Sejarah

5 Kitab Peninggalan Kerajaan Majapahit Beserta Penjelasannya

√ Edu Passed Pass education quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Majapahit merupakan kerajaan Hindu-Buddha terakhir yang ada di Indonesia sekaligus menjadi kerjaan terbesar dalam sejarah. Kerajaan ini berdiri sejak tahun 1293 dan runtuh pada tahun 1527.

Meski runtuh kerajaan Majapahit banyak meninggalkan benda-benda bersejarah. Benda tersebut berupa candi, prasasti maupun karya sastra. Di bawah ini adalah karya sastra peninggalan kerajaan Majapahit.

1. Kitab Negara Kertagama

Kitab Negara Kertagama yang  juga dikenal sebagai Kakawin Negara Kertagama adalah salah satu peninggalan kerajaan Majapahit yang terkenal. Kitab ini memiliki judul asli Desawamana dan ditulis oleh Mpu Prapanca.

Kitab ini ditulis pada masa  pemerintahan Sri Rajasanegara atau yang lebih dikenal dengan nama Hayam Wuruk.Mpu Prapanca hanyalah nama samaran saja, nama aslinya adalah Dang Acarya Nadendra.

Ia mrupakan sosok yang sangan dipercaya sebagai sumber sejarah. Sedangkan arti dari Kerta Negaragama adalah”negara dengan tradisi atau agama yang suci.

Di ketahui Mpu prapanca menyelesaikan kitab ini dalam pertapaanya di lereng pegunungan yang berada di desa Kamalasana. Diperkirakan kitab ini selesai antara bulan September-Oktober 1365 Masehi. Pada saat itu Mpu Pranpanca sudah memasuki usia lanjut namun terus mengabdi menulis sejarah.

Kitab ini menyangkut hal-hal penting yang berhubungan dengan kerajaan Majapahit pada saat itu seperti istilah kerajaan, kondisi Majapahit, candi makam raja, keadaan kota raja, upacar Sradha, negara-negara kekuasaan Majapahit, dan banyak lagi.  Asal mula kerajaan Majapahit pun diuraikan secara lengkap dalam kitab tersebut. 

Isi kitab tersebut ditulis dalam bentuk syair Jawa kuno yang bersifat Pujasastra atau mengagungkan Raja kerajaan Majapahit.  Setiap kakawin terdiri dari empat baris.

Pada setiap barisnya berisi 8 – 24 suku kata atau yang dikenal dengan istilah matra. Kitab ini memiliki 98 pupuh yang terbagi menjadi dua bagian. Setiap bagiannya memilki 49 pupuh.

Pupuh ialah kumpulan dari berbagai bait dalam tembang ataupun syair Jawa Kuno.

2. Kitab Sutasoma

Kitab atau kakawain Sutasoma merupakan salah satu hasil karya sastra dari Mpu Tantular. Mpu Tantular menggubah kitab ini pada abad ke 14 yakni sekitar tahun 1365- 1389.

Kakawain atau syair ini dianggap penting karena berisi tentang ide-ide religius terutama tentang agama Buddha Mahayana yang berhubungan dengan agama Siwa.  Kitab ini ditulis dalam aksara Bali.

Karya sastra ini dianggap unik karena kisah tokoh keturunan Pandawa disusun dalam kisah Buddhis. Tokoh yang diuraikan dalam kitab ini adalah Pangeran Sutasoma dari negeri Hastinapura.

Sutasoma dianggap setara dengan Arjuna yang merupakan putra dari Pandu. Sutasoma memutuskan untuk menjadi petapa dalam mencapai tujuan keutamaan hidupnya.

Dalam kitab ini memberikan peringatan tentang pertentangan pasca Gajah Mada yaitu pertentangan antara Keraton Barat dan Keraton Timur. Sutasoma menyarankan agar permasalah tersebut diselesaikan dengan cara damai sesuai prinsip yang diajarkan oleh Buddha.

Dalam kitab ini juga terdapat syair yang saat ini digunakan sebagai semboyan bangsa Indonesia yaitu “Bhineka Tunggal Ika”. “Bhineka” memiliki arti “beragam ragam”, “tunggal” artinya “satu”, dan “Ika” artinya “satu”. Jadi secara harfiah Bhineka Tunggal Ika artinya “beraneka ragam itu satu”. Kakawin ini terdapat dalam pupuh ke 139 pada bait ke 5.

Kalimat lengkap dari kakawain tersebut ialah “… bhinneka tunggal ika tan hanadharmma mangrowa“. Maknanya adalah memberikan semangat nasionalisme di bumi Nusantara. 

3. Kitab Arjuna Wiwaha

Penulis dari kitab ini adalah Mpu Kanwa yang ditulis pada masa pemerintahan Raja Airlangga yaitu pada tahun 1912-1942. Kitab ini ditulis dalam bahasa Kawi. Cerita yang ditulis Mpu Kanwa tersebut sangat popoler hingga banyak ditulis ulang dalam berbagai judul seperti “Mintaraga”.

Dalam kitab ini Arjuna dikisahkan sebagai Raja Airlangga yang tengah menjalani masa hukunam dengan pandawa lainnya. Arjuna dan pandawa diasingkan selama 12 tahun akibat dari perbuatannya bermain judi dadu dengan para kurawa.

Dalam perjalanannya Arjuna melakukan pertapaannya di Gunung Mahameru. Para Dewa menguji Arjuna dengan menurunkan bidari yang sangat cantik jelita namun ternyata Arjuna mampu menepis godaan tersebut.

Hingga akhirnya Dewa meminta bantuan Arjuna untuk mengalahkan Niwatakawaca. Ia adalah seorang raja dari raksasa yang lebih dikenal sebagai Rahwana.  

Niwatakawaca diberi keistimewaan yaitu tidak dapat terkalahkan kecuali oleh manusia. Itu lah sebabnya Dewa Indra meminta bantuan Arjuna untuk membunuh Niwatakawaca.  Arjuna pun memutuskan untuk membantu para dewa setelah sebelumnya merasa ragu-ragu.

Rahwana menginginkan bidadari Suprabha untuk dipersuntingnya. Hal ini dimanfaatkan untuk mengetahui kelemahan Rahwana. Setelah rayuan-rayuan yang dilontarkan suprabha akhirnya Rahwana memberitahukan kelemahannya yaitu terletak pada ujung lidahnya.

Peperangan pun dimulai Arjuna mengarahkan busur panah ke mulut Rahwana hingga akhirnya tewas. Perang tersebut dimenangkan oleh pasukan Arjuna. Sebagai bentuk terima kasih para dewa terhadap Arjuna, Arjuna diijinkan untuk menikahi suprabha dan 6 bidadari lainnya.

4. Kitab Calon Arang

Kitab calon arang tidak diketahui pasti siapa penulisnya, namun diketahui kitab ini ditulis pada tahun 1540 yaitu masa pemerintahan Raja Airlangga. Kitab ini erat kaitannya dengan ilmu magis. Kisah ini sangat terkenal di Bali bahkan di sana terdapat sendratari dengan judul yang sama pula.

Kitab ini mengisahkan tentang Calon Arang dan anaknya dalam lontar sebanyak 51 lembar.  

Dikisahkan ada seorang teluh sakti bernama Calon Arang yang hidup di desa Girah. Calon Arang ini mempunyai anak gadis yang berparas ayu bernama Ratna Manggalih. Banyak pria di desa tersebut yang memuji parasnya namun tidak satupun lelaki tersebut berani melamarnya.

Mereka takut dengan sang ibunda Calon Arang yang akhirnya membuat anaknya dijuluki sebagai “perawan tua”. Mendengar desas-desus tersebut Calon Arang pun murka dan menebarkan teror kepada seluruh warga.  Teror tersebut membuat warga desa Girah sakit hingga akhirnya mati.

Kejadian ini diketahui oleh Raja Airlangga dan kemudian ia mengirim pasukannya untuk membunuh Calon Arang. Namun bukannya terbunuh, wabah tersebut justru semakin meluas.

Raja Airlangga akhirnya meminta bantuan kepada Pendeta Brahmana yang bernama Mpu Barada. Mpu Barada pun menyanggupi permintaan Raja. Ia mengusulkan strategi agar anak muridnya yang bernama Mpu Bahula untuk melamar Ratna Manggalih.

Setelah Mpu Bahula berhasil menjadi suami dari Ratna Manggalih, Mpu Bahula pun mengamati kegiatan Calon Arang. Hingga akhirnya ia menemukan kitab yang membuat Calon Arang menjadi sakti dan melaporkannya kepada Mpu Barada.

Terjadilah perselisihan antara Mpu Barada dan Calon Arang. Diketahui ritual magis Calon Arang yaitu dengan menari-nari dan mengibaskan rambutnya sambil matanya melirik ke kanan dan ke kiri. Mpu Barada tidak mempan dengan kekuatan Calon Arang dan kemudian balik menyerang.

Ditempat berdirinya itu Calon Arang tewas seketika. Jasad Calon Arang kemudian dibuat candi di desa Girah atas perintah Kahuripan.

Candi tersebut hingga kini masih ada dan dijadikan sebagai tempat suci bagi orang-orang Girah.

Kesaktian Mpu Barada lainnya juga tertulis dalam kitab ini seprti ia mampu menyebrangi Pulau Bali hanya dengan selembar daun.

Kitab ini juga mengandung tentang bagaimana kita harus menghormati seorang pendeta meskipun ia adalah seorang Raja. Dalam kitab ini digambarkan Raja Airlangga bahkan membersihkan debu di kaki Mpu Barada dan mengusapkan ke dahinya.

Dan juga Raja Airlangga memberikan upah atas jasanya Mpu Barada yang telah mengembalikan keamanan dan kedamaian Kerajaan.

5. Kitab Kunjarakarna

Pengarang dari kitab ini tidak diketahui pasti nama aslinya, ia hanya menuliskan “Kadi Ngwangadusun” yang artinya penulis desa. Kitab ini ditulis pada tahun 991-1016 Masehi.

Kitab ini mengisahkan seorang yaksa yaitu Raksasa setan bernama Kunjarakarna dan saudaranya Purnawijaya. Keduanya ingin terbebaskan dari takdirnya yang mempunyai watak buruk.

Sejarawan menyebutkan kitab ini memiliki dua versi, versi pertama berbentuk  prosa sedangkan versi ke dua berbentuk kakawin atau syair. Namun keduanya hanya memiliki sedikit perbedaan yaitu pada alurnya.

Untuk terbebas sebagai yaksa Kunjakarna bertapa di gunung Semeru. Di sana ia di bertemu dengan dewa Buddha yaitu Wairocana. Wairocana menunjukkan gambaran nereka kepada Kunjakarna dan Purnawijaya.

Mereka pun segera meminta wejangan agar tidak terjebak dalam siksaan neraka. Wairocana pun bersedia untuk memberi wejangan untuk keduanya. Setelah menerima wejangan tersebut Kunjakarna bertapa dengan khusyuk.

Ia bertemu dengan Yama Dipati yang berada di Tegal Putrabhuwana. Tegal Putrabhuwana merupakan tempat penyiksaan bagi makhluk yang kerap berbuat dosa.

Ditempat itulah Kunjakarna menjalani masa hukumannya dan membersihkan diri. Namun tidak dengan Purnawijaya, ia mengabaikan nasihat dari dewa Buddha.

Purnawijaya pun tidak dapat terbebas dari siksaan neraka yang begitu kejam.  Sementara itu dengan kegigihannya Kunjarakarna berhasil terbebas dan masuk ke surga.