Tari Ebeg : Sejarah, Makna, dan Gerakannya

√ Edu Passed Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info
tari ebeg

Ensiklopedia seni tari di Indonesia tidak banyak bercerita tentang kapan seni tari telah masuk ke Indonesia. Seni tari sendiri dipercaya telah ada sejak masyarakat Nusantara mengenal kepercayaan aninisme dan dinamisme.

Salah satu tari tradisional yang memiliki usia lebih dari 10 abad adalah Tari Ebeg. Tari Ebeng adalah satu satu jenis tari tradisional yang berasal dari daerah provinsi Jawa Tengah tepatnya adalah Banyumas. Tari Ebeng sendiri lebih dikenal oleh masyarakat dengan nama Tari Kuda Lumping.

Tarian ini khas dengan properti kuda yang terbuat dari anyaman bambu dan kepalanya diberi ijuk yang menyerupai rambut. Pada sebagian masyarakat Yogyakarta dan Jawa Tengah mneyebut Tari Ebeng dengan nama lain Tari Jathilan atau Jaran Kepang. Secara umum tarian ini mempertunjukkan kegagahan para penari Tari Ebeg.

Sejarah Tari Ebeg

Banyak sumber yang menyebutkan bahwa Tari Ebeng dipercaya telah ada sejak abad ke 9, dimana pada saat itu masyarakat masih memiliki kepercayaan yang kuat akan aninisme dan dinamisme. Salah satu hal yang menguatkan bahwa tarian ini berasal dari abad 9 adalah adanya gerakan dalam bentuk-bentuk in trance (seperti kesurupan) atau wuru.

Bentuk-bentuk gerakan inilah yang menguatkan bahwa Tari Ebeg memang telah memiliki usian ribuan tahun. Selain itu, Tari Ebeg diyakini sepenuhnya memang berasal dari daerah Banyumas mengingat tidak adanya unsur-unsur budaya lain yang masuk dalam gerakan tariannya.

Berbeda dengan kesenian lainnya contohnya wayang dimana masih dimasuki adanya unsur budaya Hindu India didalamnya. Dalam Tari Ebeg tidak ditemukan adanya penceritaan tokoh tertentu maupun agama tertentu. Bahkan dalam musik pengiring Tari Ebeg juga tidak ditemukan adanya unsur perpaduan dengan budaya lainnya.

Musik pengiring tari ini adalah musik yang berunsur bahasa Banyumasan atau yang disebut dengan Ngapak lengkap dengan logat khasnya. Beberapa contoh lagu Banyumasan yang sering dijadikan sebagai musik pengiring Tari Ebeg adalah Sekar Gadung, Eling-Eling, Ricik-Ricik Banyumasan, Tole-Tole, Waru Doyong, dan lain-lain.

Banyak sekali masyarakat Banyumas yang mengaitkan bahwa Tari Ebeg ini adalah tarian yang menggambarkan kisah perjuangan Raden Patah yang dibantu oleh Sunan Kalijaga. Adapula yang mengatakan bahwa Tari Ebeg adalah tarian yang menceritakan pelatihan Perang Prajurit Mataram yang dikoordinasi oleh Sultan Hamengkubuwoni I guna menghadang Belanda.

Bisa jadi memang dahulunya tari ini sempat dikreasikan dengan berbagai aksi heroik dalam mengusir penjajah, mnegingat usianya yang memang sangat tua.

Makna Tari Ebeg

Makna dari Tari Ebeg adalah tarian yang mempertunjukkan kegagahan prajurit perang sedang menunggangi kuda. Kuda yang ditunggangi biasanya berupa properti anyaman bambu atau bahan lainnya yang dibentuk dan dipotong menyerupai kuda.

Agar terlihat cantik dan menarik, kuda ditambahkan hiasan dengan adanya rambut buatan. Rambut buatan sendiri biasanya terbuat dari tali yang dikepang dan diberi warna dengan cat serta kain yang beraneka ragam.

Tarian Ebeg umumnya bukan sekedar mementaskan tentara berkuda, tetapi juga dilengkapi dengan adanya penampilan persembahan atraksi seperti kesurupan, kesaktian, serta kemampuan ajaib lainnya. Apabila diamati lebih dalam tempo dalam Tari Kuda Lumping ini menggambarkan semangat kepahlawanan dan segi kemiliteran pada masa dahulu yaitu pasukan kavaleri (khusus) berkuda.

Gerakan Tari Ebeg

Gerakan pada Tari Ebeg secara keseluruhan adalah gerakan kepiawaian pasukan berkudan dalam menghadapi musuhnya. Adapun gerakan-gerakan yang menjadi ciri khas dalam Tari Ebeg dan menjadikannya sebagai tari dengan daya tersendiri yaitu :

gerakan kesurupan makan beling

Salah satu gerakan khas dari Tari Ebeng adalah adanya adegan kesurupan pada penarinya. Sebelum memulai tarian biasanya akan ada sesajen yang dipersembahkan untuk arwah maupun penguasa makhluk halus disekitar lokasi pagelaran.

Hal ini ditujukan agar arwah tersebut merasuki salah satu tubuh penari Tari Ebeng dan disebut sebagai kesurupan atau dalam bahasa Banyumas penari biasanya dikatakan mendem. Pada kondisi inilah penari akan melakukan gerakan-gerakan yang membahayakan namun tidak melukai dirinya sedikitpun.

Salah satu gerakan tidak lazim yang biasanya dilakukan penari pada kondisi ini adalah memakan beling (pecahan kaca), bunga-bunga sesaji, mengupas kelapa dengan gigi, memakan padi dari tangkainya, memakan dhedek (katul), bara api, kuning telur, dan lain-lain.

Keadaan mendem ini bertujuan untuk meyakinkan penonton bahwa penari adalah sosok Satria yang kuat. Pada akhir pertunjukkan penari yang mengalami kesurupan biasanya akan disembuhkan oleh ketua Tari Ebeg yang mana biasanya adalah tetuah adat setempat atau disebut dengan istilah Penimbul.

Pada pertunjukkan Tari Ebeng biasanya tidak hanya penari saja yang kesurupan, penonton pun bisa saja mengalami kesurupan. Saat penonton mengalami kesurupan biasanya pertunjukkan Tari Ebeg akan memperlihatkan atraksi-atraksi brutal lainnya.

Namun, dengan inilah acara pertunjukkan Tari Ebeg akan semakin meriah. Seiring dengan perkembangan jaman, saat ini tidak semua penari yang membawakan Tari Ebeg benar-benar mengalami kesurupan, adapula penari yang hanya pura-pura mengalami kesurupan.

Busana tari ebeg

Busana yang digunakan oleh para penari Tari Ebeng biasanya adalah baju atau kaos, rompi, celana panji (celana sebatas lutut), stagen, dan timang. Sedangkan, untuk tata rias ada penari yang membawakan dalam tata rias yang natural adapula yang mengenakan tata rias berlebihan terutama untuk tutup kepala.

Pada penari yang mengenakan riasan natural tutup kepala adalah blankon dan dilengkapi dengan kaca mata hitam. Namun, pada penari yang ingin terlihat memukau akan mengenakan tutup kepala berupa mahkota wayang.

Adapula penari yang memakai topeng hitam atau biasa disebut dengan Bejer (Tembem atau Doyok) dan yang memakai topi putih disebut sebagai Panthul atau Bancak. Bejer dan Panthul sendiri memiliki tugas sebagai pelawak, penari, dan penyanyi untuk menghibur pasukan berkuda saat sedang beristirahat.

Pertunjukkan Tari Ebeg sendiri biasanya lebih sering dibawakan pada sore atau malam hari. Hal ini untuk memperkuat kesan yang ingin dibawakan dalam Tari Ebeg sendiri. Musik yang digunakan dalam mengiringi tarian ini tidak lepas dari musik tradisional Banyumas yaitu musik calung Banyumasan atau gamelan Banyumasan.

Nayaga atau pengiring biasanya sudah menyatu dengan penarinya. Pada awal pertunjukkan biasanya Tari Ebeg diiringi dengan alat musik yang disebut Bendhe. Kemudian, peralatan musik tradisional yang mengiringinya seperti kendang, saron, kenong, gong, dan terompet.

Tari Ebeg adalah satu dari beberapa tari yang sekalipun memiliki usia lebih dari 9 abad tetap dapat dinikmati masyarakat hingga kini. Hal ini tentunya tidak lepas dari masyrakat yang terus mengembangkannya dan mengkreasikan tari tradisional satu ini. Dengan demikian, tari ini tidak terkikis oleh waktu dan dapat dinikmati oleh generasi ke generasi.

fbWhatsappTwitterLinkedIn