5 Contoh Diferensiasi Sosial Agama

√ Edu Passed Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Terdapat banyak hal yang dapat dikaji ketika bicara tentang kehidupan masyarakat atau kehidupan sosial, salah satunya adalah diferensiasi sosial. Diferensiasi sosial adalah adanya perbedaan-perbedaan yang dijumpai dalam masyarakat, baik dalam hal kekayaan, kekuasaan, maupun status sosial individu maupun kelompok masyarakat yang mampu berpengaruh terhadap interaksi antar individu dan kelompok dan mampu berakibat pada munculnya konflik.

Diferensiasi sosial tidak hanya dalam bentuk status sosial, harta dan kekuasaan, tapi juga dapat berbentuk jenis kelamin, pendidikan, usia, suku, ras, profesi, hingga agama. Diferensiasi agama merupakan suatu perbedaan dalam masyarakat yang merujuk pada kepercayaan, ritual, simbol maupun segala praktek keagamaan dan hal-hal lainnya yang berkaitan; biasanya, perbedaan ini dijumpai antara individu atau kelompok masyarakat dengan agama yang sama.

1. Perbedaan Islam Sunni dan Syiah

Dalam agama Islam, terdapat 7 aliran yang menunjukkan bahwa walau satu agama, terdapat sejumlah perbedaan pandangan yang mulai timbul sejak sepeninggal Nabi SAW. Aliran Islam tersebut terdiri dari Khawarij, Muktazilah, Murjiah, Qadariyah, Jabariyah, Syiah, dan Ahlus Sunnah wal Jamaah atau yang juga dikenal dengan aliran Sunni.

Salah satu contoh dari diferensiasi agama Islam adalah perbedaan antara aliran Sunni dan Syiah. Aliran Sunni memegang teguh sunnah Nabi dan sunnah khulafaurrasyidin sejak awal di mana jemaahnya meliputi para ahli fikih, ahli hadis, dan ahli tafsir sejak awal dan menganggap serta mengakui satu-satunya pemimpin yang sah adalah Nabi Muhammad.

Di Indonesia, sebagian besar umat muslim merupakan penganut Islam Sunni dan sudah tidak asing dengan ideologi aliran Islam satu ini. Pada aliran Sunni, pelaksanaan ibadah terlihat dari adanya perbedaan dalam gerakan saat shalat dan perbedaan jumlah rakaat saat shalat wajib.

Selain itu, dari segi hari raya, penganut Islam Sunni memiliki Idul Adha dan Idul Fitri sebagai hari raya utama. Sementara pada aliran Syiah, penganutnya mengakui dan meyakini bahwa khalifah pertama bukan Nabi Muhammad, melainkan Ali bin Abi Thalib, yakni sepupu sekaligus menantu Nabi Muhammad sehingga pandangan ini dianggap kontras dengan pandangan penganut Islam Sunni.

Menjadi cabang Islam paling besar kedua, aliran Syiah meyakini bahwa Ali semestinya merupakan pemimpin politik dan spiritual Islam penerus Nabi Muhammad. Hadis adalah dasar dari aliran Islam Syiah dan dalam hal dekorasi maupun seni Islam, Syiah terkait erat dengan nama-nama Ahlul Bait dalam penggunaan kaligrafi.

Berbeda dari aliran Sunni yang tidak terlalu seperti itu. Sementara dari segi hari raya, perbedaan dari sisi aliran Syiah adalah Hari Ashura yang dianggap sebagai hari raya utama; Hari Ashura merupakan hari peringatan kematian Imam Hussein (cucu Nabi Muhammad).

2. Perbedaan Katolik Roma dan Ortodoks

Walau sama-sama menganut agama Katolik, perbedaan dapat terjadi dalam hal aliran, salah duanya adalah Katolik Roma dan Katolik Ortodoks yang banyak menuai pertanyaan. Pada Katolik Roma, pusat segala harapan ada pada Paus, sementara Katolik Ortodoks hanya percaya kepada Yesus; keberadaan Uskup pun bukan sebagai wakil Yesus Kristus, melainkan hanya memiliki peran sebagai kepala tituler.

Alkitab dalam ajaran aliran Katolik Ortodoks adalah sebagai sumber kepercayaan dan keyakinan para umat, sementara pada Katolik Roma, gereja meyakini bahwa mereka memiliki hak menjadi penentu segala hal (aturan dan ketetapan) di luar kitab suci.

Selain itu, Katolik Roma memiliki anggapan bahwa pendeta merupakan wakil Yesus Kristus sehingga menjadikannya suci. Sementara pada ajaran Katolik Roma Ortodoks, derajat pendeta dan jemaat adalah sama sebab keduanya berasall dari jiwa Kristus dan tidak ada yang lebih suci daripada yang lain.

Katolik dikenal sebagai agama yang melarang para pelayan Tuhan, seperti pendeta untuk menikah. Hal tersebut berlaku pada Katolik Roma sehingga para pendetanya berstatus lajang. Sementara pada aliran Katolik Ortodoks, pendeta atau pelayan Tuhan yang sudah berkomitmen sekalipun boleh menikah; hal ini sama sepertu aturan pada ajaran Kristen.

Dalam hal memperoleh kebenaran, umat Katolik Roma hanya dapat memperoleh petunjuk rohani tentant kebenaran Tuhan dari pejabat suci gereja dan bukan orang biasa. Sedangkan pada aliran Katolik Ortodoks, kebenaran Tuhan itu ada ketika manusia atau jemaat memusatkan hati nurani dan memiliki keyakinan penuh kepada Tuhan Yesus.

3. Perbedaan Hindu Bali dan Hindu India

Contoh lain dari diferensiasi agama adalah perbedaan antara agama Hindu Bali dan Hindu India. Walau sama-sama penganut Hindu, dalam beberapa hal rupanya Hindu Bali dan Hindu India memiliki perbedaan, seperti pola makan vegetarian yang jarang dijumpai pada Hindu Bali, kecuali pada penganut aliran Siwa Sidharta dari kasta Brahmana.

Sementara pada Hindu India yang ajarannya bersifat murni, larangan mengonsumsi daging, khususnya daging sapi masih berlaku turun-temurun. Istilah penyebutan tempat ibadah pun berbeda, sebab Hindu India memiliki sebutan kuil, sedangkan Hindu Bali menyebutnya pura.

Tempat ibadah Hindu Bali pun terasa lebih terbuka dengan adanya Padmasana (padma adalah simbol bunga teratai dan asana adalah sikap duduk), sedangkan tempat ibadah Hindu India menggunakan lambang kesuburan atau Lingga Yoni yang menunjukkan sifat tertutup.

Dari segi hari raya, Hindu Bali menetapkan tiga hari raya yang meliputi Kuningan, Nyepi dan Galungan, namun pada Hindu India hanya ada hari raya yang disebut Kholik, Dipawali, dan Durga Puja karena ajarannya merupakan Hindu murni.

Dari jumlah sembahyang, Hindu Bali dengan proses ibadah lebih tenang rupanya menerapkan Tri Sandaya, yakni sembahyang tiga kali dalam sehari (pagi, siang, dan sore), sedangkan Hindu India yang proses ibadah lebih lantang ketika pembacaan doa justru hanya pagi dan sore saja atau sehari dua kali.

Untuk strata sosial, Hindu Bali menggunakan dan menerapkan caturwarna yang terdiri dari Brahmana, Ksatria, Waisya dan Sudra; sementara Hindu India lebih mengarah pada pancawarna yang meliputi empat kasta caturwarna tersebut dengan penambahan satu kasta yang disebut Pariah. Pada kasta Pariah di Hindu India, manusia dianggap setara dengan hewan.

4. Perbedaan Kristen Protestan dan Pentakosta

Diferensiasi agama juga dijumpai pada agama Kristen, hal ini terlihat dari adanya perbedaan aliran Kristen Protestan dan Kristen Pentakosta. Kristen Protestan sendiri muncul berawal dari aliran gereja Katolik Roma yang terbagi/terpisah dikarenakan doktrin keselamatan Martin Luther memiliki perbedaan.

Sementara itu, aliran Pentakosta adalah hasil perkembangan aliran Injili dengan fokus pada bahasa lidah usai memperoleh Baptisan Roh Kudus. Contoh perbedaan Kristen Protestan dan aliran Pentakosta adalah dari segi pengenalan terhadap kehendak Allah.

Pada Kristen Protestan, Alkitab adalah sumber pengenalan kehendak Allah, sedangkan pada aliran Pentakosta mengajarkan bahwa melalui pimpinan Roh Kudus jemaat akan mengenal kehendak Allah. Dari segi ibadah, umat Protestan biasanya bernyanyi memuji dan menyembah Tuhan dengan tenang.

Namun pada ibadah umat aliran Pentakosta, doa dilakukan secara lebih lantang dengan memperkatakan firman Tuhan dan perkataan-perkataan iman disertai berbahasa roh (bagi jemaat yang sudah menerima Baptisan Roh Kudus dan telah dikaruniai bahasa Roh).

Umat Pentakosta juga lebih ekspresif saat bernyanyi memuji atau menyembah Tuhan, seperti bertepuk tangan, melambai-lambaikan tangan, hingga menari.

5. Perbedaan Budha Theravada, Vajrayana, dan Mahayana

Pada agama Budha juga terdapat perbedaan dalam hal aliran dan penganutnya. Budha terdiri dari tiga aliran, yakni Theravada, Vajrayana dan Mahayana di mana Theravada dikenal sebagai aliran paling tua, Vajrayana dikenal sebagai aliran yang berhubungan dengan Tibet, dan Mahayana merupakan aliran dengan penganut yang kebanyakan berasal dari Asia Timur.

Theravada sebagai aliran Budha paling tua memiliki arti “pengajaran dahulu” atau “ajaran sesepuh” yang lebih familiar di wilayah Asia Tenggara. Ajaran aliran Budha satu ini mengajarkan umatnya untuk mengangkat segala kekotoran batin sebagai upaya pembebasan diri dan ajaran ini dianut oleh umat Budha yang rata-rata berasal dari Thailand, Myanmar, Kamboja, dan Laos (wilayah Asia Tenggara) dan Sri Lanka.

Sementara itu, Vajrayana atau dikenal dengan istilah Tantrayana atau Tantra berfokus pada ajaran bagi umatnya untuk menjadi Buddha dalam satu kehidupan melalui praktek ritual penggunaan mandalas, pembacaan mantra tertentu, pemakaian mudras, hingga proses visualisasi dewa-dewa dan Buddha. Vajrayana adalah aliran Budha yang lebih banyak dianut oleh masyarakat Tibet, Bhutan, Nepal, dan Mongolia.

Mahayana adalah aliran Budha lainnya yang berfokus hanya pada Buddha Amithabha dan memiliki ajaran serta keyakinan bahwa para umatnya akan terlahir lagi di Tanah Murni bersama Amitabha (hanya bagi yang sudah mencapai penerangan); hal tersebut termasuk dalam aliran Buddha Tanah Murni.

Sementara itu, Mahayana juga mengandung aliran lain lagi yang disebut dengan Buddhisme Zen, yakni mengajarkan umat untuk praktek bermeditasi untuk dapat mencapai penerangan sekaligus membantu proses pencarian jati diri. Mahayana yang secara harafiahnya memiliki makna “kendaraan besar” ini lebih dikenal dan banyak dianjut di Jepang dan Cina, serta beberapa negara Asia Timur lain.

fbWhatsappTwitterLinkedIn