Edukasi

10 Tokoh Entrepreneur di Bidang Kesehatan

√ Edu Passed Pass education quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Keberadaan covid 19 memang turut memberikan perubahan bagi segala bidang kehidupan. Kedatangannya, kerap kali dianggap bencana. Namun, justru bagi beberapa orang, adanya covid 19 menjadi ladang usaha yang menjanjikan terutama di bidang kesehatan.

Covid 19 telah melayangkan banyak korban jiwa di seluruh dunia. Hal inilah yang kemudian mendorong para ilmuwan serta tenaga kesehatan untuk menciptakan sebuah terobosan yang dapat melawan covid 19. Salah satunya adalah keberadaan vaksin. Vaksin telah membantu mengurangi tingkat risiko kematian akibat covid 19. Selain itu berkat terobosan baru tersebut membuat beberapa nama muncul menjadi sosok miliader baru di bidang kesehatan.

Di kutip dari Forbes, setidaknya ada 50 miliader baru yang muncul di bidang kesehatan pada tahun 2020. Mereka melihat peluang yang menjanjikan di bidang kesehatan ketika covid. Oleh sebab itu, para investor berbondong-bondong untuk menginvestasikan saham ke dalam perusahaan pengembang vaksin, perawatan dan perangkat medis lainnya

Berikut ini sejumlah tokoh entrepreneur di bidang kesehatan.

1. Yuan Liping

Tokoh entrepreneur yang pertama adalah sosok perempuan yang berasal dari China. Ia memiliki sekitar 24 persen saham dari salah satu produsen vaksin terkemuka di China bernama Shenzhen Kangtai Biological Products.

Yuan telah bekerja di perusahaan tersebut sejak tahun 2012 hingga 2015 sebagai manajer dan direktur perusahaan. Kangtai merupakan pabrik ekslusif di China yang bekerja sama dengan Astra Zeneca dan Universitas Oxford dalam mengembangkan vaksin. Vaksin Astra zeneca di Indonesia termasuk vaksin yang banyak digunakan ketika covid 19.

Sejak tahun 2017, Yuan ditunjuk menjadi direktur dari anak perusahaan Kangatai yakni Beijing Minhai Biotechnology. Pada awal tahun 2020, saham dari Kangtai mengalami kenaikan. Meskipun, sahamnya mengalami kenaikan, perusahaan ini mempunyai catatan sejarah yang dinilai tidak baik.

Pada tahun 2013, salah satu vaksin yang dikeluarkan yakni vaksin Hepatitis B dihubungkan dengan kematian 17 orang Bayu. Meskipun, kasus tersebut berakhir dengan penyidikan yang tidak menemukan titik akhir.

Bahkan, beberapa pihak politikus mendapatkan tekanan untuk segera menarik artikel yang memberitakan terkait hal tersebut. Hingga detik ini, pihak perusahaan belum memberikan tanggapan terkait isu yang beredar.

2. Ugur Sahin

Ugur Sahin merupakan dokter kelahiran Turki yang mendirikan BioNTech di Mainz, Jerman pada tahun 2008. Ia mendirikan BioNTesch bersama istrinya yakni Ozlem Tureci yang merupakan Kepala Petugas Medis Perusahan. Saham BioNTech mengalami peningkatan sekitar 160 persen sejak Januari.

Hal ini dikarenakan keberhasilan vaksin Covid 19 yang dikembangkan dalam kemitraan bersama Pfizer. Pengembangan vaksin dari kedua perusahaan itu telah dinyatakan oleh FDA atau Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat efektif sekitar 95 persen dalam memerangi virus Covid 19.

Pada tanggal 8 Desember dosis pertama vaksin Pfizer diluncurkan di Inggris sementara untuk di Amerika Serikat sendiri vaksin dosis pertama diluncurkan pada tanggal 14 Desember yang lebih banyak disediakan untuk Uni Eropa, Jepang serta Kanada. Jumlah kekayaan bersih yang dimiliki Ugur adalah sekitar 4,2 miliar dollar Amerika Serikat atau sekitar Rp 59,4 Triliun.

Sebelum mendirikan BioNTech, Ugur dan istrinya pernah mendirikan perusahaan bernama Biofarma Ganyned Pharmaceuticals pada tahun 2001. Namun, pada tahun 2016, perusahaan tersebut dijual ke Astellas Pharma yang memiliki basis di Jepang.

3. Stephane Bancel

Stephane Bancel adalah CEO dari Moderna yang memiliki basis di Massachusetts, Amerika Serikat. Pria kelahiran Prancis ini pernah menjadi CEO dari perusahaan diagnostik Perancis BioMerieux sebelum menjabat sebagai CEO Moderna. Saat ini, ia memiliki 6 persen saham Moderna. Semula ia memiliki 9 persen saham pada bulan Maret lalu yang menjadikan ia sebagai seorang miliarder.

Stephane Bancel memiliki kekayaan bersih sekitar 4,1 miliar dollar Amerika Serikat atau Rp 57,9 triliun. Pada tanggal 18 Desember, vaksin Covid 19 Modern merupakan vaksin kedua yang telah disetujui oleh regulator Amerika Serikat.

Vaksin ini telah dinilai mampu menangkal virus covid 19 sebanyak 95, persen. Dosis pertama vaksin moderna diberikan ke Amerika Serikat, yang memesan sekitar 200 juta dosis dengan pilihan 300 juta lebih.

4. Hu Kun

Hu Kun adalah ketua dari produsen perangkat medis yang bernama Contec Medical Systems. Perusahaan tersebut berlokasi di kota Pelabuhan Qinhuangdao yang berada di timur laut China. Pada Agustus 2020, ia berhasil membawa perusahaan tersebut ke melantai di pada saham Shenzhen.

Selain itu, ia juga telah berhasil menguasai hampir setengah dari saham perusahaan yang mengalami kenaikan sekitar 150 persen semenjak IPO. Sekitar 70 persen pendapatan dari perusahaannya berasal dari produk-produk medis rumah sakit sepertu nebulizer, monitor tekanan darah dan stetoskop. Jumlah kekayaan bersih yang dimiliki Hu Kun sekitar 3,9 miliar dollar Amerika Serikat atau Rp 55,1 triliun.

5. Carl Hansen

Carl Hansen merupakan CEO dan salah satu pendiri dari perusahaan yang bernama AbCellera yang berlokasi di Vancouver. AbCellera merupakan perusahaan bioteknologi yang memakai kecerdasan buatan serta pembelajaran mesin untuk mengidentifikasi perawatan antibodi paling efektif. Perusahaan ini didirikan pada tahun 2012.

Selain menjadi CEO dari perusahaan AbCellera, Hansen juga bekerja sebagai Professor di University of British Columbia. Namun, pada tahun 2019, ia memutuskan untuk fokus secara penuh di AbCellera. Keputusan tersebut dinilai tepat karena 23 persen saham yang dimilikinya di perusahaan tersebut berhasil membuat Hansen masuk ke deretan pendatang miliarder terbaru. Jumlah kekayaan bersih yang dimiliki nya sekitar 2,9 miliar dollar Amerika Serikat atau Rp 40,9 triliun.

Pada tanggal 11 Desember 2020, AbCellera berhasil melantai di Nasdaq. AbCellera berhaisl menemukan antibodi dalam kemitraan dengan Eli Lilly. Pemerintah Amerika Serikat kemudian memesan sekitar 300.000 dosis bamlanivimab antibodi yang ditemukan AbCellera. Bamlanivimab telah menerima persetujuan oleh FDA sebagai pengobatan Covid 19 pada bulan November.

6. Timothy Springer

Timothy Springer merupakan ahli imunologi dan profesor kimia biologi dan farmakologi molekuler di Universitas Harvard. Selain itu, ia menjadi investor pendiri Moderna pada tahun 2010. Ketika itu, ia menanamkan modal nya sekitar 5 juta dollar Amerika Serikat untuk perusahaan tersebut.

Setelah satu dekade kemudian 3,5 persen sahamnya memiliki nilai sekitar 1,6 miliar dollar Amerika Serikat. Jumlah kekayaan bersih yang dimilikinya sekitar 2 miliar dolar Amerika Serikat atau Rp 28,2 triliun. Timothy Springer dikenal sebagai sosok yang aktif melakukan investasi di bidang biotek.

Ia juga memiliki saham kecil di perusahaan publik bernama Scholar Rock and Morphic Therapeutic. Pada tahun 1999, ia berhasil mendapatkan bayaran terbesarnya. Ketika itu, ia menjual LeukoSite sebuah perusahaan bioteknologi yang didirikan pada tahun1993 kepada Millenium Therapeutics dengan harga 635 juta dollar Amerika Serikat.

7. Sergio Stevanato

Sergio Stevanato merupakan presiden dari perusahaan medis Italia bernama Stevanato Group. Perusahaan tersebut merupakan perusahaan botol kaca terbesar kedua yang ada di dunia. Selain itu, perusahaan tersebut menjadi pemasok botol kaca terkemuka untuk lebih dari 40 vaksin Covid 19.

Ia memiliki jumlah kekayaan bersih sebesar 1,8 miliar dollar Amerika Serikat atau Rp 25,4 triliun. Awalnya, perusahaan tersebut didirikan pad atahun 1949 di pinggiran Venesia oleh ayahnya yang bernama Giovanni.

Kemudian, perusahaan tersebut dijalankan oleh dirinya. Saat ini, perusahaan Stevanato Group dijalankan oleh anak-anak Sergio yakni Franco dan Marco yang menjabat sebagai CEO dan wakil presiden. Perusahaan tersebut saat ini bernilai 700 juta dollar Amerika Serikat dan menjadi produsen pena insulin terbesar di dunia. Selain itu, perusahan ini juga membuat mesin yang dapat mensterilkan dan mengemas miliaran botol, jarum suntik dan produk kaca lainnya.

8. Robert Langer

Robert Langer merupakan seorang profesor teknik kimia di Institut Teknologi Massachusetts. Ia dikenal sebagai Edison of Medicine atas pekerjaannya di bidang teknis biomedis. Pada tahun 2010, ia menjadi investor awal dari Modernis dan sampai saat ini ia belum pernah menjual sahamnya tersebut. Setidaknya sekitar 3 persen yang dimiliknya di perusahaan tersebut dilaporkan telah memiliki nilai sekitar 1,5 miliar dollar Amerika Serikat.

Selain menjadi investor di Moderna ia juga memiliki investasi kecil di perusahaan rintisan bioteknologi yang bernama SQZ Biotechnologies dan Frequency Therapeutics yang diperdagangkan secara publik. Kedua perusahaan tersebut didirikan oleh mahasiswa pasca doktoral dari labnya.

Jumlah kekayaan bersih yang dimilikinya sekitar 1,5 miliar dollar atau Rp 21,2 triliun. Saat ini, Robert Langer telah memegang lebih dari 1400 paten yang telah dilisensikan lebih dari 400 kali kepada perusahaan farmasi dan medis.

9. Premchand Godha

Premchand Godha meniti karirnya sebagai akuntan sewaan pada tahun 1975. Saat itu ia berhasil melakukan akuisisi pembuat obat yang memiliki basis di Mumbai, Ipca Labs dalam kemitraan dengan keluarga salah satu superstar Bollywood yakni Amitabh Bachchan. Ipca Labs sendiri adalah perusahaan yang memproduksi obat generik dan bahan-bahan farmasi.

Di tahun ini perusahaan tersebut memiliki harga saham yang hampir dua kali lipat karena produksi dan penjualan tinggi atas obat anti malaria hydroxychloriquine yang dianggap kontroversi. Semula, obat ini memiliki potensi sebagai obat penyembuh pandemi.

Namun, WHO melarang penggunaan obat tersebut karena dianggap tidak memiliki efek terhadap pengurangan angka kematian akibat covid 19. Jumlah kekayaan bersih yang dimiliki Premchand Godha sekitar 1,4 miliar dollar Amerika Serikat atau Rp 19,7 triliun.

10. August Troendle

August Troendle adalah salah seorang CEO sekaligus pendiri dari perusahaan yang bernama Medpace. Medpace merupakan perusahaan yang melakukan kontrak dan uji klinis untuk perusahaan farmasi. Medpace ini didirikan pada tahun 1992 dan dipublikasikan pada tahun 2016.

Sebelum mendirikan Medpace, August Troendle yang merupakan dokter lulusan universitas Maryland berkerja di pengembangan farmasi raksasa Swiss Novataris. Lab Medpace menangani keseluruhan layanan farmasi mulai dari tes usap, antibodi untuk covid 19 sampai uji klinis kompleks atas vaksin.

Diperkirakan jumlah saham yang dimiliki oleh August Troendle di Medpace sekitar 21 persen yang memiliki nilai sekitar 1,3 miliar dollar Amerika Serikat atau Rp 18,3 triliun. Angka inilah yang kemudian menjadikan August Troendle sebagai pengusaha perawatan kesehatan terbaru yang masuk ke dalam deretan miliarder pada tahun 2020