Sejarah

Bahasa Sanskerta: Pengertian, Sejarah dan Ciri-Ciri

√ Edu Passed Pass education quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Saat membaca sejarah, tentunya kita sering menemukan istilah “Bahasa Sanskerta.” Bahasa Sanskerta mewarnai peradaban sejarah indonesia. Hal ini dapat dilihat dari beberapa peninggalan dari Kerajaan Hindu-Buddha.

Pengertian Bahasa Sanskerta

Bahasa Sanskerta merupakan bahasa yang masih termasuk ke dalam rumpun bahasa Indo-Eropa. Konon, bahasa ini merupakan salah satu bahasa yang paling tua dan banyak dikenal di kalangan peneliti bahasa.

Bahasa Sanskerta memiliki makna yakni bahasa yang sempurna, anonim bahasa rakyat atau prakata. Bahasa sanskerta kerap digunakan dalam beberapa peninggalan kerajaan Hindu-Buddha.

Maka dari itu, bahasa ini menjadi bahasa resmi dari India. Di India bahasa Sanskerta dianggap sebagai penanda dari perbedaan status sosial.

Meskipun bahasa ini identik dengan India, namun bahasa ini tetap berkembang pada negara-negara lain. Salah satunya pada negara Indonesia. Kita dapat menjumpai bahasa ini dalam prasasti, kitab serta peninggalan kerajaan Hindu-Buddha lainnya.

Terdapat beberapa kata dari bahasa Sanskerta yang tak beda jauh dengan bahasa Indonesia, seperti agama, asthana, jiva, karana, madhu, naraka dan vacana.

Sejarah Bahasa Sanskerta

Konon, bahasa Sanskerta diperkirakan menjadi bahasa tertua di dunia. Bahasa ini diperkirakan ada sekitar tahun 1750-600 sebelum masehi.

Di mana pada saat itu, tinggal bangsa Indo-Arya di India bagian Utara dan menggunakan bahasa ini sebagai sarana berkomunikasi.

Namun, sebenarnya sebelum bahasa sanskerta telah ada bahasa Het. Bahasa Het ini digunakan oleh orang-orang yang tinggal di daratan Eropa.

Bahasa Sanskerta tersebar luar hingga daratan Eropa. Bahasa ini mempengaruhi perkembangan bahasa di sana. Bahkan beberapa bahasa klasik di Eropa mengalami kemiripan dengan bahasa ini.

Hal ini dikarenakan keduanya mempunyai akar sejarah yang kuat dan saling berhubungan. Bahasa Sanskerta dan bahasa-bahasa kuno di Eropa memiliki hubungan seperti pada bahasa Latin Yunani.

Perkembangan bahasa Sanskerta juga mendapatkan pengaruh besar dari bangsa Arya sehingga bahasa ini dapat menyebar ke penjuru dunia. Hal ini dapat dilihat dari kedekatan bahasa Sanskerta dengan bahasa Indo-Eropa yang sebagaimana disebutkan dalan teori migrasi Indo-Arya.

Hal ini juga dapat dilihat dari adanya pertukaran kosa kata dari kedekatan antara bahasa Indo-Iran dengan bahasa Slavik dan Baltik yang ada di Eropa. Pertukaran kosa kata inilah yang dimasuk dalam keterkaitan flora-fauna dalam bahasa Indo-Eropa.

Bahasa Sanskerta juga menyebar hingga ke Indonesia pada awal abad ke-5. Bahasa ini dibawa oleh seorang pendeta yang berasal dari India. Bahasa Sanskerta terus berkembang di Nusantara.

Bahkan pada abad ke-7 bahasa ini mengalami perkembangan pesat karena hindu-buddha mencapai puncak kejayaannya. Beberapa kerajaan ini meninggalkan peninggalan berupa benda-benda bersejarah seperti prasasti.

Peninggalan sejarah ini kemudian ditulis menggunakan bahasa Sanskerta. Salah satu peninggalannya yaitu 7 buah prasasti dari kerajaan Kutai yang ditulis dengan bahasa Sanskerta.

Selain itu, ada pula peninggalan dari kerajaan Hindu besar di Indonesia yakni Kerajaan Majapahit. Peninggalannya yaitu berupa sumpah palapa yang diucapkan oleh Gajah Mada. Sumpah palapa tersebut berasal dari bahasa Sanskerta.

Seiring berjalan waktu, Bahasa Sanskerta mulai ditinggalkan. Hal ini dikarenakan runtuhnya kerajaan Hindu yang kemudian digantikan oleh Kerajaan Islam.

Saat kerajaan islam, bahasa yang dipakai adalah bahasa Arab dan Melayu. Meskipun begitu, Bahasa Sanskerta tak sepenuhnya hilang. Beberapa kata bahasa ini menjadi serapan dari bahasa Melayu.

Ciri-Ciri Bahasa Sanskerta

Bahasa Sanskerta memiliki beberapa ciri tertentu yang berbeda dengan bahasa lain. Adapun ciri tersebut adalah sebagai berikut:

1. Terdapat Delapan Tata Bahasa

Di dalam bahasa sanskerta terdapat 8 tata bahasa yakni tata bahasa nominatif, vokati akusatif, instrumentalis, dativ, ablativ, generatif dan lokatif.

Tata bahasa nominatif merupakan tata bahasa yang mengacu pada kata benda. Sementara itu, tata bahasa vokatif mengacu pada kata persuasif atau berupa ajakan.

Tata bahasa akusatif adalah tata bahasa yang mengacu pada objek dari kata kerja. Sedangkan tata bahasa instrumentalis merupakan tata bahasa yang mengacu pada alat.

Tata bahasa dativ menunjukkan kata tunjuk seperti kepada atau untuk. Sedangkan ablatif menunjukkan pada asal usul objek.

Tata bahasa generatif menunjukkan pada kepemilikan dan terakhir lokatif menunjukkan pada sebuah lokasi atau tempat.

2. Tiga Jenis Kelamin

Di dalam bahasa Sanskerta, kita akan mengenal tiga jenis kelamin atau gender. Ketiganya itu adalah laki-laki, feminim atau perempuan dan netral.

Penggunaan jenis kelamin ini ditujukkan pada benda-benda. Sedangkan jenis kelamin netral biasanya ditunjukkan pada benda yang dapat melekat pada keduanya, laki-laki dan perempuan.

Biasanya kata benda yang memiliki akhiran a pendek akan dicirikan sebagai maskulin atau netral. Sebaliknya yang berakhiran a panjang dicirikan sebagai feminim.

3. Terdapat Tiga Jenis Jumlah

Dalam bahasa Sanskerta terdapat tiga jenis jumlah yakni singular, dualis dan jamak. Singular untuk yang berjumlah satu, sedangkan dualis untuk benda yang berjumlah dua. Jamak menunjukkan lebih dari dua.

4. Skema Dasar

Keberadaan skema dasar ini diperuntukkan untuk membedakan kata singular, dualis dan jamak. Skema ini juga yang digunakan dalam pembentukan kata dalam 8 tata bahasa.

5. Terdapat Hukum Sandhi

Di dalam bahasa Sanskerta terdapat hukum sandhi. Hukun sandhi sendiri adalah perubahan pada setiap kata baik yang berada di awal, tengah maupun akhir. Perubahan ini dikarenakan adanya kemiripan dari bunyi.

Terdapat dua jenis hukum sandhi, yakni sandhi dalam serta sandhi luar. Sandhi dalam merupakan kata dasar yang menyatu dengan imbuhan tertentu. Sedangkan sandhi luar adalah dua kata dasar yang menjadi satu kata utuh.

Itulah sederet informasi mengenai bahasa Sanskerta. Bahasa yang turut mewarnai sejarah peradaban dunia dan Indonesia. Meskipun pengaruh bahasa ini mulai berkurang, namun beberapa kata dari bahasa ini menjadi kata serapan pada bahasa Melayu.

Maka, tak ada salahnya jika kita mengenal dan mengetahui bahasa ini sebagai wujud melestarikan sejarah. Terlebih beberapa benda peninggalan sejarah menggunakan bahasa Sanskerta.