Sejarah

Sinanthropus Pekinensis: Sejarah, Ciri-Ciri dan Kehidupannya

√ Edu Passed Pass education quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Manusia purba yang pernah hidup di bumi tersebar di banyak daerah seiring meningkatnya kemampuan untuk bermigrasi serta beradaptasi dengan lingkungan hidup. Di Cina, tepatnya pada daerah Peking (sekarang Beijing) terdapat temuan fosil manusia purba yang bernama Sinanthropus pekinensis.

Walau tidak memiliki garis keturunan dengan masyarakat Cina saat ini, keberadaan Sinanthropus pekinensis sangat penting untuk perkembangan ilmu sejarah dan antropologi. Berikut adalah penjelasan lebih lanjut mengenai Sinanthropus pekinensis.

Pengertian Sinanthropus Pekinensis

Sinanthropus pekinensis merupakan subspesies manusia purba yang merupakan salah satu jenis dari spesies Homo erectus. Oleh sebab itu, saat ini nama yang digunakan adalah Homo erectus pekinensis.

Penggunaan nama Sinanthropus atau Pithecanthropus terjadi sebelum diikutsertakan sebagai bagian dari Homo erectus.

Nama Peking berasal dari tempat asal penemuan manusia purba ini, yakni Beijing, Cina yang juga disebut dengan Peking sehingga Sinanthropus pekinensis juga dapat disebut dengan istilah Peking Man atau terkadang Beijing Man.

Sejarah Penemuan Sinanthropus Pekinensis

Abbang (2014) dan situs New World Encyclopedia menjelaskan proses penemuan fosil dari Sinanthropus pekinensis dalam artikel yang ditulisnya.

Pada tahun 1921, seorang paleontologis bernama Otto Zdansky yang bekerja pada arkeologis di daerah Zhoukoudian/Choukoutien, yakno Johan Gunnar Andersson menemukan satu set fosil pertama dari Manusia Peking.

Akan tetapi, pada saat itu Zdansky masih merahasiakannya hingga pada tahun 1926 mulai dibawa ke Peking Union Medical College (PUMC). Seorang anatomis asal Kanada, Davidson Black kemudian menganalisis fosil tersebut dan mempublikasikan temuannya dalam jurnal dengan memberi nama spesies tersebut Sinanthropus pekinensis.

Mulai tahun 1929, arkeologis Cina bernama Yang Zhongjian, Pei Wenzhong, dan kemudian Jia Lanpo dibantu oleh Pierre Teilhard de Chardin dan Franz Weidenreich melakukan ekskavasi lebih lanjut. Dalam kurun waktu tujuh tahun, mereka berhasil mengumpulkan 40 spesimen dengan 6 diantaranya memiliki tengkorak yang hampir sempurna.

Ekskavasi tersebut dihentikan pada Juli 1937 karena Jepang menduduki Kota Beijing. Sejumlah fosil yang sudah diamankan di Cenozoic Laboratory, PUMC kemudian rencananya akan dipindahkan ke Amerika Serikat agar tetap aman sampai akhir masa perang.

Akan tetapi, sayangnya seluruh fosil tersebut hilang begitu saja dalam perjalanan. Orang terakhir yang melihat fosil Peking Man adalah Claire Taschdjian karena ialah yang melakukan pengemasan fosil dengan rincian 5 tengkorak, 150 fragmen rahang dan gigi, 7 tulang paha dan fragmennya, 1 tulang lengan atas, serta 1 tulang pergelangan tangan.

Kapal yang membawa fosil-fosil itu sempat berhenti di Camb Holocomb dan kotak fosilnya dipindahkan ke ruangan rumah sakit tentara tanpa adanya pengecekan. Pada 7 Desember 1941 saat peperangan pecah, Camp Holocomb jatuh ke tangan Jepang, sehingga semua barang yang ada disana dan mungkin termasuk fosil Peking Man juga disita.

Namun, kondisi akhir fosil belum dapat diketahui secara pasti. Terdapat beberapa pendapat, seperti dirampas oleh orang yang memahami fosil ini, hilang saat kekacauan yang terjadi di Camp Holocomb, diambil saat dalam perjalanan dari Peking oleh tentara Jepang, atau mungkin tenggelam bersama kapal Jepang yang membawa fosil ini pada 1945.

Berbagai pihak sudah berusaha mencari fosil bahkan dengan menawarkan uang 5.000 dolar Amerika, tetapi tetap tidak menghasilkan apa pun. Meskipun demikian, pada tahun 1958 dilakukan kembali ekskavasi di gua di wilayah penemuan awal dan ditemukan fosil baru, bahkan beberapa peralatan dan serpihan primitif.

Ciri-Ciri Sinanthropus Pekinensis

Sinanthropus pekinensis atau Peking Man ini terlihat mirip dengan spesies Pithecanthropus erectus yang ditemukan di Indonesia, tetapi mereka mempunyai beberapa ciri lainnya yang membedakan, di antaranya yaitu sebagai berikut:

  • Mempunyai kapasitas otak sekitar 1.000 hingga 1.300 cc.
  • Bentuk tengkorak datar dan tebal.
  • Ukuran dahi kecil.
  • Otot rahang yang kuat tanpa dagu.
  • Jembatan alis yang tebal

Kemampuan Sinanthropus Pekinensis

Sinanthropus pekinensis memiliki kapasitas otak yang sudah sama dengan manusia pada umumnya saat ini sehingga tidak heran jika mereka juga memiliki pengetahuan dan kemampuan yang sudah berkembang meski hidup sejak ratusan ribu tahun yang lalu.

Peking Man sudah mengerti tentang penggunaan api, termasuk mengendalikannya meski diragukan apakah mereka benar-benar membuat sendiri atau api dari alam. Tidak hanya itu, mereka juga bisa membuat peralatan sederhana dari batu, tulang, atau tanduk rusa.

Kehidupan Sinanthropus Pekinensis

Berdasarkan beberapa bukti, seperti kondisi sedimen tempat ditemukannya fosil, diketahui bahwa Sinanthropus pekinensis hidup sejak sekitar 770.000 sampai 230.000 tahun yang lalu.

Tempat ditemukannya Peking Man dinamakan dengan bukit Dragon-Bone. Mereka tinggal dalam gua-gua dengan sumber air tersedia di dekatnya. Suhu ketika mereka hidup cukup hangat. 

Kemampuan mereka dalam membuat api dibuktikan dengan bekas pembakaran hewan dan tulang yang ditemukan di gua daerah Zhoukoudian sama seperti yang ada pada sisa-sisa milik Homo erectus. Api tersebut digunakan untuk membuat makanan, seperti daging mentah, umbi-umbian, serta akar lebih mudah dimakan.

Selain itu, ditemukan pula beberapa bukti mengenai adanya ritual kanibalisme pada Peking Man. Terdapat tengkorang yang terlihat bekas dipukul dan diduga dilakukan oleh Peking Man lainnya untuk mendapatkan bagian otak sebagai praktik yang umum pada para kanibal.

Kesimpulan Pembahasan

Demikianlah penjelasan mengenai pengertian, sejarah penemuan, ciri-ciri, kemampuan, serta kehidupan Sinanthropus pekinensis. Kesimpulannya, manusia purba yang disebut juga dengan Peking Man ini adalah bagian dari spesies Homo erectus dan ditemukan di daerah Peking, Cina.

Cukup banyak fosil Sinanthropus pekinensis yang berhasil ditemukan di daerah Zhoukoudian pada tahun 1921. Namun, seluruh fosil yang berusaha diamankan ke AS hilang begitu saja karena adanya Perang Dunia. Fosil tersebut menunjukkan ciri Peking Man, seperti kapasitas otak 1.000-1.300 cc, tengkorak datar dan lebar, dahi kecil, dan jembatan alis tebal.

Sinanthropus pekinensis mampu mengendalikan api dan menggunakannya untuk memproses makanan, seperti daging mentah, umbi, dan akar. Mereka juga sudah membuat peralatan sederhana dari batu dan tulang. Kehidupan Peking Man dimulai sejak 770-230 ribu tahun lalu. Mereka tinggal di gua-gua serta diketahui sudah lakukan praktik kanibalisme.