3 Peninggalan Kerajaan Jailolo Kesultanan Maluku Utara

√ Edu Passed Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Kesultanan Jailolo merupakan satu-satunya kesultanan di Maluku Utara yang memiliki pusat pemerintahan di Pulau Halmahera. Pendirian kesultanan ini diawali oleh persekutuan Moti atas usul Sultan Sida Arif Malamo.

Meskipun tidak seterkenal kesultanan yang ada di Maluku lainnya, wilayah Kesultanan Jailolo merupakan salah satu sumber penghasil cengkeh yang ada di Maluku. Kesultanan yang telah berdiri sejak abad ke-13 Masehi ini, pernah didirikan kembali setelah masa reformasi tahun 1998.

Kesultanan Jailolo mengalami keruntuhan pada abad ke-17 dan wilayah kesultanannya kemudian menjadi wilayah dari Kesultanan Tidore dan Kesultanan Ternate.  Kesultanan yang pernah diserang oleh Kesultanan Ternate ini tidak meninggalkan banyak jejak sejarah.

Peninggalan yang tersisa dari kesultanan ini hanya 3 saja yakni berupa benteng, masjid serta makam kuno. Ketiga bangunan bersejarah ini menjadi bukti bahwa Kesultanan Jailolo pernah berdiri di Pulau Halmahera. Adapun penjelasan ketiga peninggalan kesultanan ini adalah sebagai berikut.

1. Benteng Gamlamo

Benteng Gamlamo, Peninggalan Kerajaan Jailolo

Peninggalan sejarah kerajaan tentunya tidak akan lepas dari pengaruh penjajahan baik yang dilakukan oleh Belanda, Portugis, Spanyol maupun Jepang. Penjajahan ini turut memberikan andil bagi jejak-jejak peninggalan sejarah. Salah satu bukti peninggalan yang erat kaitannya dengan hal tersebut adalah sebuah benteng.

Zaman dahulu benteng digunakan untuk tempat berlindung dari ancaman musuh. Begitupun dengan benteng bekas peninggalan kerajaan Jailolo ini. Benteng Gamlamo sengaja dibangun untuk menghadapi serangan musuh yakni Kesultanan Ternate dan Portugis.

Pembangunan benteng ini dipimpin oleh Sultan Katarabumi. Benteng dibangun dengan menggunakan pondasi dari tanah dan batu. Sekeliling benteng dibangun sebuah tembok dengan dua kubu pertahanan guna menahan serangan musuh.

Selain itu, benteng gamlamo juga dipersenjatai dengan 100 pucuk senjata laras panjang, 18 pucuk Mariam, satu mortir dan beragam jenis senjata lainnya guna mencegah pengepungan. Sebuah benteng yang cukup kokoh pada masa itu.

Adapun senjata-senjata yang digunakan didatangkan dari Pulau Jawa. Persenjataan ini didatangkan guna menambah kekuatan Kesultanan Jailolo saat menghadapi musuh. Sebab, benteng merupakan rumah bagi seorang pejuang saat berada di arena peperangan.

Jika rumah tersebut hancur, maka kemungkinan besar kekalahan sudah di depan mata. Oleh karena itu, sangat penting untuk menjaga sebuah benteng pertahanan dari serangan musuh.

2. Masjid Gammalamo

Masjid Gammalamo, Peninggalan Kerajaan Jailolo

Masjid Gammalamo terletak di Desa Gamlamo Kecamatan Jailolo, Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara. Masjid peninggalan Kerajaan Jailolo ini merupakan salah satu masjid tertua yang ada di Kabupaten Halmahera.

Masjid Gammalamo dibangun untuk pertama kalinya pada tahun 1902. Masjid ini berdiri di atas tanah dengan luas 300 meter persegi dengan luas bangunan utamanya sekitar 150 meter persegi. Masjid yang berdiri di atas tanah wakaf ini diprakarsai oleh suku tertua yang ada di Jailolo yakni Suku Moro.

Rakyat suku Moro saat ini menyepakati dibangunnya sebuah tempat ibadah tanpa bantuan dari pihak lain. Kemudian, seluruh suku yang ada di Jailolo saat itu seperti suku Wayuli dan Porniti saling bahu membahu membangun masjid.

Mereka memberikan kontribusi berupa Soko Guru (Tiang Kaba) yang dipakai sebagai penyangga bangunan atap. Empat Soko guru yang ada menjadi sebuah simbol persatuan dan kesatuan masyarakat Jailolo meskipun beberapa suku bukan sebagai pemeluk agama Islam.

Masjid Gammalamo memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan masjid lainnya. Di bagian halaman masjid ini terdapat sebuah menara dengan panjang 2,9 meter. Menara tersebut merupakan peninggalan dari penjajahan Belanda.

Dulunya, menara tersebut digunakan sebagai penanda kapan datangnya waktu sahur dan berbuka saat bulan ramadhan tiba. Hal ini dikarenakan masyarakat saat itu belum semuanya memiliki jam matahari maupun jam analog.

Selain terdapat benda peninggalan penjajahan Belanda, Masjid Gammalamo pernah menjadi basis perjuangan melawan Belanda seperti yang terjadi pada saat Perang Jailolo atau Rogu Lamo Jailolo. Peperangan tersebut terjadi pada tahun 1914.

Di mana fungsi masjid gammalamo pada saat itu sebagai tempat bermusyawarah, benteng pertahanan dan menyusun strategi untuk melawan Belanda. Selain sebagai basis pertahanan saat melawan Belanda, masjid ini digunakan sebagai basis pertahanan untuk menghalau misi kristenisasi yang dilakukan Belanda.

Dengan misinya yang sering kita kenal 3G, yakni Gold Glory dan Gospel, para penjajah juga turut memaksa masyarakat untuk memeluk agama yang sama dengan mereka yakni agama Kristen. Masjid Gammalamo memiliki usia sekitar lebih dari satu abad. Dengan usia segitu, masjid ini tentunya telah mengalami berbagai macam renovasi.

Renovasi dilakukan guna memperbaiki beberapa bagian bangunan yang rusak. Namun, secara arsitektural, bangunan ini tetap sama dengan pembangunan pertama kali. Sebelum mengalami proses renovasi, masjid ini masih berupa Musala yang digunakan sebagai tempat untuk solat berjamaah. Kemudian, sekitar tahun 1920-an, masjid ini dipindahkan dan diberi nama Masjid Al-Kabir atau Masjid Besar.

Empat puluh tahun kemudian atau sekitar tahun 1960-an, masjid kembali dilakukan renovasi tanpa menghilangkan ciri khas utama bangunan. Setelah dilakukan renovasi, nama masjid ini kemudian diganti yang semula bernama masjid Al-Kabir menjadi masjid Al-Amin.

Kemudian pada tahun 1993, salah seorang anak cucu dari keturunan Sultan Jailolo mengklaim masjid tersebut menjadi masjid kesultanan. Hal inilah yang kemudian mendasari perubahan nama pada nama masjid menjadi Masjid Gammalamo. Nama masjid tersebut melekat hingga saat ini dan menjadi salah satu bukti sejarah Kerajaan Jailolo.

3. Nisan-Nisan Kuno

Nisan Kuno, Peninggalan Kerajaan Jailolo

Peninggalan sejarah dari Kerajaan Jailolo selanjutnya adalah nisan-nisan kuno. Nisan-nisan ini ditemukan di 3 desa yang berbeda yakni Desa Halala, Desa Gam Ici dan Desa Gam Lamo. Ketiga wilayah ini masih berada dalam satu kecamatan Jailolo.

Adapun bentuk-bentuk nisan-nisan kuno tersebut adalah berbentuk pipih dan balok. Selain itu, terdapat beberapa ornamen dan ukiran kaligrafi serta bunga sulur yang menghiasai nisan tersebut.

Nisan di desa Gamlamo memiliki ukuran dengan tinggi 160 cm dan lebar 80 cm. Nisan ini memiliki bentuk pipih dengan bagian kepala nisan berbentuk seperti delima. Sementara itu, bagian badan nisan di sisi dalam dihiasi dengan tulisan kaligrafi berupa ayat kursi.

Sedangkan bagian badan sisi luar dihiasi dengan motif flora dengan bagian sisi kiri dan kanan nisan diisi dengan motif geometris dan flora panah kuning. Jika dilihat secara sepintas, bentuk motif dari sisi samping terlihat seperti sebuah anyaman dengan motif bunga.

Sementara itu, pada bagian kaki nisan kondisinya sudah rusak karena terdapat patahan dan bagian puncak nisan sudah tidak ada. Pada bagian kaki nisan memiliki kesamaan ornamen dengan bagian badan nisan yakni berbentuk geometris dan flora. Bagian kaki nisan memiliki bentuk persegi empat dengan posisi terkubur ke dalam tanah.

Nisan kedua yang ditemukan di desa Gam lamo berada di dekat masjid Sultan yang pertama. Sama sepeti nisan pertama, nisan ini juga berbentuk pipih dengan sedikit perbedaan ada bahu nisan dan puncak nisan yang dibuat meruncing.

Kondisi nisan kedua ini tidak terawat bahkan beberapa nisan dibiarkan berserakan. Hanya beberapa nisan saja yang terawat yakni nisan yang berada di dalam pagar yang terbuat dari susunan batu dan semen. Ornamen pada nisan kedua ini memiliki kemiripan dengan nisan pertama yakni kaligrafi dan geometris.

Motif geometris berupa lingkaran bulat dengan bagian dalamnya diisi dengan motif kelopak bunga yang berisi enam. Sementara itu, pada bagian bawah bulat terdapat bidang lengkung seperti bulan sabit dan motif flora dengan bentuk tanaman sulur.

Selain flora, ornamen geometris juga turut menghiasi nisan kuno peninggalan Kerajaan Jailolo ini. Sementara itu, pada nisan kedua ini tidak terdapat kaligrafi hanya motif flora yang menghiasi bagian badan nisan baik dalam maupun luar. Pada titik kedua ini, terdapat 8 buah nisan kuno yang sayangnya tidak dijaga dan dirawat dengan baik.

Nisan selanjutnya adalah nisan kuno yang ditemukan di desa Galala. Nisan ketiga kondisinya jauh lebih terawat dibandingkan nisan kedua yang ditemukan dekat Kedaton. Nisan ini berada di dalam sebuah pagar yang terbuat dari susunan batu.

Bahkan nisan ini dianggap sebagai salah satu tempat keramat oleh warga sekitar. Nisan peninggalan kerajaan Jailolo ini kerap dikunjungi dan diziarahi oleh masyarakat pada waktu tertentu. Selain ditemukan nisan pada daerah ini, ditemukan pula fragmen keramik asing yang berasal dari Eropa.

fbWhatsappTwitterLinkedIn