Apa itu Unsur Suprasegmental dan Unsur Segmental dalam Bahasa?

√ Edu Passed Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Bahasa adalah sesuatu  yang sangat unik hingga menjadi salah satu identitas bag suatu kelompok bangsa. Meski bahasa yang diucapkan oleh masing-masing kelompok itu berbeda-beda namun bahasa memiliki unsur-unsur pembentuknya. 

Bahasa yang selalu kita ucapkan terdiri dari dua unsur di antaranya adalah berikut ini. 

Unsur Suprasegmental

Unsur bahasa yang pertama adalah unsur suprasegmental yakni sebuah unsur yang tidak bisa dituliskan. Meski tidak bisa ditulis namun unsur ini dapat mengubah makna dari sebuah ucapan. Unsur suprasegmental diantaranya adalah tekanan, intonasi, atau jeda yang berbeda. Dengan adanya unsur ini satu kalimat yang memiliki bentuk dan struktur sama dapat memiliki banyak makna. 

Berikut ini adalah yang termasuk unsur suprasegmental beserta penjelasanya. 

Tekanan 

Tekanan kerap disebut juga sebagai stress yakni sebuah bunyi yang dikaji berdasarkan kekuatan tekanannya. Dalam buku Fonologi Bahasa Indonesia (2013: 53)  Chaer menjelaskan bahwa bunyi segmental ketika diucapkan dengan arus udara yang kuat maka amplitudonya akan melebar sehingga sebuah kepastian akan diiringi dengan tekanan yang keras,. Begitu juga sebaliknya bunyi yang diucapkan dengan arus udara yang lemah maka amplitudonya menyempit dan suaranya diiringi dengan tekanan yang lunak.

Namun dalam bahasa Indonesia hanya berperan dalam sintaksis saja. Contohnya adalah “rumah itu” penekanannya ada pada kata “itu” yang artinya menunjukkan satu rumah tertentu diantara rumah-rumah yang lain.

Nada atau Intonasi

Nada adalah unsur suprasegmental yang berkaitan dengan tinggi rendah nya bunyi. Bunyi yang memiliki nada tinggi adalah bunyi dengan frekuensi getaran yang tinggi sedangkan bunyi yang memiliki nada rendah adalah bunyi dengan frekuensi getaran yang rendah. 

Dalam bahasa Indonesia nada hanya berpengaruh pada sintaksis saja namun pada bahasa bahasa Thailand dan Vietnam sangat berperan penting karena akan mempengaruhi makna. 

Contohnya adalah dalam kalimat “Maya kemarin tidak masuk sekolah” jika kalimat ini diucapkan dengan intonasi tinggi maka akan menjadi kalimat pertanyaan. Namun jika kalimatnya diucapkan dengan nada rendah maka menjadi kalimat pernyataan. 

Jeda

Jeda adalah suatu pemberhentian dalam satu ujaran dan menjadi titik berat. Jeda dibagi menjadi dua macam yaitu jeda dalam atau internal juncture dan jeda luar atau open juncture. 

Jeda dalam adalah suku kata contohnya kata meja jedanya digambarkan menjadi me+ja. Sedangkan jeda luar membatasi frasa, klausa maupun kalimat. Jeda atau disebut juga dengan sendi ini sangat berpengaruh terhadap makna dalam bahasa Indonesia. 

Contoh kalimat “Guru / baru datang” artinya adalah seorang guru baru saja tiba ata datang. Pada kalimat yang sama dengan jeda yang berbeda maka maknanya berbeda seperti “Guru baru / datang” yang artinya ada seorang guru yang baru saja direkrut telah tiba.

Durasi 

Durasi adalah rentang waktu atau panjang pendeknya suatu bunyi ketika diucapkan. Bahasa yang memiliki unsur suprasegmental ini adalah bahasa Arab contohnya pada kata “habibi” artinya kekasih namun jika diucapkan “habibii” maka artinya menjadi kekasihku. 

Bahasa Daerah di Indonesia juga ada yang makannya terpengaruhi oleh unsur ini yaitu bahasa vugia. Contohnya “mapeje” yang artinya garam sedangkan “mappeje” artinya membuat garam. 

Unsur Segmental

Unsur bahasa yang kedua adalah unsur segmental yakni kebalikan dari unsur suprasegmental. Bagian-bagian dari unsur segmental antara lain sebagai berikut 

Fonem 

unsur terkecil dari suatu bahasa. Fonem dilambangkan dengan huruf atau alfabet seperti a, b, c, dan seterusnya.

Meski merupakan unsur paling kecil namun berbeda fonem maka bisa mengubah maknanya. Misalnya adalah kata “pola” jika huruf “p” diganti menjadi “b” maka kata tersebut berubah menjadi “bola” dan berbah pula maknanya. 

Fonem dibagi menjadi 2 macam yaitu fonem vokal /a/, /i/, /u/, /e/, /o/) dan fonem konsonan  /p/, /b/, /t/, /d/, /c/, /j/, /k/, /g/, /m/, /n/, /ŋ/, /с/, /l/, /f/, /s/, /z/, /ʃ/, /x/, /h/, /r/, /w/, dan /y/.

Morfem 

Morfem adalah sebuah gramatika terkecil yang memiliki makna. Biasanya digunakan untuk membedakan kata tunggal, jamak, awalan,sisipan, dan gabungan awalan dan akhiran. Morfem pada masing-masing bahasa memiliki jenis-jenisnya sendiri yang berdasarkan pada Kebebasannya, keutuhannya, dan maknanya.

Contoh morfem adalah “Anna merias Elsa” morfem pada kalimat ini adalah “me” pada kata “merias” yang artinya Anna melakukan rias wajah Elsa. Jika kalimat diganti menjadi “Anna dirias Elsa” maka morfemnya adalah “di” artinya berubah menjadi Elsa yang melakuan riasan pada wajah Anna. 

Kata 

Kata adalah unit bahasa yang merupakan gabungan dari beberapa morfem yang memiliki arti. “Kata” diambil dari bahasa Sanskerta yakni “katha” yang bermakna konversasi, bahasa, cerita, atau dongeng. Ciri-ciri kata antara lain tersusun dari beberapa huruf, mengandung makna, berfungsi dalam tatanan bahasa, serta ketika dipadupadankan dengan kata lainnya bisa menjadi frasa, klausa, atau bahkan kalimat. Seluruh kosa kata yang memiliki makna termasuk ke dalam unsur segmental.

Frasa

Frasa adalah gabungan dari beberapa kata yang memiliki kedudukan seperti subjek, objek, predikat, keterangan. Ciri-ciri dari frasa adalah tersusun dari beberapa kata, berfungsi sebagai gramatikal dalam sebuah kalimat, setia frasa harus mengandung satu makna gramatika, tidak memiliki predikat atau bersifat nonpredikatif, serta berkedudukan dalam satu fungsi kalimat. 

Contoh “Ruang kelas sedang dibersihkan”, kalimat ini terdiri dari dua frasa yaitu “ruang kelas” yakni frasa benda dan “sedang dibersihkan” merupakan frasa kerja.

Klausa

Klausa adalah sebuah kelompok kata yang memungkinkan untuk menjadi kalimat yang tersusun dari subjek dan predikat. Dengan kata lain klausa ada bentuk yang lebih lengkap dari frasa. Ciri yang dimiliki klausa yaitu terdiri dari satu predikat, merupakan bagian dari kalimat plural, tidak mempunyai intonasi dan tanda baca akhir, tersusun atas predikat dan objek, serta berfungsi gramatika dalam kalimat. 

Contohnya adalah “Mina belum berangkat” yakni terdiri dari “Mina” sebagai subjek dan “belum pergi” sebagai predikat.

Kalimat

Kalimat gabungan dari kata, frasa, atau klausa yang utuh dan memiliki satu kesatuan arti yang disusun dengan sistem bahasa yang bersangkutan. Gabungan dari kata-kata akan dianggap sebagai kalimat apabila memenuhi ciri seperti mengandung ide dan makna yang utuh, memiliki subjek dan predikat, apabila dalam bentuk tulisan maka diawali dengan huruf kapital kemudian berakhir dengan tanda baca titik (.), tanda tanya (?) atau bisa juga tanda seru (!), serta memiliki lebih dari satu klausa.

Contohnya adalah “Ada berbagai macam buah di Pasar Baru yang merupakan jenis kalimat pernyataan . “Ada buah apa saja di Pasar Baru”? yang merupakan kalimat tanya.

Wacana 

bagian dari bentuk komunikasi seperti dialog dan paragraf serta merupakan satuan bahasa yang paling lengkap. Ciri dari sebuah wacana adalah memiliki tema tertentu, relasi koherensi dan kohesi, bisa berupa tulisan maupun lisan. gagasan, dan wacana persuasi yang berisi untukmyakinkan pendengar atau pembaca.

Contoh wacana adalah teks berita, makalah, seminar dan lainnya.

fbWhatsappTwitterLinkedIn