Sejarah

Candi Muaro Jambi: Sejarah – Fungsi dan Faktanya

√ Edu Passed Pass education quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Tidak hanya di pulau Jawa, di Pulau Sumatera terdapat salah satu provinsi yang juga menjadi salah satu saksi sejarah penyebaran agama Buddha. Yap, provinsi tersebut adalah Jambi. Adapun peninggalan yang paling bersejarah di Jambi yaitu Candi Muaro Jambi.

Apa itu Candi Muaro Jambi?

Candi Muaro Jambi merupakan kompleks candi bercorak Hindu-Buddha yang terluas di Asia Tenggara. Candi ini diperkirakan merupakan candi peninggalan dari Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Melayu. Lokasi candi berada di Kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi. Tepatnya berada di tepi Batang Hari yakni sekitar 26 km ke arah timur dari Kota Jambi.

Adapun wilayah-wilayah yang tercakup dalam kawasan Candi Muaro Jambi yakni Desa Dusun Baru, Desa Danau Lamo, Desa Muaro Jambi, Desa Kemingking Luar, Desa Teluk Jambu, Desa Kemingking Dalam, serta Desa Dusun Mudo.

Ciri-ciri Candi Muaro Jambi

Bentuk Bangunan Candi Muaro Jambi

Candi ini memiliki sekitar 110 candi di mana sebagian besarnya itu masih berupa gundukan tanah yang belum dikupas. Selain itu, terdapat juga beberapa bangunan dengan bercorak Hindu. Di sekitar Candi Muaro Jambi ini juga ada sebuah sungai kecil yang berbentuk seperti parit dengan lebar sekitar 2- 3 meter. Sungai tersebut dibuat dengan mengelilingi candi dan berfungsi sebagai pembatas.

Adapun kompleks Candi Muara Jambi yang sudah dilakukan pemugaran diantaranya yakni:

  • Candi Tinggi yang terdapat 1 bangunan induk dan 6 buah bangunan perwara serta pahgar keliling.
  • Candi Kembar Batu yang terdapat 1 candi induk, 5 bangunan perwara yang sudah dipugar, 2 bangunan perwara uang belum dipugar, serta 2 bangunan yang masih belum diketahui fungsinya. Selain itu, ada juga paar keliling, gapura dan parit.
  • Candi Gumpung terdapat candi induk dan bangunan perwara.
  • Candi Gedong I terdapat 6 umpak batu, pecahan arca, arca berhias dan bertulis serta pecahan genting dan juga pecahan keramik.
  • Candi Gedong II terdapat bangunan induk.
  • Candi Kedaton terdapat bangunan induk, bangunan perwara, gapura dan juga pagar.
  • Candi Koto Mahligai terdapat bangunan induk dan bangunan perwara.
  • Bukit perak terdapat gundukan utama dan gundukan untuk jalan masuk.
  • Candi Astano terdapat bangunan induk, 14 buah arca batu, pipisan, lesung batu, serta manik-manik dan juga keramik.
  • Menapo terdapat 75 buah menapo.

Ukuran Candi Muaro Jambi

Adapun ukuran dari Candi Muaro Jambi beserta bangunan kompleks lainnya yang ada di dalam kompleks candi ini antara lain:

  • Candi Muaro Jambi memiliki luas sekitar 12 km persegi dengan panjangnya lebih dari 7 km.
  • Candi ini juga memiliki luas sekitar 260 hektar yang membentang searah dengan jalur sungai.
  • Candi Muara Jambi berada di ketinggian 14 m di atas permukaan laut dan merupakan daerah tanggul alam dari Sungai Batanghari.
  • Candi Tinggi memiliki luas sekitar 2,92 hektar.
  • Candi Kembar Batu memiliki luas sekitar 0,371 hektar.
  • Candi Gumpung memiliki luas sekitar 0,232 hektar.
  • Candi Gedong I memiliki luas sekitar 0,552 hektar.
  • Candi Gedong II memiliki luas sekitar 0,506 hektar.
  • Candi Kedaton memiliki luas sekitar 4,3 hektar.
  • Candi Kotomahligai memiliki luas sekitar 0,108 hektar.
  • Bukit Perak memiliki luas sekitar 1,2 hektar.
  • Menapo memiliki luas sekitar 3,981 hektar.

Sejarah Candi Muaro Jambi

Candi Muaro Jambi ini diperkirakan telah dibangun sejak abad ke-11 Masehi. Candi ini adalah kompleks candi yang terbesar dan paling terawatt di Pulau Sumatera. Bahkan sejak tahun 2009, kompleks Candi Muaro Jambi sudah dicalonkan ke UNESCO sebagai situs warisan dunia. Sebelumnya itu, juga sempat dilaporkan pertama kali pada tahun 1824 oleh S.C. Crooke yang merupakan seorang letnan inggris. Ketika itu, Crooke melakukan pemetaan daerah aliran sungai untuk kepentingan militer.

Kemudian di tahun 1975, pemerintah Indonesia mulai melakukan suatu pemugaran terhadap Candi Muaro Jambi yang dipimpin oleh R. Soekmono. Menurut aksara Jawa Kuno, pada beberapa lempeng yang ada di candi tersebut berkisar dari abad ke-7 hingga abad ke-12 Masehi. Saat itu, hanya 9 bangunan yang sudah mengalami pemugaran di mana semuanya merupakan bercorak Buddha. Adapun di antaranya adalah Candi Kotomahligai, Kedaton, Gedong I, Gedong II, Gumpung, Tinggi, Telago Rajo, Kembar Batu, dan Candi Astano.

Sejak abad ke-7 Masehi, Candi Muaro Jambi ini sudah dijadikan sebagai pusat pendidikan agama Buddha. Jika berdasarkan catatan Biksu It Sing pada abad ke-7, terdapat ribuan siswa yang telah belajar tata bahasa sanksekerta. Namun peradaban Candi Muaro Jambi ini mulai terhapus akibat bencana banjir bandang yang terjadi sekitar abad ke-15 Masehi. Setelah itu, datang lagi musibah baru berupa wabah penyakit kolera yang menyerang masyarakat setempat termasuk biksu.

Akhirnya, kedua bencana tersebut telah membuat generasi masyarakat ketika itu terputus. Kemudian mulai pada abad ke-16 Masehi, masyarakat melayu yang merupakan generasi berbeda menjadi penghuni area yang hingga kini telah menjangkau tujuh desa di sekitar kawasan Candi Muaro Jambi.

Fungsi Candi Muaro Jambi

Adapun beberapa fungsi dari Candi Muaro Jambi yang perlu diketahui antara lain:

  • Sama dengan candi pada umumnya, Candi Muaro Jambi ini juga dibangun mulanya dijadikan sebagai tempat untuk beribadah umat Buddha.
  • Candi Muaro Jambi ini juga difungsikan sebagai tempat atau pusat pendidikan ajaran Buddha pada masa Kerajaan Sriwjaya yakni di abad ke-7.
  • Ketika bencana banjir melanda, Candi Muaro Jambi ini sempat difungsikan sebagai pemanfaatan potensi ekonomi seperti menyewakan perahu untuk mengelilingi kawasan candi tersebut.
  • Hingga kini, Candi Muaro Jambi telah menjadi objek wisata bersejarah. Saat datang ke candi ini, pengunjung juga biasanya mengunjungi beberapa candi lainnya yang masih di kawasan candi tersebut.

Fakta Tentang Candi Muaro Jambi

Selain pembahasan mengenai sejarah hingga fungsinya, ada beberapa fakta-fakta unik dari Candi Muaro Jambi yang perlu diketahui, antara lain:

  • Menjadi salah satu warisan dunia yang telah ditetapkan oleh UNESCO pada tahun 2009.
  • Usia Candi Muaro Jambi lebih tua dibandingkan dengan Candi Borobudur. Hal ini dikarenakan candi ini dibangun sejak abad ke-7, sedangkan Candi Borobudur dibangun pada abad ke-8 sampai ke-9.
  • Candi yang memiliki area delapan kali lebih luas dibandingkan Candi Borobudur. Luas dari kompleks Candi Muaro Jambi ini mencapai 12 km persegi yang setara dengan delapan kali lebih luas dari luasnya Candi Borobudur.
  • Candi yang memiliki bentuk mirip dengan salah satu universitas yang ada di India yakni Universitas Nalanda.
  • Di kawasan candi ini, terdapat sisa-sisa peninggalan sebanyak 82 reruntuhan candi.
  • Candi ini dapat diakses melalui sungai. Kanal dan parit yang ada di sana dapat menghubungkan antara kompleks candi yang satu dengan candi lainnya.

Kini, Candi Muaro Jambi tentunya telah menjadi salah satu objek wisata di Pulau Sumatera terutama di Provinsi Jambi. Hingga saat ini, sudah terdapat puluhan bahkan ratusan peninggalan yang ditemukan di kawasan candi tersebut. Meskipun baru sebagian kecil yang sudah mengalami pemugaran, akan tetapi hal tersebut tentunya tidak mengurangi keindahan dan keunikan dari Candi Muaro Jambi itu sendiri.