Biografi Alimin: Peran dan Perjuangannya

√ Edu Passed Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Alimin bin Prawirodirdjo atau yang dikenal dengan Alimin merupakan salah satu tokoh pergerakan nasional di era kemerdekaan Indonesia. Beliau juga merupakan salah satu tokoh kiri yang berideologi komunis yang mendapat gelar Pahlawan Nasional Indonesia berdasarkan SK atau Surat Keputusan Presiden  No. 163 Tahun 1964.

Berkas:Alimin a2092aa.jpg - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Kelahiran Alimin

Tidak diketahui secara pasti kapan tanggalnya, namun Alimin lahir pada tahun 1889 di Kota Solo dari sebuah keluarga dengan perekonomian yang kurang baik. Meski keluarganya tergolong miskin, akan tetapi jiwa sosial Alimin telah tampak bahkan sejak dia masih kanak-kanak.

Catatan sejarah menyebutkan bahwa suatu ketika Alimin kecil diberi beberapa keping uang oleh seorang Belanda yang menjabat sebagai Penasehat Urusan Pribumi bernama G.A.J. Hazeu. Setelah menerima uang tersebut, Alimin justru membagik-bagikannya kepada kawan-kawan sepermainannya. Tindakan Alimin tersebut menimbulkan rasa simpati dalam hati Hazeu yang kemudian menjadikan Alimin sebagai anak angkatnya.

Dengan dukungan Hazeu, Alimin bersekolah di sekolah Eropa yang ada di Betawi. Hazeu berharap kelak Alimin akan menjadi pegawai pemerintah, meski pada akhirnya Alimin memilih untuk terjun ke dunia politik dan menjadi jurnalis.

Masa Remaja dan Masa Dewasa Alimin

Sejak masa remajanya, Alimin sudah tertarik untuk bergabung pada berbagai organisasi politik  saat itu seperti Budi Utomo, Sarekat Islam (SI),  Insulinde, dan terakhir dia bergabung dengan Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV) yang kemudian menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI).

Selain aktif dalam dunia politik, Alimin juga aktif menjadi jurnalis. Dia berkerja sebagai wartawan koran Djawa Moeda dan juga pernah menjadi editor untuk jurnal Modjopahit.

Masa dewasa Alimin banyak dihabiskan untuk perjuangan dan pergerakan bersama Partai Komunis. Kiprahnya bahkan membawa Alimin masuk ke dalam jeruji besi akibat pemberontakan yang direncanakannya. Tidak hanya di Indonesia, Alimin juga pergi ke Moskow dan Guangzhou untuk memperdalam mengenai idiologi komunisme.

di era orde lama, Alimin sempat menjadi salah satu anggota konstituante. Hanya saja kiprahnya di PKI harus berhenti ketika DN Aidit mendirikan kembali Partai Komunis Indonesia secara legal pada tahun 1950.

Setelah nonaktif dari PKI, Alimin kemudian menikah dengan Hajjah Mariah. Dalam pernikahannya tersebut, ia dikaruniai dua orang putra, yakni Tjipto dan Lilo. Alimin dan keluarganya menetap di Jakarta hingga ia tutup usia pada tahun 1964.


Peran dan Perjuangan Alimin

Hidup di era perjuangan membawa Alimin muda aktif dalam berbagai organisasi pergerakan. Awalnya ia bergabung sebagai jurnalis untuk koran Djawa Moeda serta bergabung dengan organisasi pelopor era kebangkitan Nasional, Budi Utomo.

Ketika muncul organisasi Sarekat Islam yang lebih tegas dan frontal perlawanan politiknya terhadap pemerintah kolonial Belanda, Alimin memilih bergabung dengan Sarekat Islam. Dia bahkan pernah tinggal di rumah kos milik pemimpin Sarekat Islam, Tjokroaminoto.

Disamping itu, bersama dengan dr. Tjipto Mangunkusumo, Alimin bergabung dengan organisasi Insulinde dan juga menjadi editor untuk jurnal Modjopahit di Batavia. Alimin juga turut aktif dalam mengorganisir para buruh pelabuhan dan pelaut, bahkan turut mendirikan Sarekat Pegawai Pelabuhan dan Lautan (Sarekat Buruh Pelabuhan).

Ketika idiologi komunis masuk dan berkembang di Indonesia, berdirilah sebuah organisasi komunia pertama yang bernama Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV) yang kemudian menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Alimin pun bergabung ke dalam ISDV dan menjadi pimpinan untuk wilayah Jakarta sejak 1918.

Dalam sebuah buku berjudul “Para Jago dan Kaum Revolusioner Jakarta 1945-1949” (2010), karya Robert Cribb, disebutkan bahwa Alimin yang bergerak di pelabuhan Tanjung Priok dan juga menjalin hubungan dengan para  jawara Banten. Sikap militansi dan solidaritas dari para jawara tersebut mendorong  Alimin untuk merekrut mereka ke dalam organisasi pergerakannya dengan harapan mereka bisa melindungi PKI dari gangguan para penjahat yang disewa pemerintah kolonial maupun para kapitalis industri.

Pada awal tahun 1926, Alimin sebagai pimpinan PKI wilayah Jakarta, pergi ke Singapura untuk mengadakan perundingan dengan Tan Malaka guna mempersiapkan rencana pemberontakan. Pada tanggal 12 November 1926 pecah pemberontakan Kaoem Merah oleh PKI.

Alimin dan juga Musso kemudian ditangkap oleh polisi Inggris. Sekeluarnya dari penjara, Alimin bertolak ke Moskow, Uni Soviet, untuk bergabung dengan Komintern. Disana ia bertemu dengan Ho Chi Minh yang kemudian mengajaknya pergi ke Guangzhou, Kanton. Secara ilegal, Alimin juga terlibat dalam pendidikan kader-kader komunis di  Laos, Vietnam, dan Kamboja yang berjuang melawan penjajah di negaranya masing-masing. Ketika Jepang menyerang Cina, Alimin juga turun ke basis perlawanan di Yenan untuk bergabung dengan tentara merah disana.

Pada tahun 1946, Alimin kembali ke tanah air dan bergabung dengan para seniornya di Partai Komunis. Alimin juga sempat menjadi salah satu anggota konstituante di era Soekarno.

Pada tahun 1950, DN Aidit kembali mendirikan Partai Komunis secara legal dan menjadi Ketua Komite Pusat PKI. Sayangnya, Aidit tidak mengindahkan sosok Alimin. Meski demikian, Alimin tetap sering dikunjungi oleh para pengikutnya.

Membahas Wafatnya Alimin

Alimin meninggal dunia pada usianya yang ke-75 tahun, tepatnya pada tanggal 24 Juni 1964 di Jakarta. Atas segala perannya di era perjuangan kemerdekaan, Soekarno yang kala itu masih menjabat sebagai Presiden Indonesia menganugerahi Alimin dengan gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional melalui Keppres No. 163 tahun 1964 yang dikelurkan dua hari setelah kematian Alimin, yakni pada tanggal 26 Juni 1964.

Setahun lebih setelah kematian tokoh besar komunis Indonesia ini, meletuslah pemberontakan Partai Komunis yang didalangi oleh DN Aidit yang berujung pada ditetapkannya PKI sebagai organisasi dan ideologi terlarang hingga saat ini.

fbWhatsappTwitterLinkedIn