakan tempat tinggal Bunda Ratu Aisyah, ibunda dari Sultan Syaifuddin.

Oleh karena itulah keraton ini disebut Kaibon atau Kaibuan. Bangunannya telah hancur dan meninggalkan kepingan reruntuhan.

4. Benteng Speelwijk

Benteng Speelwijk

Sebagai kerajaan yang wilayahnya berada di jalur utama maritim Nusantara, Kerajaan Banten memiliki benteng dan mercusuar. Benteng Speelwijk dibangun tahun 1585 dengan tembok setinggi 3 meter. Fungsinya sebagai pertahanan dari serangan musuh yang berasal dari laut, serta untuk mengawasi pelayaran di seputar Selat Sunda.

Di dalam benteng ini terdapat terowongan yang menghubungkan antara benteng dengan Istana Keraton Surosowan.

5. Meriam Ki Amuk

Meriam Ki Amuk

Meriam Ki Amuk adalah sebuah meriam terbesar yang terdapat di Benteng Speelwijk. Daya ledaknya yang sangat tinggi dan dapat menembak hingga jarak yang jauh yang menjadikan meriam ini dinamakan Meriam Ki Amuk. Meriam ini merupakan hasil rampasan perang dari kolonial Belanda.

6. Vihara Avalokitesvara

Vihara Avalokitesvara

Kesultanan Banten bercorak Islam, namun toleransi beragama sangat tinggi. Hal ini terbukti dengan adanya peninggalan sejarah Kerajaan Banten berupa Vihara Avalokitesvara. Sebuah bangunan tempat untuk beribadah bagi umat Budha. Bangunannya masih ada hingga sekarang. Memiliki keunikan pada dindingnya berupa relief yang menceritakan kisah legenda Siluman Ular Putih.

7. Danau Tasikardi

Danau Tasikardi

Danau Tasikardi merupakan danau buatan yang berada di sekitar Keraton Kaibon. Dibuat pada tahun 1570-1580 pada masa pemerintahan Sultan Maulana Yusuf. Danau dengan luas 5 hektar ini berfungsi sebagai sumber air utama bagi keluarga kerajaan yang tinggal di Keraton Kaibon.

Dahulu dasarnya dilapisi dengan ubin batu bata, namun saat ini tanah sedimen yang terbawa arus sungai telah menguburnya. Sehingga ubin batu bata sudah tidak nampak lagi.

8. Kerkhof Banten

Kerkhof Banten

Di lingkungan Benteng Speelwijk terdapat juga peninggalan lain dari Kesultanan Banten, yaitu Kerkhof. Kerkhof adalah makam-makam Belanda. Letaknya ada di Kampung Pamarican. Makam-makam yang terbuat dari batu tersebut masih ada yang utuh saat ini, namun banyak juga yang sudah rusak.