Umum

5 Peninggalan Kerajaan Namrudz Babilonia

√ Edu Passed Pass education quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Babilonia merupakan nama kota yang berada di selatan Mesopotamia atau yang sekarang dikenal dengan Irak. Babilonia berada di wilayah Sumeria dan Akkadia. Dahulunya kota ini sangat terkenal dan sudah ada sebelum nabi Ibrahim.

Setelah nabi Ibrahim ada, salah satu raja Babilonia yang terkenal yakni Namrudz sangat memusuhi nabi Ibrahim. Raja Namrudz merupakan raja dari Babilonia yang pernah memerintahkan pembangunan menara.

Menara tersebut dibangun sangat tinggi dan berada di kota Babel sehingga dinamakan menara Babel. Tidak hanya itu, Namrudz juga dikenal sebagai seorang pemburu yang handal. Oleh sebab itulah ia diberikan julukan sebagai The Mighty Hunger. Tidak hanya itu, ia juga dijuluki sebagai Dewa Bachus atau Dewa Matahari.

Kehebatan raja Namrudz sudah terkenal seantero jagat. Maka dari itu kerajaan Babilonia pun ikut terkenal. Banyak sekali peninggalan yang ditinggalkan oleh kerajaan ini. Berikut ini peninggalan kerajaan Babilonia Namrudz.

1. Taman Gantung Babilonia

Salah satu peninggalan kerajaan Namrudz Babilonia adalah taman gantung Babilonia. Taman ini termasuk ke dalam salah satu dari tujuh keajaiban dunia kuno. Taman ini dikenal pula dengan nama taman tergantung semiramis. Letak taman gantung berada di Al-Hillah tidak jauh dari kota Baghdad, Irak atau lebih tepatnya berada di sebelah tebing timur sungai Euphrates.

Pada kenyataannya, taman gantung ini tidak seperti namanya. Taman ini tidak benar-benar taman yang tergantung dengan menggunakan tali. Dalam bahasa Yunani taman ini dinamakan Kremastos. Sedangkan dalam bahasa latin, taman ini dinamakan Pensilis yang memiliki arti anjung. Anjung ini seperti berada di atas teras.

Pembangunan taman ini dicetuskan oleh Nebukadnezar II. Nebukadnezar II merupakan cucu dari Raja Hamurabi yang termasyhur. Sebagai bentuk hadiah kepada sang istri taman ini sengaja dibuat oleh Nebukadnezar II.

Ketika itu, istrinya itu sedang merindukan kediamannya yang jauh di sana. Ia merindukan pohon-pohon dan tanaman wanginya yang ada di Persia. Maka dari itu, Nebukadnezar II sengaja membuat taman yang nuansanya mirip dengan rumah istrinya untuk mengobati rasa rindu istrinya.

Taman ini mengalami kehancuran sekitar abad ke-2. Untuk mengabadikan taman yang indah ini, Strabo dan Diodorus yang merupakan sejarawan Yunani mendokumentasikannya. Bentuk taman gantung sama dengan ciri khas arsitektur Mesopotamia.

Di antara bangunan-bangunan yang menjulang tinggi, taman ini berdiri. Jika dilihat dari kejauhan taman ini akan terlihat menggantung di antara bangunan-bangunan yang menjulang tinggi di atas permukaan tanah. Itulah mengapa orang-orang menyebut taman ini dengan nama taman gantung karena sekilas keberadaannya seperti digantung.

Diperkirakan taman ini dibangun saat kerajaan Babilonia mencapai puncak kejayaannya lebih tepatnya ada tahun 612 SM. Setelah proses pembangunan selesai, karena keindahannya taman gantung ini menjadi terkenal ke seluruh penjuru dan banyak mengagumi rancangannya.

Ke taman gantung ini sekitar 4 are. Tak lama, keberadaan taman gantung berubah menjadi monumen agung kerajaan Babilonia. Adapun struktur arsitektur dari taman gantung adalah bertingkat-tingkat.

2. Prasasti Cuneiform

Prasasti Cuneiform ditemukan oleh komisi pariwisata dan warisan nasional Saudi. Prasasti ini diperkirakan berusia 2.550, tahun dan ditulis atas nama Raja Nabonidus raja terakhir dari kerajaan Babilonia.

Pada bagian atas prasasti terdapat ukiran Raja Nabonidus tengah memegang tongkat kerajaan di sampingnya terdapat empat gambar yakni ular, bunga dan penggambaran bulan. Simbol-simbol ini diperkirakan memiliki makna religius. Sementara itu pada bagian bawahnya terdapat 26 baris Cuneiform.

Prasasti Cuneiform ditemukan di Al-Hait yang berada di wilayah Hail di wilayah Utara Arab Saudi. Al-Hait memiliki banyak situs kuno bahkan dikenal sebagai Fadak. Di sana terdapat sisa-sisa benteng, seni cadas dan instalasi air. Pada masa awal pemerintahan, Nabonidus berhasil menaklukan daerah Arab Saudi dan memilih tinggal di Tayma.

Tayma merupakan sebuah kota yang sekarang menjadi Arab Saudi. Terdapat banyak alasan mengapa Nabonidus memilih menetap di Arab Saudi. Namun, pada akhirnya kekasaran Babilonia berhasil diserang oleh kekaisaran Persia yang ketika itu dipimpin oleh Raja Kores Agung. Pada tahun 539 SM, kerajaan Persia berhasil merebut Babilonia hingga menyebabkan kerajaan runtuh.

3. Tugu Stella Hammurabi

Hammurabi adalah raja keenam dari kerajaan Babilonia. Ia memiliki kekuasaan mutlak atas wilayah Babilonia yang subur. Hammurabi terkenal sebagai raja yang disiplin sangat tegas dan selalu ingin segala sesuatu berjalan dengan tertib dan teratur.

Hammurabi ingin semua orang menaati peraturannya. Maka dari itu, dibuatlah hukum Hammurabi yang bermaksud untuk menyatukan suku bangsa yang berbeda di wilayah Babilonia. Tugu stella Hammurabi merupakan tugu yang berisi undang-undang.

Tugu ini menggambarkan raja Hammurabi yang sedang menerima undang-undang dari Dewa Shamash atau dewa Matahari yang menjadi dewa pelindung keadilan. Sebelum adanya hukum tertulis, titah raja yang berlaku sebagai hukum sehingga tidak ada standar yang sama dan mengikat bagi seluruh rakyat.

Di dalam tugu Hamurabi terdapat relief yang memiliki 8 kali yang diukir di batu besar. Relief tersebut berupa tugu yang berisikan 282 hukum yang bersifat spesifik dan terdapat sanksi yang berat agar tidak ada yang melanggarnya.

Keberadaan hukum ini sangat efektif bahkan hingga abad 12 berhasil menekan perilaku manusia yang ketika itu memiliki sifat keras, kejam, dan terkadang manusiawi. Hal ini menunjukkan bahwa perbuatan raja dan para khasim tidak sia-sia dalam membuat undang-undang.

Sayangnya dikarenakan sebuah kesalahpahaman bahasa yakni bahasa Akadian yang diukir di dalam tugu membuat beberapa masyarakat tidak memahami bahasa tersebut. Terlebih bagi masyarakat yang berada di wilayah bahasa dan budaya yang berbeda. Hal ini telah menyebabkan kekacauan bahkan hingga merenggut nyawa.

4. Ziggurat

Di antara lembah Mesopotamia kuno dan daratan tinggi Iran bagian barat terdapat sebuah bangunan kuno besar bernama Ziggurat. Arsitektur bangunan mirip dengan bentuk piramida yang berundak. Adapun ketinggian Ziggurat mencapai 88 meter. Menurut bahasa Sayur Kuno, kata Ziggurat berarti Ziqquratum yang memiliki arti tinggi atau puncak.

Bangunan ziggurat memiliki jumlah lantai sekitar dua sampai tujuh. Adapun bentuk atap bagian ini berbentuk datar dengan bagian atas yang rata. Bagian atas Ziggurat tersusun dari batu bata yang di mana pada bagian luarnya dibakar.

Bangsa Sumeria, Akkadia, Elam Ebla dan Babilonia kuno yang menjadi pembangun bangunan kuno ini. Tujuan mereka membangun bangunan ini adalah untuk kegunaan sarana ibadah. Adapun bangsa pertama yang membangun peradaban di Mesopotamia adalah Bangsa Sumeria kuno.

Masyarakat Mesopotamia terlebih Bangsa Sumeria sengaja membangun Ziggurat dan kuil-kuil yang tinggi karena mereka percaya bahwa semakin tinggi kuil dibangun maka akan semakin dekat dengan keberadaan dewa. Para dewa akan tinggal di kuil lebih tepatnya di atas puncak Ziggurat. Maka dari itu, mereka sengaja membangun bangunan yang tinggi dengan dasar sarana ibadah.

Pada pendeta dan orang terhormat saja yang boleh memasuki bangunan kuno di Mesopotamia ini. Hal ini dikarenakan bangunan ini dianggap suci dan hanya orang tertentu yang bisa memasukinya. Di dalam kuil ziqqurat terdapat dewa maka tidak boleh sembarang orang masuk ke sana.

Tujuan awal pembangunan ziggurat memang untuk sarana ibadah namun keberadaan ziqqurat ternyata bisa bermanfaat saat bencana datang. Saat banjir menghantam wilayah dataran rendah Mesopotamia, para pemuka agama akan melarikan diri ke ziggurat karena bangunan ini sangat tinggi sehingga air banjir tidak bisa datang.

Terdapat sekitar 32 ziggurat yang dibangun di Mesopotamia dan sekitarnya yang di mana 28 di antaranya terdapat di Irak dan 4 lainnya ada di Iran. The great Ziggurat of Ur di dekat Nasiriyah, The Ziggurat of Aqar Quf di dekat Baghdad, Chogha Zanbil, Ziggurat Etemenanki di Babiloy, dan Sialk di Khuzestan, Irak.

5. Benteng Namrudz

Konon petilasan Raja Namrudz yang berbentuk benteng terletak di Kaki Gunung Hermon. Lebih tepatnya berada di Daratan Tinggi Golan Bagian Utara. Benteng ini sempat dikuasai oleh Pasukan Salib dan digunakan untuk memperkuat diri dan bertahan dari pasukan Saladin atau Salahudin Al Ayubi.

Hal ini dikarenakan letak benteng yang begitu strategis untuk mengawasi wilayah Levant (Suriah, Israel hingga Palestina). Selama perang salib berlangsung, wilayah Levant menjadi penuh dengan kastil yang dibangun oleh pasukan salib.

Mereka sudah putus asa mempertahankan wilayah dari tekanan pasukan Saladin yang tangguh. Pada abad pertengahan, benteng ini pernah tercatat sebagai kastel terbesar yang tersisa di wilayah itu. Pada tahun 1291, pengepungan yang dilakukan oleh Saladin berhasil mendesak tentara Salib keluar dari Acre atau Akko.

setelah berhasil mengusir pasukan salib, satu tahun kemudian Sultan Saladin wafat. Kemudian keponakannya yakni Al-Aziz Othman menggantikannya. Ia berencana untuk melakukan perluasan kastel raja Namrud di atas tebing daratan tinggi golan.

Perluasan ini dilakukan guna melindungi wilayah tanah suci Yerusalem. Sebelum pasukan salib memasuki Palestina, ia berharap dapat menahannya sejak dari Golan. Tidak lama setelah tentara salib pergi, benteng itu dibangun sekitar tahun 1227 dan 1230.

Pembangunan ini dilakukan guna mencegah kembali datangnya pasukan Kristen di bawah Frederick II yang merupakan Kaisar Romawi Suci. Benar saja dugaannya ternyata pasukan tersebut kembali lagi. Benteng itu berhasil bertahan dari serangan kaum Frank dan serangan di bawah Raja Louis IX dari Prancis.

Meskipun ketangguhan benteng ini tidak diragukan lagi, pada akhirnya benteng ini berhasil dikuasai oleh orang-orang Mongol. Namun, hal itu berhasil diambil alih oleh Sultan Dinasti Mamluk. Di bawah kendali sultan Mamluk dari bangsa Baibar, benteng ini kembali dilakukan perluasan.

Namun, usai terjadinya peperangan besar benteng ini ditelantarkan selama berabad-abad lamanya. Untuk saat ini benteng ini berada di bawah kendali layanan taman nasional Israel. Penghuni yang tidak terusir dari benteng ini ialah hyrax yang mirip seperti tikus namun masih kerabat dekat gajah. Hewan inilah yang tinggal di sela-sela bebatuan benteng.