5 Jenis Komposisi Penduduk di Indonesia

√ Edu Passed Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Komposisi penduduk merupakan pengelompokan atau penggolongan penduduk berdasarkan suatu kriteria tertentu. Adapun kriteria yang digunakan dalam menentukan komposisi penduduk ini sangat beragam, misalnya usia, jenis kelamin, agama, pendidikan, pekerjaan, dan selainnya. Berikut adalah komposisi penduduk di Indonesia.

Berdasarkan Umur dan Jenis Kelamin

Pengelompokan penduduk biasanya terbagi dalam interval 5 tahunan, seperti 0 sampai 4 tahun, 5 sampai 9 tahun, dan seterusnya. Dengan pengelompokan berdasarkan usia dan jenis kelamin ini akan diketahui ciri-ciri kependudukan lainnya, yakni:

  • Sex Ratio
    Sex ratio adalah perbandingan antara jumlah penduduk laki-laki terhadap perempuan.
  • Wanita Usia Subur (Child Bearing Age)
    Kelompok wanita usia subur adalah sekelompok perempuan yang memiliki kemampian untuk melahirkan anak. Kelompok ini terdiri dari perempuan yang berusia antara 15 hingga 44 tahun. 
  • Jumlah Angkatan Kerja
    Angkatan kerja merupakan penduduk usia kerja, yakni penduduk usia 15 hingga 65 tahun, yang bekerja atau memiliki pekerjaan sementara, tidak bekerja, dan mencari pekerjaan.
  • Angka Beban Ketergantungan (Dependency Ratio)
    Angka ketergantungan adalah perbandingan penduduk nonproduktif dengan 100 orang penduduk produktif.

Berikut adalah daftar komposisi penduduk Indonesia bersarkan usia dan jenis kelamin menurut data BPS tahun 2019 (dalam juta jiwa):

Kelompok UmurPenduduk
(Laki-Laki)
Penduduk
(Perempuan)
Penduduk
(Laki-Laki + Perempuan)
0-4 12.044,811.560,123.604,9
5-9 12.234,211.739,723.973,8
10-14 11.824,811.232,423.057,1
15-19 11.406,210.888,022.294,2
20-24 11.167,610.750,021.917,6
25-29 10.690,910.537,121.228,0
30-34 10.320,410.261,820.582,2
35-39 10.058,210.207,620.265,8
40-44 9.679,19.687,619.366,7
45-49 8.876,68.817,817.694,3
50-54 7.699,27.739,015.438,1
55-59 6.314,86.435,012.749,8
60-64 4.895,14.923,19.818,2
65-69 3.337,53.394,36.731,8
70-74 2.027,62.357,34.384,9
75+ 2.080,72.886,44.967,0
Total134.657,6133.416,9268.074,6


Berdasarkan Tingkat Pendidikan

Kualitas sumber daya manusia suatu negara bisa dilihat berdasarkan tingkat pendidikan penduduk negara tersebut. Negara-negara maju biasanya memiliki tingkat pendidikan penduduk yang tinggi, sebaliknya negara berkembang terlebih negara-negara miskin cenderung memiliki tingkat pendidikan yang rendah.

Berdasarkan data Kementrian Dalam Negeri pada Juni 2021, berikut adalah komposisi penduduk Indonesia menurut  tingkat pendidikan:

Tingkat PendidikanJumlah Penduduk
Tidak/Belum Sekolah63, 5 juta jiwa
Belum Tamat SD31 juta jiwa
Tamat SD64, 8 juta jiwa
SLTP39,7 juta jiwa
SLTA56,2 juta jiwa
D1 dan D21,2 juta jiwa
D33,5 juta jiwa
S111,6 juta jiwa
S2822.471
S359.197

Dari data tersebut, nampak bahwa berdasarkan tingkat pendidikannya komposisi penduduk Indonesia sebagian besar adalah lulusan SD. Sementara itu, jumlah angka yang sangat jauh antara lulusan SMA dengan yang melanjutkan ke pendidikan tinggi setingkat Diploma maupun Sarjana, menunjukkan bahwa banyak penduduk Indonesia yang hanya menyelesaikan pendidikannya di tingkat menengah.

Berdasarkan Agama

Pemerintah Indonesia memberikan jaminan hak kepada penduduknya untuk memeluk agama dan kepercayaan sesuai yang diyakininya. Hal ini sebagaimana tertuang dalam Pasal 29 Ayat (2) UUD 1945. Meski demikian, sampai saat ini hanya 6 agama yang diakui secara resmi di Indonesia, yaitu Islam, Kristen, Katolik, Buddha, Hindu, dan Kong Hu Chu.

Sebagaimana diketahui bahwa Islam adalah agama dengan pemeluk paling banyak di Indonesia. Bahkan, Indonesia diakui sebagai negara dengan umat muslim terbesar di dunia. Berikut adalah persentase komposisi penduduk Indonesia berdasarkan agama dan kepercayaan menurut data Kementrian Dalam Negeri pada Juni 2021:

AgamaPersentase
Islam86,68 %
Kristen7,49%
Katolik3,09%
Hindu1,71 %
Buddha0,75%
Aliran Kepercayaan0.04%
Kong Hu Chu0,03%

Berdasarkan Bidang Usaha

Aktivitas perekonomian suatu negara tergambar dari bidang usaha yang ditekuni oleh penduduknya. Secara umum, penduduk negara miskin dan berkembang masih banyak mengandalkan sektor agraris untuk menunjang perekonomiannya. Sementara itu, penduduk negara maju lebih banyak bergelut di bidang industri, jasa, dan perdagangan.

Berikut adalah data BPS untuk bidang usaha yang diisi oleh usia angkatan kerja (15 tahun keatas) di Indonesia pada Februari dan Agustus 2021:

No.Lapangan Pekerjaan Utama20212021
FebruariAgustus
APertanian, Kehutanan dan Perikanan38.777.60037.130.676
BPertambangan dan Penggalian1.348.2171.443.422
CIndustri Pengolahan17.823.56818.694.463
DPengadaan Listrik, Gas, Uap/Air Panas dan Udara Dingin274.622284.518
EPengadaan Air, Pengelolaan Sampah dan Daur Ulang, Pembuangan dan Pembersihan Limbah dan Sampah498.535562.726
FKonstruksi7.929.6518.293.769
GPerdagangan Besar Dan Eceran; Reparasi dan Perawatan Mobil dan Sepeda Motor25.161.61325.736.110
HTransportasi dan Pergudangan5.307.6495.443.654
IPenyediaan Akomodasi dan Penyediaan Makan Minum9.167.5429.180.340
JInformasi dan Komunikasi1.083.471998.199
KJasa Keuangan dan Asuransi1.513.5761.597.805
LReal Estat471.378355.955
MNJasa Perusahaan1.891.6592.017.071
OAdministrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib4.657.6394.848.980
PJasa Pendidikan6.493.1796.491.628
QJasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial2.307.6682.197.328
RSTUJasa Lainnya6.356.7385.773.879
Total131.064.305131.050.523

Dari data tersebut maka nampak bahwa komposisi penduduk Indonesia di bidang usaha  masih didominasi oleh mereka yang bekerja di sektor agraris, yaitu pertanian, kehutanan, dan perikanan.

Berdasarkan Wilayah Geografis

Salah satu aspek geografis dalam pembagian komposisi penduduk adalah wilayah desa dan kota. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2020, diperkirakan sebanyak 56,7% dari jumlah penduduk Indonesia tinggal di wilayah perkotaan.  dan sisanya, yakni sekitar 43,3% tinggal di pedesaan.

BPS sendiri memprediksikan bahwa jumlah penduduk di wilayah perkotaan akan semakin meningkat pada tahun-tahun berikutnya. Selain dikarenakan pertambahan alami (akibat kelahiran), pertambahan jumlah penduduk yang menetap di kota juga dipengaruhi oleh faktor ekonomi, seperti tersedianya peluang usaha yang lebih banyak dan lebih menarik di kota.

fbWhatsappTwitterLinkedIn