Edukasi

Tut Wuri Handayani: Pengertian – Sejarah dan Lambangnya

√ Edu Passed Pass education quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Dalam dunia pendidikan, kita seringkali mendengar tentang istilah Tut Wuri Handayani. Kita juga paham apa arti dari istilah tersebut.

Namun, masih banyak yang belum paham tentang bagaimana awal atau sejarah dari istilah itu dibuat.

Dan makna yang terkandung di dalamnya. Berikut ini, kami akan jelaskan secara detail tentang istilah tersebut.

Pengertian Tut Wuri Handayani

Pengertian Secara Umum

Tut Wuri Handayani adalah penggalan dari kalimat panjang yang terkenal dari Ki Hajar Dewantoro, pendiri Taman Siswa.

Beliau merupakan bapak pendidikan kita, yang baris terakhirnya juga menjadi bagian dari logo Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia : Ing Ngarso Sun Tuladha, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani.

Maknanya lebih kurang : di depan memberi teladan, ditengah membimbing (memotivasi, memberi semangat, menciptakan situasi kondusif) dan dibelakang mendorong (dukungan moral).

Ki Hajar Dewantara

Ki Hajar Dewantara adalah bapak Pendidikan Indonesia yang meletakkan pondasi nilai-nilai pendidikan dan pengajaran di Indonesia.

Dirinya juga pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan yang pertama.

Salah satu ajaran kepemimpinan Ki Hadjar Dewantara yang sangat populer adalah Tut Wuri Handayani. Semboyan ini sudah digunakan dalam dunia Pendidikan.

Pengertian Secara Bahasa

Secara kebahasaan Tut Wuri artinya mengikuti dari belakang dan handayani berati memberikan dorongan moral atau dorongan semangat.

Bila digabungkan arti dari Tut Wuri Handayani ialah seseorang harus memberikan dorongan moral dan semangat kerja dari belakang.

Dorongan moral ini sangat dibutuhkan oleh orang-orang disekitar kita menumbuhkan motivasi dan semangat.

Dari arti kata Tut Wuri Handayani menyiratkan prinsip kemandirian, dari arti kata Tut Wuri mempunyai arti harus mengikuti dari belakang dan bukan bersifat mendikte orang.

Sehingga Prinsip kemandirian ini merupakan cerminan dari kemapanan seseorang dalam menjalankan aktivitasnya, dari sinilah tiap orang diharapkan dapat memandirikan orang lain dengan memberinya dorongan baik semangat maupun secara finansial.

Bila makna ini dibawa ke ranah Pendidikan, maka fungsi dari pendidikan itu sebagai alat untuk membuat orang menjadi pribadi Mandiri.

Maka dari itu salah satu alasan mengapa Tut Wuri Handayani menjadi semboyan dunia Pendidikan Indonesia.

Sejarah Tut Wuri Handayani

Sejarah singkat siapa orang yang pertama kali mencetuskan semboyan Tut Wuri Handayani pastinya di ialah Ki Hajar Dewantara

Pertama kali yang mendirikan Taman Siswa, pada tanggal 3 Juli 1922 silam, dimana di Taman Siswa tersebut ada sekitar 7 pasal asas yang dijadikan sebagai ini.

Raden Soewardi Soejaningrat ialah nama asli Ki Hajar Dewantara yang pertama kali mengucapkan dan membuat semboyan Tut Wuri Handayani.

Soewardi merupakan Bapak yang mencetuskan pertama kali Pendidikan yang berada di Indonesia, pada bulan September 1919, Soewardi kembali ke Negara Indonesia dan langsung bergabung kedalam Sekolah yang merupakan binaan dari saudaranya sendiri.

Pengelaman belajar yang Beliau dapatkan di Luar Negeri digunakannya untuk mengembangkan konsep Pendidikan bagi sekolah, yang Soewardi dirikan pada tanggal 3 Juli 1922, yaitu Perguruan Nasional Taman Siswa (National Onderwijs Instituut Taman Siswa).

Saat Soewardi berusia genap 40 tahun menurut perhitungan Kalender Jawa, Beliau menggantikan namanya menjadi Ki Hajar Dewantara.

Beliau melakukan pergantian nama tersebut karena tidak mau lagi menggunakan gelar kebangsawanan didepan muridnya dan dapat dengan bebas untuk bisa dekat dengan rakyat yang akan menjadi muridnya, baik secara fisik maupun jiwa.

Ki Hajar Dewantara menggunakan Sistem pendidikan yang memakai sebuah Semboyan dan hingga kini sangat dikenal oleh kalangan pendidikan di seluruh Indonesia.

Semboyan tersebut menggunakan bahasa Jawa, yang mana bunyinya adalah Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani yang artinya Dari depan memberi contoh, Dari tengah memberi semangat, Dari belakang memberi dorongan.

Lambang Tut Wuri Handayani

Kebanyakan orang menyebutnya Tut Wuri Handayani yang sebenarnya adalah Logo atau Lambang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 0398/M/1977 tanggal 6 September 1977 dengan uraian arti lambang sebagai berikut:

  • Bidang segi lima(Biru Muda)
    Menggambarkan alam kehidupan Pancasila.
  • Semboyan Tut Wuri Handayani
    Digunakan oleh Ki Hajar Dewantara dalam melaksanakan system pendidikannya. Pencantuman semboyan ini berarti melengkapi penghargaan dan penghormatan kita terhadap almarhum Ki Hajar Dewantara yang hari lahirnya telah dijadikan Hari Pendidikan Nasional.
  • Belencong menyala bermotif garuda
    Belencong (menyala) merupakan lampu yang khusus dipergunakan pada pertunjukan wayang kulit. Cahaya belencong membuat pertunjukan menjadi hidup. Burung Garuda (yang menjadi motif belencong) memberikan gambaran sifat dinamis, gagah perkasa, mampu dan berani mandiri mengarungi angkasa luas. Ekor dan sayap garuda digambarkan masing-masing lima, yang berarti: “Satu kata dengan perbuatan Pancasila.
  • Buku
    Buku merupakan sumber bagi segala ilmu yang dapat bermanfaat bagi kehidupan manusia.
  • Warna
    Warna putih pada ekor dan sayap garuda dan buku berarti suci, bersih tanpa pamrih. Warna kuning emas pada nyala api berarti keagungan dan keluhuran pengabdian. Warna biru muda pada bidang segi lima berarti pengabdian yang tak kunjung putus dengan memiliki pandangan hidup yang mendalam (pandangan hidup pancasila).

Manfaat Tut Wuri Handayani

Kalimat yang terdiri dari tiga suku kata ini juga memiliki tiga ciri khas ucapan yang dibuat oleh pahlawan nasional sekaligus bapak pendidikan kita yaitu Ki Hajar Dewantara.

Kalimat ini juga memiliki logo yang selalu ada di sampul buku pelajaran ataupun di dasi dan topi seragam.

Kalimat Tut Wuri Handayani memang terlihat sederhana. namun begitu terkandung makna terdalam tentang pentingnya sebuah keteladanan bagi seorang pendidik ataupun seorang pemimpin baik dari segi moral maupun semangat untuk peserta didiknya.