PPKN

Pluralisme: Pengertian – Tokoh dan Contohnya

√ Edu Passed Pass education quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Kali ini kita akan membahas mengenai pelajaran pendidikan kewarganegaraan tentang pluralisme. Berikut pembahasannya.

Pengertian Pluralisme

Pengertian Secara Umum

Secara umum pluralisme merupakan suatu pemahaman yang bersedia menerima berbagai perbedaan yang ada antar manusia satu dengan yang lain.

Dilihat dari segi susunan harfiahnya, pluralisme tersusun dari dua kata yaitu plural yang berarti beraneka ragam dan isme yang artinya adalah paham.

Pengertian Menurut KBBI

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia pluralitas atau pluralisme adalah keadaan masyarakat yang majemuk (bersangkutan dalam sistem sosial dan politiknya), berbagai kebudayaan yang berbeda-beda dalam suatu masyarakat.

Pengertian Menurut Para Ahli

  • Syamsul Maa’arif
    Menurut Syamsul Maa’rif, pluralisme merupakan suatu sikap saling memahami, dan menghormati adanya perbedaan demi tercapainyakerukunan antar umat beragama.
  • Webster
    Pluralisme adalah keadaan sosial yang hadir dalam beragam etnis, agama, ras dan etnis yang mempertahankan tradisi berpartisipasi dalam masyarakat. Keadaan seperti ini kemudian menciptakan sebuah pola masyarakat yang hidup saling berdampingan dalam keberagaman yang ada.
  • Anton M. Moeliono
    Pluralisme merupakan suatu hal yang memberikan makna jamak dari segi kebudayaan yang berbeda-beda dalam suatu masyarakat. Rasa hormat akan nilai kebudayaan lainnya dan sikap saling menghargai merupakan dasar landasan terciptanya plurarisme.

Tokoh Pluralisme

Berikut adalah beberapa tokoh dari pluralisme:

Kyai Haji Abdurrahman Wahid

Kyai Haji Abdurrahman Wahid atau dikenal sebagai Gus Dur lahir di Jombang, Jawa Timur, pada 7 September 1940.

Gus Dur adalah putra pertama dari enam bersaudara dari keluarga yang sangat terhormat dalam komunitas Muslim Jawa Timur.

Kakek dari ayahnya adalah K.H. Hasyim Asyari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU), sementara kakek dari pihak ibu, K.H. Bisri Syansuri, adalah pengajar pesantren pertama yang mengajarkan kelas pada perempuan. Ayah Gus Dur, K.H.

Wahid Hasyim, terlibat dalam Gerakan Nasionalis dan pernah menjadi Menteri Agama.

Ibunya, Ny. Hj. Sholehah, adalah putri pendiri Pondok Pesantren Denanyar Jombang. Selain Gus Dur, adiknya Gus Dur juga merupakan sosok tokoh nasional.

Romo Mangunwijaya Pr

Romo Mangun lahir di Ambarawa, Jawa Tengah, pada 6 Mei 1929. Rm. Mangun  menamatkan Sekolah Rakyat di HIS Fransiscus Xaverius, Muntilan (1936-1943).

Setelah itu, Mangun meneruskan ke Yogyakarta dan  menamatkan SMP pada tahun 1947.

Berpindah-pindah kota sepertinya sudah menjadi kebiasaan untuk Mangun. Setelah menamatkan SMP,  Mangun pindah ke Malang dan menamatkan SMA di kota itu pada tahun 1951.

Setelah itu, Mangun kembali ke Yogyakarta dan menempuh  pendidikan di Sekolah Filsafat Teologi Sandi Pauli pada tahun 1959.

Frans Seda

Fransiskus Xaverius Seda lebih dikenal dengan sebutan Frans Seda. Ia lahir pada tanggal 4 Oktober 1926 di Flores, NTT.

Sesudah tamat SD di Flores (1940), Frans Seda merantau studi ke Muntilan, masuk kolese Xaverius yang didirikan oleh Romo Van Lith.

Sambil belajar, ia menjadi tukang rumput, pengaduk makanan dan pemeras susu pada sebuah peternakan di lereng gunung Merapi.

Setelah dari Muntilan, pendidikannya dilanjutkan di Yogyakarta (1946) dan di Surabaya (1950), dan menyelesaikan doktornya di Katholieke Economische Hogenschool Tilburg, Negeri Belanda (1956). 

Contoh Pluralisme

Berikut adalah contoh dari sikap pluralisme:

  • Empat rumah ibadah yg dibangun berdampingan di Dukuh Kalipuru, Kendal, Jawa Tengah menjadi contoh kecil pluralitas masyarakat Indonesia yg begitu tinggi.
  • Masyarakat bali yang mayoritas beragama Hindu dapat hidup berdampingan dengan masyarakat pendatang yang hidup di Bali yang notabene beragama di luar Hindu.