Geografi

Jenis-jenis Tanah di Indonesia dan Cirinya

√ Edu Passed Pass education quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Peranan tanah sangat penting dalam kelangsungan hidup organisme yang tinggal di atasnya.

Khususnya bagi tanaman, tanah menyimpan banyak mineral dan bahan organik yang berguna bagi tanaman.

Berikut merupakan beberapa jenis tanah di Indonesia beserta ciri-cirinya.

1. Tanah Gambut

Tanah ini terbentuk karena adanya proses pembusukan dari sisa-sisa tumbuhan rawa.

Tanah gambut atau yang biasa disebut tanah organosol ini kurang baik untuk pertanian maupun perkebunan karena memiliki derajat keasaman tinggi. 

Ciri-ciri tanah gambut:

  • memiliki warna coklat hingga kehitaman,
  • bertekstur debu lempung,
  • konsistensi mulai dari tidak lekat hingga agak lekat,
  • tidak terjadi diferensiasi horizon secara jelas,
  • ketebalan lebih dari 0.5 meter,
  • Kandungan organik 20%-30%,
  • Memiliki keasaman tinggi dengan pH 4.0, dan
  • Kandungan unsur hara rendah.

2. Tanah Grumusol

Tanah grumusol berasal dari batu kapur atau batuan lempung. Tanah jenis ini banyak terdapat di daerah iklim subhumid atau subarid yang memiliki curah hujan <2.500 mm/tahun.

Ciri-ciri tanah grumusol:

  • Memiliki perkembangan profil,
  • Agak tebal,
  • Tekstur lempung berat,
  • Memiliki struktur granular di lapisan atas dan struktur gumpal hingga pejal di lapisan bawah,
  • Jika basah konsistensi basah sangat lekat dan plastis, namun jika kering konsistensi menjadi sangat keras dan tanah retak-retak,
  • Kejenuhan basa,
  • Permeabilitas lambat,
  • Peka terhadap erosi.

3. Tanah Aluvial

Tanah aluvial banyak terdapat di daerah datar sepanjang aliran sungai. Tanah jenis ini terbentuk dari material halus yang diendapkan oleh aliran sungai.

Tanah aluvial memiliki tingkat kesuburan yang beragam, mulai dari sedang hingga tinggi.

Ciri-ciri tanah aluvial:

  • Tergolong muda dan belum mengalami perkembangan,
  • Tekstur beraneka ragam,
  • Belum terbentuk struktur,
  • Konsistensi dalam keadaan basah lekat,
  • Kandungan pH bermacam-macam.

4. Tanah Podsolik

Tanah podsolik berasal dari batuan pasir kuarsa, tuff vulkanik dan bersifat asam.

Tanah ini banyak tersebar di daerah beriklim basah tanpa bulan kering dengan curah hujan >2.500 mm/tahun. Tingkat kesuburan tanah podsolik rendah hingga sedang.

Ciri-ciri tanah podsolik:

  • Tanah mineral yang telah berkembang,
  • Memiliki solum (kedalaman) yang dalam,
  • Tekstur lempung hingga berpasir,
  • Struktur gumpal,
  • Konsistensi lekat,
  • Bersifat agak asam dengan pH <5.5,
  • Warna merah hingga kuning,
  • Kejenuhan basa rendah,
  • Peka terhadap erosi

5. Tanah Podsol

Tanah ini berasal dari batuan induk pasir. Tanah podsol banyaka tersebar di daerah beriklim basah dengan topografi pegunungan seperti Kalimantan Tengah, Sumatera Utara, dan Papua Barat. Tingkat kesuburan yang dimiliki tanah ini rendah.

Ciri-ciri tanah podsol:

  • Telah mengalami perkembangan profil,
  • Tekstur lempung hingga berpasir,
  • Struktur gumpal,
  • Konsistensi lekat,
  • Kandungan pasir memiliki kuarsa tinggi,
  • Tingkat keasaman tinggi,
  • Kapasitas pertukaran kation sangat rendah,
  • Peka terhadap erosi.

6. Tanah Regosol

Tanah jenis ini terbentuk dari endapan abu vulkanik baru yang memiliki butir kasar, sehingga banyak ditemukan di daerah lereng gunung api. Kesuburan yang dimiliki tanah jenis ini di tingkat sedang.

Ciri-ciri tanah regosol:

  • Tergolong masih muda,
  • Belum mengalami diferensiasi horizon,
  • Bertekstur pasir,
  • Struktur berbukit tunggal,
  • Konsistensi lepas-lepas,
  • Umumnya kandungan pH netral.

7. Tanah Litosol

Tanah litosol terbentuk dari batuan beku yang belum mengalami proses pelapukan secara sempurna.

Jenis tanah ini banyak terdapat di lereng gunung dan pegunungan di seluruh Indonesia. Tingkat kesuburan yang dimiliki tanah litosol bervariasi.

Ciri-ciri tanah litosol:

  • Berupa tanah mineral tanpa atau sedikit perkembangan profil,
  • Berasal dari batuan beku atau batuan sedimen keras,
  • Kedalaman tanah termasuk dangkal, yaitu < 30 cm,
  • Tekstur tanah beraneka ragam, umumnya berpasir dan tidak berstruktur,
  • Terdapat kandungan batu, kerikil, dll.

8. Tanah Latosol

Tanah jenis ini terbentuk dari batuan gunung api yang kemudian mengalami proses pelapukan lanjut.

Tanah latosol banyak ditemukan di daerah yang memiliki iklim basah, curah hujan tinggi, dan berada di ketinggian 300-1.000 meter.

Ciri-ciri tanah latosol:

  • Telah berkembang dan terjadi diferensiasi horizon,
  • Kedalaman tanah cukup dalam,
  • Tekstur lempung,
  • Struktur remah hingga gumpal,
  • Konsistensi gembur hingga agak tegunh,
  • Berwarna coklat, merah, hingga kuning.

9. Tanah Andosol

Tanah andosol berasal dari bahan induk abu vulkanik. Tanah ini banyak tersebar di daerah beriklim sedang dengan curah hujan di atas 2.500 mm/tahun tanpa adanya musim kemarau.

Tanah jenis ini umumnya banyak ditemukan di daerah lereng atas kerucut vulkanik pada ketinggian lebih dari 800 meter.

Ciri-ciri tanah andosol:

  • Telah mengalami perkembangan profil,
  • Memiliki solum agak tebal,
  • Warna agak coklat kelabu hingga hitam,
  • Kandungan organik tinggi,
  • Tekstur geluh berdebu,
  • Struktur remah,
  • Konsistensi gembur dan bersifat licin berminyak agak asam,
  • Kejenuhan basa tinggi dan daya absorpsi sedang,
  • Kelembaban tinggi,
  • Permeabilitas sedang,
  • Peka terhadap erosi.

10. Tanah Mediteran Merah Kuning

Tanah ini berasal dari batuan kapur keras (limestone). Tanah jenis ini banyak tersebar di daerah beriklim subhumid, topografi karst dan lereng vulkan dengan ketinggian di bawah 400m.

Ciri-ciri tanah mediteran merah kuning:

  • Mempunyai perkembangan profil,
  • Solum sedang hingga dangkal,
  • Warna coklat hingga merah,
  • Memiliki horizon B argilik,
  • Bertekstur geluh hingga lempung,
  • Struktur gumpal bersudut,
  • Konsistensi teguh dan lekat bila basah,
  • pH netral hingga agak basa,
  • Kejenuhan basa tinggi,
  • Daya absorbsi sedang,
  • Permeabilitas sedang,
  • Peka erosi.