4 Peninggalan Kerajaan Lamakera

√ Edu Passed Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Kerajaan Lamakera berada di sebelah timur dari kerajaan Lohayong yakni di Pulau Solor. Secara administratif, desa ini Lamakera termasuk ke dalam kecamatan Solor Timur, Kabupaten Flores Timur. Lamakera menjadi tempat pertama yang dikunjungi oleh Sultan Menanga di Pulau Solor sebelum akhirnya menyebarkan Islam.

Lamakera membangun pemerintahan di Menanga. Lamakera berada di paling ujung Timur Pulau Solor. Untuk menempuh perjalanan ke sana, dibutuhkan waktu sekitar 3 jam lebih dari pelabuhan di Lamakera. Lamakera terkenal selama berabad-abad sebagai tempatnya para pemburu ikan paus.

Di sini ditemukan sejumlah jenis ikan yang langka di perairan dan sudah ada hidup sejak berabad-abad lamanya. Seperti dalah ikan paus, hiu, lumba-lumba dan ikan pari manta. Lamakera menjadi perkampungan yang memiliki basis Islam.

Daerah kerajaan ini cukup strategis karena menjadi tempat pertemuan arus dan mudah menjangkau laut sawu. Sehingga tak heran jika masyarakat di daerah sini dahulunya memiliki mata pencaharian sebagai seorang keburu paus biru. Mereka hanya bermodalkan gala atau tombak untuk mencari ikan.

Tak banyak sumber yang menceritakan mengenai kerajaan ini. Hal ini dikarenakan keterbatasan sumber sejarah. Sama seperti kerajaan lainnya, kerajaan Lamakera meninggalkan sejumlah peninggalan sejarah. Meskipun tidak sebanyak kerajaan lain.

1. Masjid Al-Ijtihad

Masjid Al-Ijtihad, Peninggalan Kerajaan Lamakera

Masjid Al-Ijtihad berada di Desa Watobuku, Solor Timur, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur. Masjid ini berada di bibir pantai sehingga menara dan kubahnya yang besar sudah terlihat dari kejauhan. Masjid ini berdiri tinggi menjulang di antara rumah-rumah penduduk.

Masjid Al-Ijtihad berdiri megah dengan sebuah menara yang tinggi bahkan menjadi menara masjid tertinggi yang ada di kabupaten Flores, NTT. Tinggi menara masjid ini adalah 45 meter. Masjid ini memiliki tujuh buah pintu.

Di mana masing-masing pintunya dikasih nama sesuai dengan 7 nama suku yang ada di Lamakera. Seperti Lewklodo, Ema Onang, Kiko Onang, Lamakera, Hari Onang, Lawerang, dan Kuku Onang. Sebelum Islam hadir di Lamakera, sistem kepercayaan yang dianut adalah animisme.

Awal masuknya Islam ke Nusa Tenggara Timur melalui jalur perdagangan yang dilakukan oleh Ulama dan para pedagang. Pada abad ke 15, banyak para pedagang yang berasal dari berbagai wilayah seperti pulau Jawa, Sumatera, dan Bugis Makassar.

Mereka melakukan pelayaran dengan tujuan untuk berdagang atau sekadar singgah di Nusa Tenggara Timur. Sebab, Nusa Tenggara Timur menjadi salah satu tempat transit pelayaran ke Maluku, Makasar atau Jawa. Oleh sebab inilah, agama yang masuk paling awal di Nusa Tenggara Timur adalah Islam.

Wilayah-wilayah di NTT tersebut merupakan tempat yang strategis untuk para pedagang Islam. Tempat yang dikunjungi seperti Pulau Solor, Pulau Ende, Pulau Alor Kupang dan pesisir Utara Sumba Barat.

Pulau Solor adalah tempat yang paling strategis jika ditinjau dari segi perdagangan sebab tempatnya berada di posisi silang pelayaran dari bandar di pulau Jawa, Sumatera, Makasar ke pulau Timor dan dari bandar yang ada di Makasar ke pantai Utara Australia.

Lamakera terdapat sebuah pelabuhan alam yang bagus dan aman untuk disinggahi oleh kapal saat menunggu cuaca dan angin yang tepat untuk berlayar. Itulah mengapa Lamakera menjadi tempat yang paling dikunjungi dan didatangi oleh para pedagang ataupun pelaut islam.

Hal inilah yang kemudian membuat Islam hadir di Lamakera. Letaknya yang strategis dan aman membuat Lamakera sebagai sebuah tempat yang terbuka dengan berbagai hal baru dari para pedagang yang berdatangan.

Terlebih lagi saat itu, Raja Lamakera terbiasa menjamu para saudagar yang datang dari luar untuk berkunjung atau sekedar singgah saat terjadi gangguan angin yang kencang. Keramahan yang diberikan oleh raja inilah yang membuat para pedagang Islam dengan mudah mengenalkan Islam ke masyarakat Laamkera.

Sekitar abad ke 15, terdapat salah seorang tokoh perintis penyebaran islam. Ia adalah salah seorang pedagang yang berasal dari Palembang dan memiliki nama Syahbudin bin Ali bi Salma Al-Farisyi yang selanjutnya dikenal dengan nama Sultan Menanga.

Ia diberikan izin tinggal di perbatasan kerajaan Lamakera dan Lohayong oleh Raja Sangaji Dasi. Di sanalah ia mendirikan sebuah perkampungan islam bernama Menanga. Sultan Menanga kemudian menjadi menantu kerajaan setelah menikahi putri dari adik raja Sangaji Dasi.

Bahkan saat itu, ia berhasil mengislamkan Raja Sangaji Dasi. Dengan begitu semakin mempermudah upaya penyebaran yang dilakukan di kerajaan Lamakera. Pada tahun 1628 dibangunlah sebuah surau untuk mendukung jalannya penyebaran agama Islam di Lamakera.

2. Makam Sultan Menanga

Makam Sultan Menanga, Peninggalan Kerajaan Lamakera

Makam ini berada di sebelah timur benteng Menanga. Makam ini menghadap langsung ke Teluk Menanga yang merupakan pintu masuk desa Menanga. Sultan Menanga merupakan salah seorang ulama yang pertama kali menyebarkan Islam di Lamakera.

Sultan Menanga disebut juga dengan nama Kaicili Pertawi. Kaicili sendiri merupakan salah satu tradisi leluhur di Ternate yakni putra raja dari kerajaan Ternate diberi gelar Kaicili sedangkan putrinya diberi gelar Nyaicili. Kaicili sendiri merupakan raja kecil yang memiliki kekuasaan beberapa pulau.

Sultan Baabulah mengirimkan Kaicili Solor untuk menyebarkan agama Islam di Solor dan memerangi keberadaan Portugis di Lohayong. Kaicili Pertawi berhasil menggabungkan kekuatan negeri Lima pulau yakni Pulau Solor, Lohayong, Kerajaan Lamakera, Kerajaan Lamahalan, Kerajaan Terong di Adonara dan kerajaan Labala di Pulau Lembata.

Persekutuan ini kemudian dikenal dengan kekuatan Solor Watan Lema dan Sultan Menanga sebagai pemegang kendali. Untuk memuluskan rencana penyerangan terhadap Portugis, Kaicili bekerja sama dengan VOC. Saat itu VOC menggunakan 4 buah kapal. Di bawah pimpinan Apolonius Scatte mereka menyerang Portugis di Solor dan berhasil memukul mundur Portugis.

3. Benteng Menanga

Benteng Menanga, Peninggalan Kerajaan Lamakera

Benteng ini memiliki ukuran 125 meter x 140 meter dan luasnya sekitar 17.500 m². Benteng ini lebih luas dari benteng lohayong yang hanya berukuran lebar 46 meter dan panjang 58 meter. Lebar tembok benteng menanga ini kurang lebih 2.5 meter. Benteng ini memiliki 4 buah pintu. Di mana masing-masing pintunya terdapat simbol dan namanya sendiri.

Pintu sebelah timur dinamakan dengan Ato Iku Tora atau anjing yang ekornya berdiri, pintu sebelah barat dinamakan dengan Wajah Lewo Leran atau Biawak. Sedangkan pintu sebelah Utara dinamakan dengan gerbang ula kuawala atau naga.

Terakhir pintu sebelah timur disebut dengan Kobu Lewi Lein atau buaya. Di tengah-tengah benteng terdapat alun-alun di mana ditengahnya ada sebuah tumpukan batu yang dinamakan dengan Nuba.

Benteng ini terdapat di daerah perbatasan antara kerajaan Lamakera dan Lohayong. Benteng ini merupakan salah satu jejak peninggalan dari persekutuan Solor Wetan Lema yang merupakan persekutuan dari 5 kekuatan yakni Lohayong, Lamakera, Lamahala, Terong dan Lembata saat melakukan penyerangan kepada Portugis yang telah berhasil mendirikan sebuah benteng di Lohayong.

Pada tahun 1613, berkat persekutuan Solor Watan Lema berhasil mengusir Portugis dari tanah Solor. Sayangnya, saat melakukan penyerangan mereka meminta bantuan kepada VOC. Hal inilah yang kemudian membuat VOC berkesempatan memegang kendali wilayah tersebut mengganti Portugis.

Kemudian pada tahun 1645, Kaicili Pertawi atau Sultan Menanga meninggal dunia dan digantikan oleh istrinya yang bernama Nyai Cili Pertawi. Nyai Cili Pertawi merupakan istri kedua dari Sultan Menanga.

Setelah suaminya meninggal dunia, ia melanjutkan Kepemimpinan Solor Watan Lema atau Persekutuan Lima Pantai. Nyai Cili Pertawi diperkirakan merupakan sosok perempuan yang berasal dari Keeda. Oleh banyak sejarawan, kota ini diasumsikan sebagai Kedah, Malaysia.

Nyai Cili Pertawi merupakan sosok perempuan yang hebat. Setelah suaminya meninggal ia berjuang untuk tetap mempertahankan keberadaan benteng Lohayong yang selama ini menjadi sumber perebutan antara Belanda dan Portugis. Benteng tersebut menjadi simbol telah berhasil menguasai daerah tersebut.

Pada tahun 1646, Nyai Cili Pertawi membangun kembali benteng karena telah rusak bekas pemboman yang dilakukan oleh Portugis dan Belanda. Namun tak lama di daerah tersebut terjadi gempa dan membuatnya benteng itu hancur kembali.

4. Makam Syeh Imam Patiduri

Makam Syekh Imam Patiduri, Peninggalan Kerajaan Lamakera

Sejauh ini, masuknya Islam ke daerah Nusa Tenggara Timur diperkirakan dibawa oleh Syahbudin bin Salman Al farisi atau yang dikenal dengan Sultan Menanga. Ia adalah salah seorang yang berasal dari Palembang dan datang ke NTT pada 1613 untuk menyebarkan Islam. Adapula yang menyebutkan bahwa Syahbuddin ini merupakan utusan dari Raja Ternate untuk menyebarkan agama Islam di daerah ini.

Namun sebenarnya, jauh sebelum Syahbuddin, terdapat salah seorang tokoh yang bernama Sayyid Rifaduddin Al Fatih yang telah membawa Islam ke daerah ini sejak abad ke-13. Hal ini dibuktikan dengan adanya anak cucu dari keturunan Imam Pattiduri atau Sayyid Rifaduddin Al Fatih dan keberadaan makam Imam Patiduri di wilayah tersebut.

Makam tersebut berada di sebelah atas dari benteng Sultan Menanga. Imam Pattiduri diyakini berasal dari hadramut kemudian datang ke wilayah tersebut pada abad ke-13 Masehi. Keberadaan Imam Pattiduri seolah menjelaskan bahwa jauh sebelum Portugis mengirimkan 3 orang utusannya ke Solor, daerah tersebut telah ada yang memeluk agama Islam.

Hal ini berbeda halnya jika Islam pertama kali dibawa oleh Sultan Menanga ke daerah Solor maka Islam baru hadir setelah adanya kekuatan Portugis yang berkuasa di tanah Solor. Selain itu, Portugis juga telah membuat benteng di daerah tersebut.

Dengan hal ini seolah menunjukkan bahwa Sultan Menanga datang ke Solor bukan hanya perinta dari Sultan Ternate saja yakni Sultan Baabullah melainkan juga permintaan dari masyarakat Solor dan sekitarnya untuk melakukan perlawanan terhadap Portugis.

Imam Pattiduri diperkirakan pernah tinggal dan menyebarkan agama Islam di Watampao Pulau Adonara. Namun, karena terjadi sebuah bencana yakni banjir besar, wilayah tersebut kemudian hanyut diterjang banjir.

Sementara itu, Imam Pattiduri sendiri dalam peristiwa banjir konon ikut hanyut ke laut dan baru ditemukan sedang menaiki barang-barang yang terapung di luar. Kemudian, oleh nelayan yang melihatnya, Imam Pattiduri diantarkan ke Menanga. Kemudian di wilayah tersebut juga Iman Pattiduri ikut menyebarkan agama Islam.

fbWhatsappTwitterLinkedIn