6 Peninggalan Kerajaan Kalingga yang Masih Ada Sampai Sekarang

√ Edu Passed Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Kerajaan Kalingga merupakan salah satu kerajaan besar yang ada di Nusantara. Cerita kerajaan ini sangat terkenal dengan ratu yang adil yakni Ratu Shima. Pada tahun 674, Kerajaan Kalingga dipimpin oleh seorang Ratu yang adil dan terkenal kejam dengan peraturan yang ada.

Peraturan tersebut membuat orang-orang menjadi sosok yang jujur dan memihak pada kebenaran. Menurut cerita yang beredar, pada suatu hari seorang raja dari negara asing datang dan meninggalkan kantung berisi emas di persimpangan jalan.

Menurut sejarah, tidak ada yang berani menyentuh kantung tersebut. Hingga suatu waktu, seorang putra mahkota tak sengaja menyentuk kantung berisi emas dengan kakinya. Mendengar hal tersebut tentunya Ratu Shima segera menjatuhkan hukuman mati kepada anaknya sendiri. Ia tidak pandang bulu untuk menegakkan keadilan.

Selain terkenal dengan kehebatan ratunya, Kerajaan Kalingga memiliki banyak peninggalan sejarah. Mulai dari prasasti hingga candi. Peninggalan tersebut menjadi bukti bahwa Kerajaan Kalingga pernah berdiri di tanah Nusantara. Berikut ini peninggalan dari kerajaan Kalingga. 

1. Prasasti Tukmas

Prasasti Tukmas, Peninggalan Kerajaan Kalingga

Prasasti tukmas merupakan prasasti peninggalan kerajaan Kalingga. Prasasti ini ditemukan di Kecamatan Grabak, Magelang, Jawa Tengah. Prasasti Tukmas ditulis dengan menggunakan huruf Pallawa dan berbahasa Sansekerta.

Tidak seperti prasasti lainnya, prasasti ini terdapat pahatan lengkap dengan beberapa gambar. Prasasti Tukmas menceritakan tentang adanya sebuah sungai yang berada di lereng Gunung Merapi dengan memiliki air yang jernih mirip dengan aliran sungai Gangga yang ada di India.

Gambar-gambar yang terdapat di dalam prasasti tersebut adalah berupa gambar trisula, kapak, kendi, Cakra, kelasangka dan bunga teratai. Gambar-gambar menjadi bukti bahwa kerajaan Kalingga memiliki kaitannya dengan Kebudayaan Hindu yang berasal dari India.

Prasasti Tukmas ditemukan cukup jauh dari perkiraan Ibu kota Kerajaan Kalingga. Hal ini turut menjadi bukti bahwasanya kerajaan Kalingga memiliki wilayah kerajaan yang cukup luas.

2. Prasasti Sojomerto

Prasasti Sojomerto, Peninggalan Kerajaan Kalingga

Prasasti Sojomerto merupakan peninggalan kerajaan Kalingga yang ditemukan di Kabupaten Batang. Asal muasal nama prasasti ini dikarenakan prasasti ini ditemukan di dusun yang bernama Dusun Sojomerto. Tidak seperti prasasti Tukmas, prasasti Sojomerto menggunakan huruf Kawi dan berbahasa Melayu.

Jika dilihat dari penggunaan huruf dan bahasa pada prasasti, para ahli memperkirakan prasasti ini berasal dari abad ke-7 Masehi. Isi dari prasasti ini menceritakan mengenai kondisi keluarga kerajaan Kalingga.

Salah satu isi prasasti menceritakan mengenai pendiri kerajaan yang bernama Dapunta Syailendra. Prasasti ini terbuat dari batu andesit dan memiliki panjang sekitar 45 cm, tebal 30 cm dan tinggi 80 cm. Prasasti ini terdiri dari 11 baris yang sebagian besar barisnya sudah rusak karena termakan usia.

3. Prasasti Upit

Prasasti Upit, Peninggalan Kerajaan Kalingga

Prasasti ini ditemukan di sebuah desa bernama Ngawen, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Klaten. Prasasti ini menceritakan sebuah kampung yang bernama kampung Upit. Kampung tersebut menjadi daerah perdikan atau daerah bebas pajak karena anugerah yang diberikan oleh Ratu Shima. Saat ini, prasasti Upit disimpang di museum Purbakala,  Jawa Tengah, Prambanan, Klaten.

Prasasti Upit memiliki bentuk berupa lingga dengan silinder tegak yang memiliki tinggi 85 cm dan terdirindari dua bagian. Pada bagian bawah dengan memiliki penampang bujur sangkar yang tingginya sekitar 48 cm. Sementara itu, pada bagian atas memiliki bentuk silinder dengan tinggi 37 cm.

Penemu prasasti ini adalah seorang petani yang berasal dari Dukuh Sorowaden yang bernama Mitrowiriatmo. Setelah penemuan tersebut, prasasti tersebut disimpan di BPCB Jawa Tengah guna kepentingan penyelamatan dan kajian.

Prasasti ini memiliki isi yang cukup singkat dengan terjemahan isinya adalah Salam sejahtera! Di tahun saka 788, pada bulan Kartika, hari kelima paro-gelap, wurukung, Kaliwuan, Soma, ketika Rake Halaran meresmikan Sima di (Y) Upit.

Dari catatan waktu tersebut diperkirakan bahwa prasasti ini dibuat pada tanggal 11 November 866 masehi pada masa pemerintahan Rakai Kayuwangi di Medang (Mataram Kuno).

4. Candi Bubrah

Candi Bubrah, Peninggalan Kerajaan Kalingga

Candi Bubrah berada di Dukuh Bener, Desa Bugisan Kecamatan Prambanan, Klaten. Canda Bubrah masih termasuk ke dalam Kawasan Candi Prambanan. Candi Bubrah terbuat dari batu andesit dengan memiliki denah berupa persegi panjang.

Candi ini memiliki ukuran sekitar 12×12 meter dikarenakan sudah beberapa bagian yang telah rusak. Candi ini hanya tersisa reruntuhan setinggi dua meter. Oleh karena itulah, candi ini dinamakan dengan Candi Bubrah.

Candi Bubrah diyakini satu masa dengan pembangunan Candi Sewu serta Candi Lumbung. Ketiganya merupakan satu kesatuan Mandala yang memiliki corak Budhist. Komplek pemujaan ini dibangun oleh Rakai Panangkaran atau yang biasa dikenal dengan Syailendra Wangsa Tilaka  (Mutiara Keluarga Syailendra).

Rakai Panangkaran merupakan pemimpin dari dinasti Syailendra yang pindah agama. Semula dari agama Siwa (Hindu) menjadi agama Buddha. Perpindahan agama ini atas perintah ayahnya yang menginginkan dirinya menjadi seorang Buddhis.

Rakai Panangkaran pun mengikuti keinginan ayahnya dengan menjadi seorang Buddhis yang taat. Kemudian, ia membangun sebuah Candi Kalasan, candi yang dipersembahkan untuk Dewi Tara.

Selain itu, ia juga membangun dua candi lainnya yakni candi Sari dan Candi Sewu. Sayangnya, saat prosesi pembangunan, Rakai Panangkaran sudah meninggal dunia. Sehingga, bangunan suci tersebut diresmikan oleh penggantinya yakni Rakai Panaraban.

Candi Bubrah sama dengan komplek Candi Prambanan lainnya yakni bangunan tunggal yang menghadap ke timur. Struktur bangunan terkesan tinggi dan ramping dengan atap stupa merupakan simbol Gunung Meru.

Susunan stupa induk pada candi ini mengacu pada konsep pantheon yang ada dalam agama Buddha. Di mana satu stupa dikelilingi dengan delapan stupa kemudian dikelilingi oleh 16 stupa lainnya. Pada bagian luar tubuh candi terdapat relung yang berisi arca Dhyani Buddha.

Pada relung Utara berisi arca Dhyani Buddha amogasiddhi yang menghadap ke arah Utara. Sementara di relung barat, diisi dengan Djuani Buddha Amitabha. Pada relung selatan diisi dengan arca Dhyani Buddha Ratnasambhawa. Terakhir, pada sisi timur relung diisi dengan arca Dhyani Buddha Aksobhya.

Perbedaan di antara keempat arca tersebut adalah pada posisi duduk dan tangan arca. Seperti yang dikutip dari Laporan Purna Pugar Candi Bubrah yang diterbitkan oleh BPCB Jateng, Candi Bubrah memiliki keunikan yang tidak dimiliki oleh candi lainnya.

Di mana motif hiasan taman teratai mengisi lapuk bawah padmasina pada arca Dhyani Buddha. Selain itu, motif hias mengisi pada bagian kaki, tubuh, atap hingga pagar langkah. Salah satu motif hias yang dari Candi Bubrah adalah hiasan ceplok bunga yang terdapat pada pagar langkan sisi luar.

Tidak hanya ada keunikan motif hiasnya saja, yang membedakan candi ini dengan uang lainnya adalah filosofi simboliknya. Pada candi ini terdapat dua konsep Mandala yakni Vajradhatu Mandala dan Garbhadhatu Mandala. Konsep ini di dalam Hindu dikenal dengan nama Lingga dan Yoni.

Lingga dan Yoni melambangkan maskulinitas dan feminimitas. Dua lambang yang mengisi kehidupan semesta. Konsep Vajradhatu diwakili dengan kehadiran arca Dhyani Buddha dari 4 arah mata angin. Sementara Garbhadhati diwakili oleh altar serta relung untuk Tri Ratna.

5. Candi Angin

Candi Angin, Peninggalan Kerajaan Kalingga

Candi Angin merupakan situs sejarah yang ditemukan di Desa Tempur, Kecamatan Keling, Jepara, Jawa Tengah. Candi ini dinamakan dengan Candi Angin karena berdiri di atas daerah yang cuku tinggi. Sehingga ketika diterpa angin yang sangat kencang sekalipun, candi ini tidak rubuh dan tetap kokoh.

Candi Angin diperkirakan dibangun sebelum masa pembangunan Candi Borobudur. Pada candi Angin tidak terdapat ornamen Hindu-Buddha seperti candi pada umumnya. Maka dari itu, candi ini diperkirakan dibangun dan telah ada sebelum masa Hindu Buddha masuk ke dalam masyarakat Jawa.

6. Situs Puncak Sanga Likur Gunung Muria

Puncak Sanga Likur, Peninggalan Kerajaan Kalingga

Di puncak Rahtawu atau Gunung Muria yang berada di dekat Kecamatan Keling terdapat 4 buah arca batu yakni arca Batara Guru, Narada, Togog, dan Wisnu. Sampai sekarang, belum bisa dipastikan bagaimana caranya mengangkut arca tersebut ke puncak karena medan yang begitu terjal.

Di seputar puncak pada tahun 1990, Prof Gunadi beserta empat stafnya menemukan prasasti Rahwatun. Selain keempat arca tersebut juga ditemukan 6 tempat pemujaan yang tersebar dari bawah hingga menuju puncak.

Masing-masing tempat tersebut diberi nama sesuai dengan pewayangan yakni Bambang Sakri, Abiyoso, Jonggring Saloko, Sekutrum, Pandu Dewonoto dan Kamunoyoso.

fbWhatsappTwitterLinkedIn