Sejarah Kerajaan Demak – Raja – Peninggalan

√ Edu Passed Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Pada tahun 1475 hingga 1554 berdirilah sebuah kerajaan Islam terbesar di Nusantara. Wilayah kekuasaannya hampir menyaingi kerajaan Sriwijaya.

Kerajaan tersebut awalnya merupakan kadipaten kerajaan Majapahit. Selama 3 tahun lamanya berada di bawah naungan Majapahit, di tahun selanjutnya, kerajaan Demak melepaskan diri dan berdiri secara mandiri.

Pada puncak kejayaan ketika kepemimpinan Sultan Trenggana demak harus runtuh akibat perebutan kekuasaan dan pemberontakan ketika Arya Penangsang memimpin.

Latar Belakang Kerajaan Demak

Pada tahun 1475-1478, Demak merupakan sebuah kerajaan yang masih berada di bawah naungan kerajaan Majapahit.

Awal mula berdirinya kesultanan Demak sebagai pemerintahan yang mendiri adalah ditandai dengan runtuhnya Majapahit.

Pada masa itu, wilayah-wilayah kekuasaan Majapahit saling serang menyerang.

Adanya kemunduran politik yang terjadi di Majapahit menjadikan beberapa wilayahnya ingin mewarisi tahta Majapahit.

Karena letaknya yang strategis, yakni di pesisir utara Pulau Jawa, menjadikan Demak muncul sebagai kerajaan yang mandiri.

Peran Wali Songo juga ikut berjasa atas munculnya Demak sebagai pemerintahan yang berdiri sendiri.

Mereka menyebarkan agama Islam dengan menunjuk Demak sebagai lokasi pusat penyebaran tersebut.

Kerajaan demak juga berhubungan langsung dengan sultan banten seperti yang tercatat dalam sejarah kesultanan banten.

Raden Patah merupakan putra Majapahit terakhir. Beliau pula yang nantinya memimpin Demak pertama kali.

Karena kesuksesannya dalam membangun pesantren Desa Glagah Wangi, banyak masyarakat yang berdatangan. Hanya dalam waktu singkat, desa tersebut berubah.

Demak menyebarkan Islam melalui jalur perdagangan. Demak akhirnya berdiri menjadi kerajaan Islam terbesar pertama di Pulau Jawa dan terus memperluas wilayahnya hingga tahun 1554.

Raja-raja Yang Menjabat di Kerajaan Demak

1. Raden Patah (1475-1518 M)

Raja pertama yang memimpin Demak adalah Raden Patah dari tahun 1475-1518. Beliau merupakan putra Majapahit terakhir.

Nama lain dari Raden Patah ialah Senapati Jumbang Ngabdurrahman Panembahan Sayidin Palembang Panatagama.

Beliau lahir di Palembang, Majapahit dan oleh karena itu terselip kata Palembang pada nama lainnya.

Awalnya Raden Patah menolak untuk menjadi Adipati Palembang, sehingga ia melarikan diri ke Jawa.

Ketika di Jawa, beliau berguru pada salah satu Wali Songo, yakni Sunan Ampel. Oleh Sunan Ampel, Raden Patah ditunjuk untuk menyiarkan agama Islam dan mendirikan sebuah pesantren di hutan Glagah Wangi.

Raden Patah memimpin Demak selama 43 tahun dan meninggalkan bangunan sejarah berupa Masjid Agung Demak.

Kepemimpinannya akhirnya terhenti dan diteruskan oleh putranya yang bernama Pati Unus.

2. Pati Unus (1518-1521 M)

Setelah Raden Patah wafat, pemerintahan Demak selanjutnya dialihkan kepada anaknya yang bernama Pati Unus. Nama lain Pati Unus adalah Pangeran Sabrang Lor.

Beliau memiliki julukan tersebut karena keberaniannya memimpin armada laut dalam penyerangan terhadap Portugis yang ketika itu menduduki Malaka.

Pati Unus menginginkan Demak tak hanya sebagai kerajaan Islam saja, namun juga kerajaan maritim yang terkuat.

Karena strateginya itulah, Portugis menjadi takut dengan Pati Unus. Berulang kali Demak dan Portugis bertempur.

Puncaknya adalah ketika perahu yang ditumpangi Pati Unus terkena meriam Portugis.

Pati Unus wafat dengan kepemimpinannya yang hanya 3 tahun saja yakni dari tahun 1518-1521.

Karena perahu tersebut kehilangan pemimpin, akhirnya Fatahillah mengambil alih.

3. Sultan Trenggana (1521-1546 M)

Kepemimpinan berikutnya jatuh kepada adik Pangeran Sabrang Lor yaitu Sultan Trenggana.

Ini dikarenakan Pangeran Sabrang Lor tidak memiliki keturunan, sehingga kepemimpinan jatuh kepada adiknya.

Sultan Trenggana memimpin tahun 1521-1546 dan ini merupakan puncak kejayaan kesultanan Demak.

Sultan Trenggana merupakan raja yang bijaksana. Di bawah kepemimpinan beliau, Demak memperluas wilayahnya tak hanya di Jawa Tengah.

Perluasan wilayah ini bahkan meliputi Jawa Barat dan Jawa Timur. Oleh Sultan Trenggana pula, Fatahilah diutus untuk merebut Sunda Kelapa dari tangan Portugis.

Karena keberhasilannya, Sultan Trenggana diberikan gelar sebagai Sultan atau raja yang paling besar memimpin di Demak.

Selain perluasan wilayah, Sultan Trenggana juga melakukan penguatan kekuasaan dengan mengawinkan putrinya pada Bupati Madura yang bernama Joko Tingkir.

Semakin kuatnya dan luasnya pengaruh Islam di Jawa Barat dan Jawa Timur adalah berkat Sultan Trenggana.

Namun pada tahun 1546 M, beliau wafat di medan pertempuran Pasuruan akibat terbunuh.

4. Sunan Prawata (1546-1547 M)

Setelah masa kejayaan Sultan Trenggana yang harus berakhir karena wafatnya beliau, kepemimpinan jatuh pada putranya yaitu Sunan Prawata.

Perebutan kekuasaan yang terjadi sebenarnya dimulai ketika suksesi raja Demak ketiga antara Pangeran Surowiyoto dan Sultan Trenggana.

Hal itu terus berlanjut hingga puncaknya, Sunan Prawata membunuh Pangeran Surowiyoto setelah sholat jumat di tepi sungai.

Karena itulah Pangeran Surowiyoto diberi nama Sekar Sedo Lepen (gugur di sungai).

Setelah Sultan Trenggana wafat, Sunan Prawata akhirnya memimpin Demak.

Namun hanya dalam waktu singkat, 1 tahun saja, kepemimpinan itu berakhir.

Sunan Prawata dan istrinya dibunuh oleh Arya Penangsang, anak dari Pangeran Surowiyoto.

Pembunuhan ini didasari dendam karena ayahnya telah dibunuh oleh Sunan Prawata.

Sehingga kepemimpinan Sunan Prawata hanya dimulai dari tahun 1546-1547.

5. Arya Penangsang (1547-1554 M)

Kepemimpinan Arya Penangsang berlangsung 7 tahun saja yaitu dari 1547-1554.

Setelah pembunuhan yang terjadi pada raja Demak ke -4, Arya Penangsang akhirnya melanjutkan kepemimpinan di Demak.

Sebenarnya Arya Penangsang banyak dimusuhi oleh adipati-adipati di bawah Demak. Ini lantaran, tak hanya membunuh Sunan Prawata namun Arya Penangsang juga membunuh Pangeran Hadiri, Adipati Jepara.

Hal ini membuat adipati-adipati di bawah pemerintahan Demak tidak menyukainya dan memutuskan untuk melakukan pemberontakan.

Tahun 1554, Joko Tingkir, menantu dari Sultan Trenggana yang juga menjadi Adipati Pajang, melakukan pemberontakan perebutan kekuasaan.

Ini menyebabkan Arya Penangsang tewas di tangan anak Joko Tingkir yaitu Sutawijaya.

Dengan tewasnya Arya Penangsang, berakhir pula lah kerajaan Demak dan berganti menjadi kerajaan Pajang.

Masa Kejayaan Kerajaan Demak

Masa-masa keemasan yang terjadi di pemerintahan Demak dimulai ketika Pati Unus memimpin dan dilanjutkan dengan Sultan Trenggana.

Sejarah mencatat, kerajaan Demak merupakan salah satu kerajaan islam yang terkena dampak penjajahan portugis di Indonesia selain kerajaan Aceh dan kerajaan Cirebon.

Pada awal abad ke -16, Demak menjadi kerajaan Islam terbesar. Luasnya wilayah yang mereka taklukkan membuat kerajaan ini dijuluki kerajaan yang paling kuat di Pulau Jawa.

Usaha perluasan wilayahnya tak hanya di Jawa Tengah, melainkan menyebar hingga ke Jawa Barat dan Jawa Timur.

Penyebaran Islam semakin meluas dan hampir seluruh Jawa Barat serta wilayah-wilayah di Jawa Timur ditaklukkan pada masa pemerintahan Sultan Trenggana.

Sedangkan pada masa pemerintahan Pati Unus, Portugis merasa terancam. Hal ini dikarenakan beberapa kali Demak mengirimkan pasukan armada untuk bertempur melawan Portugis.

Masa kejayaan yang berlangsung dari tahun 1518 ini, pada akhirnya harus berakhir di sekitar tahun 1547 karena Sultan Trenggana wafat dan digantikan oleh Sunan Prawata.

Sebab Runtuhnya Kerajaan Demak

Setelah wafatnya Sultan Trenggana, pemerintahan berlanjut ke Sunan Prawata. Pemerintahan ini hanya berlangsung 1 tahun saja.

Adanya perebutan kekuasaan menjadikan Demak harus hancur dan beralih menjadi kerajaan Pajang.

Perebutan kekuasaan ini sudah dimulai sejak wafatnya Pati Unus, raja Demak ke -2.

Karena tidak adanya keturunan, pemerintahan diteruskan kepada adiknya yaitu Sultan Trenggana.

Suksesi raja Demak ke -3 ini menimbulkan perdebatan diantara Sultan Trenggana dengan Pangeran Surowiyoto.

Akhirnya perdebatan ini semakin memanas ketika Pangeran Surowiyoto harus tewas di tepi sungai setelah dibunuh oleh anak Sultan Trenggana, Sunan Prawata, Jumat siang.

Meski kepemimpinan berjalan lancar akhirnya dari mulai Sultan Trenggana hingga Sunan Prawata.

Namun tahun 1547, Sunan Prawata harus tewas karena pembalasan dendam anak Pangeran Surowiyoto, Arya Penangsang.

Beliau juga membunuh adipati Jepara yang menyebabkan adipati-adipati di bawah Demak lainnya merasa marah.

Tak terkecuali adipati Pajang, Joko Tingkir, yang melakukan pemberontakan hingga menewaskan Arya Penangsang di tangan anaknya, Sutawijaya.

Runtuhnya kerajaan Demak karena tewasnya sang pemimpin, akhirnya membuat Demak diambil alih oleh kerajaan Pajang.

Peninggalan Kerajaan Demak

  • Masjid Agung Demak

Masjid peninggalan yang dibangun oleh walisongo tahu 1479. Meski banyak renovasi disana sini, namun masjid ini tetap berdiri kokoh.

Banyak nilai filosofis yang terkandung pada Masjid Agung Demak dan bentuk arsitekturnya yang sangat unik.

  • Pintu Bledek

Tahun 1446, Ki Ageng Selo membuat pintu bledek atau dalam Bahasa Indonesia disebut pintu petir.

Pintu ini awalnya adalah pintu utama Masjid Agung Demak, namun sekarang sudah dimuseumkan.

  • Soko Tatal atau Soko Guru

Sunan Kalijaga dulunya membuat 4 tiang penyangga dengan diameter mencapai 1 meter untuk Masjid Demak. Tiang itulah yang diberi nama Soko Tatal atau Soko Guru.

  • Dampar Kencana

Dampar Kencana merupakan singgasana Sultan yang selanjutnya difungsikan sebagai mimbar. Dampar Kencana terletak di Masjid Demak hingga saat ini.

  • Situs Kolam Wudhu

Sesuai namanya, situs ini dahulu merupakan tempat untuk berwudhu santri dan musafir yang berkunjung ke Masjid Demak. Namun sekarang sudah tidak difungsikan lagi.

  • Maksurah

Maksurah adalah dinding bangunan Masjid Demak yang memiliki ukiran kaligrafi tulisan arab. Dibuat tahun 1866 M, dinding ini memiliki arti Allah Yang Maha Esa.

  • Piring Campa

Piring ini adalah pemberian ibu Raden Patah, yakni putri dari Campa, yang berjumlah 65 buah. Piring-piring ini dipasang di masjid sebagai hiasan.

  • Bedug dan Kentongan

Jaman dulu, bedug dan kentongan di Masjid Demak adalah cara untuk memanggil masyarakat Demak sholat 5 waktu.

Bentuk kentongan yang mirip tapal kuda mengartikan bahwa masyarakat harus datang ke masjid secepat lari kuda ketika kentongan ini dibunyikan.

Selamat membaca, semoga bermanfaat untuk menambah wawasan mengenai sejarah di Indonesia.

fbWhatsappTwitterLinkedIn