Sejarah Kerajaan Sriwijaya – Raja – Peninggalan

√ Edu Passed Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Jika Kerajaan Demak adalah kerajaan Islam terbesar di Pulau Jawa. Maka pada abad ke-7 Masehi, berdiri sebuah kerajaan terbesar di nusantara. Kerajaan ini diberi nama kerajaan Sriwijaya.

Kerajaan ini sangat berbeda dengan kesultanan Banten, kerajaan Pajang, dan kerajaan Mataram Islam yang hanya memiliki kekuasaan di daerahnya saja. Cangkupan wilayah kerajaan Sriwijaya sangatlah besar.

Saking besar dan luasnya wilayah kekuasaan Sriwijaya, pada waktu itu sempat dijuluki sebagai Kerajaan Nasional.

Berikut ini merupakan ulasan mengenai latar belakang, raja yang menjabat, peninggalan, hingga sejarah kejayaan dan kemunduran Sriwijaya.

Latar Belakang Kerajaan Sriwijaya

Kerajaan Sriwijaya muncul pada abad ke 7, lebih tepatnya tahun 600-an hingga 1100-an.

Disebut sebagai Kadatuan Sriwijaya, berpusat di pulau Sumatera, kerajaan ini memiliki kawasan hampir seluruh Nusantara hingga negara-negara lain di sekitarnya.

Sriwijaya masuk ke dalam kerajaan hindu budha yang masih menggunakan bahasa sansekerta, jawa dan melayu kuno.

Nama Sriwijaya menggambarkan tentang kemenangan yang gilang gemilang. Hal ini memang terbukti dari puncak kejayaannya dan luas wilayah yang dicakup.

Menjadi pusat perdagangan, kala itu ingkup kawasannya mencakup daerah Asia Tenggara.

Tak ada yang tahu menahu mengenai bagaimana awal mula Sriwijaya berdiri. Hanya beberapa para ahli yang menemukan prasasti-prasasti serta catatan I Tsing mengenai Sriwijaya.

Prasasti tersebut tertulis bahwa Sriwijaya telah ada tahun 671. Kerajaan Melayu dan Kedah merupakan bagian dari kemaharajaan Sriwijaya.

Tertulis juga bahwa pada abad itu, Sriwijaya sukses dan berkembang menjadi kerajaan besar yang mampu mengatur jalur perdagangan maritim.

Hal ini dapat dibuktikan dari adanya pengakuan pedagang India yang pernah bekerja sama dengan Sriwijaya.

Bahkan beberapa pedagang Arab dan Cina juga mengaku pernah melakukan perdagangan di Sriwijaya pada zamannya.

Raja-raja Yang Menjabat di Kerajaan Sriwijaya

Berikut adalah raja-raja yang memimpin dalam pemerintahan Sriwijaya:

1. Dapunta Hyang atau Sri Jayanasa (671 M)

Ketika itu ibukota Sriwijaya berada di Shih-li-fo-shih atau nama lain dari Sriwijaya.

Berdasarkan catatan I Tsing, Sri Jayanasa menaklukan melayu dan Jawa pada tahun 671-685. Ia melakukan perluasan wilayah hingga ke Jambi.

Beliau tertulis dalam :

  • Prasasti Kedudukan Bukit di tahun 683
  • Prasasti Talang Tuo di tahun 684
  • Prasasti Kota Kapur di tahun 686
  • Prasasti Karang Birahi dan
  • Prasasti Palas Pasemah.

Sri Jayanasa memimpin Sriwijaya pada tahun 671 dan bercita-cita ingin Sriwijaya menjadi kerajaan maritim.

2. Sri Indrawarman (724 M)

Beliau tercatat menjadi raja Sriwijaya dengan adanya bukti dalam Berita Cina tahun 724 M.

Beliau menjadi utusan Tiongkok pada tahun 702 hingga 716 Masehi dan pada tahun 724 Masehi.

3. Rudra Wikrama (728-774 M)

Masih di ibukota Shih-li-fo-shih, raja berikutnya ialah Rudra Wikrama.

Ia menjabat tahun 728 hingga 742 Masehi dan berlanjut dari 743 hingga 774 Masehi.

Ada dalam Berita Cina tahun 728 Masehi, ia menjadi utusan Tiongkok juga pada tahun 728-742 M.

4. Sri Maharaja (775 M)

Sri Maharaja menjadi salah satu raja Sriwijaya dengan adanya bukti Berita Arab tahun 851 M.

Beliau tertulis dalam cerita pada Prasasti Ligor B tahun 775. Prasasti ini menceritakan tentang penaklukan Kamboja oleh Sri Maharaja.

Pada masa pemerintahan Sri Maharaja pula, ibukota Sriwijaya pindah ke Jawa, tepatnya di Yogyakarta. Pada masa ini pula, Wangsa Sanjaya digantikan oleh Wangsa Sailendra.

5. Dharanindra atau Rakai Panangkaran (778 M)

Pada masa ini, ibukota Sriwijaya sudah pindah di Jawa.

Rakai Panangkaran disebut sebagai raja Sriwijaya dengan adanya bukti Prasasti Kelurak dan Prasasti Kalasan.

6. Samaragrawira atau Rakai Warak (782 M)

Sama halnya dengan Rakai Panangkaran, Rakai Warak hanya disebutkan dalam prasasti.

Prasasti yang menceritakan adanya Rakai Warak menjabat adalah Prasasti Nalanda dan Prasasti Mantyasih tahun 907 M.

Pada masa pemerintahan Rakai Warak, tahun 840 terjadi kebangkitan Wangsa Sanjaya.

7. Balaputradewa (861-959 M)

Balaputradewa merupakan raja Sailendra yang bercekcok dengan kakaknya Pramodhawardani pada tahun 856 M.

Hal ini diceritakan di dalam Prasasti Nalanda tahun 860. Saat itu Sriwijaya beribukota di Suwarnadwipa.

Kakaknya yang dibantu oleh Rakai Pikatan dari Wangsa Sanjaya, akhirnya menang dan berhasil membuat Balaputradewa lari ke Sriwijaya.

Pada saat itu, Sriwijaya dipimpin oleh kakek Balaputradewa yang mengangkatnya menjadi raja Sriwijaya.

Balaputradewa memimpin dari 861 hingga 959 M. Dalam masa kepemimpinannya, Sriwijaya berkembang pesat karena Balaputradewa semakin mengembangkan pelayaran dan perdagangan.

Beliau juga menjalin kerja sama erat dengan kerajaan di luar Nusantara.

8. Sri Udayaditya Warmadewa (960 M)

Disebut sebagai raja karena terdapat bukti dalam berita Cina tahun 960 M.

Beliau menjadi utusan ke Tiongkok tahun 960 dan 962 M, serta tahun 980 dan 983 M bersama Raja Haji.

9. Sri Sudamaniwarmadewa (988 M)

Beliau disebutkan dalam Prasasti Leiden tahun 1044 M.

Beliau menjadi utusan ke Tiongkok tahun 988 hingga 1003 M dan sempat membangun candi dengan nama Cheng Tien Wan Shou.

Pada tahun 990 M, ketika kepemimpinan beliau, ketika itu pula peristiwa Jawa menyerang Sriwijaya.

10. Sri Mara Wijayatunggawarman (1008 M)

Sama halnya dengan Sri Sudamaniwarmadewa, Sri Mara Wijayatunggawarman juga disebutkan dalam Prasasti Leiden tahun 1044 M. Beliau diutus ke Tiongkok tahun 1008 M.

11. Sangrama Wijayatunggawarman (1089-1177 M)

Pada masa pemerintahan Raja Sangrama Wijayatunggawarman, Sriwijaya beribukota di Sriwijaya Kadaram.

Pada masa pemerintahannya, beliau ditawan oleh Rajendra Chola I. Cerita ini tertulis pada Prasasti Tanjore.

Kala itu, kerajaan Chola menyerang Sriwijaya dan berhasil merebut kerajaan tersebut.

Raja Sangrama ditawan dan pada akhirnya dibebaskan ketika Raja Kulotungga I memimpin di kerajaan Chola.

Masa Kejayaan Kerajaan Sriwijaya

Besar dan luasnya wilayah kerajaan Sriwijaya memberikan bukti bahwa Sriwijaya sempat mengalami masa-masa kejayaan.

Salah satu yang mendasari semakin besarnya kerajaan Sriwijaya adalah kemunduran yang terjadi pada kerajaan Funan di Indocina.

Kerajaan Funan ketika itu merupakan pemegang utama kemaritiman di daerah tersebut.

Namun pada kala itu, Funan harus runtuh dan digantikan oleh Sriwijaya sebagai negara maritim.

Sriwijaya semakin besar, apalagi letaknya yang strategis, berada di jalur perdagangan nasional.

Sriwijaya menjadi pengendali atas perdagangan rempah dan lokal yang mengenakan pajak di setiap kapal-kapal yang melalui daerahnya.

Hal ini yang membuat Sriwijaya semakin berhasil dan melakukan perluasan wilayah hingga ke kerajaan-kerajaan yang ada di Asia Tenggara.

Apalagi pada saat itu, pedagang Cina dan Arab melalui daerah Sriwijaya untuk berlayar dan berdagang.

Saking luasnya wilayah Sriwijaya, sempat disebutkan bahwa kapal tercepat dalam 20 tahun pun tak akan cukup untuk mengelilingi seluruh wilayah Sriwijaya.

Tak hanya dalam hal pelayaran dan perdagangan saja, Sriwijaya pun maju dalam hal pertanian.

Beberapa hasil bumi seperti kayu gaharu, cengkih, pala, kapulaga, dll berhasil dipanen oleh kerajaan Sriwijaya. Ini dikarenakan tanahnya yang subur.

Sebab Runtuhnya Kerajaan Sriwijaya

Pada kepemimpinan Raja Sangrama Wijayatunggawarman, Sriwijaya mulai dikuasai oleh kerajaan Chola.

Ketika itu, Rajendra Chola menawan raja Sriwijaya dan akhirnya Sriwijaya dapat dilemahkan.

Karena adanya pelemahan ini, banyak wilayah-wilayah Sriwijaya yang melepaskan diri dan membentuk kerajaan sendiri.

Selain itu, banyak munculnya kerajaan besar yang mendesak kedudukan Sriwijaya dalam hal perdagangan seperti kerajaan Aceh, kerajaan Cirebon, dll.

Apalagi saat itu, endapan-endapan lumpur semakin banyak di perairan Indonesia terutama Sungai Musi. Ini menyebabkan Palembang semakin jauh dari lautan.

Karena endapan inilah, banyak perahu yang sulit merapat ke daerah Palembang dan menyebabkan Sriwijaya semakin sulit dalam hal perekonomian.

Peninggalan Kerajaan Sriwijaya

Setelah runtuhnya Sriwijaya, kerajaan tersebut meninggalkan bangunan-bangunan berupa:

  • Candi Muaro Jambi

Candi ini bertempat di tepi sungai Batang Hari, Kecamatan Maro Sebo, Muaro Jambi, Jambi. Dibuat pada abad ke -11, bangunan ini sebagai bukti bahwa Sriwijaya merupakan salah satu kerajaan Hindu Buddha. Luas Candi Muaro Jambi sekitar 3981 hektar.

  • Candi Muara Takus

Berlokasi di Kecamatan XIII Koto, Kampar, Riau, candi ini memiliki beberapa bangunan lain di dalamnya seperti mahligai stupa, palangka, candi bungsu dan sulung.

  • Prasasti Talang Tuwo

Prasasti peninggalan Sriwijaya ini berisi tulisan-tulisan yang mengandung doa.

Dalam prasasti ini juga membuktikan adanya perkembangan agama Budha pada waktu kerajaan Sriwijaya berdiri.

  • Prasasti Palas Pasemah

Prasasti yang satu ini tidak menggunakn bahasa Sansekerta, melainkan Melayu Kuno dan aksara Pallawa.

Dalam prasasti ini tertulis sebuah kutukan kepada siapa saja yang tidak tunduk terhadap kekuasaan dari Sriwijaya.

  • Prasasti Bukit Siguntang

Prasasti ini berisi tuisan tentang sebuah peperangan yang memakan banyak korban jiwa dan letaknya berada di sebuah pemakaman raja-raja Sriwijaya.

  • Prasasti Karang Birahi

Jaman dahulu, rakyat Sriwijaya menulis doa pada para dewa pada sebuah prasasti. Salah satunya Prasasti Karanga Birahi.

Pada prasasti ini tertulis doa-doa untuk meminta hukuman kepada orang-orang yang jahat.

  • Prasasti Kota Kapur

Tak hanya doa untuk kutukan saja, rakyat Sriwijaya pun meminta pengharapan pada dewa dan menulisnya pada sebuah prasasti.

Salah satu prasasti yang berisi doa harapan adalah Prasasti Kota Kapur dan prasasti ini ditemukan di Pulau Bangka barat.

Nah itulah tadi pembahasan mengenai sejarah kerajaan hindu buddha terbesar di Nusantara bernama Sriwijaya. Semoga semakin menambah wawasan kamu ya.

fbWhatsappTwitterLinkedIn