Sejarah

10 Bangunan Peninggalan Belanda di Indonesia Beserta Gambarnya

√ Edu Passed Pass education quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Sebagaimana diketahui bahwa Belanda telah ada di Indonesia sejak sangat lama. Bangsa Belanda pertama kali menginjakkan kaki di Indonesia, tepatnya di  pelabuhan Banten, pada tahun 1596 dibawah pimpinan Cornelis de Houtman.

Tujuan awal Belanda datang ke Indonesia adalah untuk melakukan misi perdagangan dan mencari daerah asal rempah-rempah. Namun, pada perkembangannya Belanda justru berusaha menduduki dan menguasai Indonesia.

Selama masa pendudukan dan kolonialisme Belanda, ada banyak bangunan-bangunan yang dibuat oleh pemerintahan kolonial Belanda untuk kepentingan pendudukan mereka. Bangunan-bangunan tersebut sebagian masih berdiri dan bisa disaksikan hingga saat ini.

Berikut adalah beberapa peninggalan Belanda di Indonesia yang kini dimanfaatkan sebagai fasilitas umum dan tempat wisata.

1. Fort Rotterdam

Fort Rotterdam merupakan sebuah benteng  peninggalan masa penjajahan Belanda yang ada di Makassar. Meski demikian, kenyataannya benteng ini dibangun oleh Kerajaan Gowa dengan nama Benteng Ujung Pandang, sebelum akhirnya jatuh ke tangan penjajah Belanda pada tahun 1667 dan diberi nama Fort Rotterdam.

Saat ini, Fort Rotterdam menjadi salah satu destinasi wisata andalan di Makasar. Letaknya yang strategis di depan  pelabuhan Kota Makassar, gaya arsitektur benteng yang memukau, dan nilai sejarah yang melekat padanya menjadikan benteng ini masih sangat diminati wisatawan yang berkunjung ke Makasar.

2. Benteng Vredeburg 

Benteng peninggalan Belanda lainnya adalah Benteng Vredeburg yang terletak di kawasan Malioboro, Yogyakarta. Benteng ini pada awalnya hanyalah berupa menara kayu dan tanah liat yang dibangun atas perintah Sultan Hamengkubuwono I. Setelah diambil alih oleh Belanda, benteng ini kemudian dibangun dan diberi nama Fort Vredeburg.

Saat ini benteng Vredeburg menjadi salah satu tempat wisata bersejarah yang banyak dikunjungi. Di dalamnya, terdapat berbagai benda peninggalan Belanda dan rekaman perjuangan rakyat Yogyakarta dalam merebut kemerdekaan.

3. Kawasan Kesawan

Kesawan merupakan kawasan bersejarah yang ada di kota Medan. Di kawasan ini, berderet banyak bangunan peninggalan Belanda yang identik dengan gaya arsitektur Eropa kuno.

Selain itu dipenuhi bangunan Belanda, di Kesawan juga terdapat beberapa bangunan hasil budaya Tioghoa, seperti Gedung Lonsum dan Tjong A Fie Mansion.

Di malam hari, Kesawan merupakan pusat wisata kuliner ramai di Medan.

4. House of Sampoerna

Pada awal pembangunannya, House of Sampoerna diperuntukkan sebagai sebuah panti asuhan. Bangunan yang didirikan oleh Belanda pada tahun 1862 ini terletak di Jl. Sampoerna Kremabangan Utara, Surabaya. Namun, sejak tahun 1932, bangunan ini dibeli oleh seorang pengusaha Tionghoa bernama Liem Seeng Tee untuk dijadikan sebagai pabrik rokok Sampoerna.

Saat ini, House of Sampoerna telah difungsikan sebagai tempat wisata yang di dalamnya terdapat berbagai informasi sejarah  dan juga riwayat perkembangan bisnis Sampoerna. Selain itu, disini juga terdapat galeri seni yang berisikan karya seni dari sejumlah seniman terbaik Indonesia.

5. Lawang Sewu

Diantara bangunan peninggalan Belanda yang juga menjadi salah satu ikon kota Semarang adalah Lawang Sewu. Bangunan ini didirikan selama 3 tahun, yakni sejak tahun 1904 hingga tahun 1907.

Bangunan yang posisinya menghadap ke Tugu Muda ini  awalnya didirikan  sebagai Kantor Pusat Administrasi Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS. Selain digunakan sebagai kantor administrasi, ruang bawah tanah gedung ini digunakan sebagai penjara.

Saat ini, bangunan yang disebut sebagai Lawang Sewu ini telah menjadi tempat wisata bersejarah yang ternama di Kota Semarang. Penamaan Lawang Sewu sendiri dikarenakan banyaknya pintu pada bangunan ini, yakni sebanyak 429 pintu. Selain itu, banyak jendela-jendela besar yang dari kejauhan nampak seperti pintu sehingga membuat bangunan ini tampak memiliki banyak sekali pintu.

6. Gedung Merdeka

Gedung Merdeka yang berlokasi di jalan Asia-Afrika, Bandung, merupakan gedung bersejarah yang pernah digunakan sebagai tempat penyelenggaraan Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Afrika (KTT Asia Afrika) pada tahun 1955 silam. Saat ini, gedung ini difungsikan sebagai museum yang memamerkan berbagai benda koleksi dan foto Konferensi Asia-Afrika pertama yang pernah digelar di gedung ini.

Gedung Merdeka sendiri merupakan salah satu bangunan peninggalan Belanda yang dirancang pada tahun 1926 oleh Van Galen Last dan C.P. Wolff Schoemaker. Keduanya merupakan arsitek kenamaan Belanda yang juga Guru Besar pada Technische Hoogeschool te Bandoeng (kini menjadi Institut Teknologi Bandung – ITB).

Gedung menempati areal seluas 7.500 m2 ini kental dengan nuansa art deco dan dengan lantai yang terbuat dari marmer Italia. Sementara itu, untuk penerangannya digunakan lampu-lampu hias yang terbuat dari kristal gemerlapan.

7. Gereja Katedral

Gereja Katedral merupakan salah satu bangunan peninggalan Belanda yang menjadi cagar budaya di Jakarta.  Gereja ini mulai dibangun pada saat Paus Pius VII mengangkat pastor Nelissen sebagi prefek apostik untuk kawasan Hindia Belanda pada tahun 1807.

Pemberkatan dan peresmian gereja yang terletak di kawasa Sawah Besar, Jakarta Pusat, ini dilakukan pada tanggal 21 April 1901 oleh Mgr. Edmundus Sybradus Luypen, S.J., Vikaris Apostolik Jakarta.

8. Gedung Sate

Gedung Sate merupakan bangunan terkenal di Kota Bandung dengan ciri khas ornamen berbentuk sate di bagian atapnya. Yang disebut sate ini sebenarnya adalah 6 buah ornamen jambu air  yang melambangkan  kesuburan Kota Bandung.

Gedung Sate merupakan salah satu bangunan peninggalan pemerintahan Hindia Belanda. Awalnya, gedung ini dibangun karena saat itu Pemerintah Kolonial ingin  memindahkan pusat pemerintahan dari Batavia ke Bandung.  Gedung yang kala itu disebut Gouvernements Bedrijven (GB) sempat menjadi pusat Pemerintahan Hindia Belanda. Namun, sejak tahun 1980, gedung ini dijadikan sebagai kantor Gubernur Jawa Barat.

9. Museum Fatahillah

Museum Fatahillah adalah salah satu tempat bersejarah yang menempati gedung bekas balai kota lama peninggalan Belanda. Museum Fatahillah terletak di Jalan Taman Fatahillah Kec. Taman Sari, Jakarta Barat.

Tempat wisata yang juga disebut sebagai Museum Sejarah Jakarta ini terdiri atas 3 lantai dengan jendela-jendela besar yang terbuat dari kayu jati. Di dalamnya, terdapat beragam koleksi sejarah seperti prasasti peninggalan Kerajaan Tarumanegara, mimbar Masjid Kampung Baru dan juga berbagai macam keramik antik dari China sampai Eropa. Selain itu, museum ini juga mempunyai lebih dari 1000 judul buku yang ditulis dalam bahasa Melayu,  Inggris, Belanda dan Arab.

10. Gedung Kesenian Jakarta

Salah satu bangunan peninggalan Belanda yang juga berada di kawasan ibu kota Jakarta adalah Gedung Kesenian Jakarta. Bangunan ini dulunya merupakan gedung teater bernama “Gedung Komidi” yang dibangun pada zaman Belanda, yakni pada tahun 1802. Pada saat pendudukan Jepang, fungsi gedung ini beralih menjadi gedung bioskop dan theater city.

Saat ini, Gedung Kesenian Jakarta masih digunakan sebagai salah satu pusat penyelenggaraan teater di Indonesia, yang mana ruang pertunjukannya bisa menampung hingga 475 penonton.