Edukasi

Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung

√ Edu Passed Pass education quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, atau yang biasa disingkat menjadi TN Babul, merupakan sebuah kawasan taman nasional yang terletak di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Taman Nasional ini memiliki luas lahan sekitar 43.750 hektar dengan keragaman hayati yang melimpah.

Banyak destinasi wisata dan kekayaan alam yang dapat anda nikmati di Taman Babul. Kupu-kupu, pegunungan karst, bebatuan, dan puluhan gua, merupakan destimasi utama dari Taman Babul. Berikut akan dikupas tuntas mengenai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung.

Sejarah TN Babul

Alfred Russel Wallace memulai perjalanannya dalam menjelajahi area Sulawesi Selatan pada tahun 1857. Penjelajahan ini dituliskan dalam The Malay Archipelago pada tahun 1869 dan mengundang berbagai penelitian lanjutan. Area ini masih tidak tersentuh dan tetap asri.

Sejarah berlanjut hingga pada tahun 1970 sampai 1980, dimana area penjelajahan Wallace dinobatkan sebagai wilayah konservasi. Kawasan Karst Maros-Pangkep ditunjuk menjadi salah satu dari 5 unit kawasan konservasi seluas 11 ribu hektar bersamaan dengan Taman Wisata Alam Bantimurung, Taman Wisata Alam Gua Pattunuang, Cagar Alam Bantimurung, Cagar Alam Karaenta, dan Cagar Alam Bulusaraung.

Pada tahun 1989, Kanwil Dephut Sulawesi Selatan saat itu menunjuk area tersebut sebagai Taman Nasional Hasanuddin. Wilayah TN Hasanuddin diusulkan ke dalam daftar rekomendasi situs warisan dunia dalam Kongres XI International Union of Speleology pada tahun 1993.

Wilayah TN Hasanuddin mendapatkan perluasan menjadi 86 ribu hektar pada tahun 1995 dalam National Conservation Plan, serta mendapatkan rekomendasi perlindungan pada tahun 1997 dalam Seminar Lingkungan Karst PSL-UNHAS.

The Asia Pacific Forum dilaksanakan oleh IUCN Asia Regional Office dan UNESCO pada tahun 2001 di Karst, Sulawesi Selatan dan Malaysa.

Konversi tersebut menghasilkan rekomendasi pada pemerintah Indonesia untuk menetapkan kawasan TN Hasanuddin menjadi kawasan konservasi. Akibatnya, pada tahun 2002, terbentuklah Tim Terpadu oleh pemerintah provinsi Sulawesi Selatan untuk perubahan fungsi hutan.

Surat Keputusan menteri pun akhirnya keluar untuk TN Hasanuddin pada tahun 2004 dlaam SK.398/Menhut-II/2004. Surat tersebut mencakup perubahan fungsi kawasan hutan pada kelompok hutan Bantimurung – Bulusaraung seluas 43 ribu hektar sebagai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, yang terdiri dari:

  • Cagar Alam seluas 10 ribu hektar
  • Taman Wisata Alam seluas seribu hektar
  • Hutan Lindung seluas 21 ribu hektar
  • Hutan Produksi Terbatas seluas 145 hektar
  • Hutan Produksi Tetal seluar 10 ribu hektar

Kondisi Alam TN Babul

TN Babul terletak pada 199°34’17’’ – 119°55’13’’ BT dan 4°42’49’’ – 5°06’42’’ LS. Sebenarnya, TN Babul melingkupi wilayah 2 kabupaten, yaitu Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkep di Sulaweri Selatan. Beberapa batas-batas wilayaj TN Babul adalah :

  • Batas utara dengan Kabupaten Pangkep, Barru dan Bone
  • Batas timur dengan Kabupaten Maros dan Bone
  • Batas selatan dengan Kabupaten Maros
  • Batas barat dengan Kabupaten Maros dan Pangkep

Untuk jenis tanah sendiri, TN Babul memiliki dua jenis tanah berbeda, yaitu jenis tanah Rendolls dan jenis tanah Eutropepts. Kedua jenis tanah tersebut mengandung magnesium dan kalsium dalam jumlah yang cukup tinggi.

TN Babul memiliki curah hujan yang cukup beragam, dimana daerah timur memiliki curah hujan 2.250 mm hingga 2.750 mm dan daerah barat memiliki curah hujan 3.250 mm hingga 3.750 mm.

Area TN Babul juga dialiri beberapa sungai yang membantu hidrologi tanah sekitar, beberapa diantaranya adalah Sungai Walanae, Sungai Pankgep, dan Sungai Bone. Terdapat pula mata air dan sungai kecil di celah Karst.

Tiga ekosistem yang terdapat pada TN Babul adalah:

  • Ekosistem Hutan yang berada di atas bebatuan karst (Ekosistem Karst)
  • Ekosistem Hutan Hujan non Dipterocapracease
  • Ekosistem Hutan Pegunungan Bawah

Flora dan Fauna di TN Babul

Hingga tahun 2017, terdapat 711 spesies tumbuhan yang hidup di kawasan TN Babul. Diantara semua spesies tumbuhan tersebut, terdapat 6 jenis tumbuhan yang dilindungi yaitu :

  • Palem Livistona sp
  • Palem Livistona chinensis
  • Eboni Diospyros celebica
  • Anggrek Phalaenopsis amboinensis
  • Anggrek Dendrobium macrophyllum
  • Anggrek Ascocentrum miniatum

Beberapa jenis tumbuhan di TN Babul yang hidup subur akibat tanah dan bebatuan yang mengandung magnesium tinggi adalah :

  • Nauclea orientalis
  • Leea aculata
  • Eugenia acutangulate
  • Calophylum sp.
  • Macaranga sp.
  • Cassia siamea
  • Mangifera sp.

Untuk dunia fauna, TN Babul merupakan Kingdom of Butterfly karena memiliki sekitar 250 spesies kupu-kupu. Dalam Peraturan Pemerintah No.7/1999 tertulis bahwa terdapat paling sedikit 20 spesies kupu-kupu yang dilindungi.

Beberapa spesies langka tersebut bahkan hanya dapat anda temukan di TN Babul seperti Troides hypoliptus, Papilo adamantius, Troides helena linne, Cethosia myrana, dan Troides haliphorn boisduval.

Selain kupu-kupu, masih ada beragam satwa yang dapat anda temukan disini, diantaranya adalah:

  • Monyet hitam sulawesi
  • Kelelawar
  • Kuskus
  • Musang sulawesi
  • Tarsius
  • Rangkong sulawesi

Kegiatan dan Destinasi Wisata di TN Babul

Sejak ditetapkan menjadi TN Babul ditahun 2004, wilayah ini memiliki beberapa kegiatan dan destinasi wisata yang dapat dikunjungi, diantaranya adalah:

  • Kawasan Wisata Bantimurung, dimana terdapat wilayah kupu-kupu, air terjun, dan gua batu.
  • Pegunungan Bulusaraung, dimana terdapat homestay, area pendakian ke puncak gunung Bulusaraung, dan area pelaksanaan upacara adat setempat.
  • Kawasan Prasejarah Leang-Leang, dimana terdapat lukisan dan artefak bersejarah, serta gugusan tebing batu yang cukup licin.
  • Gua Leang Puteh, dimana terdapat gua vertikal single pitch yang cukup menantang dan memerlukan keahlian khusus.
  • Wisata Pattunuang, dimana terdapat aktivitas panjat tebing, gua vertikal dan horizontal, sungai berbatu, dan pendakian.
  • Kawasan Pengamatan Satwa Karaenta, dimana terdapat laoratorium dan atraksi kera hitam.
  • Pemandian Alam Leang Lonrong, dimana terdapat aliran sungai yang berasal dari gua Leang Lonrong dan diapit dengan tebing kapur.