Piramida Energi dalam Ekosistem : Pengertian, Proses, dan Contohnya

√ Edu Passed Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Ekologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang hubungan antar makhluk hidup dengan makhluk hidupnya beserta lingkungan di sekitarnya. Di dalam ekologi ini, kita tidak hanya mempelajari tentang apa itu ekosistem namun juga tentang populasi, komunitas, bioma, biosfer hingga piramida ekologi.

Nah, dalam piramida ekologi kita dapat mengenal tiga jenisnya yaitu piramida energi, piramida biomassa dan piramida jumlah. Pada artikel kali ini kita akan membahas tentang piramida energi dalam ekosistem.

Pengertian Piramida Energi

Piramida energi adalah salah satu jenis dari piramida ekologi yang ada dalam suatu ekosistem. Piramida ekologi itu sendiri adalah susunan tingkatan trofik yang menunjukkan adanya kepadatan suatu populasi, berat organisme ataupun kemampuan dalam menyimpan energi pada setiap trofik secara berurutan dalam ekosistem.

Maka, piramida energi merupakan piramida yang menunjukkan jumlah energi setiap tingkatan trofiknya. Dalam piramida ini, energi cahaya matahari menjadi sumber energi utama bagi tumbuhan. Energi cahaya tersebut kemudian berubah menjadi energi kimia melalui rantai makanan.

jadi, dapat disimpulkan bahwa piramida energi merupakan gambaran yang menunjukkan bagaimana energi mengalir dalam sebuah ekosistem dari tingkat trofik satu hingga ke trofik lainnya.

Proses Perjalanan Energi dalam Ekosistem

Pada piramida ini, jumlah energi yang dapat digunakan hanya sekitar 10% saja. Mengapa demikian? Pasalnya, sekitar 90% energi cahaya matahari akan hilang sebagai panas atau sebagai energi yang digunakan untuk proses metabolisme makhluk hidup.

Itulah sebabnya mengapa tidak semua energi diteruskan sampai ke trofik lebih tinggi dan hanya 10% saja yang diteruksan ke organisme selanjutnya. Hal ini berarti bahwa konsumen di tingkat paling tinggi (puncak) pada rantai makanan akan memperoleh energi paling sedikit dari sinar matahari.

Penyusun Piramida Energi

piramida energi dalam ekosistem

Dalam piramida energi, ada empat komponen penyusun sehingga dapat membentuk sebuah piramida. Adapun komponen penyusun dari piramida energi adalah sebagai berikut:

  • Produsen

Di bagian bahwa pada piramida energi adalah produsen. Produsen merupakan organisme yang bisa menghasilkan makanannya sendiri. Dalam membantu untuk menghasilkan makanannya, maka produsen ini memanfaatkan energi dari sumber energi yang tidak hidup seperti cahaya matahari. Energi tersebut kemudian diproses dalam fotosintesis.

  • Konsumen primer

Tingkat setelah produsen yaitu konsumen primer di mana organisme yang berperan untuk memakan produsen pertama kali. Biasanya, organisme pada tingkat piraimida kedua ini sebagian besar diisi oleh herbivora (hewan pemakan tumbuhan).

Jadi, setelah mengisi energinya dari cahaya matahari, tumbuhan yang berperan sebagai produsen akan meneruskan energinya tersebut ke konsumen primer.

  • Konsumen sekunder

Pada tingkat piramida ketiga yaitu konsumen sekunder yang umumnya cenderung banyak diisi oleh organisme karnivora. Konsumen sekunder adalah makhluk hidup yang sangat bergandung oleh adanya konsumen primer sebagai sumber energi mereka agar bisa bertahan hidup.

  • Konsumen tersier

Pada tingkat terakhir atau paling tinggi adalah konsumen tersier. Mereka adalah makhluk hidup tingkat karnivora sekunder yang memakan konsumen primer dan konsumen sekunder. Pada tingkat inilah piramida energi dalam ekosistem berakhir.

Contoh Piramida Energi

Seperti pada gambar, bentuk piramida makin ke atas maka akan mengerucut. Hal ini berarti bahwa tingkat energi paling kecil berada pada tingkat konsumen tersier, sementara tingkat energi yang paling besar berada pada produsen. Untuk lebih memahaminya, perhatikan contoh berikut :

  • Tumbuhan yang menghasilkan biji

Dalam ekosistem suatu hutan, tumbuhan akan menghasilkan biji. Tumbuhan ini menjadi produsen karena tumbuhan membuat energinya sendiri melalui proses fotosintesis. Kemudian untuk bertahan hidup, tikus sawah memakan biji tersebut dan menjadi konsumen primer (konsumen pertama).

Dari sini, tumbuhan yang menghasilkan biji itu akan memperoleh 100% sumber energi yang berasal dari cahaya matahari. Hal ini masuk akal karena tumbuhan berperan sebagai produsen dalam rantai makanan.

  • Ular memangsa tikus

Dilanjut lagi, ular akan memangsa tikus dan menjadikannya sebagai konsumen sekunder (konsumen kedua) dan karnivora. Ular tersebut memperoleh energi matahari melalui tikus yang memakan biji.

  • Burung memangsa ular

Kemudian burung hantu memangsa ular yang menjadikannya sebagai konsumen tersier (konsumen ketiga). Kembali lagi, energi matahari tersebut secara tidak langsung diteruskan kepada burung hantu dari biji.

Kesimpulan dari contoh :

Dari sini, tumbuhan yang menghasilkan biji itu akan memperoleh 100% sumber energi yang berasal dari cahaya matahari. Hal ini masuk akal karena tumbuhan berperan sebagai produsen dalam rantai makanan.

Kemudian 90% energi matahari akan hilang dan tikus sebagai konsumen pertama hanya menerima 10% saja. pada tingkat selanjutnya, ular yang memakan tikus hanya akan mendapatkan 1% energi.

Begitupun seterusnya, burung hantu hanya menerima 0,1% daari total seluruh energi matahari. Hilangnya energi di setiap tingkat piramida inilah yang sering disebut dengan kaidah 10%.

Sehingga dapat dikatakan mustahil apabila sebuah rantai makanan mempunyai lima tingkatan atau lima tahapan. Alasannya adalah karena hanya terdapat sedikit energi yang tersedia bagi konsumen untuk bertahan hidup yang berada di tingkat paling tinggi.

Oleh sebab itu, burung hantu akan sering berburu mangsa dalam jumlah yang tidak sedikit untuk memenuhi kebutuhan energinya. Jadi, dalam piramida energi setiap makhluk hidup akan saling kertergantungan.

Jika mangsanya berkurang jumlah populasinya maka akan mempengaruhi populasi pemangsanya, seperti produsen ke konsumen I, konsumen I ke konsumen II, dan seterusnya.

fbWhatsappTwitterLinkedIn