Seni

10 Sastrawan Indonesia Beserta Biografinya

√ Edu Passed Pass education quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Sastrawan adalah seseorang yang ahli dan menggeluti dunia sastra. Sastrawan dapat digunakan untuk sebutan bagi penulis sastra, pujangga, ahli sastra, intelektual dan cendikiawan dalam diksi klasik. Sastrawan telah ada sejak zaman dahulu kala dan kian berkembang sesuai dengan perkembangan zaman. Karena sastra adalah suatu karya yang dinamis.

Indonesia memiliki banyak sastrawan yang karyanya terkenal bahkan hingga mancanegara. Karya-karya sastrawan tersebut melegenda bahkan setelah sang sastrawan wafat. Karya sastranya tetap dikenal dan terus diperkenalkan dari generasi ke generasi. Berikut dibahas beberapa sastrawan terkenal Indonesia.

1. Chairil Anwar

Chairil Anwar merupakan satrawan pria kelahiran Medan, 26 Juli 1922. Beliau tidak berumur panjang karena wafat pada usia 26 tahun, tepatnya pada 28 April 1949 di Jakarta diduga karena mengidap penyakit TBC kala itu.

Chairil Anwar memulai debut dengan mempublikasikan puisi karyanya berjudul Nisan pada tahun 1942. Beliau dikatakan menulis bahkan lebih dari 90 karya dimana 70 diantaranya adalah puisi, namun tidak semua karyanya di publikasikan. Chairil Anwar dibesarkan di Medan sebagai seorang anak tunggal dari orang tuanya. Beliau mengenyam pendidikan di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) yang merupakan sekolah dasar untuk orang-orang pribumi pada masa penjajahan Belanda. Kemudian meneruskan pendidikannya di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) dan berhenti bersekolah pada usia 18 tahun.

Ketika berusia 19 tahun dan orang tuanya bercerai, Chairil Anwar pergi ke Jakarta bersama ibunya. Di Jakarta tekad Chairil Anwar untuk menjadi seniman semakin kuat dan terasah. Chairil Anwar dijuluki “Si Binatang Jalang” berkat karya puisi Aku yang sangat melegenda. Oleh H.B Jassin, Chairil Anwar dinobatkan sebagai pelopor Angkatan’45 bersama dengan dua sastrawan lainnya. Puisi Chairil Anwar menyangkut berbagai tema, mulai dari pemberontakan, kematian, individualisme, dan eksistensialisme, hingga tak jarang multi-interpretasi.

2. Pramoedya Ananta Toer

Merupakan anak kebanggaan bangsa kelahiran Blora, Jawa Tengah pada 6 Februari 1925. Pramoedya Ananta Toer merupakan seorang anak sulung yang secara luas dianggap sebagai pengarang yang sangat produktif bahkan hingga akhir hayatnya. Pramoedya telah menghasilkan lebih dari 50 karya yang diterjemahkan ke dalam lebih dari 42 bahasa asing.

Pramoedya menempuh pendidikan Sekolah Kejuruan Radio di Surabaya dan kemudian bekerja sebagai juru ketik untuk surat kabar Jepang di Jakarta selama masa penjajahan Jepang. Kehidupan Pram mengalami pasang surut dan pro kontra dari sesama kalangan sastrawan dan rekan seperjuangannya. Hal ini dikarenakan tulisannya menyentuh tema interaksi antarbudaya, antara Belanda, kerajaan Jawa, orang Jawa secara umum, dan Tionghoa. Banyak dari tulisannya juga semi-otobiografi, dimana Pram menceritakan pengalamannya sendiri.

Pram memperoleh Ramon Magsaysay Award untuk Jurnalisme, Sastra, dan Seni Komunikasi Kreatif 1995. Pram juga memenangkan Hadiah Budaya Asia Fukuoka XI 2000 dan pada Norwegian Author’s Union Award pada 2004 dan berbagai penghargaan lainnya. Pram wafat di usia 81, pada 30 April 2006 di kediamannya.

3. Taufiq Ismail

Taufiq Ismail adalah sastrawan Indonesia dengan latar belakang keluarga ulama, guru dan sastrawan. Taufiq lahir di Bukittinggi, 25 Juni 1935 dan mengenyam Pendidikan Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor FKHP-UI.

Tahun 2016 Taufiq Ismail menjadi sorotan nasional, utamanya kalangan sastrawan dan tokoh agama, menyusul pernyataannya bahwa lagu Bagimu Negeri ciptaan Kusbini dinilai sesat.

Selain kontroversi tersebut, Taufiq memiliki berbagai pencapaian, beberapa diantaranya ialah Anugerah Seni dari Pemerintah (1970), Cultural Visit Award dari Pemerintah Australia (1977), menjadi penyair tamu di Universitas Iowa Amerika Serikat. Beberapa karya Taufiq yang terkenal ialah Kembalikan Indonesia Padaku (1971), Sajadah Panjang (1984), Malu (aku) jadi orang Indonesia (1998) dan Mencari sebuah Masjid (1988).

4. W.S. Rendra

Willibrordus Surendra Broto Rendra atau yang lebih dikenal W.S. Rendra merupakan penyair. dramawan, pemeran dan sutradara teater kebanggaan Indonesia kelahiran Solo, 7 November 1935. Rendra mengenyam pendidikan di Universitas Gadjah Mada dan mendapat gelar Doctor Honoris Causa. Penyair yang diberi julukan “Burung Merak” ini pertama kali mempublikasikan karyanya pada tahun 1952. Rendra merupakan meraih berbagai penghargaan, beberapa diantaranya seperti Anugerah Seni dari Pemerintah Republik Indonesia (1970), Penghargaan Adam Malik (1989) dan The S.E.A. Write Award (1996).

Karya-karya Rendra banyak yang diterjemahankan ke dalam Bahasa asing seperti Inggris, Belanda, Jerman, Jepang, Rusia dan India. Beberapa judul puisi Rendra yang terkenal misalnya Sajak-sajak CintaSajak orang LaparDoa seorang Serdadu sebelum PerangMazmur MawarGugurHai Ma!, dan lain-lain. Rendra wafat di usia 73 tahun pada 6 Agustus 2009 di Depok.

5. Sapardi Djoko Damono

Penyair dan pujangga Indonesia kelahiran Surakarta, 20 Maret 1940. Beliau mengambil pendidikan Fakultas Sastra di Universitas Gadjah Mada hingga akhirnya memperoleh gelar Doktor di Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Beliau yang namanya sering disingkat SDD, diikenal melalui berbagai puisi karyanya yang sederhana namun penuh dengan makna kehidupan. SDD merupakan seorang pendiri yayasan lontar. Karya-karyanya tidak hanya diterjemahkan dalam bahasa asing namun juga bahasa daerah.

Namun kini sastrawan yang terkenal sebagai penyair era 70an ini kini telah berpulang diusia 80 tahun pada 19 Juli 2020 akibat disfungsi paru-paru.

6. Mochtar Lubis

Beliau merupakan jurnalis dan pengarang kelahiran Padang, 7 Maret 1922 dan wafat di Jakarta, 2 Juli 2004 di usia 82 tahun. Berbagai novel tulisannya meraih penghargaan, beberapa diantaranya seperti Harimau! Harimau! (1975), meraih hadiah Yayasan Buku Utama Departeman P & K; dan novelnya Maut dan Cinta (1977) meraih Hadiah Sastra Yayasan Jaya Raya tahun 1979.

7. Nh. Dini

Nurhayati Sri Hardini atau yang biasa dikenal sebagai Nh. Dini adalah sastrawan dan novelis ndonesia kelahiran Semarang, 29 Februari 1936. Dini yang merayakan ulang tahunnya 4 tahun sekali ini mulai tertarik untuk menulis sejak kelas 3 SD. Salah satu karya novel Dini yang terkenal berjudul Pada Sebuah Kapal. Dini meninggal dunia tanggal 4 Desember 2018 pada usia 82 tahun karena kecelakaan lalu lintas di jalan tol Tembalang, Semarang.

8. Putu Wijaya

I Gusti Ngurah Putu Wijaya kelahiran Tabanan, 11 April 1944 merupakan sastrawan serbabisa ialah pelukis, penulis drama, cerita pendek, esai, novel, skenario film dan sinetron. Beliau meraih berbagai penghargaan dalam kiprahnya sebagai sastrawan. Tanda Kehormatan Satyalancana Kebudayaan Presiden Republik Indonesia (2004), Penghargaan Akademi Jakarta (2009) adalah sedikit contoh penghargaan yang diraihnya.

9. Andrea Hirata

Andrea ialah sastrawan kelahiran Bangka Belitung, 24 Oktober 1967 yang kini berusia 53 tahun. Novel debut Andrea ialah Laskar Pelangi yang kemudian menjadi 3 sekuel yaitu Sang Pemimpi, Edensor dan Maryamah Karpov. Andrea menerima beasiswa dari Uni Eropa, tesisnya dibidang telekomunikasipun mendapat penghargaan kemudian diadaptasi ke dalam Bahasa Indonesia dan menjadi buku teori ekonomi telekomunikasi pertama yang ditulis oleh orang Indonesia.

10. Ayu Utami

Justina Ayu Utami lahir di Bogor, 21 November 1968 merupakan jurnalis dan sastrawan yang menamatkan kuliah Bahasa Rusia di Universitas Indonesia. Novelnya berjudul Saman memenangi sayembara penulisan novel Dewan Kesenian Jakarta tahun 198 dan meraih Prince Claus Award pada tahun 2000.