8 Peninggalan Kerajaan Dharmasraya Beserta Gambarnya

√ Edu Passed Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Kerajaan Dharmasraya tidak banyak orang mengetahui keberadaannya. Begitupun dengan jejak peninggalan sejarah dari kerjaan ini. Jejak peninggalan sejarahnya hanya bisa dilihat dari beberapa candi yang telah dilakukan ekskavasi oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Batusangkar.

Upaya ekskavasi pada peninggalan kerajaan Dharmasraya ini telah dilakukan sejak tahun 1990. Namun, terdapat perbedaan bentuk candi dari kerajaan Dharmasraya dengan candi yang ada di Jawa. Candi tersebut terbuat dari batu bata merah, tidak seperti candi di Jawa yang terbuat dari Batu.

Bentuk candi memiliki kemiripan dengan Candu Muara Takus yang ada di Jambi karena sama-sama terbuat dari batu bata merah. Sayangnya, candi-candi peninggalan kerajaan ini banyak mengalami kerusakan parah. Sehingga, meskipun telah dilakukan ekskavasi, hasil candi pembangunan candi ini hanya sampai 2 meter saja.

Selain candi-candi yang telah diekskavasi, terdapat beberapa peninggalan sejarah lainnya dari Kerajaan Dharmasraya. Adapun peninggalan dari kerajaan ini adalah sebagai berikut:

1. Candi Padangroco

Candi Padang Roco, Peninggalan Kerajaan Dharmasraya

Candi Padangroco merupakan salah situs sejarah peninggalan Kerajaan Dharmasraya. Candi ini diperkirakan berada di daerah aliran Sungai Batanghari. Namun, secara administratif, candi ini berada di Jorong SeiLangsek, Kenagarian Siguntur, Kecamatan Sitiung, Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat.

Candi ini ditemukan kembali ada tahun 1992 oleh Suaka Peninggalan Sejarah Purbakala Batusangkar atau yang sekarang disebut dengan BPCB. Penemuan kembali candi ini berdasarkan informasi yang didapat dari salah seorang warga Seilangsek.

Sejak penemuan kembali hingga tahun 1996, situs candi Padangroco dilakukan ekskavasi oleh Suaka Peninggalan Sejarah Purbakala Batu Sangkar yang bekerja sama dengan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.

Hasil dari ekskavasi tersebut adalah pembukaan kompleks candi dengan 4 struktur bangunan yang terbuat semuanya dari bata. Kemudian, keempat struktur tersebut dinamakan dengan Candi I, II, III dan IV. Untuk menuju ke situs bersejarah ini, memerlukan waktu yang tak sebentar.

Kita perlu menempuh waktu sekitar 4 jam dari ibu kota provinsi. Kemudian, tinggal menyebrangi Sungai Batanghari dengan menggunakan perahu dan jalan kaki sekitar 1/4 jam. Saat malam hari, di Kampung Sungai Langsat kita akan menemukan suasana yang cukup hening. Ditambah dengan suara-suara binantang malam yang menemani hingga subuh menjelang.

2. Candi Pulau Sawah

Candi Pulau Sawah, Peninggalan Kerajaan Dharmasraya

Selain ada Candi Padang Roco, ada pula Komplek Candi Pulau Sawah I dan Pulau Sawah II. Komplek candi ini merupakan pondasi awal untuk mengungkap keberadaan daerah Dharmasraya pada masa lalu. Komplek Candi Pulau Sawah terdiri dari bukit dengan luas 15 hektar dan dikelilingi Sungai Batanghari yang kemudian bertemu dengan anak Sungai Pingian.

Sama seperti Candi Padang Roco, candi ini juga telah dilakukan ekskavasi. Setidaknya ada 11 struktur bangunan yang terbuat dari bata yang telah terindikasi. Meskipun begitu, bangunan yang baru dilakukan ekskavasi baru dua candi. Sehingga, dinamakan Candi Pulau Sawah I dan Pulau Sawah II.

3. Candi Muaro Jambi

Candi Muaro, Peninggalan Kerajaan Dharmasraya

Komplek Candi Muaro merupakan salah satu peninggalan Kerajaan Melayu Dharmasraya. Komplek candi ini menjadi candi Hindu Buddha terluas yang ada di Indonesia. Selain itu, candi ini juga menjadi komplek candi yang paling terawat yang ada di Pulau Sumatera.

Candi ini terletak di kecamatan Muaro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi. Letak dari candi ini kira-kira sekitar 26 kilometer ke arah timur dari Kota Jambi atau lebih tepatnya di tepi Sungai Batanghari. Candi Muaro Jambi diperkirakan berdiri sejak abad ke-11 Masehi.

4. Rumah Gadang Siguntur

Rumah Gadang Siguntur, Peninggalan Kerajaan Dharmasraya

Peninggalan sejarah dari kerajaan Dharmasraya selanjutnya adalah Rumah Gadang Siguntur. Rumah Gadang Siguntur diperkirakan telah ada sejak abad ke-17. Bangunan ini memiliki luas sekitar 118,4 meter persegi.

Rumah Gadang Siguntur berada di Jorong Siguntur, Nagari Siguntur, Kecamatan Sitiung, Kabupaten Dharmasraya. Rumah Gadang Siguntur memiliki fungsi sebagai tempat untuk melakukan musyawarah adat bahkan fungsi bangunan bersejarah ini masih digunakan hingga saat ini.

Bangunan ini memiliki atap yang terbuat dari seng pun pun bergonjong seperti bangunan khas Minangkabau pada umumnya. Selain itu, lantai dan dinding bangunan terbuat dari kayu. Begitupun dengan bagian pintu dan jendela. Bangunan ini sangat mencirikan bangunan khas Minangkabau yang biasa kita lihat.

5. Masjid Tua Siguntur

Masjid Tua Siguntur, Peninggalan Kerajaan Dharmasraya

Kerajaan Dharmasraya merupakan kerajaan yang mengalami pasca era pemerintahan Srimat Sri Udayadityawarman Pratapaparakrama Rajendra Maulimali Warmadewa pada saat islamisasi. Salah satu bukti adanya penyebaran agama Islam pada kerajaan ini adalah Masjid Tua Siguntur.

Salah satu dari peninggalan kerajaan Dharmasraya ini diperkirakan memiliki usia lebih dari 100 tahun. Masjid Tua Siguntur berada di sebelah makam raja-raja Siguntur. Masjid ini berdiri di atas lahan dengan luas sekitar 21,7 x 19 meter. Pada bagian depan masjid terdapat pagar beton. Sementara itu, pada bagian samping dan belakang masjid, terdapat pagar kawat berduri.

6. Arca Amoghapasa

Arca Amoghapasa, Peninggalan Kerajaan Dharmasraya

Arca Amoghapasa ditemukan di Situs Rambahan sekitar 7 km ke arah hulu. Arca ini ditemukan sekitar tahun 1800-an. Daerah penemuan arca sebenarnya masih satu kesatuan dengan penemuan lapuk arcanya di Padangroco. Pada bagian alas arca, terdapat pahatan tulisan penting yang dibubuhkan di sana. Pahatan tersebut menjelaskan mengenai tujuan pembuatan arca ini.

Adapun tujuan pembuatan arca ini sebagai persembahan dari Raja Singasari kepada Raja Dharmasraya. Persembahan tersebut sebagai tanda persahabatan antara kedua raja melalui ekspedisi Pamalayu yang dilakukan pada tahun 1292. Arca ini memiliki tinggi sekitar 163 cm dan berwujud seorang perempuan dengan perwujudan Lokeswara.

7. Prasasti Grahi

Prasasti Grahi, Peninggalan Kerajaan Dharmasraya

Prasasti Grahi merupakan salah satu peninggalan kerajaan Dharmasraya yang ditemukan di daerah selatan Thailand. Prasasti ini ditemukan pada tahun 1183. Prasasti Grahi menyimpan bukti-bukti tua mengeni keberadaan kerajaan Dharmasraya di bawah pemerintahan Raja Mauli.

Adapun isi dari prasasti ini mengenai perintah Trailokyaraja kepada Bupati Grahi yang saat dijabat oleh Mahasenapati Galanai. Perintah tersebut mengenai pembuatan arca Buddha seberat 1 bhara 2 tula dan bernilai emas 10 tamlin. Perintah tersebut pun dipenuhi dengan menugaskan seorang seniman bernama Mraten Sri Nano untuk membuatnya.

8. Prasasti Padang Roco

Prasasti Padang Roco, Peninggalan Kerajaan Dharmasraya

Lebih dari satu abad setelah penemuan prasasti Grahi, prasasti Padang Roco ditemukan terdapat nama Dharmasraya di dalam tulisannya. Penemuan ini terjadi pada tahun 1286. Bentuk prasasti Padang Roco yaknu lapik arca.

Di dalam prasasti menyebutkan keberadaan seorang Raja Swarnabhumi (Sumatera pada lalu) yang memiliki gelar Maharaja Srimat Tribhuwanaraja Mauli Warmadewa. Tribhuwanaraja mendapatkan kiriman hadiah dari atasannya yakni Raja Kertanegara berupa arca Amoghapasa. Pemberian hadiah ini diberikan pada saat peristiwa Ekspedisi Pamalayu.

Arca ini mengandung isi bahwa arca amoghapasa dibawa dari Bhumijawa dan ditempatkan di Dharmasraya dan peristiwa terjadi pada bulan Badrawada tanggal 1 paro terang tahun 1208 saka atau 1286.

Selain itu, prasasti ini juga memberikan informasi mengenai identitas penguasa Melayu pada masa itu yakni Srimat Tribhuwanaraja yang berkedudukan di Dharmasraya. Adapun saat ini, lokasi Dharmasraya sendiri termasuk ke dalam wilayah administrasi Nagari Siguntur, Kecamatan Sitiung, Kabupaten Dharmasraya.

fbWhatsappTwitterLinkedIn