Sosiologi

Penyebab Konflik Agama di Indonesia

√ Edu Passed Pass education quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Ada banyak faktor yang menyebabkan timbulnya konflik di masyarakat, yang pada dasarnya adalah karena adanya perbedaan dan gesekan kepentingan diantara mereka. Salah satu konflik sosial yang pernah dan masih rentan terjadi di Indonesia adalah konflik agama.

Diantara konflik agama besar yang pernah terjadi di Indonesia adalah konflik Ambon dan Poso yang menyebabkan banyak kerugian baik jiwa dan materi pada masyarakat setempat. Namun, apakah sebenarnya yang menjadi latar belakang penyebab konflik agama yang terjadi di Indonesia?

Pada pembahasan kali ini akan diuraikan mengenai sejumlah faktor yang menyebabkan terjadinya konflik agama di Indonesia.

  1. Kurangnya kesadaran akan pentingnya toleransi
    Kesadaran akan pentingnya sikap toleransi merupakan suatu hal yang semestinya dipahami oleh setiap orang yang hidup di tengah masyarakat majemuk. Sebab, dalam masyarakat majemuk akan ditemukan banyak sekali perbedaan-perbedaan yang rawan menimbulkan gesekan dan konflik.
    Termasuk dalam hal ini adalah dalam masalah agama. Kita menyakini bahwa agama apapun tentu mengajarkan tentang toleransi antar sesama manusia dan tidak mengajarkan permusuhan. Akan tetapi, masyarakat yang tidak memahami akan pentingnya sikap toleransi ini akan membawa perbedaan agama sebagai salah satu alasan pembenaran konflik yang mereka lakukan.

  2. Kurangnya Kesadaran akan pentingnya hidup harmonis
    Kehidupan yang harmonis tentu menjadi dambaan semua orang. Namun, untuk menciptakan kehidupan harmonis tentunya membutuhkan sikap-sikap yang mendukung seperti toleransi, saling menghormati dan menghargai, simpati, dan selainnya.
    Tidak adanya atau kurangnya kesadaran akan pentingnya kehidupan yang harmonis akan mendorong orang atau sekelompok orang untuk menjadikan perbedaan, termasuk perbedaan agama, sebagai dalih untuk meraih kepentingan pribadinya. Mereka tidak mempedulikan persatuan dan kerukunan masyarakat demi untuk mencapai akan yang diinginkan.

  3. Konflik Individu yang di provokasi sebagai konflik agama
    Adakalanya konflik yang terjadi antarindividu yang berbeda agama kemudian diprovokasi oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab hingga melebar ke ranah konflik agama.
    Misalnya saja konflik agama di Poso, dimana konflik yang terjadi sebagai akumulasi dari koflik-konflik individu yang beberapa kali terjadi antara pemeluk Islam dan Kristen. Rentetan konflik individu tersebut kemudian melebar menjadi konflik antar kelompok sampai berkembang menjadi kerusuhan agama yang meluas di beberapa kabupaten.
    Mayoritas kasus konflik horizontal yang terjadi di masyarakat Indonesia adalah karena konflik individu yang kemudian diprovokasi sehingga melebar menjadi konflik besar yang melibatkan kelompok masyarakat. Konflik individu yang terjadi antara dua pihak yang berbeda suku, agama, atau ras yang harusnya bisa diselesaikan dengan jalur hukum kemudian dianggap sebagai konflik yang mewakili agama, suku, atau ras tertentu. Akibatnya, pihak-pihak yang awalnya tidak terlibat, justru ikut masuk ke dalam pusaran konflik dengan alasan solidaritas antar sesama agama, suku, atau ras tersebut.

  4. Sengketa pembangunan tempat ibadah
    Faktor lain yang juga menyebabkan konflik agama yang pernah terjadi di Indonesia adalah adanya sengketa terkait pembangunan tempat ibadah. Hal ini sebagaimana yang pernah terjadi di Bogor karena pembekuan izin pembangunan GKI Yasmin pada tahun 2018. Pihak GKI yang merasa keberatan atas pembekuan izin tersebut menggugat ke Pengadilan Tata Usaha Negara hingga ke tingkat Mahkamah Agung yang berakhir dengan pembatalan pencabutan izin tersebut.
    Selama proses hukum berlangsung, terjadi ketengangan antara Forum Komunikasi Muslim Indonesia dengan aparat yang juga melibatkan umat GKI Yasmin.

  5. Penafsiran ajaran agama yang diselewengkan
    Setiap agama tentu mengajarkan mengenai cinta kasih dan perdamaian. Tidak ada agama yang serta merta mengajarkan umatnya untuk memusuhi manusia lainnya. Namun, adakalanya manusia bisa salah dalam mengartikan apa yang termuat dalam kitab suci agama mereka dan melakukan tindakan yang memicu konflik dengan mengatasnamakan itu sebagai ajaran agama.
    Hal seperti ini tentunya harus dicegah dengan jalan mendakwahkan ajaran agama secara benar berdasarkan ilmu yang jelas riwayatnya. Penafsiran ajaran agama haruslah dilakukan oleh orang yang berilmu, bukan oleh sembarang orang karena bisa menimbulkan salah tafsir.
    Misalnya saja adanya ajaran jihad dalam agama Islam yang rawan disalahartikan. Orang-orang yang berkepentingan atau mereka yang memiliki pemikiran radikal, kerap membawa ayat-ayat tentang jihad dengan penafsiran yang semaunya sendiri untuk membenarkan tindakan mereka.

  6. Radikalisme
    Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), disebutkan bahwa yang dimaksud dengan radikalisme adalah suatu paham yang menghendaki permaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis. Radikalisme juga dimaknai sebagai sikap ekstrem dalam aliran politik.
    Sikap radikalisme ini juga bisa terjadi dalam pemahaman keagamaan seseorang. Ketika sikap radikal masuk dalam pemikiran seseorang, bukan tidak mungkin dia akan mencoba memaksakan ajaran agamanya kepada orang lain dengan jalan paksaan atau kekerasan. Akibatnya, konflik agama pun akan rawan terjadi.

Lantas, bagaimanakah cara yang tepat untuk mengatasi konflik agama yang terjadi di masyarakat?

Berikut adalah beberapa cara yang perlu diupayakan untuk mengatasi konflik agama yang terjadi:

  1. Membangun kesadaran di masyarakat tentang pentingnya menjaga kerukuran dan persatuan antarumat beragama.
    Hal ini bisa dilakukan lewat pendidikan di sekolah dan juga penyebarluasan informasi mendidik di masyarakat mengenai sikap-sikap yang bisa mendukung terwujudnya persatuan dan kesatuan.

  2. Memberantas pemahaman radikal
    Pemahaman radikal yang berkembang di masyarakat terutama terkait dengan agama tentunya harus mendapat perhatian dari pemerintah dan masyarakat pada umumnya. Sebisa mungkin pemerintah harus mengawasi kelompok-kelompok agama dan kepercayaan secara adil dan tanpa diskriminasi. Demikian juga msyarakat bisa turut andil melaporkan bila ada suatu ajaran yang diduga radikal agar segera bisa ditangani secara benar oleh pihak berwenang.

  3. Menyebarluaskan ajaran agama yang benar
    Sebagai upaya pemberantasan ajaran dan pemahaman radikal, maka sedapat mungkin juga harus diiringi dengan menyebarluaskan pemahaman agama yang benar oleh pemerintah dan pemuka agama. Hal ini untuk memberikan pemahaman dan perbandingan yang benar kepada masyarakat mengenai ajaran mana yang benar dan mana yang salah. Selain itu, juga harus diberikan penjelasan atau bantahan  terhadap ajaran-ajaran menyimpang dan radikal yang berkembang.

  4. Mengupayakan perbaikan ekonomi dan meminimalisir kesenjangan sosial di masyarakat
    Salah satu hal yang menjadi akar masalah di masyarakat, termasuk konflik agama, adalah karena faktor ekonomi dan kesenjangan sosial yang menimbulkan kecemburuan sosial di masyarakat. Adakalanya hal-hal ini kemudian dibawa dengan menyeret agama sebagai alasan untuk membuat aksi protes dan konflik.