Edukasi

6 Gaya Komunikasi Organisasi

√ Edu Passed Pass education quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Dalam konteks komunikasi organisasi, gaya komunikasi memiliki peranan penting dalam proses penerimaan pesan terhadap komunikannya. Kesesuaian setiap gaya komunikasi yang digunakan tergantung pada maksud dari pengirim serta harapan dari penerima.

Gaya komunikasi dapat didefinisikan sebagai seperangkat perilaku antar individu yang diterapkan dalam situasi tertentu. Masing-masing gaya tersebut digunakan untuk mendapatkan respons atau tanggapan tertentu dan dalam situasi tertentu pula.

The Controlling Style

The Controlling Style merupakan gaya komunikasi yang sifatnya mengendalikan. Hal ini ditandai dengan adanya suatu kehendak atau maksud untuk membatasi, mengatur, dan memaksa perilaku pikiran, dan tanggapan orang lain atau lawan bicaranya agar patuh terhadap pandangan-pandangannya. Kegiatan komunikasi dengan gaya komunikasi ini dikenal dengan istilah komunikasi satu arah.

Beberapa pihak yang menerapkan tipe ini memiliki kecenderungan untuk lebih memusatkan perhatiannya kepada pengiriman pesan dibandingkan dengan upaya berbagi sebuah pesan.

Mereka tidak tertarik dengan tanggapan yang diberikan oleh orang lain, kecuali tanggapan tersebut bermanfaat untuk kepentingan pribadinya. Komunikasi tipe ini juga tidak memiliki masalah dengan pandangan negatif orang lain terhadap mereka.

The Equalitarian Style

Aspek penting yang ditekankan dalam The Equalitarian Style adalah adanya landasan persamaan. Hal ini ditandai dengan adanya pemberlakuan arus penyebaran informasi atau pesan, baik secara verbal maupun tertulis, yang sifatnya dua arah. Selain itu, kegiatan komunikasi yang berlangsung dilakukan secara terbuka.

Masing-masing individu dalam kegiatan komunikasi dengan The Equalitarian Style dapat mengungkapkan gagasan atau pendapat mereka dalam suasana yang santai, rileks, dan informal. Sehingga, dengan suasana tersebut, dapat dipastikan setiap individu mampu mencapai kesepakatan dan pengertian bersama.

Individu-individu yang menerapkan gaya komunikasi ini cenderung memiliki sikap kepedulian tinggi serta kemampuan dalam membina hubungan baik dengan orang lain, baik dalam konteks hubungan pribadi maupun lingkungan profesional (pekerjaan).

The Equalitarian Style akan sangat efektif jika diterapkan dalam suatu organisasi, karena mampu memelihara empati dan kerja sama khususnya saat dalam pengambilan keputusan sebuah permasalahan yang kompleks.

The Structuring Style

The Structuring Style dalam penggunaannya selalu memanfaatkan pesan-pesan secara lisan maupun tertulis guna memantapkan dan menegaskan instruksi yang harus dilaksanakan, seperti penjadwalan tugas dan pekerjaan serta struktur organisasi.

Komunikator atau pengirim pesan akan lebih memusatkan perhatiannya pada keinginan untuk memersuasi orang lain dengan berbagai informasi mengenai tujuan-tujuan yang dibawanya, seperti tujuan suatu organisasi, aturan dan prosedur yang berlaku dalam suatu organisasi, dan jadwal kerja.

Stogdill dan Coons dari The Bureau of Business Research of Ohio State University, menemukan dimensi dari suatu gaya kepemimpinan yang efektif, yang mereka beri nama Initiating Structure (Struktur Inisiasi). Keduanya menjelaskan bahwa pemrakarsa struktur (structure initiator) yang efisien adalah mereka para individu yang mampu merencanakan berbagai pesan verbal guna penegasan dan pemantapan lebih pada tujuan organisasi, kerangka perusahaan, serta baik dalam memberikan jawaban atas berbagai pertanyaan yang muncul.

The Dynamic Style

Pada kegiatan komunikasi dengan The Dynamic Style, pengirim pesan (sender) memiliki kecenderungan agresif karena mereka paham bahwa lingkungan kerjanya berorientasi pada tindakan (action-oriented). Tujuan utama penerapan gaya komunikasi ini adalah untuk memberikan stimulus atau rangsangan pada karyawan atau pekerja agar bekerja lebih cepat, baik, dan efisien.

The Dynamic Style cukup efektif jika diterapkan dalam situasi yang genting dan kritis, namun dengan syarat pekrja atau bawahan memiliki kemampuan dan kapasitas yang cukup untuk mengatasi permasalahan tersebut. Gaya komunikasi dinamis juga sering digunakan oleh para juru kampanye atau orator untuk menggerakkan massa.  

The Relinguishing Style

The Relinguishing Style lebih cenderung memberikan kesediaan dalam menerima saran, pendapat, maupun gagasan orang lain dibanding keinginan untuk memberikan instruksi atau perintah meski sender memiliki hak untuk mengontrol dan memberikan perintah pada orang lain.

Namun demikian, pesan atau informasi pada kegiatan komunikasi dengan gaya komunikasi ini akan efektif jika pengirim pesan bekerjasama dengan orang atau individu yang memiliki pengetahuan luas, berpengalaman di bidangnya, teliti, serta bersedia bertanggung jawab atas semua tugas dan pekerjaan yang dibebankan kepadanya.

The Withdrawal Style

Gaya komunikasi The Withdrawal Style akan memunculkan efek atau akibat berupa melemahnya tindak komunikasi. Artinya tidak adanya keinginan dari orang-orang untuk menggunakan gaya komunikasi ini untuk berinteraksi dengan orang lain dikarenakan adanya beberapa persoalan atau kesulitan antarpribadi yang dihadapi oleh masing-masing individu tersebut.

Sebagai contoh, ketika seorang individu mengatakan “Saya tidak tertarik untuk terlibat dalam masalah ini”. Pernyataan tersebut memiliki dua makna, yaitu bahwa individu tersebut mencoba untuk lepas diri dari tanggung jawab dan merupakan sebuah tanda atau sinyal jika ia berkeinginan untuk menghindari interaksi dan komunikasi dengan orang lain.