Sistem Reproduksi Bekicot

√ Edu Passed Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Bekicot merupakan siput atau keong darat yang habitatnya berada di wilayah lembab. Spesies ini sering disebut sebagai hewan yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia. Hal ini dikarenakan bekicot mengandung parasit di dalam tubuhnya. Oleh sebab itu, tidak heran apabila negara Amerika Serikat dengan tegas sangat melarang para penduduknya untuk memelihara ataupun mengonsumsi bekicot.

Dari segi morfologi, bekicot termasuk famili molusca yang mempunyai ukuran tubuh paling besar dibandingkan spesies molusca lainnya. Selain itu, bagian tubuh bekicot juga memiliki dua bagian yakni struktur cangkang dan tubuhnya yang lunak.

Spesies yang beratnya mencapai 200 gram ini memiliki sistem reproduksi yang berbeda dengan spesies molusca lainnya. adapun sistem reproduksi bekicot sebagai berikut :

Reproduksi Bekicot

Bekicot akan memulai reproduksinya pada usia dewasa. Hal ini dapat ditandai dengan ukuran cangkang bekicot. Ketika ukuran cangkang bekicot telah mencapai ukuran 60 mm, maka kondisinya telah mampu untuk melakukan perkawinan.

Namun untuk mempunyai kondisi seksual yang benar-benar matang, maka bekicot harus menunggu sampai ukuran cangkangnya tersebut telah mencapai 80 mm. Selain molusca, bekicot juga tergolong dalam kelompok Hermaphodite atau spesies yang memiliki organ reproduksi berubah satu.

Dengan kata lain, kelamin jantan berupa sel sperma dan kelamin betina berupa ovarium yang berada pada satu tubuh. Inilah mengapa bekicot tidak dapat dibedakan kelaminnya antara jantan betina.

Meskipun demikian, perlu diketahui pula bahwa apabila sperma yang dihasilkan bekicot tidak dapat membuahi ovariumnya sendiri maka bekicot membutuhkan perkawinan dengan bekicot lain. Hal ini bertujuan untuk berkembangbiak supaya adanya pertukaran sperma dan sel telur pada kegiatan yang dikenal dengan istilah kopulasi.

Jika proses perkawinan kedua bekicot berhasil, maka bekicot yang berperan sebagai betina akan bertelur. Biasanya hewan ini akan mengeluarkan telurnya di tanah, bahkan sering pula ditemukan telur-telur bekicot menempel pada cacing tanah.

Selain itu, telur-telur itu akan menetas setelah beberapa minggu dan akan menghasilkan bekicot kecil di mana telah mempunyai bakal cangkang. Kemudian bekicot yang baru lahir juga telah berkemampuan untuk merayap atau berjalan.

Bahkan bayi bekicot yang menetas di tas juga akan merayap naik ke batang pohon mupun dedaunan. Kondisi ini menjadi kelebihan tersendiri karena mereka harus hidup sendiri tanpa ada bantuan dari induknya.

Tidak sampai di situ, sekali bekicot melakukan perkawinan akan menghasilkan jumlah telur berkisar 100 hingga 300 butir. Dalam satu tahunnya, spesies ini mampu bertelur sebanyak 3-4 kali.

Ukuran telur yang dihasilkan pun berbeda-beda, namun kisaran rata-rata panjangnya mencapai 6,3mm dengan lebar 5,6 mm dan diameternya 4,5 sampai 5,5 mm. Banyak tidaknya jumlah telur yang dihasilkan tergantung pada lingkunganya. Dengan kata lain, lingkungan sangat mempengaruhi reproduksi bekicot.

Bagaikan bibit yang ditanam di tanah, tidak semua bibit akan berhasil berbuah atau tumbuh. Begitupula dengan telur yang dihasilkan bekicot di mana tidak semuanya akan menetas yakni hanya sebagian saja yang kemungkinan gagal menetas.

Sebagian telur yang dilepaskan dapat diprediksi akan gagal menetasjika kondisi lingkungannya yang tidak mendukung. Salah satu faktor penting yang mempengaruhi perkembangbiakan bekicot yaitu curah hujan.

Beberapa peneliti mengungkapkan bahwa musim hujan dapat menjadi penanda terjadinya masa perkawinan bekicot. Hal ini dikarenakan saat musim hujan jumlah perkawinan bekicot akan meningkat. Sebaliknya, jumlah perkawinan akan lebih sedikit bahkan hampir tidak ada ketika musim kemarau tiba.

fbWhatsappTwitterLinkedIn