Perang Gerilya: Sejarah – Karakteristik dan Contoh 

√ Edu Passed Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Perang merupakan sebuah aksi baik yang fisik maupun non-fisik yang melibatkan dua kelompok manusia atau bisa jadi lebih demi meraih dominasi di suatu wilayah yang dipertentangkan antar kelompok tersebut. Namun dewasa ini perang juga merujuk kepada superioritas teknologi dan juga industri. 

Dalam mewujudkan kemenangan peperangan kelompok tersebut akan menggunakan berbagai strategi atau taktik. Dengan kata lain taktik perang adalah pemanfaatan kekuatan senjata untuk menjalankan perang dan melumpuhkan lawan.

Salah satu taktik atau strategi perang yang dapat diterapkan dalam perjuangan adalah taktik perang gerilya. Taktik ini juga digunakan dalam perang merebut kemerdekaan Republik Indonesia. Lantas seperti apa dan bagaimana karakteristik yang dimiliki oleh taktik perang gerilya? Simak pembahasan lebih lanjut dalam ulasan berikut ini. 

Apa itu Perang Gerilya?

Perang Gerilya diambil dari bahasa Spanyol Guerilla yang memiliki arti perang kecil. Kecil dalam hal ini berkaitan dengan segi jumlah para personel atau pasukannya. Oleh karena jumlahnya yang sedikit sehingga perang ini dilakukan dengan cara sembunyi-sembunyi. 

Meski begitu perang gerilya berfokus pada kecepatan, sabotase, namun tetap mengedepankan fokus dan efektifitas. Jangan salah, walaupun taktik perang gerilya dilakukan oleh sejumlah pasukan saja namun cara ini mampu mengalahkan musuh dalam jumlah atau skala besar. 

Sejarah Perang Gerilya

Istilah perang gerilya muncul setelah adanya Perang Spanyol pada abad ke 19 atau lebih dikenal sebagai Perang Semenanjung. Perang tersebut melibatkan antara Spanyol yang kembali bangkit untuk melawan pasukan pendudukan Perancis. Namun jauh sebelum Perang Semenanjung, taktik perang gerilya sudah pernah dilakukan pada masa sebelum Masehi. 

Salah satu literasi yang menyebutkan penggunaan taktik ini adalah The Art of War karya dari Jendral dan ahli strategi China yang bernama Sun Tzu. Dalam bukunya ia menjelaskan China telah menerapkan taktik ini sejak abad ke 6 SM. Taktik ini kemudian diteruskan oleh beberapa pihak yang mengadopsi perang gerilya model Sun Tzu seperti pemimpin komunitas Mao Zedong dan Ho Chi Minh dari Vietnam Utara. 

Taktik perang gerilya juga ditemukan dalam Al Kitab yakni dalam perang penaklukan Israel atau Kanaan dan perlawanan Yahudi terhadap orang Romawi yang dilakukan pada abad ke 1 Masehi. Karena terbukti ampuh taktik perang gerilya masih terus digunakan bahkan pada masa modern.

Taktik ini pernah menjadi perang yang umum digunakan di Amerika Utara dan Amerika Selatan pada abad ke 17 yakni oleh para budak yang memberontak terhadap Portugis dan Belanda. Amerika masih menggunakan taktik ini pada abad ke 19 dalam perang saudara Amerika Latin yang melibatkan Simón Bolívar dan revolusioner  Meksiko Miguel Hidalgo y Costilla. 

Memasuki era modern tepatnya setelah Perang Dunia II berakhir penggunaan istilah perang gerilya diperluas yakni mencakup taktik pemberontakan, perlawanan terhadap pemerintah. 

Tujuan Perang Gerilya

Perang gerilya pada masa lalu dan masa sekarang memiliki sedikit perbedaan. Hal itu ada pada tujuannya dimana tujuan perang gerilya pada masa lalu dilakukan untuk melawan perbudakan atau penindasan. Sedangkan pada masa sekarang perang gerilya dilakukan karena motivasi politik. 

Para rakyat kelas bawah menggunakan taktik ini untuk menumbangkan rezim penindas yang menyalahgunakan kekuatan militer dan mengintimidasi. Tujuan lainnya dari para gerilyawan adalah untuk memprovokasi lawan untuk melakukan serangan balasan yang lebih brutal.

Dengan begitu gerilyawan bisa membangkitkan gerakan pemberontakan yang lebih besar. Dengan serangan besar-besarnya tersebut maka ada kemungkinan lawan akan mengeluarkan dana dan tenaga yang besar hingga mengalami kerugian. 

Karakteristik Perang Gerilya

Perang ini memiliki ciri khusus yang berbeda dengan perang pada umumnya. Ciri-ciri tersebut dijelaskan dalam poin-poin berikut ini. 

  • Dilakukan Secara Diam-diam

Pasukan perang gerilya tidak begitu banyak memungkinkan perang dilakukan secara rahasia. Para pasukan bisa melakukan persembunyian sebelum menyerang. Taktik ini sangat efektif untuk mengejutkan lawan bahkan kebanyakan dari musuh tidak memiliki waktu untuk melakukan serangan balik maupun pertahanan. Oleh sebab itu ini menguntungkan bagi pasukan gerilya. 

  • Taktik yang Halus dan Fleksibel

Para gerilyawan menggunakan taktik yang halus dan fleksibel. Meski demikian mereka tetap memperhitungkan keefektifannya untuk melumpuhkan lawan. 

Pasukan gerilya umumnya menggunakan anggota militer yang memiliki kekuatan tidak teratur untuk melakukan serangan kecil dan terbatas melawan pasukan konvensional. Taktik yang digunakan adalah jenis serangan yang berubah-ubah secara terus menerus. Dari serangan-serangan tersebut termasuk sabotase dan terorisme. 

  • Teknik Hit and Run

Taktik Hit and Run identik dengan perang gerilya model Jendral Tzu yakni teknik menghilang setelah melakukan penyerangan. Taktik ini bisa dilakukan lebih dari satu kali atau berulang-ulang. 

Tujuannya adalah untuk mengacaukan dan menurunkan nilai moral kekuatan musuhnya yang lebih besar namun minim resiko korban jiwa bagi pasukan gerilya. 

  • Taktik Penyamaran dan Kamuflase 

Jika pada umumnya pasukan tentara ketika berperang atau pergi ke medan tempur menggunakan seragam dan lencana namun tidak dengan gerilyawan. Mereka bahkan terbiasa menggunakan pakaian seadanya.

Ini bertujuan agar mereka bisa bersembunyi di tengah para penduduk sipil setelah melakukan serangan. Sementara itu teknik kamuflase bisa digunakan untuk bersembunyi di tengah hutan belantara. 

  • Menyerang Fasilitas dan Persediaan Musuh

Perang gerilya adalah perang kecil yang bertujuan melakukan penyerangan secara cepat oleh sebab itu mereka harus pandai mencari titik yang tepat agar musuh langsung lumpuh.

Biasanya titik yang mereka hancurkan terlebih dahulu adalah markas persediaan dan berbagai fasilitas umum yang peting seperti jembatan, rel kereta api, dan lapangan terbang. 

  • Tidak Menyerang Warga Sipil

Sangat jarang ditemukan kasus gerilyawan melakukan penyerangan terhadap warga sipil. Karena pada umumnya tujuan perang gerilya adalah merebut persenjataan musuh ataupun merebut wilayah. 

Contoh Perang Gerilya

Perang gerilya sudah dilakukan sejak 3000 tahun lalu dan telah banyak dilakukan dalam berbagai pertempuran. Berikut ini adalah contoh-contoh perang yang menggunakan taktik gerilya dari berbagai negara. 

  • Perang Boer Afrika Selatan

Perang Boer Afrika Selatan terjadi pada abad ke 17 yakni perang yang melibatkan rakyat Boer melawan pasukan Inggris yang berusaha menguasai Afrika Selatan.

Mereka menyamar dengan menggunakan pakaian petani dan menggunakan taktik perlawanan gerilya lainnyam. Taktik ini berhasil mengusir para pasukan Inggris namun hanya sementara waktu. 

pada akhirnya pasukan Inggris mampu menghalangu perlawanan penduduk Boer dan akhirnya melumpuhkan mereka. 

  • Perang Kontra Nicaragua 

Perang gerilya dilakukan di Nicaragua pada masa Perang Dingin berlangsung yakni sekitar tahun 1960-1980. Perang ini digunakan untuk menumbangkan rezim militer yang memerintahkan beberapa negara di Amerika Latim. Taktik ini akhirnya mengacaukan pemerintahan negara Argentina, Uruguay, Guatemala, dan Peru. 

Sayangnya taktik ini belum bisa mencapai tujuannya. Justru nasib buruk menimpa mereka dimana para militer melakukan penindasan lebih kejam dan melanggar HAM

  • Pertempuran Lexington dan Concord

Perang ini merupakan perang yang pertama kali meletus dalam Perang Revolusi Amerika. Perang ini berlangsung pada 19 April 1775di County Middlesex, Massachusetts, di kota Lexington, Concord, Lincoln, Menotomy dan Cambridge. Milisi penduduk Amerika yang terorganisir melakukan penyerangan terhadap pasukan Inggris dengan menggunakan taktik perang gerilya. 

Taktik ini bahkan di dukung oleh Jendral Amerika kalau itu yakni Amerika George Washington. 

Indonesia juga pernah menggunakan taktik penyerangan secara gerilya untuk mempertahankan kemerdekaan.

Taktik tersebut dicetuskan oleh Jendral Soedirman untuk menghadapi pasukan Belanda dalam penyerangan agresif militer Belanda II di Jogjakarta. Perang ini lebih dikenal sebagai Serangan Umum 1 Maret 1949. 

Dalam menjalankan misinya Jendral Soedirman dan pasukannya berpindah-pindah tempat dengan melewati sungai, lembah, gunung, dan hutan. Tak tertinggal serangan juga dilakukan terhadap oleh pos Belanda hingga mampu mengacaukan konsentrasi mereka. Pada puncaknya taktik gerilya ini mampu membangkitkan semangat seluruh masyarakat Indonesia dan berhasil mengusir Belanda dari Indonesia. 

fbWhatsappTwitterLinkedIn