IPS

12 Upacara Adat Aceh yang Perlu diketahui

√ Edu Passed Pass education quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Aceh merupakan sebuah provinsi paling ujung utara dari pulau Sumatera. Budayanya yang paling terkenal adalah tari Saman. Sebenarnya Aceh masih menyimpan banyak kebudayaan lainnya seperti upacara adat yang masih lestari hingga saat ini. Berikut ini adalah upacara adat Aceh yang perlu kamu ketahui.

1. Upacara Adat Troen U Blang

Upacara ini merupakan upacara yang mirip dengan tradisi kenduri di pulau Jawa. Tradisi ini dilakukan oleh para petani menjelang penanaman padi. Tujuan dari dilaksanakan hajatan kini adalah meminta kepada Tuhan agar memberkati ladang mereka dan terhindar dari hama yang dapat mengganggu hasil panen.  

Para istri petani biasanya akan menyiapkan nasi dengan lauk pauknya yang dibungkus dengan pisang. Kemudian mereka akan berkumpul di ladang kosong yang rimbun dan memakan makanan mereka bersama. Tradisi ini sudah ada sejak dahulu kala dan masih berjalan hingga saat ini. 

2. Upacara Adat Kenduri Beureuat

Upacara ini merupakan upacara yang dilakukan ketika memasuki pertengahan bulan Sya’ban dalam kalender Hijriah. Waktu pelaksanaannya yaitu setelah magrib hingga isya. Acara ini disebut juga dengan “beureukat” yang artinya berkah. Masyarakat Aceh yang lekat dengan ajaran Islamnya meyakini bulan Sya’ban merupakan bulan pergantian buku catatan amal sehingga mereka mencari keberkahan pada bulan tersebut. 

Tempat yang dipilih untuk melaksanakan tradisi ini umumnya di tempat-tempat suci seperti masjid, mushola, maupun tempat pengajian. Dalam acara ini masyarakat sholat magrib dan berdoa bersama kemudian dilanjut dengan makan bersama. 

3. Upacara Adat Meugang

Beberapa hari menjelang Ramadhan masyarakat Aceh memiliki tradisi yang sudah dilakukan sejak masa Kesultanan Aceh. Upacara tersebut adalah tradisi Meugang atau dikenal juga dengan nama Makmeugang. Upacara ini diisi dengan menyembelih binatang ternak seperti kambing, sapi, atau kerbau. 

Tradisi ini mirip dengan tradisi kurban pada saat Idul Adha hanya saja latar belakangnya berbeda. Kurban pada saat Idul Adha dilatarbelakangi oleh agama sedangkan tradisi meugang berasal dari Sultan Iskandar Muda yang memerintahkan kerajaan untuk menyembelih binatang kurban. Daging kurban  dibagikan kepada rakyatnya sehari sebelum bulan Ramadhan. 

4. Upacara Adat Peusijuek

Masyarakat Aceh ketika telah mendapatkan apa yang diharapkan maka mereka akan menggelar acara syukuran yang disebut dengan Peusijuek. Umumnya mereka akan menggelar acara ini ketika memperoleh benda berharga seperti sawah, pernikahan, mobil atau motor baru, kenaikan jabatan, rumah dan lainnya. 

Prosesi upacara akan dipimpin oleh seorang pemuka agama yang akan memandu berdoa. Upacara ini memerlukan beberapa bahan yang mempunyai arti tersendiri seperti rerumputan dan daun-daunan yang merupakan simbol dari keharmonisan. Selain itu terdapat beras dan padi sebagai simbol dari kemakmuran dan kesuburan, air dan tepung ketan yang merepresentasikan rasa kekeluargaan dan ketentraman. 

5. Upacara Adat Peutron Aneuk

Ritual ini merupakan ritual sakral yang dilakukan untuk bayi yang berusia 44 hari, tiga bulan, lima bulan atau tujuh bulan. Berdasarkan sejarahnya ritual ini sudah ada sejak Kesultanan Samudera Pasai dan terus berlanjut. Tujuannya adalah untuk meminta keberkahan dan keselamatan bagi anak dan keluarganya. 

Prosesi Peutron Aneuk di setiap daerah memiliki perbedaan. Biasanya prosesi tersebut berupa bayi akan diberi doa oleh tokoh agama dan diberi sedikit sari buah-buahan dan makanan lainnya agar indera perasa berfungsi dengan baik. Prosesi lainnya yaitu bayi akan dibawa keluar dan dituntun untuk menginjak tanah untuk pertama kalinya. Namun ada juga yang melakukannya dengan cara memandikan anak di masjid. 

6. Upacara Uroe Tulak Bala

Upacara Uroe Tulak Bala banyak dilakukan oleh masyarakat pesisir Aceh terutama di pantai selatan.Tujuan dari ritual ini sesuai dengan namanya yaitu ”Tulak” yang artinya menolak dan “Bala” yang artinya musibah sehingga artinya adalah menolak segala bentuk musibah. Tradisi ini dilakukan pada bulan Safar kalender Islam tepatnya di hari rabu terakhir. 

Menurut kepercayaan masyarakat Aceh Tuhan akan mengirimkan musibah pada saat bulan Safar. Oleh sebab itu mereka melakukan upacara doa bersama di Masjid pada malam hari. Keesokan harinya mereka akan membuat beberapa makanan seperti kue timpan, ketupat singkong, nasi lemang, ketupat ketan dan makanan khas lainnya. Makanan tersebut akan dibawa ke pemandian dan disantap bersama-sama.

Prosesi ini dipimpin oleh pemuka agama yang akan membacakan air tepung tawa dan membasuhkan kepada masyarakat dengan menggunakan daun. 

7. Upacara Adat Reuhab

Tradisi ini dilakukan ketika ada kerabat yang meninggal dunia oleh masyarakat Gampong Kuta Aceh. Hal yang harus disiapkan dalam upacara ini adalah sebuah kamar yang akan di sakralkan selama 40 hari. Kamar tersebut akan digunakan untuk menyimpan baju terakhir yang dipakai oleh mendiang, kain dan tikar yang digunakan untuk membungkus jenazah ketika dimakamkan, dan juga, bantal, guling, sprei, alat sholat, Al-qur’an dan tirai untuk menghias dinding. 

Kamar tersebut diberi wewangian seperti kemenyan dan tidak boleh dalam keadaan gelap. Di malam terakhir yaitu malam ke 40 akan diadakan doa bersama yang dikenal dengan sebutan Samadiah. Ritual ini wajib dilakukan jika tidak maka akan dianggap tidak menghormati mendiang. 

8. Upacara Jak Ba Ranub dan Jak Ba Tanda

Tradisi ini merupakan tradisi lamaran yang dilakukan oleh masyarakat Aceh. Acara ini dilakukan dengan cara orang tua mempelai pria memberi kuasa kepada utusan khusus atau disebut dengan theulangke. Theulungake akan mengatakan maksud kedatangan mereka yaitu untuk meminang. 

Dalam prosesi ini biasanya hantaran yang dibawa berupa daun sirih yang sudah disusun, buah-buahan, makanan, baju dan lain sebagainya. Sirih merupakan simbol dari ikatan antara pria dan wanita jika ada yang melanggar maka ia akan diberi sanksi adat. 

Setelah Jak Ba Ranub selesai maka akan dilanjut dengan prosesi Jak Ba Tanda yaitu acara untuk menentukan waktu pernikahan. 

9. Upacara Adat Seumeuleung

Tradisi Seumeuleung merupakan sebuah ritual yang dilakukan sebagai tanda terimakasih dari rakyat kepada Raja. Hal tersebut sudah berlangsung sejak Aceh berada dibawah kekuasaan Samudera Pasai. Dalam tradisi ini dayang kerajaan akan menyuapi sang Raja dengan hasil panen terbaik mereka. 

Setelah itu Raja akan memberi sambutan berupa pidato mengenai persatuan, adat istiadat  serta hukum. Setelah semuanya selesai maka rakyat dipersilahkan untuk menikmati hidangan yang sudah disediakan oleh Raja. Waktu pelaksanaan Seumeuleung yaitu tepar bersamaan dengan Idul Adha. 

10. Upacara Adat Meuleumak

Upacara adat ini justru berasal dari anak-anak muda di Gampong Lamkawe, Kabupaten Pidie. Mereka ingin menguatkan rasa persaudaraan sesama masyarakat Aceh dan terbentuklah acara memasak bersama yang disebut dengan Meuleumak. Biasanya tradisi ini akan diadakan pada saat Idul Fitri. 

Masakan yang dibuat dalam acara Meulemak biasanya makanan khas Aceh seperti leumang, bebek gulai kurma, seupet kuwet dan lain sebagainya. 

11. Upacara Adat Khanduri Pang Ulee

Khanduri Pang Ulee merupakan sebuah tradisi yang digunakan untuk merayakan kelahiran Nabi Muhammad atau umumnya dikenal dengan Maulid Nabi. Masyarakat Aceh umumnya akan merayakan maulid nabi antara bulan Rabiul Awal, Rabiul Akhir, dan Jumadil Ula. 

Masyarakat baik yang muda maupun yang tua akan berkumpul ke masjid setelah Isya untuk berdzikir dan mengagungkan nama Rasulullah. 

12. Upacara Adat Reusam Ziarah

Pada hari ketiga setelah lebaran Idul Fitri orang-orang di Sibreh Keumudee mempunyai tradisi yaitu mengunjungi makam leluhur. Tradisi tersebut dikenal dengan nama Reuseum Ziarah yang memiliki tujuan untuk memberi doa kepada mendiang. Setelah melakukan doa, acara akan dilanjutkan dengan makan bersama terutama dengan anak-anak yatim. Tradisi ini sudah berlangsung sejak tahun 1900 an.