Sejarah

Sejarah Kerajaan Cirebon – Raja – Peninggalan

√ Edu Passed Pass education quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Setelah pecahnya Majapahit, yang melahirkan kerajaan demak sebagai kerajaan Islam yang terkuat dan terbesar di Pulau Jawa.

Kerajaan Cirebon pun ikut andil menjadi sebuah kerajaan Islam terpopuler khususnya di Jawa Barat. Pemerintahan yang berdiri dari tahun 1430-1677 menghasilkan 4 pemimpin meski beberapa kali terjadi kekosongan.

Namun akhirnya harus terpecah menjadi 2 kerajaan, setelah adanya perebutan antara Mataram dan Banten serta campur tangan VOC.

Latar Belakang Kerajaan Cirebon

Awalnya Cirebon hanyalah sebuah hutan yang dibangun menjadi desa oleh Ki Gedeng Alang-alang. Lama kelamaan desa tersebut ramai ditinggali oleh pendatang.

Karena banyaknya pendatang yang tinggal disana, desa ini diberi nama sunda yaitu Caruban.

Letaknya yang berada di pesisir utara Pulau Jawa, membuat sebagian besar pekerjaan masyarakat adalah menjadi nelayan.

Karena adanya air bekas pembuatan terasi udang inilah, akhirnya Caruban berganti nama menjadi Cirebon, yang artinya air udang.

Setelah Ki Gedeng Alang-alang wafat, kepemimpinan desa Cirebon beralih kepada menantunya Walangsungsang.

Walangsungsang atau Cakrabuana merupakan anak dari Prabu Siliwangi yang merupakan pemimpin kerajaan Pajajaran. Karena hal inilah, Cirebon akhirnya menjadi kadipaten Pajajaran.

Pada tanggal 21 Agustus 1522 M, hubungan Cirebon dan Pajajaran malah memburuk setelah perjanjian yang dilakukan Pajajaran terhadap Portugis.

Keinginan Pajajaran memperkuat kerajaannya dengan cara menjalin kerjasama pada Portugis telah membuat kerajaan Islam lainnya takut.

Mereka takut kerajaan Islam di Pulau Jawa akan diusik oleh negara asing. Salah satunya adalah dampak penjajahan Portugis yang dirasakan oleh Pasai dan Malaka.

Dimana kedua daerah tersebut menjadi korban penjajahan Portugis dan memberikan dampak yang sangat buruk.

Raja-raja Yang Menjabat di Kerajaan Cirebon

1. Pangeran Walangsungsang (1430-1479 M)

Pangeran Walangsungsang atau Cakrabuana memerintah pada tahun 1430-1479 M.

Beliau merupakan Sultan Cirebon I yang ditunjuk ketika desa Cirebon akhirnya berubah menjadi kadipaten di bawah naungan Pajajaran.

Pangeran Cakrabuana merupakan putra pertama dari Prabu Siliwangi, raja Pajajaran. Namun tidak mendapatkan haknya sebagai putra mahkota Pajajaran.

Hal ini dikarenakan beliau memeluk agama Islam, sementara Pajajaran mayoritas memiliki agama Sunda Wiwitan.

Karena hal itu, Pangeran Cakrabuana terbuang dan mengasingkan diri. Suatu ketika, Cakrabuana memperistri Nyai Retna Riris yang tak lain adalah anak dari Ki Gedeng Alang-alang.

Oleh karenanya, Cakrabuana diangkat sebagai kepala desa Cirebon setelah Ki Gedeng Alang-alang wafat.

Sepeninggal Ki Gedeng Alang-alang, Cirebon menjadi lebih aktif dikarenakan terdengarnya kabar bahwa anak Prabu Siliwangi menjadi sukses di sebuah daerah.

Karena kebanggaan Prabu Siliwangi terhadap anaknya, dijadikanlah Cirebon sebagai kerajaan di bawah Pajajaran tahun 1430 M.

Pangeran Walangsungsang atau Cakrabuana terus aktif menyebarkan agama Islam pada rakyat Cirebon.

Hingga tahun 1529 beliau wafat dan dimakamkan di Gunung Sembung, Cirebon.

2. Sunan Gunung Jati (1479-1495 M)

Sunan Gunung Jati memiliki nama lain Syarif Hidayatullah merupakan keponakan dari Pangeran Walangsungsang.

Pada tahun 1479 hingga 1495 beliau memimpin Cirebon. Beliau merupakan salah satu Walisongo yang terkenal menyebarkan agama Islam ke penjuru Pulau Jawa terutama Jawa Barat.

Dalam masa kepemimpinannya kerajaan Cirebon menjadi berjaya dan semakin luas wilayahnya.

Beberapa daerah ditaklukan seperti pajajaran timur, barat, tengah bahkan Jayakarta.

Pelabuhan-pelabuhan menjadi aktif sebagai jalur pelayaran dan perdagangan ketika masa pemerintahan Sunan Gunung Jati.

Pada jalur perdagangan inilah, beliau juga turut menyebarkan agama Islam yang mempengaruhi kerajaan Demak sebagai kerajaan Islam terbesar di Pulau Jawa.

3. Pangeran Agung (1568-1649 M)

Sebelum Pangeran Agung menjabat, telah terjadi beberapa kali kekosongan pemimpin.

Dimulai dari Pangeran Pasarean yang wafat sebelum penobatan. Akhirnya kepemimpinan ini jatuh ke tangan Pangeran Sedang Kemuning yang juga wafat sebelum penobatan.

Pangeran Agung merupakan cicit Sunan Gunung Jati. Beliau memimpin Cirebon selama kurang lebih 80 tahun dari tahun 1568-1649.

Beliau wafat tahun 1649 dengan meninggalkan 5 orang anak dan seorang istri.

4. Panembahan Girilaya (1649-1662 M)

Setelah wafatnya Pangeran Agung, pemerintahan akhirnya beralih ke Pangeran Sedang Gayam.

Namun lagi-lagi, beliau harus wafat sebelum dinobatkan sebagai raja. Akhirnya kepemimpinan jatuh pada anaknya yaitu Panembahan Girilaya.

Pada tahun 1649-1662, Panembahan Girilaya memerintah. Beliau memiliki nama lain Pangeran Putera atau Sultan Abdul Karim.

Di masa kepemimpinan Panembahan Girilaya inilah, kesultanan Cirebon mulai mengalami gejolak politik.

Adanya perdebatan antara kerajaan Mataram dan kerajaan Banten membuat masa jaya Cirebon harus berakhir dan runtuh.

Masa Kejayaan Kerajaan Cirebon

Karena Sunan Gunung Jati memiliki tingkat interaksi sosial yang baik dengan rakyatnya, ia menjadi raja yang sangat di senangi.

Kerajaan Cirebon mengalami masa-masa keemasan ketika dipimpin oleh Sunan Gunung Jati.

Pada tahun 1479-1649 M masa keemasan ini berlangsung selama 170 tahun. Pada masa kejayaan ini, pemerintahan Cirebon membangun beberapa istana, masjid, mushola, dan infrastruktur lainnya.

Agama Islam terus disebarkan secara aktif dan pelabuhan-pelabuhan menjadi pusat perdagangan yang menopang perekonomian rakyat Cirebon.

Perluasan wilayah juga dilakukan di daerah Jawa Barat serta Jawa Timur. Bahkan kesultanan Cirebon mampu menaklukan Pajajaran Barat melalui kesultanan Banten dengan diprakarsai oleh Sunan Gunung Jati.

Sebab Runtuhnya Kerajaan Cirebon

Setelah masa-masa kejayaan muncul, akhirnya Cirebon harus runtuh dan berakhir menjadi 2 bagian kerajaan yaitu kesultanan Kasepuhan dan kesutanan Kanoman.

Penyebab runtuhnya pemerintahan Cirebon karena adanya masalah politik yang terjadi di antara kerajaan Mataram Islam, kerajaan Banten serta VOC Belanda.

Hal ini dimulai ketika Panembahan Girilaya memimpin tahun 1649-1662. Pada waktu itu Panembahan Girilaya datang untuk berkunjung ke Mataram.

Namun di tengah kunjungannya itu, Sultan Mataram meminta agar kerajaan Cirebon memutus hubungan dengan Banten.

Mataram ingin menjadikan Cirebon sebagai bawahannya. Namun Panembahan Girilaya menolak.

Karenanya, Panembahan Girilaya dan 2 putra mahkotanya ditahan di Mataram.

Tahun 1662, Panembahan Girilaya wafat dan selama 16 tahun Cirebon tidak memiliki pemimpin.

Setelah 16 tahun, terjadilah pemberontakan Trunojoyo, dimana rakyat Banten dan Cirebon bersatu menguasai istana Mataram.

Sultan Mataram melarikan diri namun akhirnya wafat dalam pelarian. Sementara 2 putra mahkota berhasil diselamatkan dan diangkat menjadi sultan.

Karena adanya 2 sultan inilah, pada akhirnya kesultanan Cirebon terpecah menjadi 2 bagian kerajaan.

Peninggalan Kerajaan Cirebon

Beberapa peninggalan kesultanan Cirebon diantaranya :

  • Keraton Kasepuhan Cirebon

Pada tahun 1430 keraton ini didirikan oleh Pangeran Cakrabuana. Nama lainnya adalah Keraton Pakungwati (mengambil dari nama putrinya Ratu Ayu Pakungwati).

Pada keraton ini akan dijumpai bangunan masjid megah karya para Wali yang ada di sebelah keraton. Selain itu ada alun-alun di sebelah timur keraton.

Di bagian depan dan belakang juga akan dijumpai gerbang keraton dan khususnya di bagian depan akan menemukan 2 bangunan bernama Pancaratna dan Pancaniti.

  • Kereta Singa Barong Kasepuhan

Dibuat pada tahun 1549 oleh Panembahan Losari (cucu Sunan Gunung Jati). Bentuknya yang unik dengan bagian depan kereta terdapat belalai gajah, naga berkepala tiga dan badan serta sayap Buroq.

Biasanya kereta ini digunakan ketika kirab. Namun di tahun 1945, sudah tidak lagi digunakan dan ketika kirab hanya menggunakan kereta duplikatnya saja.

  • Patung Macan Putih

Patung berbentuk macan putih yang ada di depan keraton-keraton Cirebon. Patung ini dulunya merupakan lambang keluarga dari Prabu Siliwangi.

  • Keraton Kacirebon

Keraton ini ada di kelurahan Pulasaren, Pekalipan, Kota Cirebon. Dibangun pada tahun 1800 M, saat ini digunakan sebagai museum penyimpanan barang-barang peninggalan terdahulu.

  • Keraton Kanoman

Keraton yang merupakan rumah bagi Sultan Muhammad Emiruddin dan keluarganya ini dibangun oleh Pangeran Kertawijaya. Ada 2 kereta yang disimpan di keraton ini yaitu kereta Jempana dan kereta Paksi Naga Liman.

  • Keraton Keprabon

Bangunan ini didirikan Pangeran Raja Adipati bukan sebagai tempat tinggal, melainkan tempat untuk menimba ilmu agama Islam.

  • Makam Sunan Gunung Jati

Makam salah satu Walisongo ini selalu ramai dikunjungi masyarakat yang ingin berziarah hingga saat ini.

Sunan Gunung Jati merupakan salah satu penyiar agama Islam. Makamnya terletak di lintasan Cirebon-Indramayu.

  • Masjid Sang Cipta Rasa

Masjid yang dibangun tahun 1840 M ini diprakarsai oleh Sunan Gunung Jati dengan menunjuk Sunan Kalijaga sebagai perancang bangunannya.

Membangun masjid ini dulunya melibatkan 500 orang dan merupakan masjid tertua yang ada di Cirebon.

  • Tajuq Agung dan Bedug Samogiri

Bangunan Islam peninggalan Cirebon lainnya selain masjid adalah Tajuq Agung atau Mushola Agung. Bangunan ini dulunya adalah tempat ibadah kerabat keraton.

Di samping mushola terdapat pos bedug Samogiri yang merupakan bangunan tanpa dinding dan atapnya berbentuk limas.

  • Alun-alun Sangkala Buana

Bangunan ini merupakan alun-alun yang ada di sebelah timur Keraton Kasepuhan.

Dulunya alun-alun ini digunakan untuk acara resmi keraton, namun saat ini berganti menjadi pasar tempat berjualan poci atau teko buatan masyarakat sekitar.

  • Bangunan Mande Karesmen dan Mande Pengiring

Mande Karesmen adalah bangunan yang difungsikan untuk tempat pengiring gamelan.

Hingga saat ini, gamelan-gamelan masih sering dibunyikan ketika Idul Fitri dan Idul Adha.

Di sebelah Mande Karesmen terdapat sebuah bangunan lagi yang bernama Mande Pengiring.

Sesuai namanya, Mande Pengiring dulunya adalah tempat bersantai para pengiring sultan.

Mande Pengiring dibangun oleh Sunan Gunung Jati dan berada di dalam keraton Kasepuhan.

  • Kutagara Wadasan dan Kuncung

Kutagara Wadasan merupakan bangunan gapura yang dicat putih. Pondasinya sangat kokoh dengan bentuk khas Cirebon.

Ada pula Kuncung yang digunakan sebagai tempat parkir kendaraan sultan pada jaman dahulu.

  • Mangkok Kayu Berukir

Mangkok ini merupakan peninggalan pemerintahan Cirebon. Fungsinya adalah untuk membawa makanan keluarga raja dan yang lainnya.

Namun kini hanya sebagai pajangan yang disimpan di museum tropen belanda.

  • Regol Pengada

Regol yang berarti gerbang berbentuk seperti gapura beratap. Regol Pengada dibuat pada masa kepemimpinan Sunan Gunung Jati pada tahun 1529.

Demikian artikel tentang sejarah kerajaan cirebon, semoga bermanfaat.