Sejarah

6 Dampak dari Peristiwa Malari

√ Edu Passed Pass education quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Peristiwa Malari adalah peristiwa demonstrasi mahasiswa yang berujung dengan kerusuhan dan menjadi salah satu peristiwa kelam pada era Orde Baru. Peristiwa malari ini terjadi pada tanggal 15 Januari tahun 1974, ketika seorang Perdana Menteri Jepang, Tanaka Kakuei, berkunjung ke Indonesia.

Para mahasiswa menyambutnya dengan demonstrasi yang disertai dengan kerusuhan, pembakaran, dan penjarahan. Dari peristiwa malari ini, ada banyak dampak yang terjadi baik di dalam lingkup pemerintahan maupun masyarakat, berikut ini 6 dampak yang terjadi dari peristiwa malari, diantaranya:

1. Pembubaran Asisten Pribadi Presiden

Setelah terjadinya peristiwa malari ini, jabatan Asisten Pribadi Presiden atau ASPRI dibubarkan. Asisten Pribadi atau ASPRI ini dibentuk oleh presiden Soeharto dan memiliki tugas untuk membantu presiden dalam memimpin pemerintahan.

pelaksanaannya dilakukan dengan menjadi penghubung pribadi presiden dengan para pejabat atau instansi resmi maupun swasta. Anggota ASPRI diantaranya yaitu Mayjen Ali Murtopo, Mayjen Soedjono Humardani, Mayjen Tjokropranolo, dan Letjen Suryo.

2. Pemberhentian Panglima Kopkamtib Soemitro

Dampak dari peristiwa malari selanjutnya yaitu pemberhentian soemitro sebagai panglima kopkamtib oleh Soeharto. Jenderal Soemitro adalah seorang deputi panglima angkatan bersenjata dari panglima kopkamtib pada awal era Orde Baru.

Pada tahun 1973, Soemitro memulai langkahnya sebagai seorang panglima kopkamtib dengan mendatangi kampus-kampus dan memberikan gagasannya kepada mahasiswa supaya mahasiswa menjadi lebih kritis terhadap pemerintahan.

Hal tersebut mendapatkan pertentangan keras oleh Ali Moertopo, sehingga presiden Soeharto mengumpulkan jenderal-jenderalnya dan Soemitro mengatakan bahwa dirinya sama sekali tidak berniat untuk merepotkan pemerintahan presiden Soeharto. Pada tanggal 2 Januari 1975, diadakan jumpa pers yang memberitahukan kepada media bahwa tidak ada perpecahan atau masalah apapun di dalam militer.

Namun, hal tersebut sama sekali tidak memundurkan Langkah mahasiswa untuk melakukan demonstrasi. Demonstrasi yang dilakukan mahasiswa tetap dilakukan dengan meminta pemerintah untuk menurunkan harga, membubarkan asisten presiden dan menggantung para koruptor.

3. Dampak terhadap Pers

Selain berdampak kepada pemerintahan, peristiwa ini juga berdampak kepada pers. Hal tersebut karena presiden Soeharto melakukan Tindakan represif dengan menutup secara paksa media massa karena diduga telah memprovokasi masyarakat untuk membenci Jepang.

Tidak hanya itu, presiden Soeharto juga menganggap bahwa fungsi pers sendiri tidak berjalan dengan seimbang, karena berita-berita yang disajikan telah melakukan provokasi rasa anti jepang yang semakin membuat panas aksi mahasiswa pada peristiwa 15 Januari 1974.

Media massa yang pada saat itu diumumkan oleh Menteri Penerangan untuk dilarang terbit yaitu Harian Kami, Abadi, Indonesia Raya, Nusantara, dan Pedoman.

4. Berdampak kepada hubungan diplomatik Indonesia dan Jepang

Peristiwa Malari ini dianggap oleh Jepang sebagai peristiwa yang penting. Karena studi Kawasan Asia Tenggara mulai berkembang di Jepang dan pemerintah Jepang menganggap bahwa pentingnya studi Indonesia, agar kelangan swasta mereka mendapatkan pengetahuan yang cukup sebelum berbisnis di Indonesia.

5. Memakan korban jiwa, kerusuhan, dan penjarahan

Peristiwa ini juga sangat berdampak pada masyarakat karena telah memakan banyak korban jiwa, mulai dari luka-luka hingga meninggal dunia. Tercatatnya sekitar 11 orang meninggal dunia, 300 orang luka-luka, dan 775 orang ditahan.

Pasalnya tidak hanya memakan korban jiwa saja, namun peristiwa yang terjadi tanggal 15 Januari 1974 ini juga banyak merusak dan membakar berbagai mobil dan motor, serta bangunan publik yang dirusak dan dibakar habis oleh para demonstran.

Aksi kerusuhan tersebut dilakukan oleh mahasiswa dan buruh yang mulai menyerbu di sekitar pasar Senen, Jalan MH Thamrin, dan Blok M. Kerusuhan tersebut dimulai dengan aksi pembakaran dan penjarahan terhadap mobil-mobil buatan Jepang.

6. Berdampak pada kehidupan mahasiswa di Kampus

Dampak yang terjadi dari peristiwa malari ini juga dirasakan oleh para mahasiswa di kampus. Hal ini dikarenakan peristiwa ini mendapatkan tanggapan yang sangat serius dari Presiden Soeharto karena dianggap telah mencoreng kewibawaan pemerintahan Orde Baru.

Setelah terjadinya peristiwa tersebut, maka diambil kebijakan Orde Baru yang mempengaruhi kehidupan dari Gerakan mahasiswa di Kampus, diantaranya yaitu:

  • Pemerintah akan melakukan gerakan kontrol kepada Dewan Mahasiswa dan Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM).
  • Pemerintah Orde Baru mengeluarkan Surat Keputusan Pemerintah No. 028/U/1974 yang berisi petunjuk pemerintah dalam rangka pembinaan kehidupan kampus.
  • Normalisasi kehidupan kampus serta pembentukan BKK (Badan Koordinasi Kemahasiswaan).
  • Pencabutan otonomi lembaga kemahasiswaan intra universitas.
  • Pencopotan jabatan Rektor Universitas Indonesia.