Sejarah Kerajaan Aceh – Raja – Peninggalan

√ Edu Passed Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Selain kerajaan Cirebon, kerajaan Demak, kesultanan Banten dan kerajaan Islam lainnya, Aceh juga tercatat menjadi salah satu kerajaan yang turut menyebarkan Islam.

Tertulis bahwa kerajaan Aceh berkembang maju pada jamannya. Aceh merupakan salah satu pintu masuk penyebaran agama Islam Nusantara karena letaknya yang strategis.

Berada di ujung Nusantara, dengan jalur perdagangan yang masih melalui lautan. Kesultanan Aceh berdiri selama 407 tahun lamanya yakni mulai 1496 hingga 1903 M.

Latar Belakang Kerajaan Aceh

Kerajaan Aceh tercatat berdiri bersamaan dengan dinobatkannya Sultan Ali Mughayat Syah sebagai raja ke -1 Aceh.

Pada tanggal 1 Jumadil Awal 913 H, Bandar Aceh Darussalam dijadikan ibu kota Aceh dan penobatan ketika itu berlangsung.

Awalnya pelabuhan Pasai dan Pedir berkembang pesat dalam jalur perdagangan rempah berupa lada.

Di antara pelabuhan tersebut, muncul pula suatu kerajaan bernama Aceh yang sama kuatnya dalam hal perdagangan.

Aceh muncul di abad ke -16 dimana jalur perdagangan berganti melalui Tanjung Harapan dan Sumatera.

Aceh dan pelabuhan Pasai serta Pedir menjadi lebih kuat. Masyarakat di sana pun sangat pandai menjual rempahnya dengan harga yang tinggi.

Bersamaan dengan itu pula, munculnya Portugis yang sedikit demi sedikit mulai menjajah Indonesia.

Dampak penjajahan Portugis bagi bangsa Indonesia yang bisa dilihat ketika itu adalah dengan memanfaatkan daerah-daerah disana untuk menguasai Malaka dan sekitarnya.

Dari sinilah, pemberontakan mulai terjadi dan peperangan antara kerajaan Aceh dan Portugis tak terelakkan.

Kerajaan Aceh terus berkembang dan memperluas wilayahnya, hingga berhasil menyatukan dan menundukkan beberapa wilayah di sekitarnya.

Raja-raja Yang Menjabat di Kerajaan Aceh

1. Sultan Ali Mughayat Syah (1514 hingga 1528 M)

Sultan Ali dinobatkan bersamaan dengan berdirinya kerajaan Aceh. Beliau memimpin Aceh dari tahun 1514 hingga 1528 M.

Pada tahun 1520, Sultan Ali menggerakkan kampanye militer untuk menguasai daerah Sumatera bagian utara.

Terus berlanjut, pasukan Sultan Ali juga memperluas wilayah hingga ke pantai timur Sumatera.

Hal ini dilakukan untuk memperkuat perekonomian kerajaan karena di pesisir timur terkenal akan rempah-rempahnya.

Karena hal inilah, ketika itu banyak dijumpai pelabuhan-pelabuhan yang didirikan oleh Sultan Ali.

Tercatat dalam sejarah bahwa Sultan Ali juga memperluas wilayah ke daerah Deli dan Aru.

Daerah tersebut merupakan daerah terakhir yang ditaklukan oleh beliau. Ketika di Deli, pasukan Sultan Ali Mughayat Syah mampu mengusir Portugis.

Namun di tahun 1524, pasukannya kalah oleh Portugis ketika melakukan penyerangan terhadap Aru.

Sultan Ali pada akhirnya wafat di tahun 1530 dan kepemimpinan digantikan oleh putranya.

2. Sultan Salahuddin (1528-1537 M)

Sultan Aceh yang kedua merupakan anak dari Sultan Ali Mughayat Syah. Beliau memimpin Aceh selama 9 tahun dari 1528-1537.

Dalam masa pemerintahannya, sangat berkebalikan dengan ayahnya maupun saudaranya yang nantinya menggantikan Sultan Salahuddin.

Di masa kepemimpinan ayahnya, Aceh menjadi lebih berjaya dan berkembang.

Namun di masa kepemimpinan Sultan Salahuddin, Aceh mengalami kemunduran karena tidak memperdulikan kerajaan.

Karena tidak ingin Aceh semakin merosot, akhirnya kepemimpinan jatuh pada adiknya yakni Sultan Alauddin al-Qahhar.

3. Sultan Alauddin al-Qahhar (1537-1568 M)

Sultan Alauddin memimpin Aceh dari tahun 1537-1568 M. Sama seperti ayahnya, Aceh berkembang maju dan pesat di bawah masa pemerintahannya.

Salah satu interaksi ekonomi Aceh yang terjadi pada saat itu adalah dengan mengembangkan diri menjadi bandar utama Asia bagi pedagang-pedagang muslim dari berbagai negara.

Ini karena lokasi Aceh yang strategis dan membuatnya mudah mendapatkan peluang sebagai tempat transitnya rempah-rempah yang berasal dari Maluku.

Tak hanya ekonomi saja yang dikembangkan, Sultan Alauddin juga memperkuat pasukan militer. Beliau memfokuskan penguatan militer pada angkatan laut.

Beliau tau bahwa Aceh membutuhkan bantuan, sehingga ia meminta bantuan pada Turki untuk mengusir Portugis serta memperluas wilayah ke pedalaman Sumatera.

Tahun 1547, Sultan Alauddin terlibat dalam penyerangan menuju kerajaan Malaka namun gagal. Beliau juga menyerang kerajaan Aru yang pada akhirnya dilawan oleh pasukan kerajaan Johor.

Setelah tahun 1547, kesultanan Aceh menjadi damai dan tentram selama 10 tahun lamanya di bawah kepemimpinan Sultan Alauddin.

3. Sultan Iskandar Muda (1607-1636 M)

Sultan Iskandar Muda merupakan cicit dari Sultan Alauddin al-Kahhar. Masa pemerintahannya dimulai tahun 1607-1636 M.

Puncak kejayaan kerajaan Aceh terjadi pada masa kepemimpinan Sultan Iskandar Muda.

Aceh tumbuh menjadi kerajaan yang besar dan sebagai bandar transit pedagang-pedagang mancanegara.

Islam juga semakin gencar disebarkan melalui jalur perdagangan pada masa kejayaan Sultan Iskandar Muda.

Demi semakin besarnya pemerintahan Aceh pada waktu itu, Sultan Iskandar Muda berniat untuk menyerang Portugis dan kerajaan Johor.

Hal ini dilakukan supaya Aceh dapat menguasai jalur perdagangan di Selat Malaka serta menguasai daerah lain yang menghasilkan lada.

Dalam masa pemerintahannya pula, Sultan Iskandar Muda menolak Inggris dan Belanda yang ingin membeli lada di bagian barat daerah pesisir Sumatera.

Bahkan Aceh pada waktu itu mampu menguasai daerah-daerah seperti:

  • Aru
  • Pahang
  • Kedah
  • Perlak dan
  • Indragiri untuk tunduk di bawah pemerintahannya.

Pada tanggal 27 Desember 1636, Sultan Iskandar Muda wafat dan dimakamkan di Bandar Aceh Darussalam, Kesultanan Aceh.

4. Sultan Iskandar Thani (1636 hingga 1641 M)

Setelah wafatnya Sultan Iskandar Muda, pemerintahan dilanjutkan oleh menantunya yang bernama Sultan Iskandar Thani.

Masa pemerintahan Sultan Iskandar Thani sejak tahun 1636 hingga 1641 M. Pada saat itu armada Aceh sudah mulai mengalami kemunduran sejak tahun 1629.

Karena hal itu, Sultan Iskandar Thani tidak dapat melanjutkan masa-masa kejayaan seperti ayah mertuanya terdahulu.

Meski mengalami kesulitan, Sultan Iskandar Thani terkenal sebagai pemimpin yang kuat.

Beliau sanggup menekan para bangsawan Aceh untuk tetap memposisikan sistem pemerintahan di bawah kendali kerajaan.

Hanya 5 tahun saja, Aceh dipimpin oleh Sultan Iskandar Thani. Beliau wafat di tahun 1641.

Hal ini membuat Aceh tidak memiliki perubahan apa-apa menuju perkembangan yang lebih maju.

Sepeninggal Sultan Iskandar Thani, kerajaan Aceh menjadi kacau balau karena pemberontakan yang terjadi disana-sini.

Meski permaisuri Sultan Iskandar Thani menggantikan posisinya, namun para bangsawan justru malah menggerakkan roda pemerintahan.

Berganti-ganti raja/ratu yang memimpin hanyalah sebagai boneka saja. Hingga akhirnya di awal abad 19, kerajaan Aceh harus mengalami kemunduran.

Masa Kejayaan Kerajaan Aceh

Masa emas kerajaan Aceh adalah ketika Sultan Iskandar Muda memimpin di tahun 1607-1636.

Selama 29 tahun itulah Aceh berada pada puncak kejayaan. Semenanjung Malaka berhasil ditaklukkan dan Aceh menjadi bandar transit perdagangan rempah berupa lada.

Kehidupan ekonomi masyarakat Aceh semakin makmur. Banyak bangunan-bangunan didirikan di masa kepemimpinan Sultan Iskandar Muda.

Bangunan-bangunan tersebut diantaranya Masjid Raya Baiturrahman, Taman Sari Gunongan, Masjid Tua Indrapuri dan banyak infrastruktur lainnya.

Dalam masa pemerintahan Sultan Iskanda Muda pula, Aceh dapat menjalin hubungan dengan beberapa negara terutama Turki dan Prancis.

Sebab Runtuhnya Kerajaan Aceh

Setelah wafatnya Sultan Iskandar Thani dan dilanjutkan oleh permaisurinya, Sri Alam, tidak ada lagi yang mampu memimpin Aceh dan membawanya ke dalam masa kejayaan.

Para raja maupun ratu yang memimpin setelahnya, sudah tidak begitu berarti di Aceh.

Perdebatan terus terjadi antar golongan ulama yang disebut dengan Teungku dan golongan bangsawan yang disebut dengan Teuku.

Tidak ada lagi pemimpin yang mampu mengatur daerah-daerah kekuasaan Aceh yang begitu luas.

Sehingga hal inilah yang membuat banyak daerah di bawah naungan Aceh saling melepaskan diri.

Perebutan kekuasan pun terjadi. Banyak bangsawan yang ingin berlaku semena-mena dan tidak ingin ada di bawah pengaruh raja/ratu Aceh.

Dalam beberapa tahun lamanya Aceh terus mengalami kemunduran, akhirnya pada abad ke 19 yakni tahun 1903 M, Aceh harus runtuh. Belanda akhirnya mulai menduduki dan menguasai Aceh sepenuhnya.

Peninggalan Kerajaan Aceh

  • Masjid Raya Baiturrahman

Bangunan bersejarah yang terkenal di Aceh ini merupakan peninggalan kerajaan. Masjid Raya Baiturrahman dibangun tahun 1612 M oleh Sultan Iskandar Muda. Lokasinya berada di pusat Kota Banda Aceh.

  • Masjid Tua Indrapuri

Masjid ini berbentuk seperti candi karena dulunya merupakan bekas benteng dan candi kerajaan hindu.

Tahun 1300 M, lambat laun Islam mulai menyebar dan masyarakat menjadikan candi tersebut sebagai masjid.

Pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda, bangunan candi ini dialih fungsikan sebagai masjid untuk tempat beribadah umat muslim Aceh.

  • Taman Sari Gunongan

Sebuah taman sari yang sangat cantik lengkap dengan gunongan ini dibuat oleh Sultan Iskandar Muda untuk permaisurinya.

Gunongan adalah tempat menghibur diri sang permaisuri agar rindunya terhadap suasana gunung tempat asalnya dapat terpenuhi.

  • Pinto Khop

Pinto Khop ialah pintu gerbang yang berbentuk seperti kubah. Dahulu, permaisuri dari Sultan Iskandar Muda akan bristirahat disini setelah beliau selesai berenang.

Di dekat pinto khop ini terdapat sebuah kolam untuk permaisuri mandi bunga.

  • Benteng Indrapatra

Benteng Indrapatra ini dulunya berfungsi sebagai tembok pelindung ketika Portugis menembakkan meriamnya.

Benteng yang dibangun sejak masa kerajaan hindu tertua di Aceh ini masih ada dan terletak di Desa Ladong, Masjid Raya, Kabupaten Aceh.

  • Meriam Kerajaan Aceh

Di bagian dalam Benteng Indrapatra maupun di museum Aceh terdapat beberapa jenis meriam khas pemerintahan Aceh terdahulu.

Ini membuktikan bahwa Aceh dulunya menimba ilmu dari rekannya yakni kerajaan Turki.

  • Uang Emas Kerajaan Aceh

Disebut juga koin emas, terbuat dari 70% emas murni dan dicetak dengan nama-nama raja yang memimpin di Aceh.

Koin-koin emas ini dulunya digunakan oleh kesultanan Aceh untuk bertransaksi.

Koin emas ini pula lah yang dapat membuktikan bahwa Aceh dulunya merupakan sebuah kerajaan berjaya yang menjadi jalur pelayaran dan perdagangan bagi penjuru Asia.

Salah satu peninggalan kerajaan Aceh yang berupa karya sastra. Isinya merupakan hikayat yang membangkitkan semangat jihad untuk menegakkan agama Islam. Karya sastra ini dibuat oleh para ulama pada masanya.

Demikian penjelasan mengenai sejarah kerajaan Aceh, semoga bermanfaat.

fbWhatsappTwitterLinkedIn