Sejarah

15 Peninggalan Kerajaan Medang Kamulan

√ Edu Passed Pass education quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Kerajaan Medang merupakan lanjutan dari kerajaan Mataram Kuno. Kerajaan ini telah berdiri sejak abad ke-8 dan didirikan oleh Mpu Sendok. Mpu Sendok sendiri merupakan salah satu pejabat kerajaan Mataram Kuno. Nama Kerajaan Medang Kamulan berasal daru suku kata kamulyan atau kemuliaan.

Kerajaan Medang Kamulan memiliki corak Hindu dan letaknya ada di sungai Brantas yang beribu kota di Wantas Mas. Saat kerajaan Mataram mengalami keruntuhan, Mpu Sendok mendirikan kerajaan bernama Kerajaan Medang. Selain itu, Mpu Sendok juga mendirikan Dinasti Isyana yang selanjutnya menjadi raja-raja di Kerajaan Medang.

Mpu Sendok memerintah kerajaan Medang selama 20 tahun dan membawa kerajaan Medang pada perkembangan yang cukup pesat. Ia juga dikenal sebagai salah seorang sastrawan yang banuak menghasilkan karya sastra. Namun, Kerajaan Medang mencapai puncak kejayaan pada masa Raja Airlangga. Kisah Raja Airlangga dijelaskan di dalam kitab Arjuna Wiwaha karangan Mpu Kanwa.

Kerajaan Medang Kamulan telah meninggalkan banyak peninggalan sejarah. Berikut peninggalan sejarah dari kerajaan ini adalah sebagai berikut.

1. Prasasti Mpu Sendok

Prasasti Mpu Sendok dikenal juga dengan nama Prasasti Cunggrang. Prasasti ini berada di pendapa mungil di Dusun Sukci, Desa Bulusari, Kecamatan Gempol, Pasuruan. Prasasti Mpu Sendok berasal dari batu andesit yang memiliki ketebalan 10 cm.

Prasasti ini juga termasuk salah satu prasasti tertua yang pernah ditemukan. Prasasti ini dibuat pada tahun 929 masehi dan menggunakan bahasa Sanskerta. Isi prasasti Mpu Sendok menjelaskan mengenai silsilah Mpu Sendok sebagai raja pertama dari kerajaan Medang.

Mpu Sendok dikenal juga dengan nama Dyah Sindok. Ia adalah raja yang memindahkan pusat kerajaan Medang dari Bhumi Mataram ke daerah Jawa Timur. Terdapat dua argumen terkait alasan emindahan pusat kerajaan.

Pertama karena adanya letusan gunung merapi. Alasan inilah yang menjadi alasan terkuat pemindahan ibu kota kerajaan. Sedangkan alasan kedua adalah adanya invasi yang dilakukan oleh kerajaan Sriwijaya. Mpu Sendok memiliki gelar Sri Maharaja Rake Hino Dyah Sindok Sri Isanawikrama Dharmottungadewawijaya.

Ia memerintah dari tahun 929 sampai 947 masehi. Saat itu pusat kerajaan Medang berada di Watugaluh, di tepi Sungai Brantas yang sudah masuk ke dalam kabupaten Jombang. Mpu sendok memiliki dua orang istri.

Di mana salah satu istrinya bernama Dyah Kbi yang konon merupakan putri dari Dyah Wawa, raja Mataram periode sebelumnya. Setelah masa pemerintahannya habis, putrinya naik tahta menjadi raja Kerajaan Medang yakni Sri Isanatungawijaya.

2. Prasasti Tengaran

Prasasti Tengaran berada di Desa Tengaran, Kecamatan Peterongan, Jombang. Prasasti ini dinamakan juga dengan prasasti Geweg. Prasasti Tengaran berasal batu andesit dan memiliki tinggi sekitar 124 cm dan lebar 78 cm. Prasasti peninggalan kerajaan Medamg ini ditulis dengan menggunakan huruf jaaa kuno dan bahasa jawa kuno

Prasasti tengeran tersusun atas 7 baris yang di mana pada baris A dan 16 baris pada susi B. Di sekitar prasasti juga terdapat beberapa batu kuno yang memiliki ukuran kuno. Prasasti Tengeran dinamakan pula dengan prasasti geweg karena prasasti ini menceritakan tentang Desa Geweg.

Desa Geweg adalah desa yang dulunya termasuk desa kuno dan sekarang masuk ke dalam wilayah Tengaran. Penetapan Prasasti geweg dan desa geqeg dolakukan pada tahun 857 saka atau lebih tepatnya yakni pada tanggal 6 paropeteng bulan srwana atau 14 agustus tahun 935 masehi.

Penetapan ini dilakukan oleh Mahamantri pu Sindok san Srisanotunggadewa bersama dengan Rakyan Sri Parameswara Sri Wardhani Kbi Umisori. Kbi Umi sori sendiri merupakan permaisuri dari Mpu Sindok.

3. Prasasti Lor

Prasasti Lor terletak di bekas reruntuhan candi Lor yakni di Desa Candirejo, Loceret, Nganjuk. Prasasti ini dinamakan pula dengan prasasti Anjuk Ladang. Prasasti ini dinamakan anjuk ladang karena mengacu pada nama tempat yang disebut dalam isi prasasti. Nama anjuk ladang kemudian dihubungkan dengan asal mula nama daerah Nganjuk.

Prasasti lor memiliki angka tahun 859 saka dan dikeluarkan oleh Raja Sri Isyana atau Mpu Sindok saat kerajaan Medang pindah ke bagian timur Pulau Jawa. Pada beberapa bagian prasasti telah mengalami aus sehingga tidak lagi dapat dibaca secara keseluruhan.

Pada beberapa tulisan yang tidak mengalami aus dijelaskan bahwa Raja Pu Sindok telah memerintahkan agar tanah sawah kakatikan di Anjukladang dijadikan Sima. Kemudian anjukladang dipersembahkan kepada bathara di sang hyang prasada kabhaktyan di Sri Jayamerta.

Menurut J.G de Casparias, penduduk desa Anjukladang mendapatkan anugerah pemberian dari raja karena telah membantu pasukan untuk menghalau serangan tentara Malayu ke Mataram saat itu. Saat itu, pasukan di bawah pimpinan Mpu Sindok melawan tentara Malayu yang bergerak ke daerah Nganjuk.

Oleh sebab kasa inilah, Mpu Sindok diangkat menjadi seorang raja. Selain itu, pada prasasti ini juga mengisahkan tentang bangunan suci di daerah tersebut.

4. Prasasti Gemekan/Bangil

Prasasti ini ditemukan di Situs Gemekan, Mojokerto. Isi dari prasasti ini menjelaskan mengenai pembelian tanah yang dilakukan menggunakan emas oleh MPU Sindok untuk membangun sebuah tempat suci. Prasasti ini terbuat dari batuan andesit yang saat itu ditemukan oleh tim ekskavasi BPCB Jatim.

Prasasti ini ditemukan pada ke dalaman 130 cm dari permukaan tanah. Saat ditemukan, bentuk bangunan sudah tidak lagi berdiri dan tak utuh. Batuan ini ditulis menggunakan aksara Jawa kuno dan menghadap ke sebelah timur laut. Pada bagian bawah dan sisi kanan atas prasasti sudah mengalami pecahan.

Sedangkan pada bagian depan prasasti memiliki bentuk segi lima yang melebar ke atas. Puncak prasasti meruncing membentuk sebuah prisma. Sementara itu, bagian dasar, diduga digunakan sebagai alas prasasti. Prasasti ini hanya tersisa sekitar 91 cm, dengan lebar 88 cm dan tebal 21 cm.

Isi prasasti Gemekan ditulis menggunakan bahasa Jawa Kuno dan diukir pada permukaannya yakni pada bagian depan, belakang, kanan dan kiri sehingga dinamakan pula dengan prasasti catur muka. Lima fragmen prasasti ditemukan di tempat yang sama.

Untuk isi prasasti sedang diteliti oleh Ahli Epigrafi. Namun ada beberapa kalimat yang berhasil diterjemahkan yakni prasasti tersebut menyebutkan angka tahun 852 saka dan nama Sri Maharaja Rakai Hino Mpu Sindok.

Di dalam prasasti juga menyinggung mengenai pembelian lahan dengan 3 mati emas dan nama daerah sebagai perwakilan yang menyaksikan peresmian prasasti.

5. Prasasti Calcutta

Prasasti kalkuta merupakan nama asli dari prasasti Pucangan. Prasasti ini ditemukan pada tahun 1042. Prasasti ini menjelaskan mengenai peristiwa penyerangan yang terjadi pada masa pemerintahan Sri Maharaja Isana Dharmawangsa Teguh Anantaeikramottunggadewa.

Di mana peristiwa ini telah menewaskan Dharmawangsa berserta keluarganya. Selain itu dalam prasasti ini juga dijelaskan para raja serta silsilah kerajaan Medang. Prasasti ini ditulis menggunakan bahasa Jawa Kuno dan bahasa Sanskerta.

6. Prasasti Ratu Boko

Prasasti ini ditemukan bersamaan dengan situs ratu Boko di Yogyakarta. Nama prasasti Ratu Boko adalah prasasti Abhayagiriwihara. Prasasti ini dibuat pada tahun 792 Masehi. Adapun isi prasasti ini menjelaskan pembangunan keraton ratu Boko yang dibangun oleh Rakai Panangkaran. Prasasti ini ditulis dengan menggunakan aksara pranagari atau huruf India Utara.

7. Prasasti Kedu

Prasasti ini ditemukan di Matesah, Magelang Utara, Jawa Tengah. Banyak penyebutan mengenai prasasti ini yakni prasasti tembaga kedu, prasasti balitung dan prasasti mantyasih. Prasasti ini diukir pada tahun 907 Masehi. Prasasti ini menjelaskan mengenai silsilah kerajaan Mataram kuno sebelum raja Balitung.

8. Situs Medang

Situs ini ditemukan di sebuah sawah Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Situs ini berupa sebuah lesung kuno dengan memiliki lebar 150 cm, panjang 170 cm dan tinggi 100 cm. Semula pemilik sawah dan anaknya ingin mencari emas atau benda peninggalan kerajaan Medang. Sebab, biasanya warga menemukan sisa peninggalan kerajaan Medang di sekitar Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus.

9. Candi Sewu

Candi Sewu merupakan candi yang dibangun sekitar abad ke 8 Masehi. Candi ini memiliki corak Buddha. Letak candi Sewu sekitar 800 meter ke sebelah Utara dari Candi Prambanan. Candi Sewu merupakan candi Buddha terbesar kedua setelah candi Borobudur.

Candi Sewu memiliki nama asli Manjusrigrha namun lebih dikenal dengan nama candi Sewu. Candi ini sebenarnya memiliki 249 candi, namun oleh masyarakat sekitar dinamakan candi Sewu yang artinya seribu.

Penamaan candi ini berkisah dari legenda Roro Jonggrang. Secara administratif, candi Sewu berada di dukuh bener, desa Bugisan, kecamatan Prambanan, Klaten, Jawa Tengah. Candi Sewu dibangun pada masa pemerintahan Rakai Panangkaran sekitar abad ke-8.

Kemudian candi ini dipugar dan diperluas pada masa Rakai Pikatan, seorang pangeran dari dinasti Sanjaya. Keberadaan candi Sewu yang memiliki corak Buddha berdampingan dengan candi Prambanan yang memiliki corak Hindu. Hal ini menunjukkan bahwa di daerah Jawa dulu umat Hindu dan Buddha hidup harmonis.

10.Candi Mendut

Candi Mendut berada di Desa Mendut, Kecamatan Mungkid, Magelang, Jawa Tengah. Candi ini letaknya hanya 3 km dari candi Borobudur. Candi Mendut diperkirakan masih memiliki kaitannya dengan Candi Pawon dan Candi Borobudur.

Sebab, ketiga candi ini berada pada satu garis lurus. Menurut J.G dr Casparis, candi ini dibangun oleh raja pertama dari dinasti Syailendra. Penyataan ini berdasarkan pada isi prasasti karang tengah yang menyatakan bahwa raja Indra telah membantu bangunan suci bernama Wenuwana. Oleh Casparis, Wenuwana atau Hutan Bambu diartikan sebagai candi Mendut.

Candi Mendut pertama kali ditemukan pada tahun 1836 namun pada saat itu bangunan atapnya tidak. Kemudian pada tahun 1879, pemerintah Hindia Belanda melakukan pemugaran pada candi ini. Kaki dan tubuh candi dilakukan rekonstruksi.

Kemudian tahun 1908, dilakukan kembali rekonstruksi dan pemugaran untuk menyempurnakan bentuk atap dan memasang kembali stupa serta memperbaiki sebagian puncak atap.eskipun pemugaran sempat berhenti karena kekurangan dana namun pemugaran kembali dilakukan pada tahun 1925.

11. Candi Pawon

Candi ini berada di antara candi Mendut dan Candi Borobudur. Candi Pawon terletak di Dusun Brojolan, Kelurahan Wanurejo, Kecamatan Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Keberadaan ketiga buah candi ini diperkirakan bahwa ketiga candi ini memiliki satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

Bahkan pada candi Pawon terdapat relief yang merupakan permulaan dari relief yang ada di candi Borobudur.

12. Candi Kalasan

Candi Kalasan berada di Dusun Kali bening, Desa Tirtomartani, Kalasan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Keberadaan candi ini berkaitan erat dengan prasasti kalasan. Prasasti yang memiliki bentuk persegi empat ini memuat empat belas baris tulisan yang menggunakan bahasa Sanskerta dan huruf pre nagari.

Candi Kalasan berdiri di atas sebuah alas yang memiliki denah bujur sangkar. Alas tersebut memiliki ukuran 45 x 45 meter dengan tinggi yang tersisa 24 meter. Diduga dahulunya Batur candi pernah dibatasi dengan pagar langkah yang dihias dengan stupa pada bagian atasnya.

Pada bagian kaki candi berlipat ganda dan membentuk susunan lapik dengan sisi 45 meter dan dibagian atasnya ada sebuah susunan kaki candi sebagai penopang tubuh candi.

13. Candi Bima

Candi Bima memiliki kemiripan dengan arsitektur candi yang ada di India. Candi ini terletak di Desa Dieng Kulon, Banjarnegara, Jawa Tengah. Candi ini memiliki ketinggian 8 meter. Di mana pada setiap dinding candinya terdapat arca kudu yang menyimbolkan kemegahan salah satu situs purbakala yang ada di Dieng.

14. Candi Puntadewa

Candi ini berada di komplek candi Arjuna. Candi ini memiliki ketinggian sekitar 2.5 meter. Candi Puntadewa terbuat dari batu andesit yang langka. Namun, kekokohan dari bangunan itu tidak diragukan lagi.

Bahkan hingga saat ini masih berdiri kokoh. Salah satu keunikan dari candi ini adalah adanya candi pewara. Candi pewarna sendiri mirip seperti tumpukan batu dengan ujung yang lancip. Di dalam candi tersebut arca sebagaimana candi-candi lainnya. Namun, hanya terapat yoni di dalamnya.

15. Candi Srikandi

Pembangunan candi ini semula bertujuan untuk persembahan kepada Tri Murti dalam agama Hindu. Candi Srikandi berada pada satu komplek dengan Candi Arjuna. Namun, candi ini memiliki ketinggian setengah meter dan terdapat bilik yang kosong di dalamnya.